Pesawat Kertas Zeffan Al'Bareck

Pesawat Kertas Zeffan Al'Bareck
Cucu Andreason


__ADS_3

***


Butuh waktu dan kesabaran untuk Bible bisa menceritakan semuanya kepada Mama dan Papa nya tentang keadaan nya selama ini.


Luci yg tampak berdiam dengan tatapan kosong membuat Bible merasa tak enak hati.


"Mah?" Panggilnya lembut


"Mama ada apa, jangan seperti ini Mah?" Pintanya lagi dengan memegang tangan Luci


"Apa Vio menerima laki-laki itu?''' tanya nya dengan menatap Bible


"Mah? Menerima atau tidak nya itu adalah privasi Vio, Bible tidak bisa masuk lebih jauh" jelas Bible


"Lalu? Bagaimana dengan Zeffan?"


"Zeffan saat ini sudah sering berinteraksi dengan Darren dan mereka juga terlihat baik-baik saja tidak ada yg perlu Bible cemaskan"


"Dan kamu akan memberikan Zeffan begitu saja?'' Zakir yg masih kesal dengan sikap Putra nya itu.


"Pah? Sudah Bible katakan, biar bagaimanapun Darren adalah Ayah kandung nya, kita tidak bisa memungkiri itu dan soal Zeffan memilih siapa sejak awal Bible tidak pernah membuatnya ada di pilihan. Bible hanya ingin Zeffan hidup dengan apa yg dia mau dan bisa membuat nya nyaman, itu sudah lebih dari cukup buat Bible"


Luci merasa campur aduk dengan perasaan nya, makin terharu dengan sikap Bible dan memeluk nya erat.


"Mama dan Papa jangan khawatir, Zeffan tetap Cucu kalian apapun yg terjadi" ucapnya yg juga membalas pelukan Mama nya


"Mama tahu" balas Luci, Bible meregangkan pelukannya


"Untuk itu kalian harus tetap sehat agar bisa melihat Zeffan tumbuh besar" dengan air mata yg berderai Luci tertawa kecil yg diikuti juga oleh Zakir.


"Jangan menangis" Bible menghapus air mata Luci dengan kedua ibu jarinya


"Atau nanti jika Zeffan tahu, dia akan berpikir Papa nya sudah membuat Moma dan Popa nya bersedih"


Luci kembali memeluk Bible, setelah mendengar nama Zeffan itu semakin membuat nya merindukan anak nakal itu.


***


Dokter tampak menunggu cerita Vio yg terputus.. Annette tampak diam Annette selain Dokter di poly anak Annette juga adalah psikiaternya Vio dan juga Zeffan.


Karena itu juga Vio sekarang mulai terlihat tenang dengan kenangan buruknya, dan berusaha berdamai dengan dirinya sendiri.


"Begini? Seperti yg pernah saya ceritakan pada anda tentang pria itu, sekarang kami sudah saling bertemu apa mungkin ini ada kaitan nya dengan keadaan Zeffan?" Ucap Vio pelan-pelan


Bella yg merasa Vio gugup menggapai tangan nya dan memegang nya erat seolah memberikan kekuatan.


"Apa mereka sempat berinteraksi?" Vio mengangguk dengan pertanyaan Dokter Annette


"Itu bisa saja terjadi, biar bagaimanapun mereka ada hubungan darah jika sering terjadi nya interaksi kedekatan batin mereka secara otomatis akan terjalin. Saya tidak mau menebak nya asal tapi mungkin saja sedang terjadi sesuatu disana hingga perasaan itu sampai ke Zeffan" jelas Dokter


"Lalu? Apa yg harus aku lakukan??" Vio lirih


"Vii?" Bella ikut sedih melihatnya


"Boleh saya bertanya?" Vio melihat ke arah Dokter


"Silahkan Dok"


"Apa Nona baik-baik saja? Dengan kedekatan mereka?"


"Saya tidak tahu bagaimana perasaan saya, tapi saya tidak ada takut sama sekali berbeda jauh dengan beberapa tahun yg lalu. Bahkan mendengar namanya saja saya sudah gemetar"


"Berarti anda sudah membangun rasa percaya, saran saya jika anda merasa baik dan nyaman anda harus memberikan jalan untuk kedekatan mereka tapi jika sebaliknya anda bisa menyampaikan perasaan anda langsung pada Ayah kandung nya, agar trauma anda tidak terbangun lagi"


"Nona, keadaan Zeffan tergantung dengan perasaan anda jika anda merasa tidak nyaman Zee juga akan merasakan nya. Dan saya cukup mengerti anda adalah orang yg tenang''


"Lalu? Apakah Zee akan terus seperti ini? Dok" timbal Bella


"Itu tergantung dengan keadaan, saat ini dengan usianya Zee yg sedang mengenal sekitar, mungkin butuh waktu tapi seperti yg tadi saya sarankan jika kehadiran Ayah kandung nya membuat Zee tumbuh lebih baik dan sehat saya kira tidak salah memberi mereka jalan, tapi jika Nona Violine masih belum terlalu percaya Nona bisa memberikan sedikit waktu jangan terlalu memaksa"


Vio tersenyum puas dengan nasihat Dokter, setelah mendapatkan resep obat dan izin Vio juga Bella membawa Zeffan keluar dari ruangan Dokter.


