Pernikahan Kedua Mantan Suamiku

Pernikahan Kedua Mantan Suamiku
Kemarahan Amanda


__ADS_3

"Aku rasa pembicaraan ini sudah cukup. Aku harus segera kembali ke unit apartemen." ucap Emily, kemudian ia membuka dompetnya dan menyelipkan selebar uang kertas untuk membayar minuman yang mereka pesan saat itu.


Setelah itu, Emily langsung berlalu dari hadapan Ashraf.


Sedangkan Ashraf sendiri hanya bisa memandangi kepergian wanita yang masih sangat ia cintai itu dengan tatapan kosong.


Andai aku tidak mengkhianati cinta dan pernikahan kita. Kita pasti masih hidup bersama dan hidup bahagia di rumah hangat kita Emily.


Dan mungkin Jasmine juga sudah punya adik. Setelah kamu hamil lagi anak kita yang kedua.


Tapi aku menghancurkan semua impian hidup bahagia kita. Dan sekarang aku menyesal.


Justru kini aku sedang dihadapakan pada situasi yang sangat sulit.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Ashraf tiba kembali ke dirumah sakit ketika hari sudah malam.


Saat ia kembali ke rumah sakit dan masuk ke kamar pemulihan yang di tempati Amanda. Amanda tidak ada di sana.


Ashraf pun kemudian mencari Amanda.

__ADS_1


Setelah beberapa saat mencari. Kini Ashraf melihat Amanda tengah berdiri di sisi jendela yang ada di sebuah ruangan khusus bayi.


Dari kejauhan, Ashraf bisa melihat raut wajah sedih Amanda ketika ia fokus memandangi seorang bayi yang masih tergeletak dengan kondisi lemah di dalam sana. Di dalam sebuah ruangan khusus.


Perlahan-lahan, Ashraf mendekati Amanda. Dan ketika Ashraf sudah berada di belakang Amanda. Ashraf kemudian memegang kedua pundak Amanda dengan kedua tangannya.


"Dia akan baik-baik saja." bisik Ashraf.


"Dia akan kuat melalui semuanya." imbuh Ashraf lagi.


"Kenapa kamu bohong?" perkataan Amanda membuat Ashraf berfikir.


"Maksud mu apa Amanda?"


Beberapa waktu yang lalu. Saat Amanda begitu penasaran kenapa sampai saat itu dirinya belum dapat bertemu dengan putranya. Membuat Amanda merasa curiga.


Akhirnya, dengan di antar oleh seorang perawat. Amanda mendatangi seorang dokter yang kemarin menangani dirinya.


Amanda pun kemudian bertanya pada dokter tersebut. Dan sang dokter menjelaskan secara gamblang dan apa adanya tentang kondisi anak yang telah Amanda lahirkan.


"Ini semua di luar kendali kita Amanda." ucap Ashraf, ketika saat itu Amanda terus menitikan air matanya karena merasa sangat sedih dengan kondisi sang anak.

__ADS_1


Ashraf pun merasa tak tega melihat kesedihan di wajah Amanda. Yang begitu sedih dengan keadaan anak mereka.


"Ini semua karena salah mas! Ini semua salah mu mas!" seru Amanda. Yang menyalah Ashraf atas semua kejadian yang sudah terjadi.


Ashraf hanya diam saat di salahkan. Karena ia juga merasa telah salah.


"Maafkan aku Amanda."


"Terlambat. Penyesalan mu tak ada gunanya mas. Aku pun juga tidak yakin kamu menyesal dan merasa bersalah. Mungkin kamu malah senang dengan semua kejadian ini. Iya kan!" seru Amanda lagi.


"Kau bicara apa Amanda. Mana mungkin aku sejahat itu dengan anak ku sendiri." ucap Ashraf.


"Bohong. Bukankah mas ada niatan mau menceraikan aku. Kamu masih mencintai mantan istri mas kan. Mas juga mau kembali padanya kan. Aku tau mas. Aku sudah dengar semua percakapan yang mas ucapkan pada Emily saat di toilet itu. Jika itu benar. Artinya musibah ini adalah sebuah kemenangan untuk mu. Kamu tidak menginginkan anak itu. Kamu bahkan tidak menyayanginya selama dia ada di kandungan ku. Kenapa tidak kamu bunuh saja aku dan anak ku mas. Agar keinginan mu tercapai." ucap lagi Emily, penuh dengan rasa emosional.


"Kau bicara apa Amanda. Tidak benar jika aku tidak menginginkan anak itu." bantah Ashraf.


Dengan mata yang memerah, Amanda menatap Ashraf dengan tatapan mata yang seolah-olah menyimpan dendam.


"Pernikahan macam apa yang sebenarnya kita jalanin ini mas. Aku tidak sama sekali diperlakukan sebagai seorang istri selama kita menikah. Kita memang serumah. Tapi hati dan pikiran mu masih di rumah itu. Masih memikirkan mantan istri dan anak mu di sana. Bahkan saat aku hamil pun. Tidak ada kamu perhatikan dia. Di mana kamu selama aku mengandung anak mu!" Amanda masih bicara dengan nada tinggi pada Ashraf.


"Jika terjadi sesuatu dengan anak ku. Kamu adalah orang pertama yang akan aku benci seumur hidup ku mas."

__ADS_1


Dengan mengusap air matanya, Amanda langsung berlalu dari hadapan Ashraf.


Ia merasa begitu kecewa dengan sikap suaminya itu selama ini. Padahal ia sudah mencoba untuk bisa sabar.


__ADS_2