
Mendengar kata-kata Ashraf yang mengutarakan jika hubungan dirinya dengan Ashraf adalah sebuah hubungan yang salah. Entah kenapa hal itu membuat Amanda merasa terpojok.
Setelah berbicara seperti itu, Ashraf langsung membalikkan tubuhnya, tiduran miring membelakangi Amanda.
Lagi-lagi sikap Ashraf yang terlalu cuek terhadap dirinya begitu menyakiti Amanda.
Bahkan, saat kini dirinya hamil anak Ashraf pun Amanda tidak merasakan sebuah ketulusan perhatian yang Ashraf tujukan kepada dirinya.
Ashraf memang bertanggung jawab secara nafkah. Itu pun juga hanya pas-pasan. Karena uang yang Ashraf cari sebagian sudah habis untuk memberikan nafkah kepada Jasmine.
Padahal saat itu Amanda sudah memberikan masukan kepada Ashraf bila nafkah untuk Jasmine dan kebutuhan kehidupan rumah tangga mereka 50:50, itu sangat berbanding terbalik dan tidak adil menurut Amanda.
Karena sang suami terlalu memprioritaskan nafkah anaknya.
Tetapi Ashraf kekeuh ingin memberikan nafkah dengan kisaran besarnya seperti yang sudah disepakati.
Padahal jika dilihat dari keuangan Ashraf. Nafkah yang harus dibayarkan oleh Ashraf untuk Jasmine terlalu besar. Tidak sepadan dengan keuangan yang juga harus di bagi untuk keperluan rumah tangganya dengan Amanda.
Karena pendapatan Ashraf tidak sebesar dengan gaji yang ia dapatkan dulu saat ia bekerja.
Karena Amanda tidak mau berdebat soal uang nafkah. Amanah hanya bisa diam. Walaupun ia sebenarnya ia keberatan.
Kini, ketika Ashraf telah kembali berhubungan baik dengan Jasmine putrinya, sepertinya hal itu sedikit mengganggu Amanda. Karena sang suami bersikap lebih cuek dengannya.
Bukan Amanda tidak menyukai jika Ashraf kembali berhubungan baik dengan putrinya. Hanya saja, ia merasa cemburu. Ashraf tidak adil soal perasaan.
Apalagi, sebentar lagi ia juga akan memiliki anak. Pasti juga butuh biaya untuk memenuhi kebutuhannya. Hal itu juga pastinya akan menambah biaya hidup mereka.
Apa nanti Ashraf bisa memenuhi semuanya?
__ADS_1
Apakah Ashraf juga akan memprioritaskan kebutuhan anaknya seperti saat ini Ashraf begitu mengusahakan kebutuhan Jasmine, anaknya dengan Emily.
Dua pikiran itu kini sangat menggangu Amanda.
Bagaimana anak dan juga dirinya nanti akan punya masa depan. Jika Ashraf saja hanya memprioritaskan nafkah untuk putri kesayangannya Jasmine.
Pasangan suami-istri itu kini saling tidur membelakangi.
Sebuah impian pernikahan yang sangat bertolak belakang dengan keinginan Amanda. Ia memimpikan menjalani kehidupan rumah tangga yang bahagia bersama pria yang sangat dia cintai. Kini ia mendapatkan itu. Ashraf sudah menjadi miliknya.
Tetapi, saat dia kini sudah menikah dengan Ashraf pun. Ia tidak mendapatkan kebahagiaan tersebut.
Bahkan untuk diperhatikan pun. Amanda harus merengek dan meminta dulu terhadap Ashraf untuk di perhatikan.
Panggilan sayang pun tak pernah keluar dari mulut sang suami untuknya.
Hal yang menyakitkan bukan.
Pagi itu, seperti biasa Amanda menemani Ashraf untuk sarapan di meja makan.
Sambil menemani sang suami nikmati sarapannya. Amanda mengajak Ashraf mengobrol.
Setiap kali Ashraf diajak mengobrol oleh Amanda. Jawaban Ashraf selalu singkat.
"Mas, maaf jika aku seperti anak kecil yang bertanya ini kepadamu. Aku merasa, sikap mas sama aku makin berubah. Apa ada yang salah dengan aku mas. Mungkin sikap ku?" tanya Amanda, memulai pertanyaan untuk menyelidiki apakah sikap sang suami yang cuek itu karena sikapnya.
"Tidak ada masalah dengan sikap mu Amanda." jawab Ashraf datar, sambil terus fokus pada makanannya.
Merasa kurang puas dengan jawaban sang suami, Amanda bertanya lagi.
__ADS_1
"Sebenarnya mas masih mencintaiku atau tidak?
Dan, pertanyaan Amanda langsung membuat Ashraf menatap ke arah istri keduanya itu dengan tatapan tajam.
Saat memandang Amanda dulu. Ashraf memandang Amanda sebagai seorang wanita yang sangat ia kasihani.
Seorang wanita berwajah sendu yang sering bercerita tentang kepahitan hidup. Seorang wanita yang putus asa dan tenggelam dalam luka hati.
Seorang wanita yang tidak berdaya, yang lemah dan ia sangat ingin menolongnya.
Hingga pada akhirnya, Ashraf terjatuh pada perasaan pertemanan di antara keduanya.
Saat mereka makin intens dalam sebuah hubungan hubungan pertemanan. Pertemanan itu berganti dengan sebuah perasaan iba dan selanjutnya berubah menjadi sebuah perasaan kasian lalu berubah menjadi ingin memberikan perhatian.
Dan dari perhatian itu lah. Keduanya, Ashraf dan Amanda terjebak dan terjerumus dalam perasaan suka.
Dan akhirnya, selingkuh hati itu Ashraf lalukan pada Amanda saat ia masih berstatus suami dari Emily.
Lingkaran hasrat percintaan antara Ashraf dan Amanda menjadi candu bagi keduanya ketika mereka asik dalam asmara terlarang itu.
Hingga semua terbongkar. Ashraf hanya bisa menyesali perbuatannya.
Sedangkan Amanda memang dengan sudah merebut suami orang.
Tapi, kini kehidupan berumahtangga Ashraf dan Amanda tidak seperti yang mereka harapkan.
Ashraf sama sekali tidak punya gairah berumahtangga yang sebenarnya dengan Amanda.
Begitu pula dengan Amanda. Ia tidak merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya dengan pria yang ia cintai.
__ADS_1
"Mas, ko diam. Mas mencintai aku atau tidak." tanya Amanda lagi, saat Ashraf hanya bengong saat menatapnya.
"Jangan tanyakan hal itu Amanda. Kita sudah bersama. Apalagi yang kau tuntut dari ku. Sekarang kamu sedang hamil. Jangan banyak pikiran. Jaga kandungan mu. Jangan memikirkan hal hal yang tidak penting." ujar Ashraf, kemudian ia berdiri dan bersiap untuk pergi ke kantor.