
Sore ini Darren di buat pusing oleh tingkah Chelsea yg terus saja berusaha menemui nya. Bahkan Gery dan Leo saja sudah kehabisan akal untuk mengusir Chelsea dari kantor Tuan nya.
''carikan aku sebuah tempat yg aman'' ucap Darren yg mulai kesal, dengan duduk di kursinya sambil tangan menopang dahinya.
''bagaimana dengan apartemen saya saja Tuan??''
Tawar Leo yg berdiri tidak jauh dari Darren.
''benar, Tuan saya rasa anda bisa istirahat disana'' usul Gery
''kalau begitu atur orang mu untuk membersihkan nya''
''baik Tuan'' Leo langsung beranjak.
''bangunkan aku satu jam lagi'' titah nya pada Gery yg masih berkutik dengan laptop nya.
Darren merebahkan tubuh nya di sofa meskipun mata dan tubuh nya lelah, tapi pikiran nya tetap berjalan seperti butuh pencerahan.
''Gerr?'' panggilnya dengan mata yg masih tertutup
''ya Tuan''
''bagaimana kabar dia sekarang??''
Gery tentu tahu apa yg dimaksud oleh Darren.
''sepertinya baik, Tuan''
''baguslah, tapi apa kau juga berpikir kalau aku seorang pengecut?'' tanya nya dengan pelan seperti orang yg frustasi
''anda hanya berusaha agar hidupnya tetap aman, Tuan''
''bahkan biarpun aku menjaga nya dia juga tidak tahu siapa aku'' Setelah itu hanya terdengar nafas yg teratur menandakan jika pemilik badan mulai tertidur.
Gery melangkah pelan mendekati Darren menutupi nya dengan selimut perlahan agar tidak bangun.
''saya yakin Tuan, sesuatu yg memang milik anada akan tetap pulang kepada anda'' batinnya melihat ke arah wajah Darren yg terlihat murung.
Gery dan Leo sudah mengatakan kebenaran nya pada Darren tentang Vio termasuk keluarga yg menolong nya. Awalnya Darren tidak sabar ingin menemui Vio setelah tahu kalau Vio mengandung anak nya.
Tapi benar saja Chelsea dan orangtua langsung saja bertindak ketika tahu ada wanita lain yg Darren kejar. Dan benar saja pancingan Gery dan Leo saat mereka membayar seorang gadis untuk menemui Darren. Perth langsung tahu dan satu hari kemudian gadis itu ditemui sudah tewas disebuah hotel bahkan tidak ada yg berani mengangkat kasus nya.
Mungkin keluarga Andreason lebih tinggi derajatnya di banding keluarga Deralt, tapi untuk melenyapkan nyawa seseorang keluarga Deralt tidak bisa di anggap remeh itu juga yg di jelaskan kepada Darren oleh Gery dan Leo. Sejak itu Darren hanya menjadi penolong Vio dan keluarga Paolo ketika ada masalah memastikan bahwa mereka hidup dengan baik.
Termasuk kejadian seminggu yg lalu, ada yg menyabotase gudang kontruksi keluarga Paolo yg membuat mereka kehilangan banyak aset karena para pemegang saham banyak yg mencabut kerja sama tiba-tiba. Darren yg mengetahui nya langsung turun tangan dan memberikan jalan kerja sama agar keluarga Paolo terlepas dari kebangkrutan.
''Tuan??''
''Tuan, tempat sudah disiapkan sebaiknya anda istirahat disana saja'' tawar Gery yg membangunkan Darren pelan-pelan.
Tanpa supir Gery membawa Darren ke tempat yg sudah ada Leo yg menunggu nya.
''tunggu!!''
''ada apa Tuan?'' Gery yg bingung
''itu gadis itu kan?'' Gery mengikuti arah yg mata yg Darren tunjukan.
''sejak kapan dia tinggal disini??''
__ADS_1
''saya akan cari tahu Tuan''
''baiklah, aku mau hasilnya malam ini'' titah nya
''baik Tuan, kalau begitu saya akan menelepon sebentar ''
Gery meninggalkan Darren beberapa meter dengan mata yg terus mengarah ke Darren yg masih berdiri di samping mobil.
''aku masih harus menahan nya kan'' ucap nya pelan ketika melihat ke arah Vio yg kesusahan membawa anak dan juga barang bersamaan.
''Tuan?'' Gery menunduk
''bagaimana??'' tanya Darren penasaran
''mereka sedang bekerja, apa Tuan ingin naik sekarang?''
''ayo'' Darren sengaja memperlambat langkah nya agar menjaga jarak aman dengan Vio.
Terlintas wajah anak yg di gendongan Vio namun wajah itu sesekali harus tertutup dengan rambut panjang Vio karena anak itu memeluk leher ibunya.
Sampai tak sengaja ketika di depan pintu lift yg terbuka, tas anak itu terjatuh dengan berlari kecil Darren mengambil nya. Seperti mendapat anugerah dari rasa sabar nya Darren dapat melihat jelas wajah bocah laki-laki itu karena Vio berdiri menghadap nya.
