
Mobil yg membawa Violine dan Bible kini berhenti di sebuah taman kota dekat danau, Bella yg berniat ikut mereka tadi memilih kembali dengan Tasya.
''sini aku obati'' tawar Vio dengan air mineral dan plaster yg memang selalu ada di dalam tas nya. Terlihat luka memar dan luka sobek di atas pelipis Bible namun pemilik badan hanya diam dengan mata yg menatap dalam Vio.
''apa kamu baik-baik saja??''
''kamu yg terluka kenapa bertanya keadaan ku''
Vio tahu saat ini Bible mengkhawatirkan nya, tapi sebisa mungkin Vio ingin suasananya kembali tenang, Vio merasa sadar sudah cukup dia sedih untuk hal-hal yg tidak berguna setidaknya Vio merasa dia memiliki Suster Lalisa, Bible, dan Bella itu sudah lebih dari cukup untuk nya.
''ha!!, Seharusnya ku patahkan saja tulang nya''
''dan kamu akan masuk penjara'' potong Vio
''aku tidak perduli!!'' Bible yg acuh tak acuh
Vio menarik tangan nya, agar Bible yg menatap ke arah danau berbalik melihat nya.
''terima kasih'' suara lembut Violine berhasil menghipnotis Bible, bahkan tak ada pergerakan dari Bible selain berkedip.
''Biben??''
''hah??, Iya'' Bible terperangah kaget dari lamunan
''Kamu ingat pertanyaan mu kemarin??''
''soal New York??''
''emh,''
''aku ingin ikut denganmu''
''ka,,kamu serius Vii??''
''iya, aku serius''
Vio mengeluarkan barang dari dalam tas nya Bible bisa melihat tapi benda kecil itu tertutup oleh tangan nya. Bible ingin bertanya langsung namun dia melihat Vio yg masih mengatur nafas seolah benda itu akan mengejutkan nya dan menunggu Vio yg menjelaskan nya sendiri.
'' Biben??''
''emh''
''aku akan mengatakan nya padamu tapi berjanjilah ini hanya akan menjadi rahasia kita'' Vio memberikan jari kelingking nya pada Bible.
''baiklah aku berjanji'' Bible ikut menautkan nya
Dengan tangan gemetar Vio memberikan benda pipih pada Bible, sontak mata nya terbelalak dan seperti akan mau keluar dari tempat nya. Jantung jangan di tanya lagi semua perasaan bercampur sedih, marah dan paling parah rasa bersalah kembali menggerogoti nya. Perasaan bersalah karena tidak bisa benar-benar menjaga orang yg di sayang nya.
''Vii, i ini??''
''awalnya aku ketakutan, apa yg harus aku lakukan Bii? Tapi dengan kejadian hari ini aku sadar bersedih tidak akan mengubah kehidupan ku'' Vio berusaha tersenyum
''sejak kapan? Kamu tahu ini??''
''dua hari yg lalu''
''aku ingin memberi tahu mu tapi??'' Vio menunduk menahan tangis nya, dalam pikiran nya masih menebak-nebak akan seperti apa kehidupan dia selanjutnya.
Dua hari yg lalu, Vio merasa kan ada yg tidak beres dengan tubuh nya terlebih lagi saat Vio ingin membantu para Suster di dapur rasa mual yg hebat di rasakan nya kala memegang beberapa bahan dapur. Ada gejolak ketakutan yg di rasakan oleh Violine, saat semua nya tenang berkumpul Vio pergi sendiri ke sebuah toko obat membeli alat cek kehamilan dan benar saja saat malam setelah Bible pulang Vio melakukan tes dalam kamarnya, betapa terkejut nya Vio dengan hasil garis dua tersebut.
Merasa seperti Dunianya hancur tiba-tiba, membayangkan seperti apa kehidupan nya kedepan, bahkan sampai membayangkan seperti apa wajah lelaki itu yg tega menghancurkan kehidupan Vio.
Violine menangis sejadi-jadinya dalam bilik kamar mandi yg berada di luar panti agar tidak ada yg mendengar nya, sakit nya semakin terasa bayangkan ada nyawa lain kini dalam tubuh nya.
Hari semakin redup, keduanya dalam pikiran nya masing-masing benda kecil itu masih saja di tangan Bible dan terus di putar-putar nya. Sesekali Vio mencuri pandang pada Bible yg masih tak terdengar suaranya.
''Vii, boleh aku minta kamu jujur sekarang??''
Suara Bible memecahkan keheningan dengan balutan awan senja. ''tentu Bii'' Vio berusaha menghindar tatapan Bible agar tak ada lagi air mata yg keluar.
''apa yg ingin kamu lakukan selanjutnya??''
Tampak wajah Vio yg bingung, berbalik menatap mata Bible
''maksud ku, tentang bayi ini apa yg ingin kamu lakukan selanjutnya?''
''Biben, kamu akan menjadi dokter bedah kan?''
Vio tidak menjawab malah balik bertanya
__ADS_1
''benar'' Lukas Bible
''boleh aku menjadi pasien pertama mu??''
