Pesawat Kertas Zeffan Al'Bareck

Pesawat Kertas Zeffan Al'Bareck
Zeffan


__ADS_3

Pagi ini Bible dan Zakir berangkat ke Indonesia untuk melakukan pinalti pada perusahaan nya di Indonesia.


Vio dan Luci juga turut serta mengantar ke Bandara.


''kalian hati-hati ya'' Luci memeluk suami dan anak nya


''iya, kalian juga hati-hati ya''


''Ma, tutup Vio ya''


''iya, Mama tahu apa kamu lupa mama juga pernah hamil''


Satu tepukan mendarat di lengan Bible.


''sudah-sudah kalian ini''


Zakir yg memisahkan anak dan ibu yg masih saling serang itu.


''Vii??'' panggilnya kala melihat Vio terdia


''ya Paman?''


''kamu ingin sesuatu??''


''tidak, Paman hati-hati ya disana''


Zakir mengusap lembut puncak kepala Vio


''ya sudah Paman akan berangkat sekarang ya''


Zakir dan Natan assiten nya pun berjalan masuk ke dalam meninggalkan Vio dan Bible.


''jaga diri ya''


''ingat!, Jangan melakukan hal yg kira-kira kamu tidak sanggup'' pesan Bible beruntun


''iya-iya bapak Direktur''


Ucap malas Vio, namun Bible malah menurunkan tubuhnya mengimbangi perut Vio.


''aku pergi sebentar ya, jangan nakal dan jika ibu mu ingin istirahat kamu juga harus istirahat mengerti'' pesan Bible yg berbicara dengan mengusap perut Vio.


''baik'' balas Vio mengikuti bicara anak kecil, Bible melangkah pergi dengan menyentuh kepala Vio.


''aku pergi ya'',,,,,,,,,,,,


***


Empat tahun setengah kemudian...


Dirumah besar milik keluarga Laurent, mulai ramai sejak datang bocah kecil yg selalu menjadi bulan-bulanan Bella.


''Zeffaaaaaaaaan!!'' teriak nya jengah, namun anak itu terus berlari hingga sampai di tangga dengan perut buncit nya dia merosot perlahan untuk ke lantai bawah.


''anak ini, kenapa aktif sekali''


Dengan nafas ngos-ngosan Bella terus mengikuti langkah bocah yg selalu lari kesana, kesini sejak tadi.


''oke-oke, kita damai Aunty capek Zeffan''


Keluh nya lagi dengan memegang lututnya yg gemetaran


''Aunty, Zeffan mau papa!!'' bocah itu malah berdacak pinggang di depan Bella yg membuat nya makin gemas.


Ya bocah ini adalah Zeffan Al'bareck, sekarang usia nya sudah lebih dari empat tahun. Vio setelah melahirkan memilih kembali ke Indonesia dan magang di butik milik keluarga Laurent, namun setelah lulus Nyonya Laurent memberikan butik itu untuk anak nya, dengan memohon Bella menahan agar Vio terus bekerja dengan nya. Dengan dalih jika bekerja di tempat lain belum tentu akan ada yg mengizinkan nya merawat anak sambil bekerja.


Setelah berpikir panjang Vio pun luluh dan akhirnya membantu Bella di butik nya.


''iya-iya, nanti setelah Mama Vio datang kita telpon papa ya''


Bujuk Bella yg kesekian kali.


Hiks hiks hiks,,,


''Zee, mau Papa Aunty''


Bella yg bingung langsung menggendongnya


''iya, tapi Zeffan jangan nangis''


Namun anak itu masih menangis dengan memeluk lehernya


''Zeffan?''

__ADS_1


Suara lembut wanita yg baru memasuki rumah.


''Mama???'''


Zeffan merosot dari gendongan Bella dan langsung berlari memeluk wanita yg tengan membuka kedua tangan nya.


