Pesawat Kertas Zeffan Al'Bareck

Pesawat Kertas Zeffan Al'Bareck
Terkuaknya rahasia


__ADS_3

"Tuan?''


"Duduklah Joke untuk apa kau hanya berdiri disana?'' titah Balgas yg juga duduk tak jauh dari Joke


"Jadi ada apa kali ini??'' Balgas duduk yg juga diikuti oleh Silvia


"Saya ada berita baik untuk anda" Joke menarik beberapa berkas di tangannya ke arah Balgas


"Apa ini??''


"Anda akan tahu setelah anda melihatnya sendiri"


Silvia yg juga penasaran membantu Balgas memeriksa berkas yg joke berikan, hingga ada beberapa foto yg terjatuh Silvia mengambilnya dan betapa terkejutnya di foto itu jelas adalah orang yg baru dikenalnya beberapa Minggu ini.


"Violine??" Sentak Silvia


"Anda mengenal nya Nyonya?''


"Iya, dia adalah Desainer yg aku minta bertanggung jawab di acara kita nanti Pah?" Serunya ke arah Balgas


"Jadi ada apa ini Joke??'' Balgas yg sudah penuh dengan rasa penasaran nya


"Bagini Tuan, anda mengingat kalung batu ini?'' Joke memberikan foto dari ponselnya


"Ini adalah batu leluhur keluarga Andreason tentu saja aku mengingat nya" sentak Balgas tak sabaran


"Lalu anda bisa melihat siapa yg memakai kalung itu sekarang?" Balgas mencermati lagi berkas-berkas nya,


"I-ini??''


''benar Tuan, anak ini memakai nya bahkan sudah ada inisial namanya jadi sudah dipastikan kalau ada yg merubahnya"


"Tapi seingatku kalung ini ada di tangan Darren. Ayahku sendiri yg memberikan nya pada Darren saat dia berusia sepuluh tahun"


"Jadi maksudmu anak ini ada kaitan nya dengan Darren?" Timbal Silvia


"Benar Nyonya'' Joke membuka lembaran berkas yg mungkin terlewat dari pandangan Balgas dan Silvia


"Astaga!! Pah??" Silvia terkaget


"Ini Cucu kami?" Balgas memastikan


"Benar Tuan, tanpa melakukan tes DNA saya bisa memastikan ini adalah Cucu yg ingin anda berdua cari tahu'' jelas Joke


"Tapi yg aku tahu, Violine sudah memiliki suami dan suaminya itu??'' ingatan muncul begitu saja di pikiran Silvia


"Jika yg anda maksud adalah Tuan Bible, mereka berdua adalah teman masa kecil sejak Nona Violine berada di panti dan selama fase kehamilan semua kebutuhan Nona Violine di bantu oleh Tuan Bible''


Balgas dan Silvia menyimak setiap penjelasan Joke


"Dan ada beberapa kendala saat fase kelahiran, apalagi dari kabar yg saya dengar Nona Violine melahirkan secara prematur sejak saat itu Tuan Bible yg merawatnya'' secara langsung dan akibat kedekatan itu juga yg membuat Putra Nona Violine dekat dengan Tuan muda Paolo"


"Paolo??'' ucap Balgas


"Benar Tuan, Tuan Bible adalah putra tunggal Tuan Paolo sahabat anda di masa kuliah"


"Anak kurang ajar itu bisa-bisa tiadk menceritakan dengan benar padaku!!" Gerutu Balgas dengan mengetik tongkat nya ke lantai.


"Pah? Tenang dulu setidaknya kita sudah mengetahui Cucu kita, Mama sudah mengenal ibunya dia anak yg sopan dan juga ramah Mama yakin Papa akan menyukainya"


"Joke!!"


"Ya Tuan?''


"Atur penerbangan ku sekarang ke Indonesia, aku ingin menemui ibu dan anak yg sudah ditelantarkan oleh bocah tengik itu!!"


"Tapi Tuan? Anda belum mendengar semuanya" potong Joke


"Apa lagi??''


"Sebenarnya sifat Ayah dan anak ini sama saja gumam Joke yg membatin


"Tanpa kita ketahui Tuan Darren selalu mengambil peran dalam hidup Nona Violine dan jika anaknya,"


"Jelaskan!''


"Tuan Darren selama ini selalu melindungi mereka dari semua masalah termasuk saat ini Nona Chelsea membuat rencana jahat pada ibu dan anak itu. Untuk melindungi nya Tuan Darren dan Tuan Bible bekerja sama menjatuhkan popularitas Nona Chelsea dan dalam dua hari ini nama Nona Chelsea sendiri sudah menjadi trending topik"


Joke memberikan tabletnya dengan penuh berita gosip yg ada di Indonesia.


