Pesawat Kertas Zeffan Al'Bareck

Pesawat Kertas Zeffan Al'Bareck
berhati malaikat


__ADS_3

***


Violine masih bergetar dengan tangisnya, Darren membiarkan Vio bersandar di dada nya untuk menenangkan Vio.


Sampai nafa terdengar teratur dan tubuh Vio tak mampu menahan perasaan nya.


''Gery!!!'' teriak Darren


Tanpa butuh waktu lama Gery langsung menerobos masuk ke ruangan Darren.


''Tuan?'' panik Gery


''panggil ambulance, cepat!!'' Darren yg khawatir karena Vio pingsan.


''angkat dulu Tuan, anda harus tenang Nona Vio mungkin hanya shock'' Gery membantu Darren menaikkan Vio ke sofa


Wajah Darren terlihat gusar, di usap lembut pipi Vio yg sudah merah karena tangisnya, lalu menyatukan kening nya ke kening milik Vio.


''kalian tolong bawakan panggil Dokter kesini secepatnya '' titah Gery pada pengawal


Darren menutupi setengah tubuh Vio dengan selimut yg memang ada di sudut sofa.


''apa yg terjadi, Tuan?''


''dia sudah tahu siapa aku Ger''


''bagaimana mungkin?'' Darren bangkit dan berdiri tepat di depan Gery.


''sesuai prediksi Leo dia akhirnya mengetahui semuanya, dan lebih parah nya dia berpikir aku akan mengambil Zeffan dari dia!!'' Darren merasa sangat frustasi


''kita harus tenang dulu, coba kita lihat dari sudut pandang Nona Violine jika dia ingin mengetahui ini langsung dari anda seharusnya Nona Violine tidak takut dengan anda''


Darren berpikir dengan yg Gery katakan


''bukankah ini seperti jalan agar anda bisa lebih dekat dengan mereka, saat ini mungkin kondisi Nona Violine hanya salah paham ''


Darren kembali menatap ke arah Vio yg masih tak sadarkan diri,


''tapi sekarang kita sedang di kondisi yg kurang menguntungkan'' kata Darren dengan sendu


''kali ini anda tidak bisa lagi menunggu Tuan, jika Nona Violine sudah tahu siapa anda bukan tidak mungkin Chelsea akan tahu juga''


''kamu benar, bahkan Mama sudah mengabari ku kalau tadi pagi dia sudah ke rumah utama''


''maksud anda Nona Chelsea?''


''benar, dia datang bersama Tessa''


''Tuan, Dokter Steve sudah ada disini'' pengawal membawa Dokter Steve masuk.


''ada apa Tuan muda? Apa kesehatan anda menurun?''


''bukan aku,''


''lalu?''


''tolong periksa dia'' Darren mengarah ke Vio


''Gadis ini? Bukankah gadis muda yg memiliki anak lucu itu?'' batin Dokter Steve


Setelah memastikan kalau Vio baik-baik saja, Dokter Steve undur diri Dokter Steve hanya menyarankan agar tidak membuat Vio kembali histeris atau nanti akan berakhir menjadi trauma.


Darren pun mengiyakan semua masukan dari Dokter, dan baginya tidak perlu menjelaskan siapa Vio karena sudah tugas Steve sebagai Dokter untuk memeriksa nya.


Dengan wajah lelahnya Darren duduk di kursi dengan mata yg masih mengarah ke sofa.


Seperti apa yg Steve bilang saat ini Darren akan membiarkan Vio istirahat dulu dan menunggu nya hingga sadar walaupun di hatinya berharap agar Vio cepat bangun.


''apa anda butuh kopi, Tuan?'' tawar Gery


''tidak perlu, Bawa saja berkas yg ingin ku periksa dan ingat malam ini minta mereka siapkan penerbangan aku ingin menemui Leo perasaan ku mengatakan ada yg tak beres dengan nya.''


''baik Tuan'' Gery pun berjalan keluar memanggil beberapa staf yg sempat diminta nya untuk kembali lagi nanti.


***


Bella terlihat murung duduk sendirian di butik, setelah mendapatkan kabar kalau Vio meminta izin hari ini dengan alasan pribadi.


Diruangan nya entah ke berapa kali nya Bella membuang nafas kasar nya ke udara.


''tidak ada yg bisa ku ajak cerita'' gerutunya


''si Titan ini juga sama sekali tidak ada kabar, ya ampun apa yg sedang aku pikirkan saat ini'' Bella mengacak-ngacak rambutnya.


