
Setelah selesai tanpa benar-benar mengeringkan rambutnya Bible yg hanya menggunakan celana panjang dan kaos lengan pendek ini mendorong rak buku yg ada di sudut kamar nya yg bisa langsung ke kamar Vio.
Pintu yg di desain secara khusus ini sengaja di buat oleh Bible untuk keadaan darurat agar mudah baginya mengakses kamar Vio.
Berjalan pelan tanpa menggunakan alas kaki, Bible dapat melihat Vio yg tertidur menyamping dengan baju tidur tipis nya, sebenarnya bukan karena sengaja Bible membelikan nya itu karna Vio selalu mudah kepanasan sejak kehamilan nya memasuk usia tua.
Bible hanya duduk di lantai yg dekat dengan ranjang yg tidak terlalu tinggi itu, Bible membenarkan selimut yg tersibak itu menutupi nya hanya sampai pinggang dan membenarkan tali baju yg merosot itu. Merapikan rambut-rambut yg menutupi wajah cantik Vio.
Mengambil perlahan alat untuk mendeteksi detak janin itu Bible menyentuh perut besar itu yg terlihat ada pergerakan dari dalam, Bible pun dengan senyum lembut nya mengelus perlahan agar Vio tidak terganggu tidur nya.
''hay??, Bagaimana kabar kalian hari ini?''
Tanya Bible pelan yg mendekati wajah nya di perut itu
''kamu tidak nakal kan?'' tanya nya lagi-lagi
''terap kuat ya?, Kamu tahu besok adalah hari besar ku kamu dan ibu mu harus hadir untuk menyemangati ku. Mengerti''
Bible mengajak nya bicara seolah akan mendapat jawaban.
''aku selalu ingin tahu apa jenis kelamin mu, tapi Vio selalu melarang nya cepatlah keluar agar aku bisa melihat mu'' pergerakan yg tadi terlihat kini berangsur terlihat mulai tenang ada senyum lega yg Bible tunjukan.
''apa kamu menunggu ku, hah? Jika ibu mu istirahat kamu juga harus istirahat agar dia tidak kelelahan aku akan selalu menyapa mi saat aku kembali'' Bible mencium perut yg sudah tenang itu tanpa sadar justru hembusan nafas nya malah membangun kan Vio.
''Biben??'' dengan suara seraknya
''apa aku membangun kan mu??'' Bible yg terkejut
''tidak, apa kamu baru kembali??''
''iya, baru saja Istirahat lah lagi aku hanya datang menyapa nya'' Bible naik duduk di sebelah Vio yg masih berbaring tangan nya mengelus lembut puncak kepala Vio
''bagaimana pemeriksaan nya??''
Meskipun sudah mendapatkan jawaban dari Mama nya Bible ingin mendengar kan nya lagi dari Vio.
''semua nya baik, oh iya aku punya sesuatu untuk mu''
''hah??''
Bible yg bingung melihat ke arah Vio yg bangun mengambil sesuatu dari tasnya setelah ketemu menyembunyikan di balik tubuh nya.
''apa itu?, Bisa aku lihat??'' tanya Bible dengan orang yg kini berdiri di depannya
''tutup mata mu, dan berikan tangan mu''
''hah??, Untuk apa??''
''lakukan saja'' rengeknya
''oke oke'' Bible pun membenarkan posisi duduk nya menutup mata dan mengangkat kedua tangan di depannya seolah meminta sesuatu.
''sekarang sudah boleh buka??''
Tanya Bible yg merasa ada sesuatu di tangan nya.
''emh, bukalah'' Vio menarik tangan nya kebelakang membuat perut besar nya hanya beberapa Senti saja dari Bible
''ini??''
''lihatlah?, Sebenarnya aku ingin memberikan nya pada mu besok tapi karena kamu disini maka aku berikan saja sekarang '' Bible membuka kotak melihat gambar bayi dan dibawah nya lipatan kecil hasil keterangan.
