Pernikahan Kedua Mantan Suamiku

Pernikahan Kedua Mantan Suamiku
Hukuman perasaan


__ADS_3

"Mas, sejak tadi aku perhatikan kamu tampak tidak senang saat tahu aku hamil. Apa kamu tidak senang kalau aku hamil?" tanya Amanda ketika mereka saat ini sudah berada di atas tempat tidur. Saat mereka berdua hendak beristirahat. Saat itu Amanda tiduran dengan manja di dada Ashraf yang bidang.


"Aku senang kamu hamil. Kenapa tidak." ucap Ashraf berbohong.


"Tapi aku melihat di wajah mas, tidak ada aura kebahagiaan itu." ucap Amanda dengan nada sedikit sedih.


"Jangan berprasangka seperti itu. Mana mungkin aku tidak bahagia. Karena anak yang kau kandung itu kan anakku, darah daging ku. Sudah jangan berpikir aneh-aneh terhadap diriku."


"Tapi mas diam saja. Dan wajah mas murung." cecar Amanda lagi.


"Aku bukan yang tidak bahagia. Aku hanya letih dan capek. Banyak pekerjaan kantor yang sangat menyita waktu ku. Belum lagi kamu tahu kan, aku selalu cari sampingan dengan ojek online. Itu demi siapa, demi kamu juga." ujar Ashraf.


Saat Ashraf menyebutkan "Demi kamu juga" kata-kata itu sudah cukup membuat hati Amanda menghangat.


"Benar, mas bekerja dan berjuang untukku."


Hening.......


"Iya." jawab Ashraf singkat.


"Tahu nggak sih mas, hanya dengan mendengar kata-katamu seperti itu saja. Aku sudah sangat bahagia dan senang. Saat kamu bilang apa yang kamu lakukan itu untukku. Itu sudah membuat aku kuat dan aku mampu untuk bertahan hidup bersama denganmu dengan apa adanya."


"Terimakasih sudah menerima dan mengerti. Saat ini aku masih berjuang untuk menyesuaikan keuanganku untuk memberikan nafkah kepada Jasmine dan juga untuk mu secara adil."


"Iya, aku tau mas."


"Sudah malam, ayo tidur. Besok aku harus berangkat pagi." ucap Ashraf, yang kemudian ia memejamkan matanya.


Sedangkan Amanda yang sejak tadi masih betah berada di dada Ashraf merasa sangat senang. Karena suaminya itu malam ini bersikap manis.


Semakin menempelkan tubuhnya ke tubuh sang suami, Amanda tidur dengan perasaan bahagia malam itu.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Entahlah, kehamilan Amanda kenapa tidak membuat aku bahagia.


Pada anak yang dikandung oleh Amanda adalah daging ku. Dia adalah anakku juga.


Tapi kenapa aku tidak merasakan kebahagiaan. Yang ada hanyalah aku belum siap untuk menjadi ayah yang kedua kalinya.


Tidak hanya karena faktor ekonomi yang saat ini aku masih belum siap.


Aku juga belum siap menjadi ayah untuk anak yang Amanda kandung. Karena dengan anak saja, Jasmine, aku belum bisa menjadi ayah yang baik untuk nya.


Bagaimana nanti dengan anak yang dikandung oleh Amanda. Apakah aku bisa membuat dia bahagia.


Apakah aku bisa menjadi ayah yang baik untuknya.


Berapa di kamar mandi, Ashraf malah banyak melamun. Ia merenungkan semua hal yang terjadi dalam hidupnya.


Belum selesai dengan ia menyesuaikan diri soal keuangan. Kini Amanda telah hamil. Dan hal itu pun membuat Asraf juga harus bersiap untuk ruangannya. Untuk menyebut kehadiran anaknya dari Amanda.


"Mas, kok mandinya lama. Ini sudah hampir jam 08.00 mas. Nanti mas telat ke kantornya." seru Amanda dari balik pintu kamar mandi.


"Oh, iya." sahut Ashraf dari dalam kamar mandi.


Tak lama kemudian, Ashraf keluar dari kamar mandi dan ia pun langsung bergegas ke kamar untuk bersiap-siap ke kantor.


"Manda, sarapannya tolong dibungkus aja. Nanti aku akan sarapan di kantor. Aku sudah telat, aku tidak bisa sarapan di rumah." teriak Ashraf dari dalam kamar, berpesan kepada Amanda untuk dibungkus; sarapannya.


"Iya mas." sahut Amanda, yang tidak membantah perintah sang suami.


Setelah semuanya siap. Amanda kemudian menaruh sarapan dan juga bekal makan siang Ashraf di sebuah kantung.


Ashraf yang saat itu sudah bersiap langsung bergegas ke ruang tamu untuk memakai sepatunya.


Dengan gerakan terburu-buru, Ashraf mempersiapkan semua barang-barangnya.

__ADS_1


"Mas, mas pasti lupa lagi." ucap Amanda, yang saat itu berdiri di ambang pintu sambil menunggu sesuatu yang harus dilakukan Ashraf pada dirinya.


Ashraf yang sudah bersiap di motornya pun kemudian kembali berjalan menuju Amanda.


Ia kemudian memberikan satu kecupan ke kening Amanda. Saat Ashraf hendak berbalik lagi menuju motor. Amanda masih menahan langkah Ashraf.


"Apa lagi?" tanya Ashraf.


"Mas berikan salam juga untuk anakmu. Mas lupa ya, aku saat ini sedang hamil. Ada anak mu di sini." ujar Amanda sambil mengelus perutnya.


Tidak banyak bicara, Ashraf kemudian memberikan satu kecupan ke perut Amanda.


"Aku sudah telat, aku berangkat ya." ucap Ashraf yang kemudian langsung bergegas ke motor nya.


"Hati hati ya mas."


Ashraf adalah tipe seorang laki-laki yang tidak banyak cakap jika sang istri sudah berbicara. Hal hal yang di minta sang istri bila itu bisa ia lakukan pasti Ashraf akan lakukan.


Ashraf pada dasarnya memang seorang pria yang lembut.


Hal itu tidak ia lakukan terhadap Amanda saja. Tapi ia juga melakukan itu kepada Emily.


Dulu saat Emily masih menjadi istrinya. Ashraf memang seorang suami yang penurut dan tidak banyak omong jika sang istri sudah meminta sesuatu dari dirinya.


Hanya saja mungkin jika dengan Emily, dia melakukannya dengan sepenuh hati.


Tapi dengan Amanda, ia melakukan itu hanya untuk menyenangkan hati Amanda.


Di sepanjang perjalanan menuju kantor. Bayangan wajah Amanda saat kini sedang hamil, dan bayangan wajah Emily di saat pertama kalinya ia hamil Jasmine menjadi bersahut-sahutan di pikiran Ashraf.


Dua wanita itu kini saling berkecamuk di dalam benaknya.


Dan hal itu menarik kesimpulan bahwa hidup bersama dengan seorang wanita yang benar-benar kita cintai adalah kebahagiaan.

__ADS_1


Akan tetapi, hidup bersama wanita yang hanya karena nafsu sesaat adalah kehancuran kebahagiaannya sendiri.


Dan itulah yang saat ini Ashraf rasakan.


__ADS_2