
Karena sore tadi ia hanya makan nasi sedikit. Malam itu, Amanda yang terbangun tengah malam merasakan lapar.
Amanda kemudian bangkit dari tidurnya. Saat ia sudah bangkit dari tidurnya, dan kini ia terduduk di ranjang. Sejenak, Amanda menoleh kesamping. Kearah meja yang ada di sisi tempat tidurnya.
Di sana Amanda melihat potongan buah apel di sebuah piring yang sudah di siapkan oleh sang suami.
Senyum Amanda pun mengembang. Amanda kemudian meraih piring yang berisi potongan buah apel tersebut kemudian ia menikmatinya.
Ketika itu, jam telah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Tetapi Ashraf belum juga berada di kamar bersamanya.
Amanda kemudian meletakkan piring itu keatas meja. Lalu, dengan menjejakkan kaki telanjang ke lantai, Amanda berniat untuk mencari Ashraf.
Dengan gerakan pelan, Amanda beranjak dari ranjang untuk mencari sang suami.
Karena biasanya, jika tidak ada di kamar, suaminya itu selalu tidur di luar. Di ruang tamu di depan.
Saat ia membuka pintu kamarnya, ia melihat Ashraf tengah tertidur seperti biasa di sofa panjang yang ada di ruang tamu.
Terkadang Amanda merasa bingung dengan sikap sang suami. Saat ada ranjang yang hangat di rumah, yang sejatinya ranjang itu menjadi tempat peraduan antara dirinya dan Ashraf. Tetapi Ashraf kadang suka tidur di luar.
Dan seperti biasa, sofa panjang di ruang tamu menjadi tempat favorit ke-dua suaminya itu untuk tidur.
Berjalan dengan pelan mendekati sang suami. Amanda kemudian mematikan TV yang masih nyala.
Sejenak, Amanda memperhatikan wajah Ashraf yang terlihat lelah.
"Tidak sekali dua kali aku selalu mengingatkanmu untuk tidur di kamar mas. Tetapi kamu masih saja sering tidur di luar. Memangnya kenapa kalau kamu tidur di kamar. Apa enaknya sih tidur di luar." ucap Amanda membatin. Ia tidak suka jika Ashraf tidur di luar kamar.
Amanda kemudian dengan pelan membangunkan Ashraf.
"Mas, mas bangun. Jangan tidur di sini. Ayo tidur di kamar. Besokkan hari libur, mas juga tidak kerja, jadi mas bisa bangun siang." panggil Amanda dengan sangat lembut membangunkan sang suami Ashraf.
Ashraf pun kemudian sudah mengerjapkan matanya.
__ADS_1
"Kamu kok bangun. Kenapa? tanya Ashraf yang kemudian dia duduk.
"Aku terbangun karena lapar. Aku makan buah yang mas sudah kupas kan tadi. Karena mas tidak ada di kamar. Makanya aku cari mas di sini. Mas suka sekali sih tidur di luar, kenapa tidak tidur di kamar saja kalau sudah mengantuk." ujar Amanda.
"Aku tadi membereskan pekerjaan. Lalu aku nonton TV, dan akhirnya aku ketiduran."
"Masa setiap hari ketiduran di ruang tamu sih mas. Tidak sekali dua kali masa itu tidur di luar." Merasa Amanda sedang merajuk. Ashraf memilih untuk mengalah.
"Ya sudah kalau gitu. Ayo ke kamar, kita lanjut tidur, aku mengantuk." ucap Ashraf yang tak mau memperpanjang perdebatan.
Ashraf memang tipe orang yang tidak ingin memperpanjang sebuah masalah.
Amanda kemudian ikut bangkit dari duduknya dari sofa dan mereka pun kini berjalan menuju kamar.
Sesampainya di dalam kamar. Ashraf yang sudah merasa sangat mengantuk dan letih itu pun segera menidurkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dan ia pun langsung memejamkan matanya.
Lagi lagi, sikap Ashraf yang seperti itu membuat Amanda sedikit kesal.
Padahal, saat itu, Amanda ingin sekali dimanja oleh Ashraf.
Sudah menjadi hal yang memang lazim dialami oleh kebanyakan wanita yang hamil. Biasanya wanita yang hamil akan mengalami peningkatan mood.
Antara lain mood ingin selalu menempel pada suaminya, mood ingin lebih disayang, mood ingin selalu di manja dan berbagai mood lain yang terkadang berubah-ubah.
Dan saat ini, Amanda sangat ingin disayangi oleh Ashraf dengan cara diperhatikan secara fisik dan emosional.
Tetapi sayangnya Amanda tidak mendapatkan itu dari Asraf.
Tidak mendapat belaian kasih sayang dari Ashraf. Amanda kini sengaja mendekati dan megeratkan tubuhnya ke tubuh sang suami.
"Mas aku ingin kamu mengelus perutku." ucap Amanda, terucap lirih kepada Ashraf yang saat itu sudah terlelap.
"Mas." panggil Amanda lagi dengan nada manja.
__ADS_1
"Ada apa?" sahut Ashraf dengan suaranya yang serak.
"Aku ingin kamu menyentuh perutku. Selama ini mas jarang mengelus elus perut ku. Anak kita di dalam ini juga butuh kasih sayang mas." rengek Amanda.
Tidak banyak omong, Ashraf kemudian menjulurkan tangannya dan ia mengusap usap perut Amanda yang memang sudah mulai membuncit itu.
Saat perutnya di usap oleh Ashraf. Amanda merasa sangat senang dan bahagia.
Kemudian ia menautkan jari jemarinya ke tangan Ashraf.
"Sering-sering ya mas elus perut ku seperti ini. Bayi yang ada di kandunganku ini juga butuh kasih sayang dari mas. Selama ini mas jarang sekali mengelus perutku. Apa susahnya sih setiap malam jika kita hendak tidur mas mengelus-elus perutku. Selain membuat bayi dalam kandungan ku bahagia. Aku juga bahagia mas." ucap Amanda dengan lembut kepada Ashraf.
"Maaf jika aku kurang memperhatikanmu. Kamu tahu sendiri aktivitasku sudah banyak. Aku bekerja dan sekarang aku pun hanya mencari sampingan beberapa jam. Sampai rumah pun aku harus mengerjakan tugas-tugas rumah. Jujur aku juga capek Amanda." ucap Ashraf terus terang.
Mendengar perkataan sang suami yang mengeluh capek. Amanda kemudian bergerak untuk merubah posisinya menjadi menghadap ke arah Ashraf.
Dengan satu tangannya yang terjulur. Amanda mengelus pipi Ashraf.
Kemudian ia melabuhkan satu kecupan ke bibir sang suami dengan begitu dalam.
"Semoga ciuman ini bisa menghapuskan rasa capek mas Asraf ya." tutur Amanda, dengan wajah yang tersenyum.
Jika Amanda sudah bersikap manja seperti itu. Ashraf selalu membayangkan bahwa yang ada di hadapannya itu adalah mantan istrinya Emily.
Saat mereka saling berpandangan. Hormon oksitosin Amanda makin menguasainya.
Kini justru Amanda yang semakin merangsekkan dirinya pada Ashraf. Tangannya sudah bergerilya untuk melepaskan satu persatu kancing baju sang suami.
"Sudah lama juga kita tidak bercinta mas. Aku ingin menyenangkan mu." ujar Amanda.
Sejenak, Ashraf hanya diam. Karena justru Amanda yang meminta.
Mau apa lagi, Ashraf pun meladeninya.
__ADS_1