
Darren yg dibawa oleh Leo ke sebuyah gudang berjalan masuk dengan wajah garangnya. Melempar asal jas nya menggulung kedua lengan kemejanya Leo dan Gery paham jika ini hasil ya tidak akan baik.
Ada lebih dari sepuluh pengawal yg berjejer didalam menunggunya, begitu Tuan nya masuk mereka dengan kompak menunduk.
''Tuan''
''lepaskan rantai nya!!''
''cepat!!!???'' titah nya penuh amarah
''ba ba-ik Tuan''
Ha ha ha ha
''akhirnya sang pemimpin menunjukkan wajahnya'' ledek lelaki yg sudah babak belur itu setelah Leo menghajar nya.
''kau masih bisa tertawa, seperti nya mereka terlalu baik kan?'' balas Darren tak kalah sengit menatap tajam
''brengsek!!!'' Leo yg ingin maju tapi terhalang Gery
''biarkan menjadi urusan Tuan'' ucapnya pelan, Leo pun memundurkan langkah nya.
Bruuukkk,,,,
Belum apa-apa Darren sudah membanting tubuh itu dengan mudahnya, namun belum sempat pria itu bicara Darren sudah mencekik lehernya.
''katakan!! Siapa dalangnya?''
''katakan!!!'' suara amarah Darren menggema di dalam ruanganan tertutup itu.
''baik, kau memilih diam bukan'' Darren menyungging kan bibirnya. ''Leo!!'' panggilnya ''baik Tuan'' Leo pun berhjalan keluar pria yg sudah lepas dari cengkeraman Darren mulai curiga dengan suasana yg mulai tenang.
Aaaaaahhh,,,,,
Teriak dua gadis yg diseret paksa oleh Leo, dan tanpa ampun menarik rambut panjangnya.
''kau!!, Apa yg kau lakukan??''
''apa yg aku lakukan, ha ha ha ''
''bukankah terlihat lucu, tadi aku bertanya tanpa jawaban kini kau malah bertanya pada ku apa yg aku lakukan??''
Darren menarik rambut pria itu agar menatap nya.
''jangan libatkan anak-anak ku''
''oke, aku tidak akan melibatkan mereka'' ucap dingin Darren dengan membersihkan kedua tangan nya yg sedikit berabu.
''kalian jangan melibatkan anaknya, apa kalian mengert!'' Darren berbicara pada Leo dan Gery dengan wajah yg sulit dipahami.
''Tuan, jangan sakiti kami, kami tidak tahu apa pun'' pintah tmrintih gadis itu yg tersungkur di bawah kaki Darren
''jangan pasang wajah sedih kalian atau ayah kalian akan berpikir aku menyiksa kalian'' ucap pelan Darren tapi menakutkan bagi orang lain, Darren menepuk pelan pipi salh satu gadis itu.
Leo yg mendapat kode dari Darren, melangkah maju menjambak kedua nya menamparnya tanpa ampun, pria itu menangis sejadi nya melihat kedua putri nya dipukuli.
CK CK CK CK,,,,,,
''Leo, jangan terlalu kasar kibmta harus melakukan nya pelan-pelan jangn buru-buru '' timbal Darren yg memegang pundak Leo
Gery memberikan sebuah belati yg tajam, Darren dengan santai memainkan ujung belati dengan tatapan tajam nya.
''harus dari mana aku memulai nya?''
''Ger? Sepertinya ini kurang tajam kita harus membuat mereka jangan sampai kesakitan'' lagi-lagi ucapan Darren membuat dua wanita itu ketakutan.
''saya mohon Tuan, tolong lepaskan kami'' pinta mereka yg mengatup tangan dan memundurkan tubuhnya.
''lepaskan mereka, mereka tidak tahu apapun?''
Ha ha ha ha,,,
''kau benar'' Bruuuuuuk Darren menendang pria itu membuat anak nya menjerit.
''kau bilang mereka tidak tahu!!!'' aaaah uhhuuk uhhuuk
Pria itu merasa sesak akibat pijakan kaki Darren tepat di dada nya, Darren sengaja menekan kaki nya.
