Pesawat Kertas Zeffan Al'Bareck

Pesawat Kertas Zeffan Al'Bareck
Bimbang


__ADS_3

***


Vio yg sejak tadi kelimpungan melihat Zeffan yg terus menangis meskipun matanya masih tertutup,


Berulang kali Vio mencoba menghubungi Bible tapi panggilan itu masih saja tidak tersambung juga.


Hatinya sedih dan juga kebingungan. Hingga tidak ada jalan lain selain menelepon Bella.


"Halo??'' suara serak dari ujung sana


"Bell? Kamu sudah tidur maaf aku mengganggu mu"


"Ada apa Vii?"


"Aku terlalu bingung, Zeffan terus menangis tapi mata nya terpejam"


Bella yg terperanjat kaget, langsung duduk dari posisinya.


"Oke-oke kamu tenang dulu ya, aku akan segera kesana" tanpa menunggu jawaban Bella sudah mematikan panggilan nya secara sepihak.


Vio masih berusaha menenangkan Zeffan dengan menggendong nya, memeluk nya erat meskipun tangisan nya sudah tidak sekeras tadi.


***


Washington,,,


Gery masih berada ditempat nya menunggu keadaan Darren yg cukup parah dengan lukanya.


Setelah berhasil meratakan PUB milik demart dan Airen ada sedikit ketenangan dihati Gery, setidaknya musuh Darren sudah berkurang. Lewat dari penyerangan malam ini Gery juga baru tahu jika Perth sudah mengetahui tentang Violine dan Zeffan sejak lama.


Untuk itu selama ini Perth semakin mendorong Chelsea agar terus mendekat ke Darren, dan menjauh kan semua yg kemungkinan bisa menghalangi jalan Putri nya.


Untuk itu Perth butuh orang yg dominan dan memiliki dendam yg sama dengannya, setelah tahu jika Airen dan Demart juga mengincar nyawa Darren, Perth dengan susah payah mengajak mereka bekerja sama.


Apa lagi dengan mendapatkan penuh dukungan dari Balgas untuk finansial nya justru itu memudahkan Perth mendekati para musuh Darren.


"Tuan?'' sapa seorang perawat


"Ini adalah beberapa barang yg ada ditubuh Tuan Darren, dan juga ini ponsel miliknya" Gery menerima nya


"Terimakasih" balasnya datar


Gery pun memeriksa ponsel milik Darren, dan tertera disana ada beberapa panggilan dari nomor yg tidak di kenal lebih dari sepuluh kali.


"Siapa??'' gumam Gery heran


"Tuan Gery?''


"Iya?"


"Bisa kita ke ruangan saya ada yg perlu saya bicarakan tentang kondisi Tuan Darren" ucap dokter yg mengoperasi Darren


Tanpa menjawab Gery hanya mengikuti langkah Dokter berjalan di koridor rumah sakit. Hingga masuk ke ruangan nya


"Silahkan, Tuan" Gery pun ikut duduk di depan dokter


"Bagaimana?"


Dokter muda itu menyerahkan hasil X'ray Darren. memperlihatkan lubang kecil yg ada di dadanya, dan ada juga luka sobekan


"Peluru di dada Tuan Darren cukup dalam, kami harus menyobek sedikit untuk mengambilnya. Untuk saat ini Tuan Darren belum bisa di bilang aman"


"Cukup baik anda membawa nya tepat waktu, meskipun nadi dan detak jantung Tuan Darren sempat melemah karena luka tembakan ini Tuan Darren Benyak kehilangan darah. Kami sudah melakukan transfusi darah untuk Tuan Darren tapi masih membutuhkan yg lain untuk berjaga-jaga"


"Lalu? Apa ada masalah??''


"Rumah sakit kehabisan pasokan darah yg sama untuk Tuan Darren, mungkin Tuan Gery bisa mencarikan di salah satu rumah sakit milik keluarga Andreason"


"Lakukan saja yg terbaik, aku akan mengurus sisanya"


"Baiklah, Tuan tapi ada yg lain?"


Gery memasang wajah bingung


"Selama pengoperasian Tuan Darren masih terus bergumam tentang Zeffan, saat ini kondisi Tuan Darren sedang tidak baik anda mungkin bisa menemukan Tuan Darren dengan Zeffan."


"Sebaiknya lakukan saja apa yg perlu kau lakukan sebagai Dokter, dan untuk yg lain buat seolah kuping dan mata mu tidak melihat apapun" ancam Gery


Dokter itu hanya bisa menghembuskan nafasnya berat.


