Pernikahan Kedua Mantan Suamiku

Pernikahan Kedua Mantan Suamiku
Morning sickness


__ADS_3

Bulan demi bulan berlalu. Kini kehamilan Amanda sudah memasuki bulan ke empat. Dan perut Amanda sudah terlihat membuncit.


Selama mengandung anak pertamanya. Amanda memang merasakan berbagai macam kepayahan di fase-fase pertama kehamilannya.


Dan Amanda juga mengalami morning sickness yang luar biasa.


Amanda mengalami morning sickness sejak usia kandungannya menginjak usia 2 bulan. Dan hingga kini, saat usia kehamilan Amanda masuk empat bulan. Morning sickness itu masih Amanda rasakan.


Amanda benar-benar tidak bisa melakukan aktivitas apapun.


Sehingga Ashraf lah yang kini melakukan tugas yang biasanya di lakukan oleh Amanda.


Ashraf lah yang kini mengerjakan pekerjaan rumah, hingga memasak pun kini di lakukan oleh Ashraf.


Karena Amanda tidak bisa mencium berbagai bau masakan yang membuat dirinya memuntahkan semua isi perutnya.


Oleh sebab itu, Ashraf mengambil alih semua tugas yang sebelumnya di lakukan oleh Amanda.


Karena Ashraf juga memaklumi keadaaan sang istri.


Karena ia sibuk mengurusi Amanda. Dalam beberapa bulan terakhir ini Ashraf pun sudah tidak sempat lagi untuk mencari kerjaan sampingan dengan mengojek online.


Karena keadaan Amanda yang tidak memungkinkan untuk ia tinggal.


Dan malam itu, sepulang Ashraf bekerja. Ia nampak berkutat di dapur untuk menyiapkan makanan malam untuk ia santap bersama Amanda.


Sepiring tumis kangkung beserta telur dadar kini telah Ashraf siapkan.


Dalam keadaan Amanda yang tak kuat untuk mencium bau asap masakan. Membuat Ashraf mau tidak mau harus belajar memasak. Suatu pekerjaan yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan.

__ADS_1


Kondisi Amanda masih lemas ketika ia sudah duduk di salah satu kursi di meja makan.


"Ayo kita makan. Mumpung sayurnya masih hangat. Nanti kalau sudah dingin kamu mual lagi." ujar Ashraf, kemudian ia menaruh lauk, nasi, dan juga telur yang sudah ia buat ke piring Amanda.


Malam itu Ashraf melayani sang istri.


Amanda masih terlihat lemas. Kepalanya masih terasa pusing. Sampai sampai ia terus memegangi kepalanya.


"Maaf ya mas, selama beberapa bulan ini aku tidak melayani mu dengan baik. Justru mas yang melakukan aktivitas yang seharusnya aku lakukan. Sedangkan aku hanya tiduran di tempat tidur." tutur Amanda merasa bersalah kepada sang suami. Karena ia benar-benar tidak bisa bangkit dari tempat tidur.


"Tidak apa-apa. Aku sudah biasa melakukan hal ini. Dulu waktu Emily hamil, dia juga seperti mu, tapi," belum selesai Ashraf melanjutkan perkataannya. Ashraf menghentikan kata katanya.


Ashraf merasa sudah kelepasan bicara tentang mantan istrinya.


Amanda yang saat itu sedang mengunyah pun kemudian menatap sang suami.


"Maaf," Ashraf buru-buru meminta maaf karena tadi dia kelepasan bicara soal Emily.


Ashraf nampak terdiam. Ia bingung harus menjawab bagaimana pertanyaan Amanda.


"Jawab saja mas pertanyaan ku. Tidak apa apa kok. Aku tidak akan marah. Memangnya dulu mbak Emily seperti apa keadaannya saat mengandung anak mas. Apakah dia juga mengalami hal yang sama dengan ku?" tanya lagi Amanda pada Ashraf.


"Iya, dia dulu juga mengalami morning sickness. Sama seperti apa yang kamu alami." jawab Ashraf.


"Kalau begitu berarti semua anak mas manja ya. Buktinya mbak Emily juga parah saat ia hamil. Mungkin itu bawaan anaknya." tutur Amanda.


"Mau nambah lagi lauknya. Aku ambilkan ya." ucap Ashraf menawarkan.


Saat itu sebenarnya Ashraf hanya ingin mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


Karena ia tidak ingin membahas tentang Emily di depan Amanda.


"Ini saja aku sudah tidak habis mas. Aku makan buah saja. Aku tidak mau paksa makan. Nanti malah muntah." ucap Amanda yang kemudian ia berdiri dan hendak membereskan bekas makannya.


Baru saja Amanda berdiri. Ia pun kemudian limbung hampir saja terjatuh. Dengan sigap, Ashraf pun menangkap Amanda.


"Sudah jangan bereskan. Biarkan aku saja yang akan membereskan. Kalau kamu mau buah. Nanti aku akan kupas kan. Kamu kembali ke tempat tidur saja ya." ucap Ashraf, yang kemudian dengan penuh perhatian ia menuntun Amanda untuk berjalan menuju kamar.


Sesampainya di kamar. Ashraf kemudian menidurkan Amanda dan menyelimuti kaki sang istri.


"Kamu istirahat saja, nanti aku akan kupas kan buah untuk mu." Ucap Ashraf, yang kemudian ia pergi meninggalkan Amanda sendirian di kamar.


Dalam hati, sebenarnya Amanda merasa sedih.


Ia sedih karena selama ia mengalami morning sickness. Ashraf tidak benar-benar memberikan perhatian secara moril padanya.


Ashraf hanya perhatian dalam membantu pekerjaan rumah.


Padahal, Amanda juga butuh perhatian secara emosional.


Seperti di perhatikan dengan cara memijat tengkuknya, dielus perutnya dan perhatian yang berhubungan dengan emosionalnya.


Amanda merasa sendirian menghadapi momen-momen morning sickness yang ia alami.


Dan hal itu membuat Amanda merasa sedih.


Harusnya Ashraf ada di sampingnya juga. Tapi pria itu tidak mendekatkan dirinya pada dirinya.


Setiap malam, Amanda pun merasakan pesakitan itu sendiri. Tanpa ada rasa pedulinya Ashraf dengan dirinya.

__ADS_1


Padahal, Amanda ingin di manja oleh Ashraf dalam keadaan dirinya yang saat ini sering mengalami berbagai macam keluhan kehamilan.


__ADS_2