''boys??'' antusias Bible
''emh''
''dia laki-laki, Vii??'' wajah girang Bible sudah terlihat
''iya, anakku laki-laki'' nmvio yg tak kalah semangat
Bible mengusap berut buncit Vio dengan senyum bangganya
''selamat datang boy'' ucap nya lembut
''berarti dia bisa panggil aku Papa kan??'' Bible melihat ke arah Vio dengan harap. Tapi siapa sangka Vio yg membenarkan rambut nya mengangguk kecil menandakan kalau dia setuju.
__ADS_1
''terima kasih, Vii''
''ini bagai kado buat ku, besok pelantikan ku tapi malam ini aku dapat kabar bahagia'' Bible dengan mata berkaca-kaca
''kalian harus tumbuh sehat ya, aku janji akan menjaga kalian lebih baik lagi''timpalnya
''kalau gitu kalian harus istirahat ya''
Dengan lembutnya Bible menuntun agar Vio berbaring mengusap kening hingga rambutnya, sedang kan Bible kembali duduk di bawah.
''apa tidak dingin? Kamu bisa duduk di atas Bii ''
''tidak, aku baik-baik saja ''
''tidurlah, hem''
''Bii??''
''ya?''
''apa kamu pernah berpikir kalau kami ini beban?''
''tidak sama sekali'' terlihat wajah khawatir Vio
''ada apa?? Ingin cerita denganku?''
Vio hhlanya mengangguk kan kepalanya wajahnya sedikit cemas dan Bible merasakannya.
''ada rasa khawatir yg akhir-akhir ini aku pikirkan''
''khawatir??"
''entah kenapa, aku merasa mendekati hari lahiran kandungan ku tidak terlihat baik'' ucap Vio lesu
''setiap kehamilan punya fase nya masing-masing yg perlu kamu pikirkan adalah, wajah lucu nya siapa nanti namanya cukup yg baik-baik ''
''tapi aku merasa Dokter Megan menyembunyikan sesuatu''
''mungkin hanya perasaan sensitif saja, karena Megan bilang padaku ibu hamil lebih cenderung sensitif karena hormon '' kelas Bible menenangkan.
''Bii, jika nanti tiba saatnya aku melahirkan bolehkah kamu berjanji padaku'' wajah serius Vio membuat Bible terdiam
''janjilah, kalau apa pun yg terjadi biar kan aku melahirkan tanpa operasi'' tumpukan air mata terlihat tertanam di Vio
''kenapa aku harus berjanji hal seperti itu??''
''karna aku juga sudah berjanji jika anak ku laki-laki aku akan biarkan dia memanggil mu Papa'' Vio yg tak mau kalah
''dengar Vii, melahirkan bukan sesuatu yg dapat aku putuskan harus operasi atau tidak itu semua harus sesuai keadaan ibu dan anak nya'' dengan nada serius Bible menjelaskan
''aku hanya ingin menjadi ibu seutuhnya, Bii'' air matanya Vio mulai terjatuh
Deg,,,
''Vii, operasi atau tidak kamu tetap akan menjadi ibu nya kamu yg mengandung nya, tidak akan ada yg merubahnya dan aku tidak akan mau berjanji dengan hal yg tidak bisa aku pastikan'' jelas Bible yg membuang wajahnya
''aku hanya ingin melakukan yg terbaik'' ucapnya parau
''Vii, kamu sudah melakukan yg terbaik jika dia bisa bicara saat ini dia akan mengatakan kamu adalah ibu yg hebat. Kamu masih pertahan kan dia kamu terima ejekan orang kamu hidup dengan baik minum juga obat yg membantunya agar tetap sehat itu sudah suatu perjuangan Vii''
''mulai sekarang jangan berpikir yg hanya akan menyakiti mu dan calon anak mu, kamu harus semangat dengan apa yg kamu mau bukankah kamu bilang kamu ingin tinggal di rumah sendir dengan anak mu, hah??''
''apa boleh?? Kamu, Paman, dan Bibi tidak akan kecewa kan jika aku keluar membawa anak ku?''
