Pesawat Kertas Zeffan Al'Bareck

Pesawat Kertas Zeffan Al'Bareck
kamu harus sembuh


__ADS_3

Benar saja para pengawal mengikuti perintah dari Leo setelah perjalanan yg cukup panjang kini mobil berhenti di butik karena permintaan Bella..


''terima kasih'' ucap Bella sopa


Namun mereka langsung melesat pergi tanpa menjawab


''Bell??'' Vio yg berlari kecil menghampiri nya.


''eh, Vii?''


''kamu baik-baik saja?''


''aku tadi menelepon mu tapi tidak tersambung, apa terjadi sesuatu??'' tanya Vio yg cemas


''Vii, aku baik-baik saja mungkin ponsel ku tertinggal di dalam mobil'' alasan Bella agar Vio tak khawatir


Vio pun memeluk nya, daritadi perasaan nya campur aduk, setelah kejadian Zeffan tadi siang kini malah sahabat nya ini tiba-tiba menghilang.


''kalau gitu ayo kita masuk,'' ajak Bella


Sedangkan di dalam gudang yg lebih terlihat merak itu.


Bruuuuk


Dug


Suara pukulan terus terdengar, siapa lagi kalau bukan Leo .


Dari tadi Leo sudah berbicara dan negosiasi dengan seorang laki-laki yg usianya di atas dirinya itu, agar mengatakan siapa yg menyuruh nya namun bukan mengatakan orang itu justru hanya tertawa meskipun para pengawal sempat menghajarnya.


''oke, kau tidak ingin mengatakan nya pada ku tidak apa-apa. Kita akan lihat ketika Raja yg sesungguhnya akan bertanya pada mu reaksi apa yg akan kau keluarkan'' ancam Leo dengan menjambak kasar rambut nya


''apa kau pikir aku takut ''ha ha ha ha


''kita lihat,!! Jangan salahkan aku jika keluarga mu juga akan menanggung di depan mata mu!!'' ancaman Leo kali ini tepat sasaran wajah pria itu langsung memucat terdiam.


''kalian jaga dia, dan ingat jangan beri dia apa pun sampai mulut nya bicara siapa yg menyuruh nya,!!''


''siap, Tuan''


Leo langsung pergi dari gudang mencari Darren di kantor nya


Vio dan Bella kini makan malam bersama di apartemen Vio, setelah mereka keluar dari butik bersama Vio mengajak Bella berbelanja dan masak di tempat nya.


''Zee? Ayo makan'' ajak Vio yg mendapatkan anggukkan


''Zee? Kamu kenapa diam saja mau cerita sama Aunty?''


Zeffan yg masih memeluk pesawat nya hanya menggeleng


Vio dan Bella saling lempar pandang melihat tingkah Zee


''Aunty merasa sepi ya, bagaimana kalau kita telpon Papa?''


''iya, Mama juga setuju Zee mau telpon Papa?''


Zee kembali diam dan hanya mengangguk


Vio langsung mengambil ponsel nya dan melakukan panggilan video ke Bible, satu hingga dua kali Bible tidak menjawab wajah Vio dan Bella mulai panik tapi beruntung panggilan ketiga Bible langsung mengangkat nya.


''Zee??sedang apa?'' terdengar suara Bible dari ujung sana melihat camera yg mengarah ke Zee,


"Zee? Zee tidak mau bicara dengan Papa??''


Zee kembali mengangguk membuat Bible bingung


''Zee? Lihat Papa'' Zee pun langsung menurut


''apa ada yg sakit?'' tanya lembut Bible


Vio dan Bella hanya jadi pendengar, tapi tiba-tiba Zee berdiri mengangkat kaos nya menampakan perut nya dan benar saja ada lebam disana yg membuat Vio juga Bella kaget kepalang.


''astaga!! Zee? Maaf nak Mama malah tidak mengetahui nya'' Vio panik dan mulai menangis


''Vii, kamu tenang dulu ya tunggu aku, aku kan naik saat ini aku sudah di lobby'' Bible berlari kecil masuk dalam lift


Beberapa hari ini Bible memang sangat sibuk, beruntung dia memiliki Wisnu sebagai asisten yg cekatan jadi hari ini dia sedikit longgar, merasa lelah dengan pekerjaan membawa nya ingin menemui Zee melihat tingkah lucu nya adalah obat ajaib bagi Bible.


Zee yg berbaring di kasur nya, masih diam menatap Bible yg kini mengompres perut nya yg memar, setelah Vio menjelaskan apa yg terjadi Bible menyalahkan diri nya karena bukan dia yg menjaga malah orang lain yg menyelamatkan Zee.


