Pesawat Kertas Zeffan Al'Bareck

Pesawat Kertas Zeffan Al'Bareck
Luka Bella


__ADS_3

Malam sudah semakin larut, Leo dan Bella sekarang berada dijalan untuk mengantarkan Bella pulang. Sedangkan gadis kecil itu sudah tertidur nyaman di sebelah Leo.


''sepertinya kau benar-benar sudah tidak takut padaku'' Leo tertawa kecil melihat Bella yg nyaman tertidur dengan memeluk boneka hadiah undian itu.


Sedangkan Darren yg masih betah duduk di salah satu bar milik teman nya duduk diam dari beberapa jam yg lalu dengan menyesap minuman alkohol yg Gery sediakan sesuai kemauan nya.


''apa kita akan pulang sekarang, Tuan?'' Gery melihat Darren yg sudah cukup mabuk


''menurutmu apa dia akan memaafkan ku Ger??''


''siapa maksud anda?''


''Violine''


''Tuan, saat ini Tuan Bible meminta waktu agar mengatakan pad Nona Violine, jika ini aman selanjutnya anda hanya perlu menunjukkan ketulusan saya yakin Nona Violine akan memaafkan anda'' ucap Gery berusaha menghibur Darren


''bagaimana jika, keadaan nya semakin buruk'' Darren mengusap kasar wajah nya


''untuk saat ini kita harus tenang dulu Tuan, Nona Violine adalah gadis yg lembut dan juga sangat penyayang saya yakin hasilnya akan baik jika anda tidak terlalu gegabah ''


Darren menenggak habis minuman nya yg tersisa di botol


''Tuan!!'' Gery merampas Paksa botol itu dari tangan Darren


Dengan memberikan aba-aba pada bawahan nya Gery meminta bantuan agar membawa Darren kembali.


Kini tujuan Gery adalah rumah utama, karena jika membawa nya ke apartemen milik Leo itu hanya akan membuat Darren nekad menemui Vio dalam keadaan mabuk.


''hey?'' panggil Leo pelan pada gadis yg masih tertidur itu, tangan jahilnya menusuk-nusuk pipi Bella.


Karena merasa terganggu Bella menggercapkan mata nya agar terbuka.


''ayo bangun, kita sudah sampai'' ucap lembut Leo pada Bella yg sudah membuka kan kedua matanya


Bella melihat ini sekitaran rumah nya namun bukan didepan pagar nya.


''kenapa berhenti disini?'' tanya Bella bingung


''aku tidak ingin menarik penjaga mu jika berhenti di depan pagar'' balas Leo


Leo keluar dari mobil, dan menuntun Bella keluar dari mobil juga membantu Bella memasang kembali high heels nya


''biar aku saja'' tolak Bella pada Leo yg berjongkok didepan nya


''diamlah !'' Leo kembali bangkit setelah selesai dan memberikan tangan nya agar Bella memegang nya


''masuklah'' ucap Leo melepaskan tangannya ketika mereka tepat di depan pagar.


Namun Bella terlihat melamun ke arah salah satu mobil yg terparkir di halaman rumah nya.


''ada apa??'' Leo yg mengikuti pandangan Bella


''bawa aku pergi ya'' Bella kembali menarik tangan Leo


''ada apa??'' Leo yg masih terlihat bingung


''itu mobil Papa, Mama ku dan aku tidak ingin kembali'' Bella berlari kecil ke arah mobil Leo dan langsung masuk begitu saja


Leo yg masih belum mengerti memandang ke arah rumah dan mobilnya secara bergantian, sebelum mengejar Bella yg masuk kembali ke mobil nya.


Hiks hiks hiks,,


Terdengar suara tangisan sebelum Leo benar-benar membuka pintu mobil nya.


Tadi nya Leo ingin kembali ke kursi nya, kini berubah Leo membuka pintu tempat Bella duduk Leo berjongkok disana dengan mata melihat ke Bella yg menyembunyikan wajah nya di boneka yg masih di peluknya erat..


