
"Tumbenan mas bersikap manis. Ada angin apa yang membuat mas bersikap seperti ini sama aku." tanya Amanda merasa penasaran.
"Memangnya selama ini aku kejam ya sama kamu." tanya balik Ashraf sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Aku sudah malas berdebat sama mas. Jika aku menuntut perhatian. Jadi, jawab saja pertanyaan ku yang tadi. Ada angin apa mas bersikap perhatian sama aku."
"Tidak ada jawaban yang pas untuk menjawab pertanyaan mu Amanda. Jangan bertanya yang tidak tidak." jawab Ashraf sedikit tegas.
Mendengar ucapan tegas Asharf, dengan meme wajah yang serius. Membuat Amanda kemudian langsung terdiam. Bahkan kini ia menundukkan wajahnya.
Nada suara Asharf yang bernada sarkatis sudah cukup membuat hati Amanda sedikit perih.
Tau jika nada suaranya tadi agak tinggi dan membuat Amanda tersentak. Ashraf kemudian menghela nafas berat dan mencoba untuk lembut bertutur kata.
"Jika aku perhatian sama kamu. Tolong jangan cari alasannya. Aku tadi kasihan melihat mu. Dengan perut mu yang sudah membuncit itu kamu masih sibuk di dapur untuk melayani ku. Aku sangat berterimakasih. Tapi lain kali kamu tidak perlu lakukan ini. Aku bisa siapkan makan malam ku sendiri. Usia kandungan mu sudah makin tua. Kamu harus banyak istirahat dan jangan terlalu capek. Dan terima kasih menunggu ku sampai aku pulang." jelas Ashraf, menjelaskan dengan kata kata yang lembut pada Amanda.
__ADS_1
Bagaimanapun, Asharf juga tahu diri. Dalam keadaan sang istri yang tengah hamil besar seperti itu. Ia tidak bisa semena-mena dalam bersikap. Oleh sebab itu Ashraf tetap sebisa mungkin untuk bisa menjaga perasaan Amanda agar dia tidak tersinggung dengan semua sikapnya.
Amanda hanya bisa tertunduk mendengar semua penuturan Ashraf.
"Amanda." panggil Ashraf.
Amanda pun kemudian mengangkat wajahnya dan memandang sang suami dengan tatapan mata dalam.
"Lain kali kamu tidur saja ya. Tidak usah bangun kalau aku pulang malam malam." ucap Ashraf, sambil melayangkan pandangan bersahaja pada Amanda.
Tidak hanya memandang wajah Amanda dengan tatapan bersahaja. Ashraf juga meraih tangan Amanda di bawah meja dan meremasnya.
"Sudah lama aku tidak pernah melihat tatapan mas yang seperti itu sama aku. Sebenarnya aku sudah tidak ambil pusing dengan sikap pasang surut mas terhadap diriku. Asalkan mas tetap bersikap baik dan perhatian. Serta masih memberiku nafkah. Bagi ku itu sudah cukup mas."
"Tapi, siapa sih yang tidak senang jika seorang istri mendapat perhatian dari suaminya. Seperti yang mas lakukan seperti tadi di dapur. Tapi, jika mas juga sudah bersuara tinggi seperti tadi. Pertahanan ku juga bisa runtuh mas. Membahagiakan wanita itu sebenarnya tidak sulit. Dan yang membuatnya terluka kadang juga karena hal sepele."
__ADS_1
"Aku tahu, perjalanan mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga itu tidak mudah. Semuanya tidak berjalan mulus. Pasti ada aja ujiannya. Dan bagi aku, selama mas bisa bersikap baik sama aku. Aku akan berusaha sebisa mungkin menjadi istri yang baik untuk mas."
Amanda kemudian berdiri lalu duduk di pangkuan Asharf.
Ashraf pun tak bisa untuk menghindar. Saat kini Amanda sudah duduk manis di pangkuannya.
"Tidak kah mas kangen dengan anak mas di perut ku. Dia adalah buah cinta kita. Dia adalah benih kita. Mas juga pasti akan sayang dengan anak ini kan. Seperti mas sangat sayang pada Jasmine anak mas dari Emily. Sudah lama dia tidak merasakan belaian dari ayahnya." Amanda kemudian meraih tangan Asharf dan kemudian menaruhnya di perutnya yang bulat.
"Aku juga pasti akan sayang dengannya." jawab Ashraf singkat.
Amanda pun kemudian tersenyum. Kemudian Amanda meraih wajah Ashraf dengan kedua tangannya.
"Boleh aku mencium mu? Bayi ini sepertinya sangat ngefans dengan mu mas." bisik Amanda, ketika ia kini sudah duduk mesra di pangkuan Ashraf. Ashraf hanya tersenyum kecil menanggapi.
Dengan perlahan, Amanda kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Ashraf. Dan pelan pelan ia menjatuhkan bibirnya tepat di bibir Ashraf.
__ADS_1
Tidak bisa menolak keinginan Amanda. Ashraf pun meladeni permainan bibir Amanda ketika itu yang sudah bergelayut mesra pada dirinya.
Permainan mereka pun pada akhirnya berakhir di tempat tidur.