
Setelah berdamai dengan sang putri. Ashraf seolah mendapatkan kebahagiaan yang selama ini hilang. Sebuah kebahagiaan dari putrinya.
Selama dalam perjalanan menuju kembali ke rumah. Ashraf merasakan perasaan yang sangat bahagia.
Hatinya dilingkupi kebahagiaan yang sangat membuncah. Sehingga di sepanjang perjalanan wajah Ashraf selalu tersenyum.
Sesampai di rumah, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ashraf kemudian masuk rumah dengan kunci cadangan yang ia bawa.
Dengan menenteng dua kantong plastik yang didalamnya berisikan belanjaan. Ashraf kemudian menaruh barang belanjaan itu di atas meja.
Dan tak berselang lama, Amanda datang dari kamar dan langsung menghampiri Ashraf.
"Telepon dan pesanku tidak mas respon. Apa mas tadi sibuk? ucap Amanda, baru saja mendatangi Ashraf yang baru kembali setelah dari pagi pergi.
'Oh, maaf. Tadi aku sedang banyak orderan. Dan ketika sudah sore, aku lanjut belanja." jelas Ashraf.
"Aku siapkan makan ya mas." tawar Amanda.
"Boleh. Siapkan saja di meja, nanti aku makan. Aku mau mandi dulu."
Ashraf pun kemudian bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dan setelah itu. Ashraf kembali ke ruang makan dan ia pun makan makanan yang sudah di siapkan oleh Amanda.
Dengan patuh, Amanda pun menemani Ashraf untuk akan malam.
"Mas kok tanya aku sudah malam apa belum?" celetuk Amanda, dan serta merta itu membuat Ashraf terkesiap dan akhirnya ia terdesak.
Reflek, Amanda kemudian memberikan air putih untuk Ashraf.
__ADS_1
"Maaf Manda, aku lapar. Jadi aku tidak ingat kamu. Kamu sudah makan?" tanya Ashraf akhirnya.
"Sudah. Setidaknya kan mas tanya aku sudah makan belum. Apa lagi aku kan sekarang hamil anak mu mas. Masa mas tidak ada perhatiannya sama sekali." cecar Amanda.
"Jangan souzon Amanda. Siapa bilang aku tidak perhatian." jawab singkat Ashraf. Yang kemudian ia kembali asik dengan makanannya. Karena ia memang lapar.
Ashraf memakan dengan sangat lahap makanannya. Seperti orang yang sedang kelaparan.
Saat Ashraf melahap makanan yang sudah di siapkan oleh Amanda. Ada secercah rasa bahagia yang dirasakan oleh Amanda. Karena sang suami menikmati makan malam yang ia buatkan.
Tidak berselang lama kemudian. Ponsel Ashraf yang ia taruh di saku celananya berdering. Dan Ashraf pun kemudian langsung mengangkat telepon tersebut.
"Halo." jawab Ashraf dengan nada yang sangat lembut.
"Halo ayah." jawab seseorang di seberang telepon sana.
Ketika tau yang meneleponnya adalah Jasmine. Seketika Ashraf langsung beranjak dari tempat duduknya di meja makan.
Ashraf kemudian berjalan ke ruang tamu untuk menerima telepon dari Jasmine.
Sontak saja sikap Ashraf yang tiba-tiba berubah saat pulang tadi menyisakan tanda tanya besar oleh Amanda.
Karena sudah sekian bulan anaknya yang bernama Jasmine itu tidak pernah menghubunginya.
Dan kini ia menghubungi suaminya lagi. Amanda tau jika Ashraf sedang bicara dengan Jasmine karena Ashraf menyebut nama putrinya itu.
Perasaan bahagia yang beberapa saat lalu di rasakan Amanda. Kini berganti rasa curiga.
__ADS_1
Karena ternyata raut bahagia yang Ashraf tunjukkan tadi bukan karena ia menikmati makanannya. Tapi mungkin karena saat ini Ashraf sudah kembali berhubungan baik dengan putrinya.
Sambil masih duduk di kursi di ruang makan. Amanda nampak memperhatikan Ashraf yang tengah menerima panggilan telepon dari Jasmine.
Dari percakapan yang Amanda dengar. Ashraf bersuara begitu hangat dan lembut saat berkomunikasi putrinya.
Sangat terlihat jelas sekali wajah Ashraf berbinar bahagia.
Sebuah wajah bahagia yang sudah lama tidak Amanda lihat dari pria itu yang beberapa bulan ini selalu murung itu.
Ashraf terlihat tertekan dan menyimpan segala beban pikirannya sendiri.
Tapi saat berbicara dengan putrinya melalui sambungan telepon kala itu. Ashraf seolah terlihat lepas dari beban pikiran.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Mas, boleh aku bertanya?" ucap Amanda, ketika mereka saat itu sudah berada di atas tempat tidur untuk beristirahat.
"Iya, tanya saja. Ada apa?" ucap Ashraf seperti biasa. Bertanya dengan nada datar kepada Amanda tanpa embel-embel kata-kata sayang.
"Tadi mas terlihat bahagia sekali menerima panggilan telepon itu. Itu panggilan telepon dari siapa? Kalau boleh aku tau." ucap Amanda pura pura tidak tau dengan siapa sang suami menelpon.
"Itu tadi dari Jasmine. Aku sangat senang, akhirnya Jasmine mau berkomunikasi lagi denganku. Setelah sekian lama dia tidak mau berkomunikasi."
"Oh, syukurlah, aku ikut senang mendengarnya. Memang tadi mas bertemu Jasmine?" tanya Amanda begitu penasaran.
"Aku bertemu dengan Emily dan juga Jasmine di supermarket. Lalu kami bicara. Setelah membujuk Jasmine. Akhirnya kami sekarang berbaikan. Sudah menjadi tanggung jawab ku untuk ikut mendidik Jasmine. Meskipun aku sudah pisah dengan Emily. Tapi anak tetaplah anak. Aku tidak bisa mengabaikan anak ku. Aku sudah janji dengan Jasmine untuk selalu ada untuknya. Jadi, aku harap kamu juga harus paham itu. Jika aku bertemu dengan putri ku, aku harap kamu paham dengan kondisinya. Dia adalah korban dari hubungan kita yang salah."
__ADS_1
Mendengar kata-kata Ashraf yang mengutarakan jika hubungan dirinya dengan Ashraf adalah sebuah hubungan yang salah. Entah kenapa hal itu membuat Amanda merasa terpojok.
Setelah berbicara seperti itu, Ashraf langsung membalikkan tubuhnya, tiduran miring membelakangi Amanda.