
Selesai makan, Ashraf kemudian langsung membersihkan dirinya ke kamar mandi.
Setelah selesai membersihkan diri. Ashraf yang saat itu merasa sedikit pusing langsung bergegas menuju ke atas tempat tidur untuk beristirahat.
Ia berniat untuk merebahkan tubuhnya sejenak di sana untuk menghilangkan pening yang sebenarnya sejak tadi ia rasakan.
Pulang jam 15.00 sore membuat Ashraf merasa banyak waktu untuk beristirahat.
Ketika Ashraf sudah berada di atas tempat tidur. Amanda kemudian menyusul Ashraf dan ia pun ikut merebahkan tubuhnya di samping Ashraf.
Ketika Ashraf sudah memejamkan matanya untuk mengistirahatkan diri. Pelan-pelan ada sebuah gerakan yang menyentuh tangannya.
Kini telapak tangan Ashraf sudah berada di atas perut Amanda yang semakin mm bulat.
Amanda meletakkan telapak tangan Ashraf tepat perutnya yang besar.
Seketika itu pun membuat Ashraf kembali membuka matanya.
"Dia juga perlu perhatian dari kamu mas. Selama ini aku tidak banyak menuntut mu. Asal kamu tanggung pada ku itu sudah cukup bagi ku. Tapi untuk anak ini. Please, jangan abaikan mas. Aku paham kamu sangat sibuk. Dan di malam hari pun kadang kamu masih kerja. Aku juga paham kamu capek. Tapi, tidak ada salahnya kan mas. Luangkan waktu lima menit saja untuk menyapanya." curhat Amanda dengan tatapan mata sendu pada Ashraf.
Ashraf pun kemudian menghela nafas panjang dan kemudian ia berkata.
"Maaf ya sayang. Maafkan Ayah." ucap Ashraf, berucap sambil menatap ke arah perut buncit Amanda.
__ADS_1
"Ayah bukannya tidak sayang dengan mu. Justru ayah sedang berjuang sekarang ini. Banyak hal yang ayah harus kerjakan. Salah satu kesibukan ayah ini juga demi kamu. Dari lubuk hati ayah yang paling dalam, ayah sayang kamu." ucap Ashraf penuh keseriusan.
Dan kata-kata Ashraf pun sudah cukup membuat Amanda tersentuh. Sampai ia meneteskan air mata.
Entah ada dorongan apa. Saat itu sepertinya Ashraf sedang bersikap lembut kepada Amanda.
Ashraf menghapus air mata yang membasahi pipi Amanda dengan jari-jari tangannya.
"Aku sangat mencintaimu mas. Aku sangat mencintaimu."ujar Amanda, yang semakin mellow. Ia pun kemudian merangkul leher Ashraf dan meletakkan kepalanya tepat di dada Ashraf.
Karena kasihan, Ashraf kemudian mengangkat satu tangannya yang lain dan melingkarkan tangannya untuk memeluk Amanda. Karena pada saat itu Amanda terlihat sangat sedih.
"Maafkan aku Amanda. Jika aku tak seperti yang kamu inginkan." ucap Ashraf dalam hati.
Sontak saja, deringan ponsel tersebut seketika langsung mengganggu kehiqmatan antara Ashraf dan Amanda yang saat itu berada di atas tempat tidur.
"Ponsel ku berdering. Aku angkat telepon ku dulu ya." ucap Ashraf, Amanda pun kemudian bangkit dari tidurnya di dada Ashraf.
Ashraf kemudian beranjak dari tempat tidur dan mengambil ponselnya.
Wajah Ashraf langsung mengembang sempurna ketika mendapati sang anak Jasmine melakukan panggilan video call terhadap dirinya.
Tidak enak hati mengangkat telepon di kamar karena ada Amanda. Ashraf kemudian berjalan meninggalkan kamar untuk menerima panggilan video call dari putrinya Jasmine.
__ADS_1
'Hai sayang, tumben video call ayah. Ada apa sayang?" tanya Ashraf kepada putri satu-satunya yang sangat ia cintai.
"Aku tidak enak badan ayah." jawab Jasmine, menampakkan wajah lesunya pada layar kamera yang ada di ponselnya. Sehingga Ashraf bisa dengan sangat jelas mengamati wajah sang putri yang memang terlihat sedikit lemah.
"Jasmine sakit dari kapan? Kenapa baru bilang sekarang sama ayah!" seru Ashraf sedikit kalut dan khawatir.
"Sebenarnya Mama tidak membolehkan Jasmine untuk memberitahu Ayah kalau Jasmin sakit. Dan sekarang juga mama tidak tahu kalau Jasmine sedang menelpon ayah dan memberitahu ayah kalau Jasmin sakit." tutur Jasmine.
"Memang Mama melarang mu untuk menelpon ayah?"
"Tidak. Mama tidak melarang Jasmine untuk menelpon ayah. Hanya saja mama menyuruh Jasmine untuk tidak memberitahu Ayah kalau Jasmine sakit. Karena kata Mama, jika Jasmine sakit pun Ayah tidak akan peduli dan ayah tidak akan datang ke rumah untuk melihat keadaan Jasmine." jelas Jasmine, mengutip perkataan Emily. Mendengar itu, hati Ashraf sedikit sedih.
"Jasmine telepon ayah karena Jasmine rindu sama ayah. Sekarang kondisi Jasmine sudah lebih baik kok ayah. Jangan bilang sama mama ya kalau Jasmine video call ayah." tutur Jasmine berpesan.
"Jangan khawatir sayang. Ayah tidak akan bilang mama. Jasmine jangan takut dengan mama jika mama melarang mu untuk menelpon ayah. Jika Jasmine mau apapun bilang saja sama ayah langsung. Ayah akan lakukan apapun untuk kamu sayang. Kamu adalah belahan jiwa ayah. Ngomong ngomong, dimana Mama?"
"Mama tidak ada di rumah ayah. Tadi mama berpesan pergi sebentar untuk acara makan malam di kantor. Tadi Mama sebenarnya mau ajak Jasmine. Tapi karena kondisi ku belum sehat, Jasmine tidak jadi ikut. Jasmine di rumah sama Bik Ratih."
Dan seketika, pikiran Ashraf pun langsung bekerja. Berarti Emily pergi ke acara makan malam sendirian saja. Dia tidak mengajak Jasmine.
Otomatis, hal itu membuat Ashraf senang. Karena dirinya juga bisa datang pada acara makan malam nanti tanpa perlu mengajak Amanda.
Setelah berbincang-bincang dengan Jasmine lewat panggilan video call. Ayah dan anak itu pun kemudian mengakhiri panggilan dengan saling mengatakan kata sayang di akhir pembicaraan.
__ADS_1
Setelah mengetahui jika Emily ternyata datang di acara makan malam sendirian. Ashraf kini semangat untuk menghadiri acara makan malam tersebut. Dan dia hanya butuh memberikan Amanda alasan untuk ada urusan di luar. Maka semuanya pun akan beres.