
Pengepungan rumah Dipta yang di lakukan para polisi terjadi begitu alot. Pagi-pagi yang dipenuhi siraman cahaya matahari, mereka disibukkan dengan diskusi penangkapan hewan kaki empat berbulu hitam dan bermoncong sangar dibarengi tawa kecut.
“Tipe anjing penjaga dan penyerang! Satu-satunya jalan keluar tembak bius atau panggil tim pemadam kebakaran, Mbak Risha. Kami jelas nggak berani masuk ini, digigit bisa ikut menyalak ini.” kata Edi yang rupanya masih stand by di kantor.
“Atau telepon terduga untuk memasukan hewan-hewannya. Di rayu gitu.”
“Ogah.” kataku sambil menggeleng kuat-kuat. “Panggil tim ahli saja pak, lakukan dengan aman, damai dan terkendali. Pokoknya no blood, no cry!”
“No women no cry, Sha.” ralat mas Dhika. “Atau lewat pintu samping? Pintu belakang? Aku tau semua jalan di rumah ini!” katanya sambil menatap wajah-wajah didepannya.
“Anu mas... Selama penjaga garis keras belum ditangani, penangkapan terduga akan repot, nanti malah mirip adegan pengejaran antagonis film-film luar negeri. Mlayu-mlayu, High effort, low cost.” Edi meringis.
Mas Dhika mendengus lalu menatapku sambil menyeringai. “Benar juga, gue nggak bisa lari lagi!” gumamnya.
“Ya sudah mas balik ke rencana awal. Panggil tenaga ahli penangan khusus hewan berbahaya.”
Beberapa polisi melakukan koordinasi dengan pihak terkait, beberapanya lagi berpencar ke tempat-tempat yang mas Dhika sebutkan. Sementara menunggu penanganan lanjutan, aku dan mas Dhika leyeh-leyeh di taman depan pagar rumah Dipta.
“Telepon pakde, mas. Hubungi orang tuanya Dipta sama Saskia.”
“Saskia?” Mas Dhika mengerutkan keningnya. “Ngapain Saskia di undang? Dia mah cupu, malah nyusahin nanti!”
“Saskia dulu pernah suka sama Dipta, gak berani ngomong, kali-kali aja ya kan dia masih suka dan berani ngomong ke Dipta sekarang biar tuh temen kita tau ada rasa yang lain.” kataku sambil melambaikan tangan kepada pak bubur ayam yang kebetulan lewat perumahan ini sambil mendengar suara tawa mas Dhika.
“Kia-kia, tapi dia udah cantik sekarang, Sha. Pinter dandan, nggak jerawat lagi, tapi apa iya kita tega menjerumuskan Saskia ke masalah ini? Dipta monster lho.”
“Gitu ya pendapatmu? Cantik-cantik, pinter dandan. Matamu lho mas gampang banget menilai cewek cantik!” kataku berang.
Mas Dhika semakin tertawa-tawa. Gila pikirku, masih bisa ya di situasi paling pelik seperti ini dia ngakak!
”Bubur pak, sarapan dulu monggo.” ucapku mempersilakan para polisi memesan bubur ayam. “Kita makan-makan dulu sebelum berjuang.”
Edi menghubungi rekan-rekannya menggunakan handy talky, menawarkan bubur tapi yang membuatku melirik tajam, laporan dari teman-temannya setiap pintu masuk rumah Dipta di jaga hewan yang sama galaknya.
Awas aja kamu, Dip!
__ADS_1
***
“Sebenarnya ada apa, Ris? Kenapa ada ambulan, pemadam kebakaran, sama polisi? Dipta kenapa? Di kepung anjing? Banyak banget suara anjingnya.” ucap Saskia terheran-heran sambil berkacak pinggang.
Teman lama satu SMA ini memang sudah cantik seperti yang mas Dhika bilang, bekas dan jerawat-jerawatnya sudah hilang tapi tetap cantikan aku. Haha.
“Pokoknya kamu kalo ketemu Dipta, kamu bilang soal perasaanmu dulu aja. Dia hopeless, dia butuh pertunjukan cinta dari orang-orang yang menyukainya.”
“Termasuk kamu?” tanya Saskia.
Aku melempem seketika. Nggak begitu juga sih, tapi iyain aja biar dia percaya. Toh sekali-kali menumbalkan teman pada laki-laki monster dan kaya raya seperti Dipta ada salahnya tapi nggak begitu-begitu parah. Iya kan? Kalau jadian Saskia juga yang senang dapat rumah mewah, mobil banyak, cuma Diptanya aja yang perlu di ruqyah.
