
***
Washington,,
Keadaan semakin tidak kondusif, banyak ternyata anak buah dari Darren membelot dan menjadi mata-mata untuk Perth, Leo saat ini sedang mengejar Perth dan beberapa anak buah nya setelah melakukan pembakaran gudang milik Darren.
Perth sengaja melakukannya agar Darren bisa sibuk dengan keadaan bisnis bawahnya, sedangkan dia bisa membantu Chelsea mencari jejak gadis yg mungkin bisa menggeser posisi anak nya kapan saja.
Ya? Perth sudah tahu kalau Darren beberapa tahun ini sudah melindungi seorang gadis di balik namanya, tentu saja keadaan ini tidak membuat Perth berdiam saja.
Usaha nya sudah hampir bangkrut jika bukan karena suntikan dana dari Balgas, jika Darren benar-benar bertanggung jawab untuk gadis lain kehancuran sudah pasti akan dihadapi oleh keluarga Deralt.
''kalian sudah menemukan titiknya!!'' ucapan Leo setelah melihat keadaan gudang penyimpanan amunisi milik Darren.
''satu jam yg lalu ada pergerakan dari Perth, dan anak buah nya Tuan'' salah satu anak buah Leo memberikan alat yg menunjukkan titik merah posisi Perth.
''biarkan kucing tua ini bermain, kita akan temani dia bermain kali ini'' suara Leo terdengar sinis
Kemarahan Darren, tidak jauh berbeda dengan Leo jika Gery selalu melakukan apapun lewat logika. Maka berbeda dengan Leo yg selalu menggunakan insting nya.
Untuk itu Balgas selalu menyebut mereka triangle.
''jadi kita akan biarkan ini? Tuan''
''Perth tidak akan lari jauh, tujuan akhir dia adalah selalu meminta perlindungan dari Tuan besar''
''jadi? Rencana anda selanjutnya adalah?''
''potong semua lidah orang yg berkhianat, malam ini kirimkan mereka langsung ke kediaman keluarga Deralt''
''rencana anda ingin mengganggu wanita yg ada dirumah Perth?'' tanya laki-laki itu yg masih penasaran dengan rencana Leo
''aku tahu jika Perth selalu melakukan apapun untuk wanitanya, jadi buat takut wanita itu dengan kirim mereka kesana dan pastikan di bungkus dengan baik, mengerti?''
Leo menepuk pundak bawahan nya.
''tapi jika kita lakukan pengiriman dengan memotong lidah mereka, sudah dipastikan mereka akan mati sampai di Indonesia karena kehabisan darah''
''jika kau keberatan mereka yg mati, kenapa tidak kau saja yg menggantikan nya!!!?''
''ma-maaf Tuan'' pria itu langsung menunduk takut
''lakukan ini sesuai yg aku katakan, kemungkinan lusa Tuan Darren sudah sampai disini aku mau semuanya kembali seperti semula, dan ingat jangan sampai bocor ke Tuan Darren''
''mengerti?'' hentak nya dengan melempar asal belati di tangan nya
''mengerti, Tuan'' sahut mereka serempak.
***
''Bii?'' langkah Vio mendekat
''kalian sudah sampai? Kenapa tidak bilang aku bisa menjemput '' Bible jongkok untuk menggendong Zeffan
''Papa akan pergi dengan Zee kan?''
''tentu saja'' Bible mengelus rambut Zee
''sebenarnya kalian mau kemana?'' Vio yg sebenarnya penasaran tapi anaknya malah tidak ingin memberitahu nya
''Zee tidak bilang dengan Mama?''
Anak yg di gendongan Bible hanya menggeleng
''kenapa tidak katakan? Zee mau lihat Mama sedih'' dengan main rahasia-rahasiaan?''
''maaf, Ma'' dengan suara kecilnya
''baiklah, jika Zee tidak mau katakan dengan Mama sekarang setelah selesai Zee boleh beritahu Mama kan?'' Vio mencubit lembut pipi milik Zeffan
Anak itu mengangguk senang, wajah yg ditekuk nya kini menunjukkan senyumnya.