''ada apa sebenarnya?'' Leo bertanya lembut


''ayo pergi, aku tidak ingin pulang sekarang '' suara Bella samar-samar karena tertutup boneka


Leo menarik boneka itu tapi tanpa tenaga agar Bella tidak akan takut lagi pada nya.


''boleh katakan padaku, alasannya?''


Terlihat wajah Bella yg sudah basah oleh air mata nya


''Mama dan Papa pasti membawa laki-laki lagi, dan aku tidak mau'' ucap Bella dengan tangis


''Bella'' panggilnya lembut ''bisa jelaskan pelan-pelan padaku? karena jujur aku tidak tahu cara menghibur orang lain''


''Mama dan Papa ku tidak tinggal disini, mereka tinggal di luar negeri tapi mereka akan pulang kesini jika membawa calon suami untukku'' jelas Bella menatap Leo


''apa ini sering terjadi?'' Bella mengangguk


Leo menarik nya ke pelukan nya, gadis itu masih menangis kini bersandar di pundak Leo


''tapi kamu juga harus kembali, orangtuamu akan curiga jika kamu tidak pulang sekarang'' Leo memberikan saran


''lalu, aku harus menerima calon lagi dari mereka aku tidak mau'' Bella semakin mengeratkan pelukannya


''aku akan membantu mu, jika laki-laki itu tertarik padamu aku akan turun tangan untuk membuat nya mundur'' ucap Leo


''Leo? Apa yg kau pikirkan!!'' batin Leo yg bertabrakan dengan hatinya

__ADS_1


''benarkah?'' Bella membenarkan duduknya


''iya'' Leo menghapus sisa air mata Bella dan berusaha tersenyum walaupun Leo sendiri tidak tahu caranya selama ini dia hanya bersikap senatural mungkin jika bertemu Bella


''sudah tenang?'' Bella mengangguk kembali


''ayo, '' Leo menariknya agar keluar mobil


Leo kembali mengantar nya hingga di depan gerbang


''masuklah'' Leo membenarkan rambut Bella


''kau harus berjanji ''


''iya, aku berjanji '' Bella melepaskan tangan nya dari Leo


''Leo?''


Leo yg masih berdiri menunggu nya itu menatapnya heran


''jika kamu bukan manusia, bisakah malam ini kamu tiba-tiba datang ke kamar ku?'' Leo memicingkan matanya menyerap pasti apa yg Bella katakan


''sepertinya mulai sekarang aku tidak takut lagi denganmu'' setelah itu Bella berlari masuk meninggalkan Leo yg masih menunggu nya


''heh?, Dasar gadis nakal'' Leo dengan senyum tipis nya menggeleng kan kepala nya.


***


''Gery?'' Balgas yg baru keluar dari ruang baca nya melihat Gery yg memapah Darren menaiki tangga menuju kamar Darren


''Selamat malam, Tuan'' sapa sopan Gery


''ada apa dengannya?'' tanya Balgas penasaran


''Tuan hanya menghadiri acara kolega nya, tapi sepertinya Tuan Darren terlalu banyak minum hingga mabuk Tuan'' Gary yg terpaksa berbohong


''ohh, baiklah bawa dia naik''


''baik Tuan''


''oh, Gery karena sudah malam menginap lah disini dan jangan pulang aku akan minta istriku membuat makanan untuk mu'' Balgas yg memang selalu perhatian pada Gery dan Leo itu memberikan senyumannya


Gery membaringkan Darren di ranjang nya, membantu membuka sepatu dan jas nya.


''Gery?'' suara lembut wanita yg masuk


''Nyonya'' Gery menunduk


''kenapa dengan Darren?'' kini wanita itu duduk di tepi ranjang


''dasar anak nakal'' Silvia memukul lengan Darren yg tak sadar diri itu


''kamu boleh turun, biar aku yg merawatnya''


''ta-tapi Nyonya?'' Gery merasa tak enak


''ada apa? Pergilah turun bersih-bersih lalu makan aku sudah meminta pelayan membuat makanan untuk mu di bawah'' Silvia berdacak pinggang ke arah Gery


''baiklah Nyonya'' Gery terpaksa mengiyakan


''Ger?''