"Apa Tuan Darren sudah bisa dijenguk?"


"Silahkan, Tapi tidak boleh terlalu lama karena Taun Darren masih butuh penanganan Dokter''


"Aku tahu!!" Setelah itu Gery langsung meninggalkan Dokter


"Kalian hubungi rumah sakit milik keluarga Andreason, minta mereka kirimkan darah yg sesuai untuk Tuan Darren, jangan lupa lakukan ini dengan bersih aku tidak ingin ada berita yg keluar dengan kejadian ini" perintah nya tanpa melihat ke arah pengawal.

__ADS_1


''baik Tuan, laksanakan" setelah menunduk para pengawal kemudian pergi satu persatu.


Baru akan membuka pintu tempat Darren dirawat, langkah Gery terhenti ketika ponsel milik Darren mendapatkan panggilan lagi dengan nomor yg sama.


"Siapa sebenarnya ini??'' runtuknya sambil menempelkan benda pipih itu ditelinga nya


"Halo? Tuan Darren??''


"Suara ini??'' batin Gery


"Halo?, Tuan Darren kamu masih disana?''


"Nona Violine?''


''oh? Tuan Gery"


''benar Nona, ada yg bisa saya bantu?"


"Ini benar nomor Tuan Darren kan?"


"Benar Nona"


"Lalu? Tuan Darren nya?"


"Bagaimana aku menjelaskan nya," gumam Gery yg tiba-tiba pusing


"Eh? Begini Nona Tuan Darren saat ini sedang sibuk dengan pekerjaan nya, Jiak anda ada keperluan saya akan meminta nya untuk menghubungi anda lagi nanti"


"Apa ada terjadi sesuatu?" Tanya Vio


"Tidak Nona, hanya pekerjaan yg tertunda jadi untuk saat ini Tuan Darren sangat sibuk" jelas Gery


"Baiklah tidak pa-pa, aku hanya ingin menanyakan kabarnya saja" elak Vio


"Baik, Nona jika Tuan Darren tidak sibuk nanti akan saya ingatkan untuk menelpon anda"


"Terimakasih, Tuan Gery"


"Sama-sama Nona''" balasnya


Setelah itu Vio mematikan panggilannya pada Gery.


"Bagaimana? Apa yg Tuan Darren katakan??" Bella yg penasaran


"Tuan Darren sedang sibuk, tadi Tuan Gery yg mengangkat nya."


"Apa kita bawa saja ke rumah sakit?" Ucap Bella yg melihat Zeffan hanya tertidur dengan terisak.


"Ayo" kedua nya pun langsung bangun dan mengarah keluar.


Uhhuuk uhhuuk,,


Suara batuknya Zakir membangun Bible yg baru tertidur beberapa menit yg lalu.


"Pah? Kamu sudah bangun?" Sambut Bible senang, dengan menempel alat yg sejak semalam menempel di lehernya.


"Apa yg Papa lakukan sampai terjatuh, hah?" Omel Bible setelah memastikan kalau Zakir sudah lebih baik


"Mungkin karena Papa kurang hati-hati" sahut Zakir


"Minumlah, Pah'' Bible memberikan nya air hangat, dengan hati-hati Bible membantu Zakir agar bersandar dengan nyaman.


"Bii? Dimana Mama mu?"


"Mama baru keluar untuk mencari udara segar, Bible yg memintanya"


Zakir hanya mengangguk


Melihat Zakir yg terus menatap sendu, Bible menautkan kedua alisnya


"Ada yg ingin Papa tanyakan??"


"Apa kamu akan menjawabnya?" Balas Zakir cepat


"Pah?" Bible memegang tangannya "jika Bible bisa menjawab tentu saja Bible akan mengatakan nya" ucapnya serius


"Bii?''


''emh?''


"Apa benar Zeffan adalah Cucu keluarga Andreason?"


Deg!!!!,,,,


"Bii?, Papa mohon katakan yg sesungguhnya?''


Bible yg menunduk hanya mengangguk pelan

__ADS_1


"Jadi benar, ya?" Zakir tersenyum getir


"Papa akan kehilangan nya kan? Jika keluarga Andreason mengambilnya"


"Apa maksud Papa? Tidak akan ada yg mengambil Zeffan dari siapapun"


"Bii? Kamu jangan terlalu naif, kita tahu betul siapa keluarga Andreason. Selain berkuasa keluarga itu akan selalu menunjukkan kepemilikan nya"


"Pah? Dengarkan Bible, Zeffan memang Cucu kandung mereka dan maaf jika Bible tidak mengatakan ini tapi? Darren tidak benar-benar ingin mengambilnya"


"Apa maksudmu??"