''itu anak ku kan??'' batinnya yg masih tak percaya
''terima kasih Tuan'' ucapan lembut Vio langsung menyadarkannya
Gery dengan sigap menepuk pundak Darren agar menjaga jarak aman demi keselamatan ibu dan anak ini. Darren yg paham seketika membalikkan lagi wajah datar nya namun Darren tetap lah Darren yg bisa kejam dan juga dingin tapi jika itu tentang yg berhubungan dengan hatinya pancaran mata nya langsung berubah.
Darren dengan sekuat tenaga nya agar terlihat tenang tapi hanya karena Vio bertanya. Pandangan yg datar itu seketika berubah jadi sendu.
''Tuan, mereka sudah didepan '' ucap Leo melaporkan pada Darren yg terlihat diam dengan botol minuman di tangan nya.
Aura dingin begitu terasa di unit apartment lantai tiga puluh ini. Suasana yg seharusnya dibuat lebih nyaman oleh Leo langsung berubah dingin ketika Gery dan Darren masuk, Leo yg awalnya bingung langsung paham ketika Gery menjelaskan nya.
''Tuan, ini Nona Anita dan Barent mereka adalah penanggung jawab dan juga manager di apartment ini'' jelas Gery
''kalian kenal wanita ini?'' ucap datar Darren tanpa basa-basi dan mendorong sebuah foto.
Kedua nya yg melihat, tak lama saling lempar pandang
''saya mengenal nya, Tuan'' ucap Anita yg kini duduk berhadapan di sofa dengan Darren.
''jelaskan!!?''
''ini Nona Violine, dia bukan pemilik unit tapi dia baru tinggal disini dari lima bulan yang lalu Tuan''
''unit lengkap nya??''
''lantai dua puluh unit paling ujung sebelah kanan dengan atas nama Bible Paolo '' jelas Barent takut-takut
''Bible Paolo?'' Darren memastikan
''benar Tuan''
Setelah merasa puas Darren menyuruh mereka kembali.
''apa ada lagi yg ingin dicari tahu, Tuan?'' tanya Leo
''tidak ada, kalian boleh pulang aku ingin sendiri''
__ADS_1
Tanpa menjawab kedua nya langsung keluar dan meninggalkan Darren sendiri.
''aku benar-benar pengecut kan!!''
Umpat nya kasar dengan mengacak rambut nya
Vio setelah membersihkan diri merapikan sedikit kamar Zeffan
Banyak mainan yg terlihat mulai berdebu, sebenarnya Vio sering membeli kan mobil dan robot untuk Zeffan tapi ntahlah sejak kapan bocah itu lebih menyukai hal-hal yg berbau pesawat apa lagi dalam bentuk Lego.
Bocah kecil yg terbangun lebih dulu merosot dari tempat tidur ibunya, dengan perlahan agar tidak membangun kan wanita yg masih nyaman dengan dunia mimpinya.
Zeffan sudah bisa mandi dan berpakaian sendiri, seperti pagi ini Zeffan langsung mandi dan bersiap.
''Mama??'' panggilnya dengan menggoyang tangan Vio
'"emh, pagi Zee'' sambut Vio dengan suara seraknya
''ayo bangun Ma, atau kita akan telat''
Vio berusaha membuka mata dan menyatu kan nyawanya.
''telat??'' Vio yg mulai bingung
Zeffan kembali naik ke atas ranjang yg tidak terlalu tinggi itu
''Mama bilang Papa akan pulang '' kesal nya yg berdacak pinggang di atas ranjang.
''ohh,, Mama memang bilang Papa akan pulang tapi Mama juga belum tahu kapan Papa tiba'' rayu nya yg menarik Zeffan ke pangkuannya.
''apa Papa tidak jadi pulang'' kicau bocah itu dengan mimik sedihnya. Vio mengelus rambut yg masih sedikit basah itu
''Papa pasti pulang, tapi Zeffan harus menunggu Zee bisa kan?'' tanya Vio menenangkan
Zeffan mengangkat kepala nya melihat ke Vio
''iya, Zee bisa Ma''
''ini baru anak Mama'' balas Vio gemas dengan menarik kedua pipi anak nya.
Namun bukan mengeluh bocah emapt tahun itu justru berdiluk kegelian.
''yasudah, Mama mau menyiapkan sarapan lalu kita berangkat ke sekolah, oke'' ucap nya yg masih gemas
Zeffan langsung turun, dan ikut Vio melangkah ke dapur, dengan telaten Vio menyiapkan sarapan untuk Zeffan dan bekal yg akan di bawa nya dan juga Zeffan.
Beruntung Zeffan bukan anak yg pemilih, asal tidak terlalu pedas Zeffan bisa memakan semuanya.
''Ma? Kenapa kita tidak naik lift saja?''
Ucap Zee yg memegang satu jari ibunya
''karena nenek tadi lebih membutuhkan, anggap saja kita sedang olahraga'' Vio menggandeng tangan kecil Zeffan yg turun ke lobi melalui tangga darurat.
''Zee, tunggu sebentar ya Mama mau angkat telpon boleh?''
''boleh Ma, Zee tunggu disini oke'' balas nya dengan senyum
Tapi bukan menunggu Zeffan malah berjalan ke arah taman dan duduk santai di sebelah orang yg membelakangi nya.
__ADS_1