
***
Di Butik Tiffany,,,
Keributan sudah mulai terjadi sedari tadi.
Zee yg sudah dijemput oleh Vio kini dibawa nya kembali ke butik, niat Vio tadi nya setelah menjemput Zee Vio akan pulang sebentar untuk memasak bahan makanan yg sudah di beli nya dengan Bella.
Tapi semua rencana nya gagal, bocah empat tahun itu terus merengek dan tidak mau ikut pulang. Akhirnya Vio mengalah membawa nya kembali ke butik
Sudah hampir satu jam Vio dan Bella bergantian membujuk Zee yg masih berdiam di sudut ruangan dengan mainan nya.
''apa kamu memarahi nya?'' tanya Bella pada Vio yg duduk disebelah nya, mata mereka mengarah ke punggung kecil Zee yg masih menghadap ke dinding
''apa menurut mu aku pernah memarahi nya''
''tapi kenapa dengan dia hari ini?'' Bella yg masih bingung
''sebentar, aku akan telpon Miss nya siapa tahu ada masalah di sekolah nya'' Vio beranjak bangun mencari ponsel nya
''kalau gitu kamu bicara di luar saja, biar aku yg coba bicara lagi pada Zee '' Bella memberikan senyum pada Vio yg terlihat khawatir.
''Zee?'' panggil Bella lembut dan melangkah perlahan ke arah Zee, Bella dapat melihat jika punggung kecil itu bergetar seperti menangis.
''Zee? Apa kamu marah dengan Mama dan Aunty yg terlambat menjemput?'' Bella mengusap lembut kepala Zee
Zee hanya menggeleng tanpa menunjukkan wajahnya. Sebenarnya Bella dan Vio sedikit terlambat ketika sampai di sekolah karena jalanan yg macet. Sebab itu Vio dan Bella berpikir jika Zee marah pada mereka karena lama menunggu.
''Zee tahu kan selain Mama Aunty juga sayang sekali dengan Zee, apa ada yg mau Zee katakan?''
Bella yg ikut duduk di sebelah Zee menarik lembut tangan kecil itu, Bella ingin melihat wajah yg dari tadi hanya menghadap ke dinding.
''Zee?'' Bella merangkup pipi yg sudah terlihat merah itu
''ada apa? Apa ada yg mengganggu Zee disekolah?'' anak empat tahun itu menaikan pandangan nya menatap ke Bella.
''Aunty?'' panggil nya dengan mata sembab
''iyaaa'' Bella masih mengelus lembut pipinya agar anak itu nyaman untuk bercerita.
''apa Zee tidak punya Ayah??''
Deg,,,
Vio langsung terdiam menahan seperti ada yg menusuk hatinya. Setelah selesai telpon Wali kelas Zee Vio baru tahu jika Zee sempat berdebat dengan salah satu temannya, gurunya tidak tahu persis apa yg mereka debat kan jadi Vio juga hanya menebak jika itu perdebatan anak-anak.
Namun baru membuka pintu, jawaban Zee membuat nya tak bisa berkata apapun.
''Zee? Siapa yg mengatakan nya?'' Bella mengangkat bocah itu agar naik di pangkuannya.
''Joshua Aunty? Dua hari lagi akan ada perayaan hari ayah di sekolah Zee mau ikut tapi kata Joshua Zee tidak boleh ikut karena Zee tidak punya Ayah'' jelas nya dengan menahan tangis.
''siapa bilang jika Zee tidak punya Ayah?'' Vio berusaha menyamping kan perasaan sedihnya
''Mama?'' Zeffan turun dari pangkuan Bella dan memeluk Vio, Vio menggendong anak itu mengajak nya duduk di sofa.
''siapa bilang jika Zee tidak punya Ayah, lalu bagaimana dengan Papa?'' Vio berbicara sambil membuka seragam sekolah milik Zeffan satu persatu.