''kau bilang mereka tidak tahu, lalu bagaimana dengan anak empat tahun yg hampir mati kau tabrak, hah!!!'' Darren menendang keras perut nya.
''aa a aku tidak ingin menabrak nya a, a a aku hanya ditugaskan u un-untuk menakuti i-ibunya'' pria itu berbicara terbata-bata menahan sakit.
Ha ha ha ha,,,,, Darren tertawa perih
''kau berhasil membuat nya takut, bahkan anak ini kini terbaring lemah karena ketakutan nya!!'' Darren bertepuk tangan di depan wajah pria itu
''lepaskan mereka, kau boleh lakukan apa pun padaku''
''lepaskan, oke aku akan melepaskan mereka''
''benarkah?'' pria itu menarik senyum nya begitu dua gadis itu
''Leo, lepaskan mereka'' Darren bangkit ke arah Leo dengan memutar mutar belati di tangan nya
__ADS_1
''kemana Tuan?''
''emh??'' Darren tampak berpikir ''kirim mereka ke pelabuhan jual dengan harga paling rendah, hasilnya bisa kau belikan daging untuk Lea (Harimau benggala peliharaan Darren) karena kedepannya Lea harus bekerja ekstra untuk kita'' Darren menyasat wajah gadis itu dengan belati ditangan nya.
Hiks hiks hiks,,,,,
''ampuni kami'' ucap mereka menahan sakit, sedangkan pria itu menahan tangis nya manatap nanar kedua anaknya.
''kurung dia di kandang Lea, setelah empat belas hari jika masih hidup lepaskan, tapi kalau mati buang dia kelaut anggak saja kita bersedekah pada hiu disana'' Darren langsung melesat pergi
Pri situ terus berteriak memanggil anak nya yg kembali di tarik paksa oleh bawahan Darren.
****
Sudah hampir menjelang pagi, Vio terbangun ketika tangan Zeffan tidak sengaja menimpa wjah nya. Melihat sekeliling mencari Bible yg tadi malam menginap bersama nya
Ternyata yg dicari tengah tertidur dengan posisi duduk di sofa, Vio mendekat duduk disebelah nya namun Bible tidak sama sekali terbangun menandakan bahwa dia kecapean.
''Biben?'' panggilnya pelan
''emh??'' Bible menggeliat dan mengumpulkan nyawanya ntah pukul berapa dia tertidur tadi malam.
''apa terjadi sesuatu??'' dengan suara parau
''tidak, istirahat lah dirumah Zee sudah lebih baik''
''bagaimana bisa aku meninggalkan kalian disaat seperti ini?'' Bible mengusap puncak kepala Vio
''kalau begitu istirahat lah disana'' unjuk Vio di ranjang tempat Zee yg masih tertidur.
''baiklah, aku akan istirahat sebentar disana'' dengan langkah gontai Bible berjalan ke ranjang dan mulai memejam kan kembali matanya..
Hampir satu jam Vio keluar untuk mencari makanan untuknya dan Bible,
''Zee? Kamu sudah bangun?'' melihat bocah itu duduk dengan santai tanpa lagi selang infus yg terpasang dengan Bible yg menyuap kan bubur.
''Mama??'' Zee merentangkan tangan nya
''jangan sakit lagi, mengerti '' Vio terharu karena dapat mendengar kembali suara Zee.
''maaf kan Zee ya, Ma''
''bukan salah Zee, ini salah Mama yg tidak menjaga Zee dengan baik'' Vio menghujani ciuman ke wajah Putra nya
''Zee sudah boleh pulang, tapi kita harus menunggu surat Dokter lebih dulu'' ucap Bible
Mereka pun sarapan bersama, Vio menyiapkan makanan yg dibeli nya tadi Zee yg nafsu makan nya hari ini menaik pun ikut makan bersama dengan mereka.
''selamat pagi, Tuan'' sapa Gery
''Zeffan sudah lebih baik, Dokter Steve mengizinkan nya pulang siang ini'' ucap Gery yg meletakkan kopi di meja Darren
Sedangkan Darren yg merasa mood nya sedang tidak bagus dari semalam hanya berada di perusahaan nya, kini dengan duduk bersandar sambil memijit pelipisnya Darren melawan keinginan nya untuk menemui Zee.