''kamu tidak bawa mobil? Vii''
''oh? Itu mobil aku di bawa Bella semalam jadi aku kemari dengan taksi''
''tapi kamu harus ke butik kan?''
''iya, tapi aku harus pergi ke suatu tempat dulu untuk ambil beberapa pesanan milik client''
''kamu bisa bawa mobilku?'' tawar Bible
''tidak usah, aku akan naik taksi lagi mungkin akan lebih mudah'' tolak nya halus
''yasudah terserah kamu''
'' ini baju yg Zee pilihkan untuk kalian, tapi apapun itu yg ingin kalian lakukan have fun ya'' Bible tersenyum senang melihat baju dengan corak yg sama dengan Zeffan.
''Tuan Darren?'' Vio melihat Darren yg melihat ke arah mereka dari sudut lain.
''oh, kami baru membahas beberapa pekerjaan'' sahut Bible
''selamat pagi Nona Vio'' sapa Darren
__ADS_1
''anda bisa memanggil saya cukup dengan Vio '' Vio masih tersenyum ke arah Darren.
''Tuan Bible, kalau begitu aku akan pergi dulu setelah aku menemukan apa yg aku cari aku akan memberi tahumu'' Darren undur pamit melihat Vio yg canggung kepada nya.
''baiklah Tuan Darren'' Darren pun berjalan ingin ke arah mobilnya yg diikuti oleh Gery.
''kalau begitu aku akan pergi juga'' Vio juga pergi tapi langkah nya membuat Bible heran karena Vio mengikuti langkah Darren.
''Pah? Kenapa Mama pergi ke arah Paman?''
''emh, mungkin Mama punya pekerjaan dengan Paman Darren '' sahut Bible meskipun dia juga bingung
''apa kamu tidak takut Mama di culik Paman besar itu?''
''Paman besar?''
''apa Papa tidak lihat tangan Paman itu lebih besar darimu'' Zee menepuk nepuk otot milik Bible dan membandingkan nya
''apa sekarang kamu mengejek ku, hah??'' Bible menggigit-gigit otot kecil milik Zeffan.
Zeffan tertawa geli dengan pa yg dilakukan Bible..
''ampun, Pah'' Ha ha ha
''masih berani mengejek ku ya''
Ha ha ha,,, ''tidak-tidak aku tidak akan lagi mengejek Papa''
Bible mengakhiri nya dengan mencium lekat pipi gembul milik Zeffan,
''kita pergi sekarang?''
''let's go'' teriak nya tawa renyah Zeffan terdengar lagi setelah Bible menggendong nya dengan posisi seperti pesawat hingga ke arah mobil.
Wisnu yg sedari tadi menunggu di samping mobil tersenyum bahagia melihat keakraban keduanya.
''Tuan Darren?'' langkah itu terhenti oleh panggilan Vio
''Vio?'' Darren berbalik setelah hampir masuk ke mobil
''bisa kita bicara?''
''dengank'' Darren menunjuk pada dirinya sendiri
''emh, jika kamu punya waktu?''
''tentu''
Darren membukakan pintu mobil agar Vio masuk, langkah Vio terasa berat namun setelah mengatur nafas nya Vio langsung masuk ke mobil dan duduk ke sebelah Darren.
''Tuan? Kita akan kemana?'' tanya Gery setelah berpikir
''ke butik'' sahut Darren
''tidak'' suara Vio yg tiba-tiba ''kita bisa ke perusahaan anda ada hal pribadi yg ingin saya tanyakan disana, boleh?'' mata Vio yg sama persis dengan milik Zeffan menarik pandangan Darren penglihatan Darren seakan terkunci.
Ehgem,,,
''baik lah Nona'' sahut Gery yg menyadarkan Darren
''jantung ini selalu terasa aneh dengan tatapan itu'' keluh batin Darren
Darren yg sesekali melihat ke arah Vio yg menunduk dengan memainkan jemari nya sudah memastikan jika gadis itu ada rasa gugup dan takut berada disekitar nya.