"Terimakasih, Dok"


"Sama-sama Nona'' Annette mengelus rambut Zee yg berada digendongan Vio. Kondisinya kini lebih baik setelah memasukkan beberapa obat lewat selang infus.


"Zee? Cepat sembuh ya tapi hari ini Dokter tidak akan memberikan kamu permen dulu" Zee hanya mengangguk dan senyum kepada wanita di depannya itu


"Baiklah, kami permisi dulu ya Dok" ucap Bella


"Baik"


Bella memegang pundak Vio yg berjalan ke arah lift.


"Bagaimana perasaan mu sekarang?''


"Aku sudah lebih baik, tenang saja oke" balasnya lembut

__ADS_1


"Syukurlah" mereka pun melanjutkan untuk turun ke lobi rumah sakit menebus beberapa obat.


Tapi begitu sampai keadaan sedang mengantri panjang, membuat Vio kebingungan.


"Zee? Kamu duduk disini dulu ya dengan Aunty. Mama mau mengantri obat sebentar" Vio mendudukkan Zee di kursi tunggu dengan merapikan rambut Zee yg sedikit berantakan


"Iya, Mah"


"Pergilah, aku akan menjaga nya" sahut Bella


"Iya, sebentar ya" Bella pun mengangguk


"Aunty?" Zee menarik baju Bella agar melihatnya


"Ya? Zee"


"Apa Zee akan diberikan obat yg banyak?"


"Tidak Sayang, Mama hanya mengambil beberapa vitamin" Bella mencubit lembut pipi Zee yg berwarna merah muda itu.


"Aunty?" Bella pun melihat ke arah Zee


"Zee haus Aunty"


"Emh" Bella melihat sekeliling apa ada yg menjual minuman


"Zee tunggu disini ya, biar Aunty beli dulu" anak itu mengangguk cepat


"Ingat!! Jangan kemana-mana, mengerti?''


"Iya Aunty"


Bella pun berjalan cepat keluar untuk mencari minuman untuk Zee di supermarket terdekat.


"Nak?" Panggil seorang lelaki paru baya dengan pakaian rapi


"Iya? Kakek" jawab Zeffan


"Mereka berdua Mama mu?" Tanya nya ramah Zee hanya mengangguk dengan senyum


"Apa Kakek sedang sakit?"


Lelaki itu tidak menyangka Zee malah bertanya dengannya


"Tidak, aku hanya mengantar seseorang yg tidak sengaja menabrak mobilku"


"Bukan Nak, aku hanya orangtua biasa" jawabnya gemas dengan memegang kepala Zee


"Ha ha,, aku pikir Kakek juga Dokter seperti Papa ku"


"Papa mu seorang Dokter?"


"Benar, tapi sekarang Papa sudah tidak bekerja disini"


"Emh begitu, lalu? Siapa namamu Nak?"


"Perkenalkan Kek, namaku Zeffan Al'bareck" Zee memberikan tangan nya


"Nama yg bagus Zeffan" sambut hangat Joke.


Joke yg ingin menyusul Balgas dan Silvia di Paris, mendapatkan kendala saat ada pengendara motor yg terjatuh setelah tidak sengaja menabrak mobil yg dibawanya.


Karena melihat si pengendara terluka Joke membawa nya ke rumah sakit. Namun mata nya tiba-tiba menangkap sosok anak kecil digendongan seorang wanita dengan kalung yg sangat dikenalnya.


"Zeffan? Boleh Kakek bertanya sesuatu?" Zeffan pun mengangguk dengan cepat


"Boleh Kakek melihat kalung mu?''


"Tentu" Zeffan pun menggeser duduknya hingga hampir merapat dengan Joke


"Ternyata benar, aku tidak mungkin salah" batin Joke


"Kalung kamu bagus, siapa yg memberikan nya?"


"Oh? Ini Paman galak yg memberikan nya" Zee dengan wajah polos nya


"Paman galak?"


"Iya Kek, wajahnya akan selalu seperti ini" Zeffan manarik-narik pipi nya agar terlihat wajah datarnya seperti kebiasaan Darren.


"Kamu ini sangat pandai mengejek orang dewasa ya" Joke yg gemas mencubit pipi Zee


"Lalu? Apa yg kamu lakukan disini?"


"Aku sedang sakit Kek" Zeffan menarik lengan piyama nya dan memperlihatkan punggung tangannya yg masih ada perban kecil menempel disana.