Sedangkan di sisi lain, tepatnya di depan butik seorang lelaki yg memakai masker dan topi itu menunggu seseorang dengan bersandar di mobil berwarna merah itu.
''kenapa masih tutup? Apa mereka pemalas '' ejeknya sambil melihat jam di tangan nya yg menunjukkan seharusnya sudah masuk jam kerja, namun tempat itu masih tertutup seperti tidak ada kehidupan.
Bella yg sudah bangun dari pagi itu, kini kembali ke kamar nya setelah lari beberapa putaran di perkarangan rumah.
''pagi, Non?''
''pagi bik, sudah selesai bereskan kamar kan bik?''
''sudah Non, Non nya mau sarapan disini atau kebawah?''
''emh, disini aja deh bio tolong buatkan susu hangat aja ya bik'' pintanya dengan duduk di tepi ranjang
''iya Non, sebentar ya'' Bella yg hanya mengangguk, Bella yg sadar jika ponsel nya tidak ada memikirkan keadaan Zee sekarang.
Berberes mandi dan lalu pergi untuk membeli ponsel baru adalah rencana Bella saat ini.
''kenapa lama sekali hanya untuk membuat susu'' gerutunya
Setelah mandi Bella kembali duduk dengan laptop nya.
Tapi matanya teralih kan ke paper bag yg seingatnya itu pemberian Mina.
''aku malah melupakan nya'' Bella mengambilnya dan mengeluarkan jaket itu sempat tercium di hidung nya parfum yg masih melekat
''sepertinya ini ya wangi parfum laki-laki'' Bella cekikikan sendiri, namun baru akan meletakkan jaket itu jatuh sesuatu.
''eh?, Ada ponselnya'' Bella mengambil ponsel yg mati itu
Bella menghidupkan nya dengan mengisi daya nya.
''ternyata masih hidup'' Bella yg penasaran mengotak ngatik ponsel tersebut.
''astaga?? Bella kamu ini terlalu lancang membuka milik orang lain'' omelnya pada diri nya dengan menarik handuk yg menutupi rambut nya
''sebaiknya aku asing kan saja siapa tahu pemilik nya meminta nya kembali'' Bella meletakkan asal jaket itu, namun saat terjatuh jaket itu bersuara aneh membuat Bella berbalik dan memeriksa nya.
Aaaahhhhh,,,, teriak nya melempar sesuatu ke ranjang
__ADS_1
pelayan itu masuk ke kamar yg tidak tertutup itu dengan nampan membawa susu, sambil berlari kecil
''ada apa, Non??'' tanya nya panik
''ti-tikus ah ha ha iya tikus'' ucap Bella ngasal
''tikus, dimana tikus Non?'' bibik mencari sekeliling membenarkan jika memang ada tikus
''sepertinya sudah pergi bik!''
''Non ini buat bibik kaget saja'' bibik mengelus dada nya
''he he,,, maaf ya bik''
''yasudah bibik ke dapur dulu ya? Non butuh sesuatu lagi?''
''ah, enggak nanti kalau butuh aku panggil bibik lagi''
''kalu gitu bibi keluar ya''
''iya, bik tolong tutup pintunya ya'' bibi mengngguk dan keluar dari kamar dan sesuai perintah bibik langsung menutup pintu
Bella langsung mengunci nya, dengan nafas terengah seperti kehabisan oksigen meskipun kamar nya memiliki AC, Bella membuka pintu yg mengarah ke teras kamar nya dan berbalik ke ranjang mengambil benda yg sempat duduki nya itu.
''sebenarnya siapa dia? Kenapa dia punya senjata??''
Bella yg gemetaran memegang pistol yg dia dapat dari jaket Leo bergidik ngilu.
''ja-jadi??'' dengan menutup mulut nya, dia langsung ingat kejadian semalam ketika ada dua orang juga yg mengikuti mereka dengan senjata ditangan nya
Leo yg merasa frustasi, memilih pergi dari butik menelpon bawahan nya meminta kirimkan alamat seseorang. Inilah keahlian para bawahan Leo belum sampai lima menit pesan masuk menunjukkan alamat seseorang.