"Apa Papa ingat ketika semua nya menjadi mudah saat kita ataupun Violine dalam masalah?''


Zakir tampak diam dan mulai berpikir.


"Semua ada campur tangan Darren, terlebih lagi sekarang Darren sudah meminta maaf pada Vio dan mengakui kesalahannya"


"Bible kira keluarga itu tidak seburuk yg berita luar sana sampaikan?"


"Dan kamu membiarkan nya begitu saja? Kau memberi jalan pada pria yg sudah menyakiti Vio mendekati mereka? Siapa yg bisa menjamin jika lelaki itu tidak akan menyakiti mereka kembali?!"


"Pah? Bible sudah berjanji akan menjaga mereka, tapi Bible juga tidak bisa menjauh kan mereka dari semua orang" Bible berusaha memberikan pengertian nya


"Bible sudah mencari tahu tentang Darren sejak lama, dan sekarang Bible cukup percaya jika Darren bisa memperbaiki semua kesalahannya yg bisa Bible lakukan saat ini adalah memberi nya jalan."


"Jadi kamu sudah tahu ini sejak lama?"


"Benar, sejak Zeffan berusia dua tahun" Bible menunduk


"Dan kamu tidak mengatakan apapun pada kami!!"


"Apa yg harus Bible katakan Pah? Apa Bible harus bilang kita harus menyembunyikan Vio dan Zee karena Ayah kandungnya sudah mendekati nya?"


"Itu tidak mungkin, Pah?" Bible masih menjaga note suaranya


"Papa belum mau kehilangan Zeffan Bii, Zee adalah Cucu Papa" lirih Zakir


"Tidak ada yg mengambilnya Pah, Zee akan tetap menjadi Cucu Papa dan Mama apapun yg terjadi nanti"


"Kalau begitu, biarkan kami membawa kembali Vio dan Zeffan ke tempat kami" Bible mengernyit kan keningnya


"Biarkan mereka hidup tenang dengan kami" pinta Zakir


"Pah? Vio punya kehidupan nya sendiri kita tidak bisa masuk lebih jauh"


"Dan? Lalu kamu akan memberikan mereka begitu saja??"


"Astaga!!!" Bible mengacak-ngacak frustasi rambutnya


"Pah? Dengarkan Bible" Bible mengatur nafasnya


"Darren adalah Ayah kandung Zeffan, cepat atau lambat Zeffan akan mengetahui nya. Dan kita tidak berhak menyembunyikan apapun dari anak itu dan soal memberikan Bible tidak pernah memberikan apapun kepada siapapun Bible hanya ingin memberikan jalan untuk Darren."


Dug!!!,,,


Bible dan Zakir memutar kepala mereka melihat diambang pintu


"Mah???"


"Luci?" Sontak mereka bersamaan


"A-apa maksud ka-kalian Ayah kandung. Ayah kandung siapa?"


Bible membuang wajahnya.


***


"Bagaimana Dok?" Tanya Vio dan juga Bella pada seorang Dokter yg biasa merawat Zeffan.


Vio dan Bella yg sudah bingung dengan kondisi Zeffan akhirnya membawa Zeffan ke rumah sakit, menemui Dokter Annette yg biasa menangani Zeffan.


"Ini hanya demam biasa," sahut Dokter sambil memberikan secarik kertas


"Tapi kenapa Zee terus menangis tanpa membuka matanya?'' timbal Bella


"Nona? Seperti yg kita tahu Zeffan memiliki krisis dengan pemikiran nya, kemungkinan demam ini pemicu dari perasaan nya yg sulit untuk di ungkapkan,"


"Bagaimana maksudnya?" Tanya Vio


"Nona? Saya sudah merawat Zeffan sejak kurang dari usianya tiga tahun dan kejadian seperti ini tidak hanya satu atau dua kali terjadi padanya. Mungkin Zeffan sedang memikirkan seseorang atau batinnya sedang merasakan sesuatu sampai itu yg membuatnya tidak tenang" jelas Dokter


"Apa mungkin dia merindukan, Bible Vii?'' tebak Bella


"Nona benar, siapa tahu Zeffan merindukan Dokter Bible. Tapi bukannya mereka sering bersama?" Kata Annette yg juga mengenal Bible


"Aku rasa bukan" potong Vio.

__ADS_1


__ADS_2