''saya bisa antar kamu lebih dulu, jika kamu merasa tidak nyaman'' suara lembut Darren menadahkan pandangan Vio
''ah?'' Vio yg habis termenung kehilangan konsentrasi nya
''kamu takut denganku?'' tanya Darren lagi
Vio hanya menggeleng persis seperti kebiasaan Zeffan
Darren tersenyum tipis, meskipun Vio sudah berumur dua puluh lima tahun, tapi wajah menggemaskan masih menempel di wajah nya.
''baiklah, tapi jika kamu tidak nyaman kamu bisa mengatakan nya''
''baiklah, tapi terima kasih'' kata lembut Vio
''untuk?''
''untuk sudah bertanya'' Vio yg tak berani melihat wajah lawan bicaranya.
Hingga mobil sampai di depan perusahaan milik Darren, Vio keluar setelah Gery membuka kan pintu, Vio menatap jelas jika perusahaan milik Darren lebih besar dari milik Bible yg sudah biasa dikunjungi nya.
''Ayo?'' ajak Darren yg melihat Vio hanya berdiri
''apa tidak masalah kita masuk bersama?'' tanya nya ragu
''memang apa yg bisa terjadi, ini perusahaan ku'' Vio membenarkan biar bagaimanapun dialah pemilik nya.
Aura dominan Darren terlihat ketika sampai di perusahaan nya, dan hal yg menyangkut pekerjaan apalagi setelah beberapa staf menyapanya berbeda saat mereka masih di mobil, walaupun Vio tidak berani menatapnya langsung tapi Vio merasa sikap Darren lebih manusia jika tidak di balik pekerjaan.
Banyak yg merasa penasaran dengan sosok Vio yg berjalan disamping Darren, tak banyak juga yg mengira jika Vio adalah tunangan Darren yg masih simpang-siur kabarnya.
__ADS_1
''Ger? Kosongkan waktu ku beberapa jam kedepan'' titah Darren ke Gery di dalam lift
Di dalam lift hanya ada Darren Vio, Gery dan dua pengawal yg memang selalu menyambut Darren di perusahaan.
''baik Tuan?'' Gery membuka tablet di tangan nya
''bagaimana dengan rapat dewan siang ini, Tuan?'' bertepatan dengan pintu lift yg terbuka tepat di lantai tiga puluh menuju ruangan Darren.
''undur hingga malam, dan katakan pastikan mereka hanya akan membahas materi yg penting, jika hanya bertele-tele lagi perintahkan mereka untuk antar surat pengunduran diri mereka besok pagi di ruangan ku''
''apa dia memiliki dua kepribadian? Bagaimana cara aku bicara dengan dia nanti nya?? Astaga Vio seharusnya berpikir dulu sebelum bertindak'' runtuk Vio dalam hatinya
Matanya menatap punggung orang yg sudah masuk dalam ruangan nya, dan benar saja semua anak buah nya meninggalkan Darren dengan Vio di ruangan yg cukup besar bahkan tak kalah besar dengan apartemen tempat dia tinggal sekarang.
''duduklah?'' Darren mengeluarkan suara yg berbeda dari beberapa detik yg lalu.
''kenapa?'' merasa pandangan Vio aneh kepadanya
''ahh, tidak apa-apa'' Vio langsung duduk di sofa yg Darren tunjukan.
Vio dapat melihat betapa tegap nya tubuh Darren setelah melepaskan jas nya dan hanya meninggalkan kemeja yg ngepas ditubuhnya.
Darren berjalan ke arah Vio dengan tangan yg fokus ke ponselnya.
''jika kamu sibuk, maka kita bisa bicara lain kali'' Vio yg ingin pergi tertahan oleh Darren.
''tidak, aku sudah mengosongkan jadwalku untuk beberapa jam kedepan'' Darren berkata dengan nada yg sangat bersahabat di telinga Vio
''baiklah'' gugup Vio melihat Darren tidak melepaskan tangannya.
''oh, maaf'' Darren yg menyadari nya
''tidak pa-pa''
''jadi apa yg ingin kamu tanyakan?'' Darren menuntun nya kembali duduk, kini posisi mereka saling berhadapan.
