Pernikahan Kedua Mantan Suamiku

Pernikahan Kedua Mantan Suamiku
Kerja sama


__ADS_3

Setelah berada di kantornya. Ashraf yang kini sedang duduk di meja kerjanya pun menjadi tidak konsentrasi dalam bekerja.


Pembicaraannya dengan Amanda tadi pagi di meja makan sedikit mengganggu pikiran Ashraf.


Setelah menikah dengan Amanda. Asraf justru merasa terkekang dalam perasaannya sendiri.


Dirinya merasa bingung dengan hubungannya bersama Amanda.


Terlebih saat ini Amanda mengandung anaknya.


Ashraf merasa dibebani dengan pernikahannya kini. Apalagi pernikahannya dengan Amanda adalah sebuah pernikahan hasil hubungan gelap mereka.


Jika saja Emily pada saat itu memaafkan Ashraf. Tentunya Ashraf tidak akan mau menikahi Amanda.


Tapi nasib sudah menjadi bubur. Ashraf tidak punya pilihan untuk tidak menikahi Amanda pada saat itu.


Salah satu faktor yang membuat Ashraf merasa tidak bahagia dengan kehidupan yang sekarang ini ia rasakan adalah. Ia hidup bersama dengan wanita yang tidak sebenar-benarnya ia cintai.


Oleh sebab itu, kebahagiaan tidak benar-benar Ashraf dapatkan. Ia hanya menjalankan sebuah tuntutan tanggung jawab.


Ketika Ashraf di buat penat dengan beban pikirannya. Sebuah aroma parfum yang familiar tercium oleh panca penciuman Ashraf.


Ashraf pun seketika langsung menoleh ke arah sumber parfum itu berasal.


Mata Ashraf terbelalak kaget saat ia mendapati Emily tengah berjalan melalui meja kerjanya.


Dengan sikap cuek, Emily melenggang berjalan menuju ruang direktur. Yaitu menuju ruang kerja Daniel, atasan Asraf.


Dalam hati, Ashraf bertanya tanya. Apa yang sedang Emily lakukan di kantornya.

__ADS_1


Kemudian Ashraf pun teringat dengan kerjasama antara kantor tempat ia bekerja dengan kantor tempat email bekerja.


Mungkin kedatangan Emily di kantornya ada perlu dengan Daniel untuk membahas kerjasama perusahaan.


Dan lima belas menit berselang. Ashraf dipanggil untuk menuju ruang direktur.


Ashraf pun kini menjadi gugup. Karena ia akan bertemu dengan sang mantan istri di ruang kerja Daniel.


Sesampainya di ruang kerja Daniel. Emily yang sudah terlebih dahulu ada di sana nampak duduk diam di sebuah kursi.


Ashraf kemudian berjalan menghampiri sang bos.


"Pak Daniel memanggil saya." tutur Ashraf.


"Ia, ada beberapa hal yang ingin aku beritahu sama kamu Ashraf. Kita duduk di ruang tamu saja. Biar enak kita ngobrolnya." ucap Daniel, yang kemudian ia berdiri dari singgasana kebesarannya.


Lalu ia berjalan menuju ke meja tamu yang ada di ruangannya.


Mereka kemudian duduk di salah satu kursi yang ada di sana saling bersebelahan.


"Ashraf, kamu sudah tahu kan hasil meeting kemarin. Perusahaan kita sekarang ini sudah resmi bekerja sama dengan perusahaan Bu Emily. Karena Bu Emily adalah wakil dari perusahaan yang di tunjuk untuk mengurusi kerja sama ini. Aku selalu direktur perusahaan. Menunjuk mu untuk mengurusi kerja sama ini. Jadi, kamu dan Bu Emily harus banyak melakukan komunikasi untuk proyek yang sedang kita jalankan bersama." Tutur Daniel, menjelaskan kepada Ashraf tentang tanggung jawab baru dari perusahaan yang harus ia emban.


Sejenak, Ashraf menoleh ke arah Emily. Sedangkan Emily sendiri nampak bersikap santai.


"Sebagai perwakilan dari perusahaan, kamu bicarakan saja dengan Bu Emily untuk kelanjutan kerjasama ini. Karena saya tidak bisa menghandle pekerjaan ini. Karena besok aku harus pergi ke luar negeri untuk urusan pekerjaan juga. So, Ashraf, kerja sama ini sekarang menjadi tanggung jawab mu." jelas Daniel.


"Siap pak, saya akan laksanakan tugas yang bapak limpahkan ke saya dengan sebaik-baiknya." jawab Ashraf


"Bagus."

__ADS_1


Dan pada hari itu. Emily dan Ashraf rencananya akan meninjau lokasi proyek.


"Pak Ashraf, saya hanya punya waktu sekitar sampai jam 03.00 sore untuk kunjungi proyek. Jadi kalau bisa, kita bisa mengunjungi proyeknya sekarang. Aku perlu tau lokasinya." ucap Emily kepada Asraf.


Emily ketika itu memanggil Ashraf dengan sebutan pak. Karena Emily memang sangat memegang teguh rasa profesionalisme dalam bekerja.


"Baik, saya akan tujukan lokasi proyek nya." jawab Ashraf. Sepertinya Ashraf nampak senang ketika ia kini bisa terlibat kerja sama dengan sang mantan istri.


"Kita akan menggunakan mobil perusahaan untuk menuju lokasi proyek." imbuh Ashraf.


Saat itu, mereka sama-sama berjalan di sebuah koridor untuk menuju lift.


Sesampainya di depan lift, Ashraf kemudian langsung menekan tombol untuk membuka lift nya.


Setelah menunggu beberapa menit. Lift terbuka dan keduanya pun kini masuk ke dalam.


"Tolong profesionalah dalam bekerja. Aku tidak ingin orang kantor mu tau jika kita adalah mantan suami istri. Aku sebagai orang yang mempunyai jabatan yang lebih tinggi dari mu. Bukan karena aku sombong, tapi kamu memang harus tahu hal ini. Aku tidak ingin kedepannya soal hubungan yang pernah ada di antara kita di bawa ke urusan pekerjaan. Kamu paham kan." Cecar Emily dengan tegas.


Seolah Emily tidak perduli jika pria yang ada di sampingnya itu adalah seorang pria yang pernah sangat ia hormati.


Tapi saat mereka sudah bercerai. Rasa hormat itu telah hilang. Berganti kamu dan aku.


"Ia Emily aku paham." jawab Ashraf sambil melengkungkan senyum tipis di bibirnya.


"Bu Emily. Harus hormat memangil ku."


"Siap Bu Emily." ralat Ashraf.


Dunia begitu sempit ternyata. Ashraf tidak menyangka. Jika ia bisa berkerja sama dengan mantan istrinya.

__ADS_1


Bahkan ia harus memanggil sang mantan istri dengan sebutan sangat formal.


Meski begitu, Ashraf tidak sama sekali keberatan dan terganggu. Ia malah senang dengan tugas yang di berikan perusahaan pada dirinya. Apalagi jika bukan ia bisa berinteraksi dengan Emily.


__ADS_2