
"Cukup Amanda!" teriak Ashraf dengan lantangnya.
"Oke, aku yang salah. Puas kamu." imbuh Ashraf lagi, kemudian ia langsung bergegas pergi meninggalkan ruang pemulihan yang di tempati Amanda.
Di mana saat itu Amanda masih dalam masa pemulihan pasca operasi Caesar.
Amanda sendiri kini perasaan sudah campur aduk. Antara kecewa dengan semua perlakuan Ashraf, dan juga menyesalkan apa yang sudah terjadi pada dirinya.
Yang kini berimbas pada kelahiran prematur anak yang ia kandung.
"Kamu benar-benar menyakitiku Mas. Semenjak kita menikah, aku pikir kamu akan belajar mencintaiku dengan setulus hatimu. Aku pikir, kita bisa membina rumah tangga sesuai dengan keinginan kita. Karena aku menginginkan seorang suami seperti dirimu, dan kau menginginkan seorang istri seperti aku. Tapi setelah kita menikah. Ternyata semuanya itu hanya omong kosong. Aku tidak pernah merasakan kehangatan cintamu. Tapi akulah yang justru selalu menunjukkan cinta ku terhadap dirimu." Amanda kini hanya bisa menelan kekecewaannya. Atas semua perlakuan Ashraf pada dirinya.
"Bahkan saat kita sudah punya anak pun, kamu benar-benar tidak begitu memperhatikan aku Mas."
"Saat aku mendengar semua ungkapan isi hatimu saat di toilet itu. Sudah cukup itu semua membenarkan jika pernikahan kita ini adalah sebuah pernikahan yang tidak sehat."
"Karena hati dan pikiranmu masih dan selalu untuk mantan istrimu dan juga anakmu."
"Sedangkan untuk diriku yang saat ini sah menjadi istrimu. Malah tidak kamu perlakukan dengan baik. Walau kamu sudah bertanggung jawab secara materi."
"Lalu bagaimana cara ku agar bisa mempertahankan pernikahan ini Mas. Dengan alasan apa aku bisa tetap memegang mu untuk menjadi suamiku. Sedangkan aku sudah mendengar sendiri jika kau akan menceraikan aku."
"Lalu bagaimana dengan anak kita? Dia saja sekarang sedang berjuang hidup. Bahkan dia yang belum ada nama pun saat ini sudah terombang-ambing kehidupannya. Dan masa depannya pun aku tidak bisa menjamin."
"Dalam situasi seperti ini. Sikapmu malah seperti itu. Sungguh Mas, aku juga tidak bisa seperti ini terus."
Amanda merasa kosong. Ia merasa sendirian dalam melalui semua ujian yang datang padanya.
Ia merasa Ashraf begitu mengabaikan perasaannya. Walaupun secara tindakan. Ashraf masih bertangungjawab penuh atas dirinya.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Sedangkan Ashraf sendiri pun kini semakin ditekan mentalnya.
Tekanan metal yang di alami Ashraf tidak datang hanya dari Amanda. Tapi juga dari bayinya yang saat ini di tengah berjuang untuk hidup.
Dan di sisi lain, Ashraf semakin tidak terima jika sang mantan istri Emily kini dekat dengan pria lain.
__ADS_1
Karena ia masih berharap bisa kembali kepada Emily. Untuk bisa bersatu lagi seperti dulu sebelum mereka bercerai.
Tetapi jika melihat sikap Emily yang biasa terhadap dirinya dan cenderung cuek. Membuat Asraf juga tidak percaya jika wanita yang pernah bucin terhadap dirinya itu bisa secepat itu melupakan dirinya.
"Semua ini pasti omong kosong. Aku bisa melihat dari matamu jika sebenarnya kamu masih mencintai aku Emily. Hanya saja rasa cinta itu tersakiti oleh penghianatan yang sudah aku lakukan terhadap dirimu. Dan kau kini berusaha untuk benar-benar membuang namaku dari hatimu. Tapi aku tahu Emily. Perasaan yang pernah kita jalin sama-sama ini sangat kuat. Dan tidak semudah itu kamu bisa menghilangkannya. Dan aku berani bertaruh. Kamu masih menyimpan rasa pada ku. Aku tidak akan pernah melepaskan mu."
Saat Ashraf tersadar jika kini ia kembali memikirkan sang mantan istri. Tiba tiba seorang perawat keluar dari ruang bayi di mana saat itu bayi Amanda tengah di rawat.
Saat melihat seorang perawat keluar dari ruangan dengan keadaan panic. Ashraf pun langsung berlari menuju ruangan di mana bayinya saat itu berada.
"Apa yang terjadi Dokter?" tanya Ashraf pada sang dokter yang kala itu baru tiba di ruangan perawatan bayi.
"Silahkan keluar dari ruangan dulu pak. Kami akan memberikan pertolongan pada bayi anda." ujar sang dokter memerintahkan Ashraf untuk keluar dulu dari ruangan.
