
"Saat menjalin hubungan dengannya, aku tidak pernah berhubungan badan dengan Amanda. Aku hanya mengobrol dengannya dan menghabiskan waktu dengannya. Aku tidak pernah berzina dengannya. Jika Amanda menuntut ku untuk menikahinya. Itu semata-mata hanya kelicikan Amanda yang berdalih aku telah mengambil keuntungan darinya. Dan kamu tahu kan, aku tipe pria seperti apa. Aku tipe orang yang bertanggung jawab. Karena itulah aku menikahinya setelah kita bercerai." ucap Ashraf pajang lebar menjelaskan apa yang sebenarnya ia rasakan.
"Oh, jadi begitu ya mas. Baiklah, sekarang sudah jelas semuanya. Dan aku juga sudah tahu isi hatimu yang sebenarnya." Sebuah suara dari belakang tiba tiba menyahut.
Dan seketika langsung mengejutkan Ashraf. Karena ia sangat mengenali suara tersebut.
Ashraf kemudian berbalik ke arah ke belakang.
Ashraf semakin terperanjat ketika melihat sang istri Amanda, dengan perutnya yang membesar itu kini telah berlinang air mata berada beberapa meter darinya.
"Amanda."
Dengan sudah berlinang air mata. Amanda berjalan mundur selangkah demi selangkah.
Kemudian ia langsung pergi meninggalkan tempat itu.
"Amanda!" seru Ashraf.
Tidak ingin kehilangan jejak sang istri. Karena saat ini sang istri sedang hamil besar. Ashraf seketika langsung melupakan Emily dan ia kini langsung mengejar Amanda.
Bagaimanapun, Ashraf tidak setega itu membiarkan Amanda dalam keadaan suasana hati yang sedih. Ketika istrinya itu mungkin telah mendengar semua kejujuran hati yang sudah ia ungkapkan kepada Emily.
"Amanda tunggu. Jangan berlari, kamu sedang hamil." ucap Ashraf, yang saat itu ia menahan lengan Amanda agar istri itu tidak mempercepat langkahnya.
"Biarkan aku pergi mas. Jangan buat dirimu malu disini. Pasti banyak teman-teman sekantor mu yang melihat kita sekarang. Apalagi atasan mu juga ada di sini kan. Biarkan aku pergi. Aku menyusul mu kemari hanya karena kamu meninggal sesuatu di ruang tamu di rumah. Katanya flashdisk ini penting kan. Untuk presentasi hasil kerjaan mu. Aku kemari untuk memberikan ini." ucap Amanda seraya memberikan sebuah flashdisk pada Ashraf. Yang memang tadi Ashraf lupa untuk membawanya. Dan ia tadi berpesan pada Amanda untuk mengantar flashdisk tersebut lewat jasa kurir. Tapi Ashraf tidak menyangka. Jika Amanda malah nekat mengantarkan flashdisk tersebut sendiri.
__ADS_1
Tidak mau soal urusan flashdisk membuat suasana semakin kacau. Ashraf mengalah dan kemudian mengambil flashdisk tersebut dari tangan Amanda.
Pada saat itu Ashraf begitu menahan amarahnya. Karena seharusnya Amanda berada di rumah dan menjaga kandungannya. Ini malah Amanda berkeliaran malam-malam dengan keadaan perut yang membesar hanya untuk mengantarkan flashdisk.
"Ya sudah, terima kasih sudah membawakan ini untuk aku." Ashraf kemudian menyimpan flashdisk tersebut ke kantong celananya.
Tanpa banyak kata. Amanda kemudian berpaling dan kembali berjalan untuk meninggalkan Ashraf. Tapi dengan sigap, Ashraf menahan langkah Amanda.
"Amanda. Jangan salah sangka dengan apa yang aku ucapkan tadi. Aku akan menjelaskannya semuanya."
Hening sesaat, keduanya saat itu berada di halaman restauran.
"Sebaiknya aku pulang mas. Lanjutkan saja acara mas. Mas juga sudah bohong dengan ku soal izin mas yang katanya mas meeting. Tapi apa, ternyata acara-acara makan makan."
"Ini acara makan-makan kantor Amanda. Sekalian meeting juga." ucap Ashraf berbohong.
Dalam keadaan Amanda yang sedih seperti itu. Ashraf juga tidak bisa untuk berdiam diri saja.
Sedangkan beberapa temannya nampak masih terlalu lalang untuk masuk ke area restoran.
Dan bahkan ada beberapa teman yang lain menyapanya.
Hal itu buatan Ashraf harus bersikap gentle untuk menghibur Amanda. Agar Amanda tidak kelihatan menangis dan sedih karena dirinya.
Jika Amanda terlihat ada menangis dan sedih. Pasti teman-temannya yang lain pun akan mengira bahwa dirinya sedang ada masalah dengan Amanda.
__ADS_1
Dan Ashraf tidak ingin permasalahan rumah tangganya menjadi bahan pembicaraan rekan-rekan kerjanya malam itu.
"Kita pulang sama sama Amanda. Karena kamu sudah sampai disini. Jangan pergi dulu. Urusan ku disini juga belum selesai. Aku mana mungkin membiarkan kamu pulang sendiri. Kamu sedang hamil besar. Kita masuk dulu sekarang. Aku harus berikan flashdisk ini ke pak Daniel dulu."
Dengan banyak pertimbangan. Amanda pun akhirnya menuruti ajakan Ashraf.
Ashraf kemudian kembali masuk ke dalam restauran dengan mau tak mau ia harus menggandeng tangan Amanda. Agar di mata rekan rekan kerjanya ia punya imej yang bagus sebagai seorang suami.
Acara puncak makan malam pun digelar. Semua bos besar duduk dalam sebuah meja khusus.
Dan staf khusus yang lain, seperti Emily, Ashraf dan beberapa lainnya di tempatkan di meja yang khusus pula dekat dengan meja para petinggi perusahaan.
Jamuan makan malam untuk berlangsung meriah dan hangat. Setelah Daniel selesai memberikan sambutannya.
Pada saat itu, Ashraf yang duduk di meja yang sama dengan meja Emily. Wajah Ashraf nampak begitu gelisah.
Ashraf yang duduk bersebelahan dengan Amanda. Berseberangan tepat dengan Emily yang kala itu duduk di dekat Kendrick.
Emily sendiri bersikap cuek dan menganggap dihadapannya tidak ada Ashraf dan juga yang Emily. Emily lebih menyibukkan diri untuk asik mengobrol dengan Kendrick.
"Selamat ya Ashraf, sebentar lagi istri mu akan melahirkan. Semoga proses kelahirannya lancar." ucap Daniel, memberikan sapaan pada Ashraf dan istrinya Amanda. Saat Daniel melihat Ashraf duduk hikqmat dengan Amanda.
"Terima kasih Pak Daniel."
"Silahkan nikmati semua hidangannya." imbuh Daniel ramah.
__ADS_1
"Wah, pak Ken asik bener ngobrol ma Bu Emily." sapa Daniel berganti pada Emily dan Kendrick.
Di sepanjang acara makan malam itu. Amanda nampak di buat mati kutu di hadapan Emily.