Aku tertawa dalam hati sambil mengangguk. “Masih suka gak kamu sama Dipta? Dia tambah keren lho sekarang.”
Saskia yang memakai setelan modis semi formal ala-ala pegawai kantor swasta menggerak-gerakkan mulutnya.
“Suka sih enggak ya, cuma aku penasaran sama dia. Setampan apa sekarang, dulu waktu SMA coklat manis.” ucapnya histeris dengan wajah takjub.
Mas Dhika menyemburkan tawa. Masih cupu ternyata, otaknya lebih jernih dari kamu. Huahahaha. Chat-nya kepadaku kemudian.
Aku mengulum senyum seraya menyimpan ponselku di tas. “Kita tunggu aja, Ki. Semoga penanganannya cepat selesai.”
“Iya, iya...” Saskia mengangguk. Kemudian kami mengikuti Edi ke arah pintu samping di mana anjing penjaganya sudah berhasil di tanganin dengan mengikatnya di pohon kelengkeng secara dramatis. Mungkin.
“Saya dobrak pintunya kalian lari ke dalam.”
“Eh.” Aku merentangkan kedua tangan di ambang pintu. Mencegah Saskia, Edi, mas Dhika masuk. “Kalau di dalam juga ada hewan yang sama gimana mas? Anda duluan saja yang masuk, cek kondisi!”
Edi melebarkan mata seraya mengambil alat pelindungnya yang tergantung di ikat pinggang. Dia bersiap lalu menganggukkan kepala.
“Mas Dhika di luar aja, kalo sudah aman baru masuk. Oke!” kataku sambil menarik daun pintu samping rumah, Edi masuk ke lahan sempit samping rumah yang di tumbuhi tanaman hias dan tabulampot. Dia menyerbu masuk dan dengan kekuatan kakinya, dia mendobrak pintu masuk yang tembus ke dapur kotor.
Suara pintu terpelanting ke tembok, duarrr... Jantungku was-was, kakiku memasang kuda-kuda sementara Saskia mencengkeram pundakku sambil melongok ke samping kanan kiri. Lolongan anjing terdengar berserta komando-komando untuk menembakkan obat bius dan melemparkan daging sapi segar sebagai pancingan.
“Aman.” seru Edi.
__ADS_1
Aku melesat ke dalam rumah mengikutinya Edi yang langsung putar balik ketika menaiki anak tangga ke arah kamar Dipta.
“Ada ularnya. Ada ular sanca kembang. Huaaa...”
Terpogoh-pogoh aku dan Saskia putar balik dan melesat kesetanan keluar rumah bersama Edi yang melesat cepat.
Terengah-engah kami di depan pintu samping sambil memegangi kedua lutut.
”Banyak jebakan betmen di dalam mas, nyebelin Dipta!”
“Ada apa emangnya?” tanya mas Dhika terheran-heran sambil mengintip masuk.
“Ular sanca, mas. Besar, bentar-bentar. Saya napas dulu baru buat laporan ke depan.” ucap Edi yang nampak syok dan kelelahan.
Mas Dhika menghela napas seraya masuk ke rumah Dipta dengan tertatih-tatih. Aku mengikutinya sambil bertanya, “Mau apa mas? Mau apa?”
“Nyari Dipta lah!”
“Mas gak takut, hah? Banyak jebakan di sini.”
“Ngapain takut, banyak polisi, tim pemadam kebakaran, petugas ambulan, kalau ada apa-apa tinggal panggil mereka!” Mas Dhika mendorong semua pintu yang dilewatinya, kami menemukan pembantu rumah dan satpam disekap dan diikat setelah kami mendengar bunyi egh-egh dan suara hentakan kursi yang berulang. Tergesa aku melepasnya sementara mas Dhika jaga-jaga
“Dipta di mana, Bu?” tanyaku sambil membantu pembantu rumah berdiri.
Satpam mengusap pergelangan tangannya yang nampak jejak tali tambang plastik.
“Dipta kabur ke luar negeri Mbak semalam, di sini udah nggak ada siapa-siapa! Kosong, hanya ada kami dan orang suruhannya. Di lantai atas! Mabuk-mabukan semalaman.”
Aku dan mas Dhika saling bertatapan seraya mengembuskan napas.
“Energi dari bubur kacang hijau, bubur ayam, sama gorengan masih ada mas. Tapi capeknya udah berasa banget.” ucapku lesu.
“Mana malu banget ini. Orang-orang tahunya ini penangkapan terduga paling repot dan nyebelin. Taunya udah kabur tuh Diptol... Kampret!” Mas Dhika mendesis tajam lalu mengambil air di dapur.
...----------------...
__ADS_1