Dengan langkah yang lemas dan penuh dengan kekhawatiran. Ashraf keluar dari ruangan dan kemudian ia melihat dr kaca jendela ketika saat itu bayi nya sedang di periksa oleh Tim dokter.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Sejam, dua jam kemudian.
Tidak hanya Ashraf yang saat ini berada di balik pintu kaca ruangan sambil memperhatikan para tim dokter sedang memeriksa keadaan sang bayi. Tapi juga Amanda kini juga berada di sana.
Air mata Amanda tidak berhenti mengucur dari kedua pelupuk matanya.
Dan kini disusul Ashraf pun juga tengah berderai air mata.
Sebagai seorang ayah yang memiliki perasaan lembut terhadap seorang anak. Ashraf pun tidak kuasa melihat bayinya, anaknya saat ini tengah berjuang antara hidup dan mati.
Ketika bayinya yang saat ini masih belum ia berikan nama itu sedang diusahakan oleh tim dokter untuk tetap bisa bernafas. Dan untuk agar dia tetap bisa bertahan hidup. Perasaan Ashraf begitu hancur kala itu.
Karena tadi ia sempat memikirkan tentang dirinya sendiri. Padahal anaknya sedang berjuang.antara hidup dan mati.
Saat itu lah Ashraf mengutuk dirinya sendiri. Sampai-sampai tangan Ashraf mengepal begitu eratnya. Sangking ia merasa kecewa terhadap dirinya sendiri.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Suara lengkingan ventilator yang terdengar melengking itu begitu memecah gendang telinga Ashraf dan juga Amanda.
__ADS_1
Karena pada detik itu pula, mereka sadar dan tahu. Jika putra mereka, bayi yang terlahir prematur dua hari lalu itu. Tidak bisa diselamatkan.
"Maaf pak Ashraf, Bu Amanda. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan bayi kalian. Tapi ia sepertinya tidak kuat lagi untuk bertahan hidup. Semoga kalian tegar." ucap sang dokter. Kemudian ia berlalu dari hadapan Ashraf dan juga Amanda setelah memberikan kabar wafatnya sang putra mereka.
Ashraf dan Amanda pun langsung lemas ketika mendengar berita tersebut.
"Maafkan Ayah sayang, maafkan ayah. Ayah berdosa sama kamu. Ayah minta maaf. Saat kamu masih bernapas pun bahkan ayah tidak sempat memikirkan nama untukmu." ucap Ashraf sambil menangis tersedu-sedu, dan berbisik di telinga sang bayi yang sudah terbujur kaku tersebut.
"Maafkan Ayah ya nak, putra ku. Ayah yang salah. Semua salah ayah, ini semua dosa ayah. Biarkan Tuhan menghukum ayah untuk sebuah kesalahan dan dosa-dosa yang sudah Ayah perbuat. Nak, untukmu, tidurlah selamanya dengan tenang ya sayang. Surga adalah tempat terbaik untukmu. Ayah tidak akan pernah melupakanmu, jika kamu pernah hadir dan terlahir di dunia. Meskipun Ayah tidak bisa untuk merawat dan membesarkan mu. Ayah mencintaimu sayang. Sungguh, ayah menyesal." kemudian Ashraf mencium dengan penuh rasa cinta dan sayang untuk bayi yang telah kaku tersebut dengan perasaan hati yang sudah hancur lebur.
Sedangkan Amanda sendiri saking tidak kuasa menerima kenyataan itu, langsung pingsan.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Sebulan setelah kematian bayi mereka. Ashraf dan juga Amanda sama-sama memisahkan diri masing-masing.
Mereka sudah tidak tinggal lagi serumah. Amanda pulang ke rumah orang tuanya dan Ashraf memilih untuk meninggalkan rumah kontrakan yang pernah ia sewa untuk melupakan segala kenangan yang pernah terjadi di rumah itu.
Dan tak lama berselang, Amanda menggugat cerai Ashraf.
Beberapa bulan kemudian, Ashraf dan Amanda resmi telah mengakhiri pernikahan mereka.
Mereka bercerai dengan menyisakan rasa dendam untuk Amanda pada Ashraf.
Sedangkan Ashraf sendiri hidup dalam penyesalan mendalam.
Ia menyesal telah selingkuh.
Ia menyesal tidak memperhatikan Amanda saat hamil anaknya. Sehingga bayinya yang berjenis kelamin laki-laki itu akhirnya lahir prematur dan meninggal.
Ia menyesal telah kehilangan pendamping hidup seperti Emily.
Dan banyak sekali penyesalan yang tak bisa di ungkapkan oleh Ashraf.
Tamat
Jangan lupa ikuti kisah Emily dengan suami baru nya ya 🥰🥰🥰 jangan lupa di subscribe, terimakasih 🥰🙏❤️
__ADS_1