''tapi Papa tidak tinggal dengan kita, Papa Joshua tingga dirumah yg sama dengan nya'' Vio memikirkan jawaban yg tepat untuk Zee, karena sikap sensitif Zee dan kepintaran nya membuat dia lebih mudah memahami keadaan.
''Zee, dengar Mama'' Vio memegang kedua tangan anaknya
''Zee kan tahu Papa sangat mencintai pekerjaan nya, dan tempat tinggal kita cukup jauh untuk ke kantor Papa makanya Papa jarang bisa tinggal dengan kita'' Vio menjelaskan secara lembut
''apa Papa akan tinggal dirumah jika pekerjaan nya sudah selesai Ma?''
''tentu saja, Zee ingat kan kamera yg di pasangkan Papa dirumah?'' anak itu mengangguk cepat
''Papa memang jarang bersama Zee tapi papa tahu apa yg Zee lakukan, sekarang mengerti?'' Vio membelai lembut dan merapikan rambut Zee
''mengerti, maaf ya Ma jika Zee buat Mama sedih'' tangan kecil Zee menangkap wajah Mama nya.
''yg perlu Zee ingat adalah, ada atau tidak pun Papa Zee selalu spesial buat Mama jadi Zee tidak boleh sedih, oke'' Zee mengangguk cepat
Vio memeluk erat tubuh kecil itu, dalam hatinya banyak hal yg ingi dijelaskan nya tapi Vio juga sadar jika usia dan pemikiran Zee saat ini tidak bisa menerima nya.
''Zee, kamu tidak mau memeluk Aunty?'' Rajuk Bella
Sedari tadi Bella yg mendengarkan pembicaraan ibu dan anak ini, memandang haru air matanya menetes melihat Vio yg berusaha kuat untuk anak nya.
''Aunty?'' Zee berlari ke arah Bella yg berjongkok siap menangkap tubuh nya.
''buk?'' Mina yg tiba-tiba muncul dari balik pintu
Vio dan Bella langsung menatap ke arah nya.
***
Darren yg sudah turun lebih dulu dari mobil dibuat tercengang olah Mama nya, bahkan tak kalah terkejut dengan Leo dan Gery
''Ma? Ini Mama yakin kita memang harus kesini?''
''iya, ini butik milik anak temen arisan Mama, Ren'' Silvia merapikan sedikit pakaian nya dan berjalan lebih dulu
''Tuan, saya akan menunggu di mobil saja'' Leo yg baru mau masuk mobil kembali lagi ke tempatnya karena Darren menarik baju belakang nya.
__ADS_1
''tunggu dulu?'' Darren yg frustasi memegang keningnya
''ini sejak kapan Mama bisa berhubungan dengan pemilik butiknya?'' namun Gery dan Leo yg memang tidak tahu pun hanya saling lempar pandang
''Ren?, Ayo'' ajak Silvia lagi yg sudah hampir masuk
Darren hanya bisa mengangguk kaku ke arah Mama nya.
''Tuan, aku akan mati jika Nona Violine mengenali wajah ku'' Leo yg serba salah mengacak rambutnya
''benar Tuan,'' Gery yg setuju
''tapi kita juga tidak bisa menolak kemauan Mama ku!''
''begini saja, Tuan dan Gery masuk lalu akan akan menunggu di mobil'' Leo mendorong tubuh Gery yg berada di samping nya agar mendekat ke arah Darren.
''baik, kau tunggu disini lalu aku akan masuk dan minta Mama yg menyeret mu ke dalam!!'' ancam Darren.
Darren yg berjalan bersama Gery meninggalkan Leo yg sudah nampak kesal dengan keadaan nya.
''Astaga!! Apa ini yg nama nya buah simalakama!!'' umpat nya
Setelah mencari topi dan masker nya, Leo menyusul langkah Darren dan juga Gery.