''kau pikir kau bisa lari dari ku!!'' Leo memutar ponselnya sebelum memasukkan nya ke dalam kantong jaketnya
Darren melihat sekeliling hanya ada Gery dan beberapa pengawal yg biasa menjaga nya, tapi dia merasa seperti ada yg kurang dan Gery tahu dari wajah Darren yg terlihat berpikir.
''ada yg salah Tuan?" tanya Gery memastikan
''aku merasa ada yg kurang, menurut mu siapa?''
Gery tersenyum jenaka
''maksud anda Leo, Tuan?''
''ahh, kau benar kemana dia bukannya seharusnya ada laporan nya pagi ini'' Darren berjalan duduk di sofa tempat Gery bekerja dengan laptopnya.
''yg saya tahu Leo memiliki urusan pribadi Tuan'' ucap santai Gery
''urusan pribadi?? Sejak kapan apa dia menargetkan orang lain?''
''saya akan cari tahu Tuan'' Darren mengangguk duduk di sofa, dengan kaki naik satu wajah nya seperti merasa sesuatu.
Gery melempar pandang pada bawahan nya, mereka yg mengerti langsung pergi setelah menunduk minta izin.
''Tuan, anda tidak ingin mengunjungi Zee?'' Gery mengalihkan pikiran Darren yg terlihat diam
''aku hanya akan membuat mereka curiga'' mata Darren terlihat kosong
''lalu? Anda ingin sesuatu untuk saya lakukan?''
''apa tidak ada pertemuan kita dengan pihak Force.co??''
''seharusnya ada Tuan, seperti yg anda tahu mitra saham Tuan Paolo yg sempat melepaskan kerja sama mereka kini mau melakukan kontrak iklan kembali untuk projects kontruksi yg kita lakukan sekarang, dan seperti yg anda minta kita akan memberikan Tuan Bible untuk memutuskan semuanya'' jelas Gery memberikan tablet nya pada Darren.
''apa dia curiga??''
''sepertinya iya Tuan, Wisnu assisten Tuan Bible mengirim kan lampiran kontrak yg sama agar anda lihat juga'' map yg diberikan oleh Gery disambut oleh Darren.
''Tuan Bible sepertinya akan tambah curiga jika anda tidak mengambil keputusan Tuan, karena seperti yg kita tahu nilai saham yg anda miliki sama besar nya dengan Tuan Bible''
''aku hanya memberikan dia kebebasan untuk menjatuhkan orang yg meninggalkan nya, terlebih lagi yg kau tahu aku hanya ingin menolong perusahaan nya bukan mencari keuntungan''
Darren memijit pelipisnya, Gery yg khawatir menyodorkan botol air ke arah Darren.
''tapi anda juga harus ambil keputusan Tuan, jika Tuan Bible makin curiga sudah dipastikan apa yg anda lakukan selama ini dia pasti akan menyadari nya. Dan ada berita kalau Tuan Bible meminta orang nya untuk mengumpulkan data tentang anda''
Darren memasang wajah bimbang nya. Dengan bangun dari duduk nya Darren berjalan ke arah kaca besar yg ada di sudut ruangan nya. Pikirannya terlihat melayang ntah kemana pandangan mata nya tak pernah fokus
''kalau gitu buat pekerjaan mereka lebih mudah''
''maksud anda Tuan??''
''biarkan orang Bible mencari dataku, mungkin ini sudah saatnya ''
''Tuan?'' Gery terlihat bingung
''Ger, sudah saat nya mungkin aku mengakui dosa ku'' Darren berbalik menatap ke Gery dengan wajah datarnya
''apa anda tahu akibat nya jika mereka tahu siapa anda??''
''aku sudah memikirkan nya, dan aku tidak mau jadi pengecut lagi Ger'' Gery tampak frustasi dengan jawaban Darren
''saya tahu Tuan, tapi untuk sekarang kita tidak bisa membuka semua nya apa lagi masih ada keluarga Deralt disekitar anda, bukankah keselamatan Zeffan adalah yg penting sekarang''
__ADS_1
Darren pun kembali berdiam,,,,,,,,, mengacak rambutnya