
Di sepanjang perjalanan dari kantor menuju pulang ke rumah. Ashraf berpikir keras.
Ia berfikir untuk cari alasan bagaimana caranya agar ia tidak usah datang dalam acara makan malam nanti.
Ashraf tidak mungkin mengajak Amanda yang kini tengah hamil besar itu.
Apalagi mempertemukan Emily dan Amanda. Sangat lah Asharf ingin hindari pertemuan semacam itu.
Jauh di lubuk hati Ashraf yang paling dalam. Ashraf ingin tetap menjaga hati Emily. Ia juga ingin menjaga perasaan Amanda. Bagaimana pun, wanita itu adalah istrinya.
Kandungan Amanda kini sudah semakin besar. Usia kandungannya sudah memasuki bulan ke delapan. Dan kurang lebih sebulan lagi ia akan melahirkan.
Sesampainya di rumah. Ashraf langsung disambut oleh Amanda. Yang saat itu sudah berdiri di ambang pintu begitu ia mendengar deruan suara motor sang suami tercinta.
"Tumben mas mas pulang sorean. Tidak seperti biasanya." sambut Amanda dari ambang pintu.
"Iya, hari ini hanya ada rapat. Dan setelah itu kami diperbolehkan untuk pulang." ucap Ashraf, seraya melepaskan helm dan juga jaketnya.
Sepasang suami istri itu pun kemudian kembali masuk ke dalam rumah.
Sambil duduk di ruang tamu. Ashraf kemudian melepaskan sepatunya. Kemudian ia menggulung kemejanya sampai ke siku lalu ia berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangannya.
__ADS_1
"Aku siapkan makan ya mas. Sepertinya mas lapar."
"Boleh." jawab Ashraf.
Amanda pun kemudian langsung bergegas menuju ke dapur untuk memanaskan masakan yang sudah ia masak.
Setelah disiapkan makanya oleh Amanda. Ashraf pun langsung bergegas menuju meja makan dan kemudian duduk manis di sana.
Dengan telaten, Amanda melayani sang suami. Ashraf pun kemudian menikmati makanan yang sudah dimasak oleh Amanda.
"Kamu tidak ikut makan? Ambillah piring dan makanlah." ucap Ashraf, saat mendapati Amanda justru hanya diam saja menemaninya makan.
"Aku tadi sudah makan mas. Aku senang mas makannya lahap sekali. Masakan ku enak kan. Dulu mas sering sekali memuji aku pintar masak. Sekarang aj, mas jarang banget puji aku." seloroh Amanda, yang sebenarnya ia ingin sekali dipuji oleh Ashraf. Karena pria itu jarang sekali memujinya belakangan ini.
Pernah ketika itu Ashraf sangat memuji masakan Amanda. Ashraf lontarkan pujian itu saat mereka masih berselingkuh.
Ketika Emily keluar kota dalam waktu yang lama. Sehari hari Ashraf mencuri kesempatan untuk menyelinap ke rumah sebelah. Rumah Amanda yang dulu masih menjadi tetangganya.
Setiap Ashraf datang ke rumahnya. Amanda selalu memasak dan menyuguhkan makanan untuk Ashraf.
Saat dulu Ashraf begitu memuja masakan Amanda. Di lain sisi Ashraf justru curhat jika sang istri, Emily dulu tidak pernah memasak dan tidak bahkan tidak bisa masak.
__ADS_1
Karena untuk soal masakan. Di rumah mereka sudah ada Bik Ratih yang selalu menyiapkan makanan untuk mereka.
Kehangatan Amanda dan perhatian nya itu lah yang kemudian membuat Ashraf menyukai Amanda dan kemudian ia main hati.
Hal semacam itulah yang membuat Asraf merasa tertarik dengan Amanda kala itu. Seorang perempuan yang begitu pintar memasak dan sepertinya sangat pandai mengurus suami.
Dari cara lembut Amanda menyentuhnya juga sepertinya Amanda adalah wanita sempurna dalam benak Ashraf kala itu.
Tetapi kenyataannya, setelah ia berumah tangga dengan Amanda. Semua hal luar biasa yang dulu ia pandang dari Amanda. Ternyata semuanya kini biasa saja.
Berganti sekarang ia terpesona kembali dengan Emily. Sang mantan istri yang makin kesini makin terlihat cantik, mempesona dan punya aura wanita yang independen.
Bahkan Ashraf sangat ingin kembali memiliki wanita tersebut.
Jika dibandingkan dengan Emily, tentunya Amanda tidak ada apa-apanya.
Tidak ingin kembali berkubang dalam penyesalan yang selama ini selalu ia pendam. Ashraf hanya bisa menelan pil pahit hasil pembuatannya sendiri.
Karena selama menikah dengan Amanda. Ashraf tidak sama sekali melibatkan perasaan cintanya untuk Amanda.
Ia hanya sekedar bertanggung jawab. Apalagi kini Amanda telah mengandung benihnya.
__ADS_1
Beban itu makin menghimpit pria berusia 35 tahun itu.