''Vio? Akhirnya kamu kembali'' keluh Bella


''maaf ya Bell lama, kamu tau client kita kali ini agak perfectionist'' balas Vio


'' it's ok, aku malah berterima kasih kamu mau bicara dengannya, karena kalau aku yg bicara''


''butik ibu mu akan langsung bangkrut '' potong Vio yg cekikikan.


Zeffan terus memeluk tanpa bicara, dia bahkan tetap diam saat orang tua sedang bicara.


''Zee? Ada apa??'' tanya Vio yg berjongkok mengimbangi tinggi anaknya.


''Vii?, Sepertinya Zee kangen Bible deh?''


''hah??''


''daritadi dia tanya Papa nya terus''


Vio nampak sedikit berpikir, sejak bayi memang sosok Bible tidak putus dari keseharian Zeffan untuk itu tidak bisa dipungkiri ikatan Bible dan Zeffan cukup dekat.


''Zee? Liat Mama'' Vio menarik dagu anaknya lembut


''Mama? Zeffan mau Papa'' pintanya lirih


''Zeffan kangen papa??''


Dijawab anggukan oleh bocah, empat tahun setengah ini bocah tampan dengan rambut ikal coklat nya dan mata hitam pekat. Siapa yg tidak akan gemas dengan nya


''Mama baru dapat kabar kalau Papa besok pulang''


Mata bocah yg tadi nya sendu langsung berbinar riang


''Papa pulang Ma??''


''iya, besok Papa pulang kita jemput Papa mau?''


''yeeey, mau Ma Zee mau''


Antusias nya dengan melompat lompat


''iya, tadi siang dia telpon''


''bukannya kemarin dia bilang akan lama karena ada masalah dengan gudang di NY?'' Bella yg masih kepo


''dasar?'' Vio menarik hidung Bella


''sakiit!'' pekik nya


''lagian kamu ini makin hari makin kepo aja''


Vio hanya menggeleng melihat tingkah Bella yg tak pernah berubah.


''tapi, aku mau makasih ya Bell buat hari ini mau jagain Zeffan'' ucap Vio yg kini duduk di sofa dengan Bella


''iya, lagian aku seneng kok jaga Zee walaupun aktif nya kebangetan'' keduanya kini melihat ke arah bocah laki-laki yg sibuk bermain dengan pesawatan nya.


''emh, kamu benar Zeffan tuh aktif banget aku aja kadang sampai kelelahan di buat nya'' Vio menopang kepala dengan tangan nya.


''yg aku cari tahu di internet anak segini tuh emang lagi aktif aktifnya, Vii apa lagi laki-laki'' Vio mengangguk membenarkan ucapan Bella


''kamu benar, tapi kamu belum pernah liat cara Bible menjaga nya kan?''


''emang kenapa?? Vii''


''Zeffan lebih tenang kalau dengan Bible aku aja kadang liat nya penasaran kenapa Zeffan nurut banget kalau dengannnya''


''kamu pernah ngerasa gak sih Vii? Kalau Zeffan itu filing nya kuat banget sama Bible?''


''aku tahu, tapi mau gimana emang Bible dari Zeffan masih dikandungan sudah banyak mengambil peran''


Kini keduanya mulai memasang wajah serius.


''tapi Vii?, Biar bagaimanapun dia bukan Papa kandungnya''


''kamu benar, tapi aku bisa apa Bell?'' wajah Vio mulai terlihat murung ''apa kamu gak ingat waktu pertama kali kami sampai disini itu pertama kali juga Zeffan pisah rumah dengan Bible. Nyatanya dia langsung jatuh sakit.''


Bella menepuk lembut pundak Vio untuk menguatkan.

__ADS_1


''aku ingat, bahkan masih terbayang ketika paniknya kamu Zeffan harus dirawat karena terlalu lama menangis. Dikepala ku''


''Ma?? Kenapa Mama menangis?''