Tapi sampai saat ini Vio belum menceritakan jika Chelsea menemui nya, karena yg Vio pikirkan mu mungkin Chelsea tidak akan berani lagi mengganggu nya.


''Pa?'' panggil suara manja itu yg baru terdengar


''iya, sayang?''


''Papa tidur disini kan?'' Vio merasa tidak enak pada Bible


''Zee? Pa-pakan sampai selesai pekerjaan nya malam, jadi Zee ti-' Bible menahan nya


''tidak apa-apa, aku bisa'' balas Bible hangat.


Zee mulai perlahan tertidur di lengan Bible yg juga berbaring di sebelah lah.


''dia demam?'' ucap Vio yg menyentuh kening Zee, Bible juga merasakannya.


''Apa perlu kita bawa kerumah sakit?'' ytnya Bella yg juga masih berada disana


''sebaiknya begitu'' Vio memberikan jaket Zee pada Bible agar memakai kan pada anak yg masih tertidur itu


Ketiga pun berjlan keluar gedung dengan Bible yg menggendong Zee, Vio dan Bella yg mengekorinya

__ADS_1


''Bell, kamu lelah karena pekerjaan hari ini kamu pulang saja istirahat biar aku dan Biben yg mengurus nya''


''tidak apa-apa Vii, aku baik-baik saja''


''kamu harus dengarkan aku kali ini, oke'' pinta Vio lembut


''baiklah, aku akan pulang tapi beri kabar setelah di rumah sakit'' raut wajah Bella terlihat sedih


''aku tahu, aku akan mengabari mu nanti kamu istirahat saja ya liahat wajah mu ini'' Vio mengelus pembut pipi Bella


''oke'' balas Bella


''jangan khawatir itu cuma demam, lagian ada Biben''


''iya aku hanya khawatir dengan Zee, kau kan tahu dia juga seperti anakku''


''oke-oke'' Vii meninggalkan Bella dan berjalan ke arah Bible yg sudah berdiri di samping mobil setelah memasukkan Zee.


''kenapa hari ini terlalu banyak masalah'' keluh Bella dengan wajah murung dan kaki yg terusenendang ke udara.


''Buk?'' sapa seorang wanita


''Mina? Sedang apa kamu disini?'' Bella membalik tubuhnya


''ohh, ini buk'' Mina menyerahkan paper bag


''hari ini adalah jadwal saya yg piket di butik, tapi setelah saya bersihkan ruangan ibu saya menemukan itu'' jelas Mina


Bella membuka dan melihat isi dalam paper bag tersebut.


''itu seperti jaket milik orang yg menolong Zeffan buk''


''sepertinya kamu benar'' Bella membenarkan karena dia masih ingat dia lah yg menyuruh lelaki itu melepaskan jaket nya ketika akan membersihkan luka nya.


''tadi saya mau antarkan ke rumah ibuk, tapi karena tempat tinggal ibuk Vio lebih dekat dari kontrakan saya, saya memilih membawa nya kemari''


''kalau begitu, terima kasih ya Mina saya akan memulangkan ini nanti pada orang nya'' balas ramah Bella


''iya buk, oh iya ibuk pulang naik apa saya tidak melihat mobil ibuk?'' Mina memperhatikan sekeliling nya


''oh, saya naik taksi hari ini mobil saya masuk bengkel tadi sore'' alasan Bella


''emh, mau saya antar buk? Tapi naik motor'' Mina terlihat tidak enak menawarkan tumpangan pada Bella


''tidak apa-apa, kamu pulang saja saya bisa pulang sendiri ''


Mina pun mengerti dan setelah pamit berjalan meninggalkan Bella yg masih berada di tempat nya.


''oh iya Mina?'' panggilnya kembali


''iya buk??'' Mina pun berbalik


''loh? Kok tutup buk??''


''iya, karena bulan ini kan kalian belum ada yg ambil cuti jadi saya dan Vio akan libur satu hari'' penjelasan Bella


''ta-tapi buk, bukannya lagi bajyak pesanan ya?''


''tenang saja, kami hanya ingin kalian libur soal pesanan kami bisa melakukan nya dari rumah'' Bella merasa senang pegawai nya semua berdedikasi pada pekerjaan nya.


''baiklah buk, saya akan bilang pada yg lain''


''oke, terima kasih ya'' Bella lagi-lagi tersenyum ramah


''sama-sama ibuk, saya pamit pulang ya buk''


''iya hati-hati?'' Bella pun melihat Mina yg sudah pergi menggunakan motor matic milik nya.