''iya Nyonya?''


''aku tidak melihat Leo? Kalian tidak pulang bersama??''


''Leo sejak dari butik tadi tidak terlihat lagi Nyonya''


''benarkah, apa sakit perut ny parah?''


''saya akan cari tahu''


'' baiklah beri tahu aku jika tidak baik, aku akan merawatnya''


''baik Nyonya''


Gery pun keluar dari kamar Darren menutup pintunya


''Darren, Darren kenapa kamu tidak bisa mengurus dirimu sendiri, hah?'' Silvia mengusap lembut tubuh anaknya dengan handuk basah yg sudah disediakan oleh Gery


''Ma?'' Darren menangkap tangan Silvia


''Ren, kamu sudah bangun''


''sudah berapa kali Mama katakan jika kamu tidak menyukai minuman alkohol jangan meminum nya'' Silvia terus mengomeli Darren sambil membersihkan badannya yg bau alkohol.


''Ma? Tolong Darren Ma'' Silvia langsung terhenti dan melihat wajah anaknya yg sudah sendu


''Ren? Ada apa nak?'' Silvia mengelus pipi Darren


''Ma kenapa rasanya sesak sekali menanggung nya'' Darren memeluk tangan Mama nya tangisan nya dapat dilihat oleh Silvia


''apa yg sudah kami lakukan, katakan pada Mama?''

__ADS_1


''Ma? Darren merusak hidup orang lain''


Deg,, hati Silvia seperti terhenti tiba-tiba


''Ren? Lihat Mama apa yg sudah kamu perbuat?'' Silvia yg mulai panik menarik wajah anak nya.


''Ma? Darren sudah pernah memperkosa gadis dan sekarang gadis itu harus menanggung apa yg telah Darren perbuat, dia harus melahirkan dan membesarkan anak nya sendiri''


Silvia terlemas mendengar pengakuan anaknya.


''Ma, tolong Darren dari rasa bersalah ini Ma? Darren bahkan tidak berani meminta maaf pada nya gadis itu masih bisa tersenyum ke arah Darren'' tangisan Darren bercampur dengan racauan nya.


Sedangkan Silvia yg memeluk kepala anak nya di pangkuan nya, hanya bisa diam tidak tahu apa yg harus dikatakan nya. Kecewa, marah dan sedih bercampur jadi satu setelah tahu anak kesayangan nya merusak kehidupan orang lain.


''Ma? Mama??'' panggilan dengan mata terpejam


''Ren, bagaimana bisa kamu mengorbankan kehidupan orang lain nak?'' tangis Silvia juga ikut pecah


Dipikiran nya kini membayangkan sosok gadis muda yg telah dirusak oleh Darren, harus hamil dan menghidupi anaknya sendiri. Lalu apa orangtua nya akan menerima nya.


Namun saat akan bertanya lebih, Darren sudah tertidur dengan posisi meringkuk.


***


''Bella!!''


Plak,,,, satu tamparan melayang ke arah gadis cantik itu


Sejak kembali ke dalam rumah nya, benar saja tebakan Bella orangtua nya sudah membawa lelaki muda yg pasti pengusaha untuk dikenal kan pada nya.


Jika selama ini Nyonya Angeline dan suaminya hanya akan mengenalkan kini mereka sudah menjatuhkan tanggal untuk Bella bertunangan.


Sontak Bella yg tidak terima, langsung menolak mentah-mentah rencana kedua orang tua nya hal itu tentu saja membuat Jakapan lelaki yg ingin di kenalkan ke Bella merasa di rendahkan.


Jakapan dan orangtua langsung keluar tanpa pamit pada Nyonya Angeline dan suaminya, ini juga bagai menjatuhkan harga diri keluarga Laurent.