Tok tok tok,,,


''buk? Nyonya Silvia ada di depan?''


''oh? Tolong aja masuk'' Bella dengan cepat merapikan rambutnya.


''selamat siang, Nyonya silahkan'' Bella mengajaknya duduk


Silvia tersenyum ke arah Bella


''kamu sendirian hari ini?'' tanya Silvia


''benar Nyonya, Vio sedang ada urusan pribadi''


''emh, sayang sekali padahal aku kemari ingin sekali berkenalan dengan Putra nya'' Silvia menunjukkan wajah sedihnya.


''sayang sekali, nanti kalau Vio ada waktu kami akan berkunjung jika anda mengizinkan'' sahut manis Bella


''tentu saja, kalian bisa datang ke gubuk ku suamiku juga pasti akan menyukainya'' balas riang Silvia


''baiklah Nyonya'' Bella memegang tangan wanita itu


''oh iya, saya sudah selesai dengan Desain yg anda mau untuk dasarnya, anda bisa mencoba dulu sebelum semua mutiara yg anda mau terpasang'' jelas Bella ke arah sebuah etalase.


''kalian cukup cekatan'' puji Silvia mendekat


''anda terlalu memuji Nyonya''


''lagian waktu kita tidak banyak lagi, terlebih lagi kami belum mendapatkan ukuran untuk Putra anda''


''mereka belum ada yg melakukan nya?''


Bella hanya menggeleng pelan


''dasar!! Aku akan menarik telinga ketiga nya hingga kemari kamu tunggu saja'' omel Silvia menunjuk ke udara seolah ada seseorang disana.


Bella tertawa gemas ke arah Silvia, entahlah selama ini kabar burung mengatakan jika keluarga Andreason adalah orang yg tak boleh tersentuh banyak juga yg mengatakan jika keluarga itu adalah keluarga yg kaku. Namun siapa sangka jika Nyonya Andreason sendiri adalah wanita yg sangat bersahabat.


Bella membantu Silvia dengan gaun berwarna Cream itu, sangat cocok dengan tone kulitnya, setelah mencatat semua yg ingin ditambahkan oleh Silvia Bella mengajak nya kembali duduk dengan memberikan teh kepada Silvia obrolan kecil pun terjadi di keduanya.


***


Setelah selesai dengan acara sekolah nya, Zee mengajak Bible ke Mall namun yg Bible pikirkan adalah jika Zee hanya ingin bermain.


Namun kebingungan Bible makin terasa ketika Zee mengajaknya ke sebuah toko kue kesukaan Vio..

__ADS_1


''Zee?'' mereka masih berdiri di depan toko


''mau apa kita kemari, sayang?''


''apa Papa melupakan sesuatu?''


''lupa?'' Bible tampak berpikir ''Astaga!!'' Bible memukul dahinya ''ini ulang tahun Vio kan?''


''Papa sangat payah sebagai pria'' sungut bocah itu yg melangkah masuk lebih dulu


''kenapa aku bisa lupa?'' Bible masih merutuk


Bible yg ingin minta maaf pada Zee tidak mendapat kesempatan karena anak itu sengaja terus berputar putar di toko tersebut.


''Zee?'' panggilan yg tak terjawab


''baiklah, Zee Papa minta maaf oke'' Bible memegang kedua telinga nya.


Zeffan yg berbalik berdacak pinggang ke arah Bible


''kenapa?? Papa bisa melupakan nya?''


''maaf ya? Papa terlalu sibuk dengan pekerjaan '' Bible memohon dengan wajah melas.


''baiklah, kali ini aku maaf kan Papa karena aku sayang Papa '' Bible tertawa penuh kemenangan


''uh, anak siapa sih'' Bible menggendong tubuh mungil itu


''Pah, turunkan orang lain sedang melihat kita'' kesal Zee


''biarkan saja, orang lain akan iri padaku karena aku punya makhluk kecil yg lucu'' hujan ciuman Bible berikan pada wajah Zeffan.


***


Di Global World.co ,,,


''pastikan semua sesuai rencana, dan aku ingin kedepannya semua keuangan yg keluar atas nama perusahaan melalui tanda tanganku''


''tapi Tuan selama ini semua sesuai dengan perintah Tuan Balgas '' sahut salah satu staf di ruangan Darren


Beberapa diantara mereka yg sudah selesai langsung disuruh pergi oleh Gery, agar tak membuat kebisingan karena Vio yg masih belum sadar.