''sepertinya aku tidak ingat jika ada pertemuan dengan mu disini!!'' suara lantang itu terdengar saat Darren hampir melangkah masuk
''Tuan Bible?'' sapa Gery
Darren membuang nafas kesal nya
''satu belum selesai, tapi yg lain sudah muncul lagi!!'' ucap Darren yg kesal
''apa yg anda lakukan disini, Tuan Darren?'' tanya sinis Bible
''seharusnya saya yg bertanya pada anda''
''heh!, Coba periksa kembali tempat anda mungkin Anda sudah salah alamat ''
Darren memandang kesal ke arah Bible yg menatap nya dingin, sedangkan tiga orang yg lain melihat jenuh ke mereka
''mulai lagi?''' batin Wisnu yg jengah
**
'' ada apa? Mina'' tanya Bella
''buk, tamu dari Nyonya Angeline sudah ada di depan''
''ohh, kalau begitu bawa masuk saja'' Mina pun langsung pergi dari ruangan Vio
''siapa? Bell'' Vio yg penasaran
''ohh, kalau gitu aku bawa Zee ke ruangan kamu dulu ya dia sepertinya mengantuk'' Vio yg baru ingin menggendong Zee
''oke,''
''selamat siang'' sapa ramah wanita yg baru masuk itu
''selamat siang, Nyonya silahkan'' tawar Vio pada Silvia
''selamat siang Nyonya, saya Bella Putri Angeline'' Bella menyalami wanita yg seumuran dengan ibunya ini.
Namun mata Silvia mengarah ke Vio yg menggendong Zee.
''oh, saya Violine Assisten Nona Bella'' Vio menyalaminya dengan tangan satu nya.
''maaf Nyonya saya permisi sebentar mengantar Putra saya'' Silvia pun mengangguk pelan dengan senyuman
''silahkan duduk, Nyonya'' Bella mengajak nya duduk di sofa dengan memberikan beberapa buku katalog
''buk, itu'' panggil Mina pada Vio yg berjalan mengarah ke ruangan Bella.
''ada apa Mina?''
''Biben??'' Vio melihat Bible yg berjalan bersama dengan Mina
''Papa??'' Zee merentangkan tangan nya
''kenapa tidak pakai baju?'' Bible mengambil Zee dari gendongan Vio agar Zee berpindah pada nya.
''Zee mau tidur, jadi aku ingin mengganti pakaiannya ''
''anak papa sudah ngantuk?'' Bible mencium pipi Zee yg memeluk lehernya.
''Paman??'' Zee melambaikan tangan nya yg juga dibalas oleh Darren.
''Tuan Darren ada disini juga?''
''iya, aku menemani Mama ku'' balas Darren melirik ke Bible
''ohh, jadi Nyonya yg di dalam adalah ibu anda?'' Darren hanya mengangguk tapi sedikit memandang ke arah Zee yg kini berada di gendongan Bible.
''ayo Vii, Zee mau tidurkan?''
''iya, tolong bawa ke ruangan Bella ya'' Bible mengantarkan Zee masuk ke ruangan Bella yg ada disebelah ruangan Vio.
__ADS_1
''Tuan, langsung masuk saja ibu anda sudah di dalam'' ucap Vio sopan. ''kalau begitu saya permisi sebentar ya''
''silahkan'' Darren melihat Vio masuk ke ruangan yg sama dengan Bible, lagi-lagi hembusan nafas kasar dapat terdengar oleh Gery dan juga Leo yg masih setia dibelakang nya.
''kamu bisa kembali bekerja, aku akan menunggu nya disini'' ucap Bible yg melihat Vio terlihat bingung
''beneran?''
''iya, pergilah lagian aku juga sudah berapa hari tidak menghabiskan waktu dengan nya'' Bible mengusap kepala bocah yg hampir tertidur dengan meminum susu dari botolnya ini.
''kalau gitu aku keluar sebentar ya'' Vio langsung beranjak ketika membuka pintu ada Wisnu juga yg ingin masuk. Setelah menyuruh Wisnu masuk Vio menuju ruangan nya yg sudah ada Nyonya Silvia dan rombongan nya.