''Mama?'' hiks hiks hiks


Tangisan Bella pecah ketika Angeline menampar wajah nya


''kamu selalu mengecewakan Mama, Bell !''


''aku hanya ingin menikah dengan orang yg aku cinta, Ma!'' Bella sedikit menaikan note suaranya


''Cinta??, Omong kosong soal cinta! Perasaan akan tumbuh seiring dengan waktu''


''tapi apa Bella tidak bisa melakukan apa yg Bella mau'' dengan wajah sendu dia menatap wanita yg merupakan ibu nya ini.


''Bell, dengarkan Mama selama ini Mama berusaha mencari yg terbaik buat kamu''


''terbaik??'' ha ha ha,,, Bella tertawa getir


''terbaik buat aku! Atau terbaik buat kalian !!'' bentak Bella yg sudah mencapai di ambang batas


''kamu!!!''


''berhenti!!!'' bentak Tian yg melihat istrinya ingin menampar kembali wajah Bella


''aku benci Mama!!'' Bella langsung berlari ke atas menuju kamarnya, dan masih saja memeluk erat boneka pemberian Leo dari hasil undian.


Para pelayan memandang kesihan terhadap Bella, mereka yg tidak ingin ikut campur namun masih bisa mendengar perdebatan ibu dan anak itu.


''kamu kali ini kelewatan, Anggeline!!'' bentak Tian


''seharusnya kamu beri dia kesempatan untuk memilih, bukan menghakimi kehidupan nya'' Tian menggenggam erat tangan Angeline yg menampar wajah Bella


''aku hanya ingin yg terbaik untuk Bella!! '' balas sengit Anggeline


''terbaik? Aku selama ini diam karena aku menghargai keputusan mu untuk Anakku, tapi aku tidak menyangka kau meminta ku kembali dari London hanya untuk menyaksikan pertunjukan konyol mu ini !!'' Tian menghempaskan tubuh Anggeline ke sofa


''kamu terus memanjakan nya, untuk itu Bella tidak pernah mendengarkan perkataan ku. Apa kau lupa kalau aku itu Mama nya!!'' kini keduanya beradu sengit


''coba tanya pada hatimu'' Tian menusuk ke dada Anggeline


''selain uang, apa pernah kamu berlaku seperti Mama nya!! Pikirkan apa yg aku katakan Anggeline'' Tian pergi keluar dari rumah


''Siaal,,,,!!!!'' umpat Anggeline setelah kepergian Tian


Sedangkan Bella yg begitu masuk ke kamarnya setelah mengunci pintu kini hanya bisa terlepas dilantai, duduk disana dengan memeluk kedua kaki nya Bella menangis sejadi-jadinya.


Sejak kecil Bella selalu dilatih sempurna oleh Mama nya, sampai memasuki usia dewasa Bella yg menyukai Desain harus mati-matian meminta izin pada Mama nya agar bisa kuliah di jurusan Fashion Desaign.


Beruntung Tian yg mendukung nya, meskipun jarang menghabiskan waktu bersama Tian tidak pernah sekali pun menolak keinginan Bella.


Di balik tirai ada sosok lelaki yg memandang ke arah Bella ya, dia Leo sejak Bella masuk ke rumah dengan perasaan gusar Leo tak tenang meninggalkan nya.


Dengan keahlian nya Leo bisa langsung melesat masuk dan naik ke atas kamar tidur milik Bella. Leo baru menyadari jika Bella sengaja tidak mengunci pintu teras kamarnya.


Bella yg dapat mencium parfum yg menjadi safezone nya, mengangkat kepala nya dan benar saja Leo sudah duduk berlutut di depannya.


Leo membentang kan kedua tangan nya, dengan cepat Bella masuk kedalam pelukannya. Tangis Bella kini pecah Leo yg memiliki sikap dingin tidak tahu cara menghibur orang Leo hanya membiarkan Bella menangis dan mengusap punggung nya.


''mulai sekarang aku ada disini, jangan takut''

__ADS_1


Bisik Leo pada wanita yg masih menangis dipelukannya


__ADS_2