Vio menatap nya benar-benar dalam memastikan jika yg ingin di ingatnya sama persis dengan sosok yg didepannya.
Namun kepala nya terasa sakit karena Vio terlalu memaksa.
''Vio? Kamu Baik-baik saja?''
''aku baik''
''tapi wajahmu terlihat tidak baik''
''aku hanya ingin mengingat sesuatu ''
Degg,,,,
''aku hanya ingin memastikan jika aku tidak akan salah orang kan?'' pertanyaan lembut Vio membuat Darren tak mampu bersuara.
Pandangan Darren goyang, hingga memilih menunduk sebelum benar-benar siap menatap wajah Violine.
''bukankah? Orang malam itu adalah kamu?'' suara Vio terdengar berat seperti ada yg tertahan.
Darren tidak bisa menyangkal, tapi juga tidak bisa langsung menjawab Darren hanya takut ini hanya akan melukai Vio.
''awalnya aku tidak yakin, sampai akhirnya Tuhan berkata lain hingga aku mendengar percakapan mu dengan Bible di kantor nya'' jelas Vio air matanya kini mulai mengalir
''sampai kapan kalian akan menyembunyikan ini dariku? Apa kalian aku ini hanya wanita bodoh dan lalu tiba-tiba kamu akn membawa Zeffan dariku'' tangis Vio akhirnya pecah meskipun masih berusaha menetralkan suaranya
Darren melangkah mendekat dan bersimpuh di depan Vio.
''aku minta maaf, Vii'' tatapan tulus itu dapat Vio rasakan
''apa kamu ingin mengambil Zee dariku?'' Vio *******-***** jemari nya
Darren menyentuhnya perlahan agar Vio tidak lagi ketakutan,
''aku, tidak pernah berniat mengambil Zee dari mu atau siapapun'' Darren menyelamatkan jari milik Vio yg hampir terluka oleh kuku nya sendiri
''aku hanya ingin memperbaiki semuanya, tapi maaf jika laki-laki yg di depanmu ini terlalu pengecut untuk menemui mu'' Darren dengan suara bergetar
''maafkan aku Vii'' Darren menunduk air matanya terjatuh begitu saja
''apa kami tahu setelah kejadian itu, bagaimana hidupku?'' Darren hanya mengangguk
''lalu apa yg kamu harapkan dengan berani muncul dihadapan kami seperti ini?''
''kamu orang berkuasa, kamu juga memiliki nama maaf jika anak mu harus lahir dari wanita seperti ku. Aku bisa lakukan apapun tapi bisakah jangan ambil anakku'' Vio menghapus air mata nya dengan paksa
Perasaan Darren semakin tak menentu, bukan ini yg Darren harapkan.
''aku tahu aku hanya tumbuh besar di panti, tapi Zeffan sekarang adalah hidupku bisakah jangan pisahkan kami aku tidak tahu harus bagaimana jika tidak ada Zeffan disisi ku'' Vio ikut turun dan bersimpuh juga di depan Darren.
''anda bisa menikah dengan siapapun yg anda mau, dan saya yakin anda juga bisa memiliki anak dengan mudah tapi aku mohon Tuan Darren jangan ambil Zeffan ku'' Vio yg menangis mengatupkan kedua tangan nya.
Darren menggelengkan kepalanya, bukan itu yg dia inginkan secara perlahan Darren merangkup wajah Vio menatapnya dalam.
"Aku hanya ingin di samping kalian, bukan memisahkan kalian kamu terlalu berpikir buruk tentang ku''
''aku melakukan kesalahan yg fatal padamu kamu boleh memukul ku'' Darren mengambil tangan Vio untuk memukulnya namun Vio menahan nya dengan paksa
__ADS_1
''Vii? Tidak ada niatku untuk memisahkan kalian, cukup kalian memaafkan ku aku sudah merasa bisa bernafas dengan baik''
Darren berusaha menenangkan tubuh yg bergetar dalam tangis di depannya itu