Di sebuah gedung tinggi menjulang, terlihat suasana dingin di sebuah ruangan pencakar langit itu, Darren dan beberapa anggota eksekutif perusahaan nya sedang membahas beberapa pekerjaan yg lari dari jadwal.


Darren yg terkenal perfeksionis merasa kesal dengan pekerjaan bawahan nya, bukan hanya staf bahkan Gery yg selalu setia di belakang pun terkena imbas nya. Beruntung Leo tidak terlalu ikut campur soal perusahaan jadi disaat seperti ini tidak ada batang hidung nya Darren tidak akan menyalahkan nya.


''dimana Tuan Darren?'' tanya Leo yg baru keluar dari lift


''maaf Tuan Leo, Tuan Darren sedang melakukan meeting dengan anggota eksekutif sekarang'' balas salah satu pengawal dengan menunduk.


Bukan Leo namanya kalau tidak langsung pergi tanpa penjelasan, dengan terburu-buru Leo menuju ruangan meeting Darren, apa lagi Leo sempat dapat kabar jika Vio dan Bible membawa Zee kerumah sakit.


''kalau begitu kita harus mengu-,,,," Darren yg sedang menjelaskan beberapa materi pekerjaan nya, di buat diam menatap ke pintu yg terbuka bebas itu.


''Leo??'' semua pun melihat ke arah nya


''maaf Tuan, saya ada berita penting'' Leo langsung membungkuk kan tubuh nya.


Darren tahu jika itu tidak benar-benar penting, Leo yg dikenalnya sejak masih remaja itu tidak akan berani bersuara.


''kita lanjutkan besok, dan aku ingin laporan yg lebih baik!!!!''


Darren pergi begitu saja meninggalkan mereka bersama Gery


''sebaiknya, anggap ini Tuan Darren sedang memberikan kalian nafas sebentar pastikan laporan kalian besok mampu memuaskan nya. Karna jika kalian melakukan hal yg salah seperti tadi kalian sendiri yg akan menanggung akibat nya!!''


Ancam Gery dengan mengetuk meja sebelum pergi menyusul Darren dan juga Leo.


Darren yg ingin ke ruangan nya dihentikan oleh Leo.


''maaf Tuan, sebaiknya kita langsung keluar saja saya akan jelaskan pada anda di jalan'' ucap tegas Leo


Darren mengikutinya masuk dalam lift dan sudah ada Gery dan beberapa pengawal yg ikut dengan Leo memimpin jalan.


''Tuan, tadi siang ada orang yg ingin melakukan penabrakan pada Zeffan, beruntung saya disana'' jela Leo yg saat ini sedang mengendalikan kemudi

__ADS_1


''apa!!'' Darren menaikan note suaranya


''saya mengatakan yg sebenarnya Tuan, saya dan bawahan saya sudah menemukan orang yg melakukannya''


''dimana dia sekarang??!!'' sorot mata tajam Darren membuat Gery dan Leo yg di depan menelan paksa ludah nya.


''dia sudah ada digudang, tapi masih ada yg lain Tuan''


Darren menatamkan tatapan nya, dengan duduk di belakang menyilang kan kali nya dan tatapan tajam siapa yg akan tahu apa yg Darren pikirkan.


''Zeffan seharusnya tadi siang baik-baik saja, walaupun sempat shock. Tapi beberapa jam yg lalu Nona Violine membawa nya ke rumah sakit''


''Brengs*k!!!!'' umpat Darren penuh amarah


''saya sudah mendapatkan alamatnya Tuan, Zeffan di bawa ke rumah sakit Cempaka milik salah satu keluarga Andreason''


''siapa merawatnya?'' tanya Darren dingin


''saya belum tahu, Tuan tapi saya akan mencari tahu sekarang '' balas Leo yg sedikit mulai gemetar melihat reaksi Darren .


''biar aku saja, fokus lah menyetir'' Gery dengan idenya


Gery mulai menghubungi seseorang, dengan suasana tenang di dalam mobil.


''panggil Dokter Steve agar turun dan merawat nya'' titah Darren yg mengejutkan keduanya.


''tapi Tuan, Dokter Steve sudah tidak aktif lagi di rumah sakit selain merawat keluarga Andreason Dokter Steve hanya akan diam di kediaman nya.'' jelas Gery


''katakan padanya, dia yg turun untuk merawat anakku atau aku langsung yg akan menyeretnya kesana!!''


Gery merasa serba salah, untuk menolak pun dia tidak mampu, sekilas dia menatap ke Leo yg terus mengangguk.