Bible yg mendengar langsung memejam kan mata nya Bible tau jelas ke arah mana pembicaraan yg dilontarkan oleh Vio.
''Vii,'' Bible menarik tangan nya erat
''kamu rasakan hadirnya'' dengan menempelkan tangan lain Vio ke arah perut nya yg masih datar itu.
''kamu yakin ingin membuang nya??'' suara Bible mulai berat
''aku tidak tahu bagaimana cara merawat nya''
''terlebih lagi a,,anak ini''
''anak ini tetap seorang anak, dia bernyawa Vii apa kamu yakin akan membunuh nya'' note suara Bible sudah mencapai nada terendah nya.
Bible yg sebenarnya sudah magang di rumah sakit, dan kini mengejar gelar Master nya untuk menjadi Dokter bedah. Tentu tahu apa resiko yg akan di alami oleh Vio. Namun jika itu memang keinginan Vio seberapa sakit pun itu Bible akan selalu membantu nya.
''lalu, aku harus bagaimana kehidupan apa yg bisa aku berikan untuk anak ini, Bii?'' tangis yg tertahan kini keluar lagi
''Vii, menangis lah sepuasnya hari ini tapi besok berjanjilah jangan biarkan siapapun melihat air mata ini'' Bible kini memeluk nya erat.
''Vii, aku tahu kamu tumbuh tanpa rumah, tanpa keluarga tapi anak ini dia akan memiliki kita Papa dan Mama ku, Suster Lalisa, Bella, dia akan memiliki semua nya. Kamu ngkk akan sendiri.'' Bible merangkup wajah Vio dengan kedua tangannya.
''kita akan merawat nya, aku janji semuanya akan baik-baik saja Violine yg ku kenal dia gadis yg hebat dia juga selalu berpikir positif selalu membawakan ceria untuk orang lain. Apa dia tidak akan bisa memberikan kehidupan yg layak untuk anak nya, hah??''
Vio meskipun masih dalam tangisnya tapi dengan semua dukungan Bible kini menunjukkan senyumnya. Dan berhambur masuk dalam pelukan Bible, dengan usapan lembut di punggung nya Violine meyakinkan hatinya hari ini adalah hari terakhir nya menangis.
''maafkan aku, Bii aku pasti bisakan?'' ucapnya sendu
''tentu saja, kamu pasti bisa'' Bible meyakinkan
''aku janji tidak akan menangis lagi''
''ini baru gadisku'' Bible tersenyum lega, setidaknya untuk saat ini dia tahu kali Vio sudah tidak terjebak dengan kesedihan nya. Yg ada dalam pikirannya saat ini adalah bagaimana cepat selesai dengan cita-citanya dan berlanjut menerus kan perusahaan Papa nya. Agar bisa terus mendukung Violine dalam kehidupan nya
Hari sudah gelap saat Bible mengantarkan Vio ke panti.
''masuklah, jangan berpikir yg aneh-aneh lagi''
''tidak, ada beberapa pekerjaan yg harus aku selesaikan''
''baiklah'' Bible mengusap puncak kepala Violine
''besok ada pelajaran?''
'' ada tapi agak siang hanya mengambil beberapa materi, dan selanjutnya mengerjakan di rumah''
''kalau begitu, mau menemani ku besok pagi??''
''kemana??''
''perusahaan Papa,''
''boleh,'' kini senyum ceria bisa di lihat Bible di wajah cantik yg selalu menjadi gadis kecil untuknya.
''Bible, Vivi kalian baru kembali??''
''Suster Lalisa'' sapa Bible
'' kalau begitu aku akan pulang dulu, selamat malam Sus''
''selamat malam Bible ''
''sampai ketemu besok pagi''
''emh'' Vio melambaikan tangan pada orang yg sudah pergi dengan mobil nya.
''sudah makan??'' tanya Suster Lalisa
''belum ''dengan menggeleng kan cepat kepalanya
''baiklah ayo bersihkan diri setelah itu makan''
Suster yg memeluk pinggang Vio membawa nya masuk ke dalam.
Di rumah utama Anderson.
__ADS_1
Kini di meja makan sudah berkumpul dua keluarga sebagai kepala keluarga Balgas menyapa tamu yg ingin di jadikan besan ini.
''Darren kenalkan ini Tuan Perth Deralt dan itu istri nya Tessa, dan yg di depan mu adalah putri mereka Chelsea Deralt.'' ucap Balgas pada putranya yg tak mendapatkan reaksi selain menunduk hormat.
''Halo, Kak aku Chelsea '' sapa gadis cantik di depan nya dengan menyodorkan tangan tapi tak di hiraukan oleh Darren.
Gery menatap heran, dengan berita yg di dapatkan nya dari anah buah nya dengan apa yg di lihat nya semua nya berbeda. Mendapat tatapan tajam dari Darren. Gery tau Tuan nya meminta penjelasan, dengan sigap Gery menunduk mohon pamit membiarkan para keluarga besar Menikmati makan malam nya.