''aku akan mengambil alih, minta Paman Joke untuk mengirimkan lampirannya padaku'' titah tegas Darren


(Joke: Assistant Balgas)


''baik Tuan, oh dan ingat beritahu semuanya jika mulai sekarang jika ada tamu yg beratas nama kan keluarga Deralt, tanpa seizin ku jangan izinkan masuk hingga lantai ini.


''tapi Tuan, terakhir kali Nona Chelsea Deralt membuat keributan di bawah hanya karena tidak diizinkan masuk''


''jika dia datang lagi, minta penjaga untuk menendang nya dan jika dia masih berani bertanya atau memaki kalian katakan jika itu adalah perintah ku!!''


''baik, Tuan''


''kalau begitu kamu boleh kembali'' staf langsung keluar dari ruangan Darren walaupun sempat melihat selintas tubuh wanita yg masih pulas di sofa.


Telpon milik Gery berdering hingga membuat yg berpunya berjalan keluar.


Darren kembali mendekat ke arah Vio, sudah lebih dari dua jam tapi Vio belum juga sadar membuat Darren daritadi tak enak hati melihat nya.


Berjongkok di depan Vio agar melihat jelas wajah cantik yg masih dengan mata tertutup itu.


''kamu boleh marah, kamu juga boleh memukul atau apapun tapi untuk itu bisakah kamu bangun terlebih dahulu'' ucapnya sayu dengan membenar kan rambut kecil di wajah Vio.


''Tuan!!'' sentak Gery yg tiba-tiba


Wajah Darren yg tak suka langsung bangun dari posisi nya, Gery yg lupa kalau masih ada Vio menunduk takut.


Gery mengambil sudut sedikit jauh dari tempat Vio berbaring


''Tuan? Gawat!!''


''ada apa?'''


''sesuai yg anda perintahkan untuk melacak apa saja yg Perth lakukan selama ini di belakang Tuan besar, Leo sudah menemukan nya'' wajah Darren terlihat suram


''lalu, masalah nya?''


''sekarang Perth meminta anak buah nya menyerang gudang kita yg ada di Washington untuk mengalihkan pikiran anda, seperti kecurigaan kita selama ini Perth sudah tahu jika anda melindungi seseorang untuk itu mereka menghancurkan gudang amunisi milik anda dan berpikir jika anda yg pergi kesana dan membiarkan Tessa dan Chelsea yg menyelesaikan disini'' jelas Gery dengan serius


''jadi menurutmu kabar burung yg bisa langsung masuk di rumah pribadi ku adalah panggilan dari mereka agar aku langsung yg pergi ke Washington?''


''itu bisa jadi Tuan, penyamaran Leo terungkap Leo dan anak buah nya di serang habis-habisan sekarang anak buah kita yg di California sudah diturunkan disana untuk membantu Leo dan yg lain. ''


''jadi seperti ini aslinya mereka!!'' aura dingin Darren terlihat


''ini yg saya takut kan dari dulu jika data tentang Violine dan Zeffan terungkap saya takut nyawa mereka yg akan menjadi incaran dari keturunan Deralt''


''kita harus bicarakan ini dengan Bible, sekarang bagaimana keadaan Leo?''


''sampai saat ini kami kehilangan jejak Leo, tapi saya yakin Leo hanya bersembunyi untuk berlindung hingga kita datang''


''tunda semua rapat dewan, sore ini pastikan kita akan berangkat kesana. Jika dia meminta perang maka akan aku tunjukan cara perang yg benar kepada orang tua itu!!''


''baik, Tuan'' Gery langsung melesat keluar ruangan


Darren melangkah ke arah nakas kecil disudut ruangan nya.


''Kakek? Mungkin ini terakhir kali nya aku akan menggunakan nya untuk melindungi orang yg kucintai'' ucap lirih Darren pada G'shock peninggalan dari kakeknya.


Menyelipkan nya di punggung nya dan memakai kembali jas nya, namun mata nya kembali berputar mengingat masih ada Vio disana.


''Vio? Kamu sudah bangun?'' tanya Darren pelan melihat Vio mulai membuka perlahan matanya.


''dimana aku?'' Vio berusaha duduk di bantu oleh Darren


''kamu masih ada diruangan ku''


''kamu??'' Vio mengingat ingat kejadian sebelum dia jatuh tak sadarkan diri


''kamu harus tenang, tidak ada yg akan melakukan apapun padamu termasuk aku atau siapapun, oke?'' Darren memberikan nya air yg langsung diminum oleh Vio setengah


''sudah lebih tenang?'' tanya Darren memastikan


Vio hanya mengangguk perlahan, dengan menurunkan kaki nya Darren memasang kan kembali sepatu milik Vio yg sempat dilepas nya tadi.