Vio yg membantu Bella mencatat semua pesanan dari Nyonya Silvia, tanpa disadari nya mata tajam Darren selalu menatap ke arah nya banyak decak kagum yg Darren rasakan melihat Vio selama bekerja.
''Nona jika kalian punya waktu tolong datanglah ke tempatku untuk mengukur ukuran suami ku'' pinta Silvia dengan menyodorkan kartu nama nya.
''baik Nyonya'' balas Bella ramah
''aku tidak menyangka jika Nyonya Angeline punya anak berbakat seperti kamu'' pujinya pada Bella
''anda terlalu memuji Nyonya''
''oh, dengan mereka jika mereka terus menolak kalian bisa datang saja ke kantornya'' tunjuk Nyonya Silvia pada orang yg duduk tak jauh dari nya.
Sedari tadi Silvia meminta Bella yg mengukur tubuh mereka, namun tidak satupun dari mereka yg mau bergerak kesalnya makin parah ketika Leo malah kabur dengan alasan sedang sakit perut.
''aku ingin melihat hasilnya Minggu ini bisa?'' tanya Silvia menatap Vio
''akan saya usahakan Nyonya''
''baiklah, karena sudah sore aku harus kembali dulu mungkin lain hari kita bisa mengobrol lagi, aku menyukai obrolan kita'' Silvia mencium pipi kiri dan kanan Vio dan Bella bergantian.
''baik Nyonya''
Keduanya mengantar Nyonya Silvia hingga keluar butik
''Ren, atur waktumu acara kita sudah tidak lama lagi''
''baik Ma'' Darren hanya memasang wajah malasnya
''tapi Nyonya mungkin nanti aku akan mengirimkan Vio untuk pakaian mereka'' ucap Bella
''jika dia terus menyusahkan pekerjaan mu, tarik saja telinga nya aku akan melindungimu'' bisik Silvia pada Vio
Vio hanya tersenyum kepada Silvia.
''oh, Nona Vio jika kalian datang ke rumah ku bolehkan kalian juga bawa anak mu?''
''dirumah itu selain aku dan suamiku hanya ada pelayan, rumah itu terasa sepi mungkin suamiku juga bisa senang melihat anakmu.''
Silvia senang karena Vio menanggapi nya dengan senyum
''tentu Nyonya jika anda tidak keberatan''
''tidak, malah sayang sekali jika dia tertidur''
''mungkin lain waktu Nyonya''
''baiklah'' Silvia masuk dalam mobil nya yg sudah dibukakan oleh Gery.
Mata Bella kesana kesini mencari sosok yg belum sempat di sapa nya.
''Ger? Dimana Leo ?'' tanya Darren celingukan
''sepertinya sudah pergi, Tuan''
''oke, kamu antar Mama saja lebih dulu''
''lalu bagaimana dengan anda Tuan?''
''ada sesuatu yg ingin aku urus disini''
''baiklah, kalau gitu saya pergi Tuan''
Darren pun berdiri disamping Vio yg masih berdiri dibelakang nya.
''anda tidak kembali Tuan?'' tanya Vio bingung
''aku ingin bicara padamu'' Darren menatap kearah Vio
''kalau begitu kita masuk saja dulu'' ajak nya memberikan jalan
Darren berjalan lebih dulu, dengan Vio yg berada dibelakang namun langkah Vio terhenti ketika tahu Bella tak mengikuti nya.
''Bell?'' panggil nya
''eh iya Vii?'' Bella pun melihat ke arah nya
''kamu gak masuk?''
''kamu masuk lebih dulu, aku nanti menyusul''
''oke'' Vio pun terpaksa mengiyakan dan melangkah masuk
''tadi itu dia kan, kenapa malah kabur dasar tidak jelas!!'' gerutu nya melihat jalan memang tidak ada batang hidung Leo.
__ADS_1
''baiklah, lebih baik masuk saja'' namun baru mau melangkah tiba-tiba tangan nya.
Ahhhh!!!!!