Perjalanan hampir tiga puluh menit ketika Darren dan anak buah nya sampai di rumah sakit, namun mereka tidak masuk dari depan justdari jalan belakang yg memang di buat khusus untuknya.


''selamat malam,Tuan'' sapa Dokter dan beberapa perawat itu


''dimana ruangan nya??'' tanya Darren tanpa basa-basi


''mari Tuan,'' Darren pun mengikuti langkah Dokter itu


''saya sudah menyiapkan sesuai yg anda minta, tapi anak itu dalam kondisi lemah saat ini Dokter poli anak sedang memberikan cairan infus dan oksigen. Setelah lebih baik mereka akan memindahkan nya disini Tuan'' ucap Dokter Steve yg sudah datang sesuai dengan yg Darren minta


Kini di ruangan VVIP itu, Darren duduk di sofa dengan wajah garang nya, menunggu kehadiran anak yg membuat nya khawatir.


''Tuan, Zeffan sudah di bawa perawat untuk kemari'' lapor Gery pelan-pelan


Pintu terbuka Darren dapat melihat bocah laki-laki yg tertidur lemas di brankar, Darren dapat melihat tangan dan hidung nya semua menempel pada selang. Dengan wajah gusar Darren berjalan perlahan ke arah Zeffan yg masih tertidur lemas.


''bagaimana keadaan nya?'' tanya Darren dengan nada rendah, beberapa orang yg disana terkejut Darren yg terkenal tidak sabaran dan mudah emosi ini tiba-tiba menurunkan note suaranya.


''tubuh nya lemas Tuan, karena demam yg tinggi tapi sekarang lebih baik hanya buruk istirahat sedikit untuk rekorveri Tuan'' jelas Dokter poly anak


''berikan dia yg terbaik, dan pastikan janagn sampai merasakan sakit sedikit pun jika kalian ingin aman berada disini'' titah Darren pelan masih dengan nada rendah tapi membuat bergidik ngeri orang yg mendengar nya.


''baik, Tuan'' ucap mereka bersama


Darren mengelus lembut tangan yg menempel infus itu, mata nya berkaca-kaca, jika selama ini dia hanya melihat Zee dari foto yg Leo berikan, seharusnya beberapa Minggu ini dia cukup senang karena bisa interaksi langsung dengan Zee. Tapi berbeda hari ini Darren harus melihat anak yg cerewet dan aktif itu tertidur lemas karena ulah orang tidak bertanggung jawab.


''Tuan, kita harus pergi sekarang Nona Vio sedang menuju kesini'' ucap Gery yg tidak enak melihat interaksi Darren


''baiklah, Dokter Steve aku menyerahkan dia padaku''


''baik Tuan muda''


Darren yg meletakkan kembali tangan kecil itu pelan, tiba-tiba tangan itu malah menggenggam jarinya.


''Zee?'' panggil nya lembut


''Paman, kamu disini'' ucap nya pelan namun masih terdengar


Darren menunduk kan tubuhnya yg membuat orang sekitar nya makin terkejut, tangan nya mengelus kepala Zee dengan penuh perhatian di tatapnya mata hitam pekat itu dalam.


''kamu datang?'' tanya Zee lagi


''emh, aku tahu kamu sakit jadi aku datang''


''terima kasih, Paman'' bocah itu melempar senyum pada Darren.


''Mama?'' ucapnya tiba-tiba yg melihat sekeliling


''Mama kamu akan kesini,''


''apa Mama akan sedih Paman?''


''tentu saja, jika kamu sakit'' bulir air mata Darren hampir terjatuh jika tangan kecil itu menahan nya


''aku akan sembuh ''


''kamu memang harus sembuh, dan tidak boleh sakit lagi''


Zeffan hanya mengangguk pelan, pundak Darren terasa ada yg menyentuh dan mengerti maksud Gery.


''aku harus pergi sekarang, nanti aku akan menemui lagi oke''


''iya'' Darren bangun dengan mengatur nafas nya kasar, namun baru beberapa langkah Darren berhenti dan berbalik lagi ke Zeffan.


''aku membayar hutang ku'' ucap Darren yg memberi kan satu permen coklat ke tangan Zee


''dan satu lagi jangan beri tahu Papa mu kalau kita bertemu '' Zeffan lagi-lagi mengangguk, Darren mengecup puncak kepala Zeffan lembut.


''aku janji, akan menemui mu lagi'' setelah itu Darren langsung melesat pergi tanpa melihat sekitarnya yg mearasa aneh dengan sikapnya. Dengan buru-buru Darren yg diikuti oleh pengawal nya masuk dengan cepat ke lift agar tidak berhadapan dengan Vio.

__ADS_1


__ADS_2