''Vii? Aku minta maaf jika aku membuat mu takut dan shock tapi yg perlu kamu ingat aku atau siapapun tidak ada yg berniat memisahkan kamu dan Zeffan'' Darren mengatakan dengan menatap nanar wajah Vio


''aku hanya ingin menebus kesalahanku''


''tapi kenapa baru menunjukkan wajahmu sekarang?''


''awalnya aku tidak berniat, tapi setelah Bible menaruh curiga padaku aku terpaksa mengakui ya'' Vio menatapnya tajam


''aku hanya tidak ingin kamu kembali depresi, hingga menghantui keseharian kamu aku sudah melakukan hal yg paling buruk untuk hidupmu jadi aku hanya tidak ingin kehidupan yg sudah kamu bangun susah payah sekarang akan kembali suram dengan kedatangan ku''


''tapi datang atau tidak nya, itu tidak akan merubah apapun'' Darren memegang kedua tangan Vio


''itu merubah'' ucapnya serius ke Vio ''awalnya aku hanya akan memastikan kalian hidup dengan baik dan mendapatkan lingkungan yg baik, sampai akhirnya aku sadar ada sesuatu yg merubahku''

__ADS_1


''apa itu?'' Vio yg penasaran


''aku tahu jika aku katakan kamu tidaka akan mempercayai ku, tapi sikap mu cara mu tersenyum dan cara mu memperlakukan orang lain itu justru merubahku ada rasa egois yg membuat aku ingin memiliki ini sendiri''


''aku tidak akan mengatakan nya sekarang, saat ini belum tepat aku ingin memastikan kalian akan aman dulu baru aku janji akan mengatakan semuanya'' Darren menjelaskan karena tahu Vio bingung dengan kata-kata nya


''Vii?''


''ya?'' Vio masih bersikap baik tanpa perlawanan


''tidakkah menurut mu kamu harus menghukum kesalahan ku?''


''apa yg harus kulakukan, tak perlu aku jelaskan aku yakin pasti kamu sudah tahu tentang semua kehidupan ku'' Vio tersenyum getir


''aku anak yatim piatu, dan juga tidak memiliki latar belakang apa hak ku untuk menghukum mu, tapi aku ingin mengatakan sesuatu '' wajah Darren terlihat gusar


''terimakasih'' ucapnya lirih


''ada apa denganmu?'' sahut Darren bingung


''terimakasih, karena tidak datang hari itu hari dimana aku tahu ada kehidupan di tubuh ku, hari dimana aku mengantarkan Zeffan untuk pertama kalinya melihat dunia''


''jika kamu datang hari itu, mungkin aku tidak akan bisa bangun dari rasa terpuruk ku, mungkin juga aku akan membenci kehadiran Zeffan awalnya aku selalu berpikir apa yg akan aku lakukan jika aku bertemu pria yg menghancurkan hidupku. Ada yg terlintas mungkin aku akan membunuh nya''


Mata Darren masih terpaku pada wajah gadis yg terlihat rapuh ini.


''tapi setelah aku tahu jika dia yg membantuku dengan semua pendidikan ku, dia juga yg menyelamatkan anakku akhirnya aku sadar menyalahkan bukanlah akhir dari masalah tapi mencoba berdamai dengan diri sendiri dan memaafkan akan membuat masalah terlihat seperti bukan masalah''


''jadi kamu tahu semuanya?''


''emh, saat Bible mulai menyelidiki tentang malam itu aku selalu menemukan jika semuanya mengarah pada satu orang sampai akhirnya kita bertemu langsung dan menyadari kalian terlihat mirip aku tidak bisa membantah lagi jika kamu orang nya''


''tidakkah kamu membenciku Vii?''


Vio mengangguk ''awalnya, tapi sekarang selama kamu tidak akan mengambil Zeffan, aku akan belajar menerima mu?''


Darren terharu dengan apa yg di dengarnya, mata nya berkaca-kaca, tak tahu lagi apa yg harus dikatakan nya pada wanita yg berhati malaikat bahkan tidak melakukan apapun meskipun Darren sudah menghancurkan hidupnya.


''boleh aku meminta sesuatu?'' ucap Vio ke Darren


''tentu, apapun itu'' balas Darren


''aku ingin lihat phoenix itu, setidaknya sejak malam itu yg ku ingat hanya gambar itu''


''kamu tidak melihat wajahku?'' Vio menggelengkan kepala


''baiklah, akan aku perlihatkan pada mu''


Darren berdiri melepaskan satu persatu pakaian atasan nya, dan memperlihatkan tato punggung yg di dapatkan nya sejah usia depan belas tahun.