"Apakah sakit?" Tanya Joke iba memegang tangan mungil itu

__ADS_1


"Tidak, ini tidak sakit lagi pula aku anak laki-laki Kek, tidak boleh menangis atau nanti Mama ku akan sedih" jelas nya dengan mantap


"Good boy" Joke mengelus puncak kepalanya


Zeffan lagi-lagi tersenyum dengan mengayunkan kaki nya di udara.


Vio yg sudah selesai dengan semua obat untuk Zeffan, berbalik melihat Zeffan yg sedang ngobrol santai dengan seseorang.


"Zee dengan siapa??" Gumam nya sambil berjalan menghampiri Zee.


"Zee?" Panggilnya lembut ketika sampai


"Mama" Zee pun langsung merosot dari kursi dengan perutnya


"Kamu berbicara dengan orang asing lagi?" Vio kini berjongkok


"Tidak, Mah Kakek ini baik" ucap nya polos dengan menunjuk ke arah Joke


"Salam, Nona" Joke berdiri dan menyapa nya


"Salam Tuan" Vio hanya tersenyum


"Senang berkenalan dengan Putra anda''


"Terimakasih, Tuan"


"Kalau begitu saya permisi dulu, Zeffan Kakek pergi dulu ya" Joke melambaikan tangannya sebelum meninggalkan ibu dan anak itu.


Zeffan juga membalas lambaian nya, meskipun Joke sudah tidak melihatnya lagi hanya terus berjalan.


"Vii?, Sudah selesai?" Bella yg juga sudah sampai


"Sudah, kamu darimana Bell?"


"Oh? Ini aku membeli kan minum untuk Zee" Bella mengangkat botol air mineral di tangan nya.


"Terimakasih, Aunty" sambut Zee setelah Bella membukakan tutup botolnya.


"Apa kita langsung pulang saja sekarang?"


"Sebaiknya begitu, agar Zee juga bisa langsung istirahat"


"Yasudah, ayo" Bella menggapai tangan mungil Zeffan


"Maaf ya, jika pekerjaan kita harus dikerjakan dirumah" Vio yg merasa tidak enak


''Vii? Jangan khawatir, Zee juga sudah seperti anakku kita bisa menemani dia bersama kan" Bella mengelus pipi Vio dengan tangan nya yg lain.


"Berarti Zee punya dua Mama kan?" Vio dan Bella melihat ke bocah kecil itu yg cekikikan membayangkan memiliki dua Mama


Mereka menggandeng lengan Zee yg melompat lompat kecil menuju mobil, meskipun masih terlalu pagi cahaya matahari hari ini sudah sangat terik, membuat Vio dan Bella bergegas masuk ke mobil.


***


"Tuan?" Sapa seorang pengawal


"Masuklah" titahnya yg masih duduk tenang di ruangan Darren


"Ada yg perlu saya sampaikan, Tuan" ucap pelan pengawal


Gery yg mengernyitkan keningnya, ikut langkah pengawal yg mengajak nya keluar ruangan.


"Jangan bicarakan disini, cari tempat lain"


"Baik Tuan"


Pengawal yg lebih dari dua orang itu pun mengikuti langkah Gery masuk ke lift.


Setelah sampai di lantai dasar Gery masih berjalan ke arah caffe yg sedikit tertutup sekalian untuk meminum kopi agar menjernihkan sedikit kepala nya yg terasa berat karena belum tidur untuk menjaga Darren yg masih koma.


"Katakan!!"


"Silahkan anda lihat?" Pengawal yg berdiri disamping Gery itu meyerahkan tablet nya pada Gery.


"Tadi pagi mata-mata kita yg menjaga Nona Violine dan Zeffan mengirimkan kabar, kalau dihari yg sama dengan Tuan Darren dirawat Zeffan dilarikan kerumah sakit."


"Sudah cari tahu kenapa?" Gery masih melihat beberapa foto dari apartemen hingga rumah sakit Vio dan Bella dengan wajah panik menggendong Zeffan


"Zeffan mengalami demam, tapi tidak sempat dirawat hanya diberikan beberapa obat dan seharusnya saat ini mereka sudah kembali" jelas pengawal


"Minta mereka terus berjaga, karena saat ini Tuan Bible juga sedang tidak bersama mereka"


"Baik Tuan, untuk saat ini keadaan masih aman orang kita terus saja memancing netizen agar menyerang Chelsea seharusnya ini cukup memberi kita waktu sampai Tuan Darren pulih"


"Oke, kalian bisa pergi lanjutkan pekerjaan kalian"


"Baik Tuan, kami permisi" mereka pun menunduk serempak dan lalu pergi ke arah yg sama meninggalkan Gery sendiri

__ADS_1


"Saya tidak menyangka Tuan, ikatan batin kalian akan sedekat ini" gumam nya sambil menyesap kopi hitam miliknya.


__ADS_2