Pernikahan Kedua Mantan Suamiku

Pernikahan Kedua Mantan Suamiku
Bersama tanpa cinta


__ADS_3

Sudah jam 08.00 pagi saat itu. Tapi Ashraf masih betah tidur di dalam kamarnya.


Cahaya matahari yang menerobos masuk ke kamarnya tidak juga membuat Ashraf terbangun. Sepertinya pria itu benar-benar menikmati tidurnya.


Pagi itu tidak seperti biasanya Amanda sudah bisa untuk beraktivitas di dapur. Kala itu Amanda tengah memasak sarapan pagi untuk ia bisa nikmati bersama sang suami.


Benci dengan bau masakan yang ia rasakan beberapa bulan terakhir, pagi ini sepertinya sudah tidak Amanda rasakan.


Meskipun ia masih mual, tetapi ia bisa menahannya.


Dengan hati gembira, Amanda menyiapkan sarapan spesial untuk Ashraf. Saat semua masakan yang ia masak sudah siap. Amanda kemudian langsung menata masakan itu di atas meja makan.


Minggu pagi hari itu menjadi hari libur yang membahagiakan bagi Amanda.


Tidak hanya harinya yang sangat cerah, tetapi hati Amanda juga cerah dan bahagia.


Bagaimana tidak, karena semalam ia telah bermanja-manja dengan Ashraf. Dan Ashraf pun juga telah memanjakannya.


Setelah semua siap. Amanda kemudian berjalan menuju kamar untuk membangunkan sang suami.


"Mas, sudah siang. Apa mas tidak lapar." bisik Amanda di telinga Ashraf, ketika pria itu masih menikmati tidurnya dengan tengkurap di atas tempat tidur.


Meletakkan telapak tangannya di punggung Ashraf yang telanjang. Amanda memberikan sentuhan lembut ke kulit punggung Ashraf. Ashraf pun kemudian mulai membuka matanya.


"Jam berapa sekarang." tanya Ashraf, karena begitu ia bangun, ruangan kamarnya sudah terang benderang.


"Sekarang sudah hampir jam 08.30 pagi." jawab Amanda.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak membangunkan aku dari pagi. Padahal hari ini aku niatnya mau cari sampingan lagi."


"Sekali kali santai saja mas. Minggu ini jangan pikirkan untuk bekerja. Aku ingin mas beristirahat saja di rumah. Ayo cuci mukamu. Kita sarapan sama-sama. Aku sudah memasak sarapan untuk mas." ucap Amanda


"Memangnya kamu sudah bisa masak?" tanya Ashraf.


"Tadi aku coba untuk pergi ke dapur dan memasak. Sepertinya aku sudah tidak mual lagi. Aku buatkan sarapan nasi goreng spesial untukmu."


Setelah mencuci mukanya. Ashraf dan Amanda pun menikmati sarapan bersama-sama di meja makan.


"Mas, nanti kita belanja ya di supermarket ya. Isi kulkas sudah kosong. Ini adalah menu masakan terakhir yang aku buat. Jadi nanti kita sama-sama ke supermarket untuk belanja."


"Aku saja yang belanja. Kamu di rumah saja. Nanti sekalian aku mau cari sampingan ojek online." ucap Ashraf sambil menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.


"Memangnya mas tidak mau istirahat. Sesekali tidak apalah mas tidak melakukan aktivitas di hari libur. Mas kan pasti capek."


Saat sang suami mengucapkan kata-kata itu, bahwa ia harus cari untuk untuk persiapan kelahiran bayi mereka. Amanda menatap tanpa berkedip sang suami.


Amanda senang, karena ternyata Ashraf juga memikirkan bayi yang ada di kandungannya.


Pada hari itu, Amanda ingin berdua-duaan saja dengan sang suami.


Tapi karena Ashraf sudah berbicara seperti itu. Mau tidak mau Amanda pun hanya bisa membiarkan sang suami untuk tetap melakukan apa yang ingin ia lakukan.


"Sampai sekarang, aku tidak pernah berhenti untuk takjub. Dengan segala bentuk rasa tanggung jawab yang mas berusaha lakukan dan penuhi untuk ku. Aku tahu pernikahan kita terjadi karena sebuah kesalahan. Tapi jauh dari semua itu. Aku selalu menginginkan pernikahan kita ini menjadi pernikahan yang terakhir bagi kita berdua mas. Aku ingin kita menua bersama."


Ketika Amanda berbicara serius seperti itu. Berbicara tentang kebersamaan dalam sebuah pernikahan.

__ADS_1


Entahlah, batin Ashraf seperti memberontak.


Batinnya tidak mengakui bahwa kehidupan pernikahannya dengan Amanda mendatangkan kebahagiaan untuknya.


Karena sejatinya, Ashraf tidak bahagia dengan pernikahan itu.


Jika dirinya gini menuruti apapun keinginan Amanda. Dan ia memberikan perhatian lebih terhadap Amanda. Itu adalah bentuk tanggung jawab yang Ashraf lakukan karena Amanda tengah berbadan dua.


Tidak adil rasanya jika Asraf menyakiti wanita itu. Setelah ia menyakiti Emily juga.


Setelah apa yang sudah ia diambil dari Amanda. Ashraf tidak ingin menjadi pria yang brengsek. Yang hanya mempermainkan wanita.


Pernikahannya dengan Emily memang sudah tidak bisa diselamatkan. Meski saat itu ia sudah berusaha untuk memperbaiki hubungannya dengan Emily.


Tetapi Emily tidak mau untuk membuka diri dan memaafkan semua kesalahannya.


Sejak itulah Ashraf hanya bisa pasrah. Saat amanah datang untuk meminta pertanggungjawaban untuk dinikahi. Mau tidak mau Ashraf pun juga harus bertanggung jawab.


Karena sebagai pria sejati yang bertanggung jawab. Ia tidak ingin menambah dosa dan kesalahan yang sudah ia buat di masa lalu.


Dan kini, saat Amanda hamil. Ashraf pun juga bisa memahami dan sudah tahu jika wanita hamil memang perlu diperhatikan. Karena dulu Emily juga seperti itu saat ia hamil Jasmine.


Jika ia saat ini perhatian pada Amanda, itu semata-mata hanya karena Amanda tengah hamil anaknya.


Dan soal perasaan. Sejujurnya Ashraf hanya menghadirkan raga dalam pernikahannya dengan Amanda. Ia tidak bisa menghadirkan hati dan cintanya.


Karena hati dan cintanya tetap hanya untuk Emily.

__ADS_1


__ADS_2