Vio melangkah mendekati tubuh Darren yg membelakangi nya, tangan Vio dengan sendirinya menyentuh punggung itu tentu saja ada reaksi yg di rasakan Darren dengan tang lembut itu menyentuhnya.


Pikiran kotor tentang malam itu langsung bersarang di benak Darren, namun segera ditepis kan nya.


''baiklah, terima kasih '' ucap Vio membantu Darren menaikan atasan nya.


''apa kamu menyukainya?'' tanya Darren dengan memasang kancing kemejanya


''tidak tahu, tapi hanya itu yg aku ingat sejak malam itu''


Darren kembali menunduk pasrah tak tahu lagi apa yg ingin dikatakan nya.


''Zeffan sudah biasa dengan Bible, kamu harus bekerja keras untuk dekat dengan nya'' Vio tahu jika Darren masih dihantui rasa bersalah


''bisakah aku meminta izin mu untuk dekat dengannya?''


''selama kamu tidak membawa nya pergi''


''aku janji, bahkan orangtua ku juga sudah tahu tentang kesalahanku''


''Nyonya Silvia tahu?''


''dia hanya tahu kesalahan ku, tapi aku belum memberi tahu tentang kalian aku ingin lebih dulu meminta maaf padamu''


''bisakah untuk sekarang biarkan dulu seperti ini, aku ingin menjelaskan ini pelan-pelan kepada Zee lebih dulu agar dia tidak bingung''


''Vii? Aku bukan sedang memaksa mu, sekali lagi aku hanya ingin kamu hidup nyaman apapun pilihan mu aku akan menerima nya''


''terimakasih''


''jangan berterima kasih padaku, kesalahan ku tidak berhak menerima terimakasih darimu''


''anggap saja karma mu ada pada Zeffan, selama ini Zee selalu menganggap Bible adalah Papa nya dan sikapnya jauh lebih patuh ketika dengan Bible kamu harus bersabar untuk itu''


''sejak aku bertemu tidak sengaja dengan Zee, aku juga menyadari biarpun kelak aku bisa dekat dengannya untuk Zee Bible akan tetap nomor satu''


''lalu? Apa kamu baik-baik saja??''


''tentu saja, jika hari ini Tuhan bertanya padaku siapa yg lebih pantas menjaga Zeffan aku akan tegas mengatakan itu Bible''


Vio terharu karena Darren juga berpikir sama dengannya tentang Bible, bukan hanya Zee, Vio juga mengakui kehadiran Bible di hidup mereka adalah bagaikan anugerah terbaik dari tuhan.


Vio tersenyum ke arah Darren, tak lama Gery masuk kembali


''Tuan?'' namun matanya menangkap sosok Vio


''anda sudah sadar Nona?''


''iya'' sahut Vio ramah


''bagaimana??'' potong Darren


''sudah selesai, mereka juga sudah menunggu anda di sana


''baiklah, apa ada hal yg lain?'' Darren tahu jika Gery ingin mengatakan sesuatu


Vio juga paham tentang posisi nya yg mulai canggung


''aku ingin pulang?'' pintanya pada Darren


''aku akan mengantarkan mu. Gery siapkan mobil''


''baik, Tuan''


''ayo Vii''


Namun baru sampai di parkiran, Darren merasa ada yg tidak beres disekitar nya.


''Vii?''


''ya?'' Vio yg bingung melihat wajah Darren yg aneh


''aku tidak bisa jelaskan secara rinci, tapi bolehkan jangan biak matamu sampai aku menyuruh nya'' pinta Darren lembut dengan memegang kedua pundak Vio


Vio yg merasa tak ada pilihan hanya bisa mengangguk pasrah, Darren menutupi kepala Vio dengan jas nya dan mendekapnya.


''aku mohon kali ini percaya padaku'' Darren menuntun Vio agar menutup kedua telinga nya dengan tangan nya di balik jas.


Dan benar saja tak lama saling serang terjadi di antara dua kubu, Gery yg tahu ada Vio bersama Darren berusaha menutupi nya agar tidak ada yg melihat wajah nya..

__ADS_1


Dor,, dor dor..


Suara tembakan menggema di sebuah parkiran, tubuh Vio berasa menegang dengan kondisi nya saat ini, namun mengeluh adalah bukan hal yg tepat sekarang selain berlindung dan percaya pada Darren.


__ADS_2