Pernikahan Kedua Mantan Suamiku

Pernikahan Kedua Mantan Suamiku
Kebaikan Emily


__ADS_3

Saat Emily bicara pada Jasmine, Ashraf begitu memperhatikan bagaimana cara Emily berinteraksi kepada Jasmine. Hal seperti itu sangatlah ia rindukan.


Jasmine pun kemudian patuh dengan perintah Emily. Sebelum ia pergi, Jasmine kembali ke hadapan Ashraf untuk pamitan.


"Ayah, Jasmine ke atas dulu. Sampai ketemu lagi ayah." ucap Jasmine, kemudian ia langsung memeluk Ashraf.


"Sampai ketemu lagi sayang. Ayah janji Minggu depan akan menemui mu lagi." Kemudian Ashraf memberikan kecupan manis ke pipi sang putri kiri dan kanan.


Setelah Jasmine sudah pergi. Emily mengajak Ashraf untuk pergi ke kedai kopi yang tak jauh dari apartemen untuk bicara.


Ashraf yang saat itu berjalan di belakang Emily. Ketika mereka berjalan menuju kedai, perasaan berdebar dan berdesir itu masih Ashraf rasakan pada sang mantan istri.


Apalagi saat ia menelisik tubuh Emily dari atas sampai bawah. Seketika Ashraf langsung mengingat ingat berbagai gaya percintaan yang pernah mereka lakukan di ranjang. Pada saat mereka masih menjadi suami istri.


Semua masih terekam jelas di ingatan Ashraf. Dan bahkan pada saat itu sempat membuat adik kecil Ashraf menegang.

__ADS_1


Terkutuk memang. Dalam situasi seperti itu Ashraf masih bisa berimajinasi dengan Emily.


Setelah sampai di kedai kopi. Emily dan Ashraf kemudian saling duduk berhadapan untuk bicara.


"Katakan. Ada hal penting apa yang ingin kamu bicarakan dengan ku. Aku pikir, tak ada hal penting yang harus kita bicarakan." ucap Emily, membuka percakapan.


"Sejujurnya, aku memang ingin membicarakan hal penting denganmu. Ini soal uang nafkah yang seharusnya aku berikan untuk Jasmine. Entah bagaimana tanggapan mu. Aku hanya ingin berkata jujur dengan kondisi keuangan yang sedang aku hadapi saat ini. Terserah kamu akan menilai aku seperti apa. Terlepas dari itu, kita kan pernah menjadi pasangan suami istri. Dan kamu pun paham pasti paham dengan bagaimana karakter dan sifat ku. Aku tau, mungkin kamu bukan orang yang tepat untuk aku ajak bicara soal keuangan mu. Hanya saja, persoalan yang aku hadapi ini ada hubungannya denganmu. Terutamanya dengan Jasmine. Maka aku harus membicarakan ini dengan mu."


Emily nampak bingung.


Ashraf kemudian menarik nafas panjang.


"Baiklah, aku akan langsung ke intinya. Sebelumnya aku minta maaf Emily. Untuk bulan ini dan untuk beberapa bulan ke depan. Aku mungkin tidak bisa memberikan uang nafkah yang biasanya aku berikan kepada Jasmine. Bukan berarti aku tidak mau lagi untuk memberikan nafkah kepada Jasmine. Tetapi kondisi keuanganku saat ini sedang sulit. Aku sekarang dihadapkan pada biaya rumah sakit yang begitu besar yang harus aku bayar kepada pihak rumah sakit. Untuk membiayai persalinan Amanda. Kemarin Amanda terjatuh dari kamar mandi dan dia mengalami pendarahan. Aku membawanya ke rumah sakit dan pihak rumah sakit menyarankan untuk dilakukan operasi caesar kepada Amanda. Karena pada saat itu kondisi bayi yang Amanda kandung mengalami beberapa masalah. Apalagi saat itu kandungan Amanda baru genap 8 bulan. Sehingga bayi kami harus bisa segera di selamatkan. Dan Cesar adalah pilihan satu-satunya."


Emily nampak menyimak dengan seksama perkataan Ashraf.

__ADS_1


"Operasi caesar berjalan dengan lancar. Bayi kami bisa dikeluarkan dengan selamat. Tetapi dia karena lahir prematur. Dia perlu penanganan khusus. Tidak hanya prematur, tapi dia juga mengalami gangguan pernafasan. Sehingga ia perlu dirawat secara intensif oleh pihak rumah sakit. Dan untuk mengcover semuanya itu. Aku memerlukan uang yang cukup banyak untuk bisa membiayai seluruh biaya rumah sakit." jelas Ashraf pada Emily secara jujur.


"Dan maksud aku berbicara seperti ini sama kamu adalah. Aku meminta pengertian mu jika aku dalam beberapa bulan ke depan mungkin tidak bisa memberikan uang nafkah pada Jasmine. Aku harap kamu mau memaklumi hal itu. Jika keuanganku sudah membaik. Aku janji, aku akan kembali menjalankan tugasku sebagai seorang ayah. Yang memberikan nafkah kepada Jasmine yang jumlahnya sesuai dengan perjanjian yang sudah kita sepakati."


Emily yang sejak tadi mendengarkan perkataan Ashraf pun memahami dan mengerti arah pembicaraan Ashraf.


"Oh, pertama-tama aku ucapkan selamat. Karena kamu sekarang memiliki anak laki-laki dengannya." ucap Emily santai.


"Terima kasih." jawab Ashraf singkat.


"Jika itu memang sudah menjadi keinginanmu. Aku tidak akan banyak menuntut. Lagi pula mana mungkin akan menuntut mu jika kau keuangan mu saja tidak stabil seperti itu. Dan sebagai seorang ibu. Aku pun juga tidak akan tega untuk berbuat jahat kepada anak yang tidak bersalah itu. Jika aku baik saat ini. Memberikan kamu kemudahan dan memberikan keringanan untuk tidak memberikan nafkah kepada Jasmine. Kebaikan ku ini aku tunjukan untuk anakmu. Bukan untuk dirimu dan dia. Aku merasa bersimpati dengan kondisi anakmu. Karena aku pun juga seorang ibu. Jadi jangan salah artikan kebaikanku karena jika untuk dirimu dan dia, aku sama sekali tidak peduli." ucap Emily menanggapi.


"Aku rasa pembicaraan ini sudah cukup. Aku harus segera kembali ke unit apartemen." ucap Emily, kemudian ia membuka dompetnya dan menyelipkan selebar uang kertas untuk membayar minuman yang mereka pesan saat itu.


Setelah itu, Emily langsung berlalu dari hadapan Ashraf.

__ADS_1


__ADS_2