Tanya Zeffan yg tiba-tiba sudah ada di depan Vio


''eh, tidak Mama tidak menangis kok'' tangan mungil itu menghapus jejak air mata di pipi Mama nya.


''Mama tidak boleh menangis, kata Papa kalau kita menangis nanti mata nya jadi kering'' ucap nya dengan wajah menggemaskan nya.


''iya-iya, Mama tidak akan menangis lagi kalau Zee mau peluk Mama'' dalihnya dengan mengangkat Zeffan agar duduk dipangkuan nya.


''Zee, sayang Mama'' dengan memeluk leher Vio


''iya, Mama juga sayang Zeffan''


''lalu Aunty??'' Rajuk Bella dengan memajukan bibirnya


''hhaha,, Aunty seperti bebek'' ejek Zeffan yg masih bersandar di dada Mamanya.


Hari sudah mulai gelap saat Vio membawa Zeffan untuk kembali ke apartemen nya, sejak kembali ke Indonesia Vio lebih memilih tinggal di apartemen dari pada sebuah rumah menurutnya jauh lebih aman dan juga dia tidak terlalu repot mengantarkan Zeffan ke sekolah nya karena butik dan Playground tempat sekolah zeffan tidak terlalu jauh jaraknya.


''kamu yakin? Bisa bawa mobil sendiri??''


Tanya Bella yg khawatir


''aku baik-baik saja Bell, lagian tidak terlalu jauh'' balas Vio sambil memasukkan Zeffan yg sudah tertidur dalam mobil.


''yasudah, hati-hati ya beri kabar kalau sudah sampai'' Bella masih saja berbicara karena khawatir.


''iya, yasudah aku pulang ya See you Bell''


''oke, see you Vii'' mobil pun keluar dari perkarangan setelah tidak nampak Bella pun masuk ke dalam.


Setelah sampai Zeffan pun masih tertidur dengan nyenyak nya, mungkin karena terlalu lelah setelah bermain satu harian. Dengan sedikit susah payah Vio menggendong Zeffan dan membawa tas ransel yg berisi kan keperluan anaknya.


''anak Mama kelelahan ya'' ucapnya lembut ke arah bocah yg tertidur dipundaknya ini.


Namun tanpa dia sadari ada dua laki-laki dengan setelan mahal berdiri di belakang nya, Yg sama-sama menunggui pintu lift.


Bruuk...


''astaga!!'' kesal Vio saat pintu lift terbuka justru ransel Zeffan malah terjatuh.


''biar saya bantu, Nona''


''te-terima kasih Tuan?''


Mata Vio dan lelaki itu saling bertabrakan, seperti ada sesuatu yg Vio ingat tapi masih samar-samar.


''Nona??'' panggil nya lembut


''ahh!! Iya terimakasih'' Vio mengambil tas nya dan langsung masuk dalam lift ketiga nya kini berada di dalam satu lift dan sesekali Vio akan mencuri pandang lewat pantulan dari dinding lift.


''sepertinya aku pernah mengenalnya, tapi dimana,??''


Batinnya


''Nona??''


''Nona, anda baik-baik saja?''


''Nona??''


Vio yg meraa pundaknya tersentuh terperanjat kaget.


''ehh!! I-iya??'' jawabnya bingung


''tadi saya bertanya, Nona dilantai berapa?''


''ohh, saya dilantai dua puluh''


''oke''


Ketiganya pun langsung berdiam lagi tanpa ada yg bersuara


''Maaf? Apa kita pernah bertemu sebelumnya Tuan??''


Tanya Vio yg memberanikan diri, namun belum mendapat jawaban pintu lift sudah terbuka tepat dilantai nya.


''sudah sampai, Nona'' ucap laki-laki itu tegas


''ahh, iya terima kasih'' Vio pun langsung keluar masih dengan perasaan bingung nya.

__ADS_1


''dia masih mengingatku''


Batin Darren yg senang dengan pertemuan pertama nya.


__ADS_2