''Vii, dengarkan aku dia anak mu selama nya akan menjadi anak mu tidak ada yg bisa merebut nya, aku yg menjamin itu'' Bible mengusap lembut pipi Vio yg sudah basah dengan air mata nya.
''sudah ya, jangan menangis lagi tidak baik buat janin nya kalian tidak sendiri ada aku. Hem'' Vio hanya mengangguk
''istirahatlah, ini sudah malam''
Bible menyelimuti kembali tubuh Vio sebelum pergi dia akan pamit dengan anak nya. Lalu kembali dari pintu yg terlihat seperti lemari buku itu.
Vio perlahan-lahan merasa berat matanya, mungkin karena mulai nyaman dengan mengungkapkan isi hati nya perasaan nya kini menjadi lega bayi nya sudah tidak terlalu banyak bergerak berbeda sebelum tangan Bible menyentuh nya. Kini mata nya terpejam membawa nya ke alam mimpi.
''kamu harus kuat, setidaknya jika kamu disini nanti selain aku kamu juga akan menjaga Vio'' ucap Bible sendu dengan menatap foto hasil pemeriksaan yg Vio berikan untuknya.
__ADS_1
Pagi ini Vio sudah dari tadi subuh berada di dapur, berencana memasak sesuatu untuk semua orang yg dirumah. Sikap keras kepala Vio di tambah lagi karna sedang mengandung pelayan yg ingin menghentikan nya pun angkat tangan.
''Vii?''
''eh? Bibi selamat pagi''
''apa yg sedang kamu lakukan Vii?'' Luci berusaha menarik Vio agar sedikit menjauh dari kompor, namun bukan mengikuti Vio malah kembali ke posisi nya.
''Vio hanya memasak Bi''
''biarkan mereka yg melakukan nya, kamu duduk saja ya?''
Tawar Luci yg masih khawatir
''Bibi kenapa sih? Vio baik-baik saja'' gerutu Vio
''iya, tapi ingat perut kamu mulai membesar Dokter Megan juga menyarankan agar tidak terlalu banyak beraktivitas kan''
Dengan perlahn Vio mengajak lucu agar duduk di meja makan. Dan dia melanjutkan kembali pekerjaan nya
''Vii??''
''kamu tidak mendengarkan Bibi, Vii?''
Shuuut,,,
''Vio baik-baik saja Bi, beneran''
''baiklah, tapi setelah memasak itu biarkan pelayan yg menyajikan nya, oke?''
''baik'' Vio hanya bisa mengangguk pasrah.
Semua sudah berkumpul di meja makan, bahkan Paman Zakir dan assisten juga sudah duduk manis di meja,
''Bible, mana Mah?''
''oh iya? Mama lupa'' Luci pun melihat ke arah tangga
''Paman, Bibi biar Vio yg panggil ya?''
Tangan Luci menahan Vio yg sudah setengah bangun
''biar Bibi saja, Vio lanjut sarapan saja ya?''
''jangan Bi, Bibi temani Paman biar Vio yg naik lagian ada sesuatu yg ingin Vio berikan'' ucap Vio sopan
Mereka pun hanya melihat ke arah Vio yg jalan perlahan dengan memegang pembatas tangga.
''semuanya lanjut makan'' ucap Zakir.
Tok,,tok,,tok
''masuk''
Vio pun melangkah kan kau nya masuk ke arah pintu yg tidak tertutup sempurna itu.
''eh, Vii''?''
Bible yg melihat nya dari pantulan kaca
''kamu belum siap??''
''hampir'' dengan tangan yg masih berusaha mengikat dasinya.
''sini''
Bible pun berbalik ke arah Vio
''Vii?? Ini apa?''
''aku membeli nya kemarin, awalnya aku ingin memberikan nya tadi malam''
''cantik, terimakasih Vii''
Bible menatap puas pada dasi baru yg di pasangkan oleh Vio, sebenarnya dasi ini memang tidak semahal yg di miliki Bible tapi dasi yg diberikan oleh Vio adalah hasil jerih payah nya.
__ADS_1