Tessa memberikan aba-aba pada Chelsea agar memberikan sesuatu ada Silviana
''Tante, ini adalah Dessert baru yg ada di Restoran kami. Tante ingin mencoba nya??'' tawar Chelsea dengan suara lembut nya namun tatapan Silvi seperti tidak suka dan hanya memasang senyum paksa nya. Darren dapat melihat jelas raut wajah Mama nya dan mengambil peluang dalam hal ini untuk segera pergi dari meja makan.
''Ma,Pa Darren masih ada sesuatu yg harus di bahas, boleh Darren pamit dulu''
''Darren!!, Apa kamu tidak menghormati para Tetua?''
''Kak sudah, Darren masih muda dan dia juga pengusaha yg hebat pasti banyak yg harus di urus'' Perth mencoba mencairkan suasana.
Yg di pandang acuh tak acuh oleh Darren, sedang kan Chelsea yg terpesona oleh ketampanan orang di depan nya hanya menatap kagum tanpa perduli kan keributan yg sudah terjadi di meja.
Postur tubuh kekar sempurna memiliki rahang yg jelas dengan mata coklatnya siapa yg tidak terpengaruh oleh Darren, apa lagi dengan nama belakang dan popularitas di belakang nya memiliki lebih dari seratus anak cabang perusahaan di dunia, wanita mana yg akan menolak jika di ajak menikah dengan nya. Setidak nya itulah yg Chelsea pikirkan saat ini.
''dasar penjilat'' hardik nya lalu bangun tanpa perduli kan yg lain lagi, Balgas yg melihat kelakuan anak nya ini kalah malu dengan tamu nya.
''Darren,, Darren!!!''
Namun pemilik nama terus melengos pergi tanpa melihat.
Plak,,,,
Satu tamparan mendarat di pipi bawahan Gery yg memberikan laporan yg tak sesuai. Tak lama di belakang nya muncul Darren dengan aura dingin nya. Saat tahu Tuan nya data semua menunduk termasuk Gery.
Bruk,,,
Tendangan dari Leo membuat orang yg juga di tampar Gery tadi duduk bersimpuh tepat di depan Darren.
''jelaskan!!'' teriak Darren
''Tu,,Tuan maaf kan saya, tapi saya benar-benar menyampaikan laporan yg sesuai Tuan, saya benar tidak tahu apa yg sebenarnya terjadi malam ini''
Brukk bruuukkkk..
Dua kali pukulan dari Leo membuat pria itu mengeluarkan darah dari mulutnya.
''katakan yg benar!!'' kali ini Leo menarik rambut nya agar wajah pria yg di pukul ya itu menatap ke arah Tuannya.
''saya mengatakan yg sebenarnya Tuan, seharusnya yg Nyonya besar ingin kenalkan kepada anda adalah Putri tertua Perth, bukan yg adik nya'' jelas nya yg terbata-bata namun masih dapat di pahami.
''Putri tertua??, Apa maksudmu?''
Uhhuuk uhhuuk..
Lepasan tarikan rambut dari Leo membuat pria itu tersedak dan terlemas, namun sekuat tenaga dia kembali ke tempatnya.
''Benar Tuan, yg Nyonya besar ingin adalah Nona Alice Putri tertua Perth dengan mendiang istrinya terdahulu. Kalau ini adalah Putri dari istrinya yg sekarang tapi entah kenapa dia juga bisa memiliki nama Deralt di belakang nya. Banyak kabar burung yg mengatakan jika Perth selingkuh selama istrinya masih ada, tapi saya tidak mencari tahu karna yg anda butuh kan adalah siapa wanita yg akan Nyonya kenalkan dan saya salah tidak bisa menebak jika yg di kenalkan pada anda adalah Putri termuda nya.''
''pantas saja wajah Ibu tidak terlihat senang ''
''baiklah, bawa dia untuk di rawat!!'' titah Darren
''terima kasih Tuan,'' ucapnya yg bangkit di papah oleh Leo masuk dalam mobil pengawal.
''apa perlu kita beri pelajaran pada Gubernur itu, Tuan?''
''tidak perlu, Ger cukup cari tahu kenapa tidak bawa Putri tertua nya hari ini. Dan aku mau laporan nya sudah ada besok pagi di kantor ku.''
Gery mengejar langkah Tuan nya yg memasuki mobil, dan duduk di sebelah supir. Bram pun menghidupkan mobil berjalan keluar dari pelataran rumah utama tak ada perintah akan kemana selanjutnya hingga supir menatap ke arah Gery yg juga melihat Tuan nya dari kaca depan.
Darren membuang pandangan nya keluar jendela mobil, tanpa menyadari dua orang takut untuk bicara adanya dalam keadaan dingin seperti ini.
''Tuan??'' akhirnya Gery memberanikan diri
''langsung pulang!!''
''baik, Tuan''
Anggukan yg Gery buat untuk supir membuat paham kalau emang pulang adalah keinginan Tuang nya.
''aneh sekali, akhir-akhir ini Tuan seperti tidak selera melakukan apa pun selain bekerja.'' batin Bram yg bingung sendiri.
__ADS_1