"Dimana Darren sekarang?''


"Tuan Darren sekarang ada Washington beberapa pekerjaan miliknya yg berada disana sedang dalam masalah dan Tuan Bible sendiri kini juga ada di New York untuk merawat Tuan Zakir yg sedang sakit"


"Jadi mereka membiarkan ibu dan anak itu sendirian tanpa pengawasan!!'' umpat Balgas yg makin kesal


"Dan kau baru memberi tahu ku sekarang Joke?"


"Maaf Tuan, saya harus mengumpulkan semua bukti dulu sebelum menghadap anda"


"Keterlaluan mereka!!"


"Kau siapkan pesawat kita aku ingin melihat Cucu ku dengan mata kepala sendiri!!"


"Tapi apa Tuan Darren akan setuju Tuan?''


"Persetan dengan bocah tengik itu!!''


"Baiklah, saya akan atur sekarang sesuai perintah anda"

__ADS_1


Joke pun berlalu pergi,


"Sayang? Kamu harus tenang jik kamu sakit sekarang kita tidak bisa melihat Cucu kita" bujuk Silvia


"Kamu tahu Mah? Saat ini aku ingin sekali memukul kepala anak mu itu!!''


"Darren juga anak mu Pah'' sahut Silvia yg makin membuat Balgas meradang dan memilih pergi


Huuuft,,, dengus kesalnya meninggalkan Silvia


"Kenapa aku bisa melewatkan kalian begitu saja" Silvia melihat-lihat lagi potret kebersamaan Vio dan juga Zeffan


***


"Kita akan bertemu Papa hari ini Mah?'' ucap Zeffan yg sudah selesai dengan pakaian sekolah nya


"Mama tidak tahu, tapi nanti Mama akan coba telpon Papa oke" anak itu mengangguk cepat


"Zee rindu Papa"


"Iya, Papa pasti juga rindu Zee" setelah itu keduanya keluar dari apartemen mereka menuju lift.


"Aunty??''


teriak Zee setelah keluar dari lift melihat Bella yg berjalan ke arah mereka


"Zee? Morning Sayang'' Bella berjongkok untuk memeluk tubuh mungil itu.


"Bell? Kamu disini?"


"Iya, tadi aku habis membeli beberapa barang jdi singgah kemari untuk sekalian menjemput kalian"


"Tapi aku ingin membawa mobil sekarang, jika tidak sibuk nanti sore aku akan membawa Zee ke panti untuk menyapa Suster Lalisa"


"Kita dapat pergi bersama" sahut Bella


"Emh?? Baiklah'' Vio setuju setelah sempat berpikir


***


Darren dan Gery sudah sampai di rumah hutan untuk melihat keadaan Leo.


Sesampainya disana terlihat Leo yg sudah duduk dengan memainkan senjata nya.


"Seperti nya luka mu tidak terlalu parah!! Atau mungkin Dokter yg melebih-lebihkan nya?''


Leo yg terperanjat kaget langsung terbangun dan.


Aishh,,,


Keluhnya menahan perih dari luka nya yg belum pulih


"Duduklah" Darren menekan pundak Leo pelan


"Bagaimana keadaan anda Tuan?"


"Nasih kita tidak jauh beda Leo" sindir Darren


Leo hanya menggeleng dengan senyum tipis


"Aku ingin kembali hari ini? Apa kau ingin ikut'' mata Leo membulat sempurna


"Ada apa dengan ekspresi wajahmu??"


"Bagaimana dengan Perth?'' sahut Leo


"Tenang lah Tuan Darren sudah menyelesaikan nya" Gery ikut duduk diantara mereka dengan membawa minuman untuk keduanya.


"Maaf, jika saya sudah gagal Tuan" Leo menunduk merasa bersalah dengan keadaan Darren


''jika ingin aku memaafkan mu, jangan biarkan aku melihat mu terluka seperti ini lagi!!" Ancam Darren dengan wajah datar


"Okay" Leo tersenyum puas


"Siapkan barang-barang Leo, kita berangkat dua jam lagi"


"Baik Tuan"


"Vii?" Suara Bella massuk ke ruangan Vio


"Pakaian Nyonya Silvia sudah selesai, bagaimana dengan Putra nya?''


''ini aku sedang mengukur dari ukuran milik Bible, seharusnya tubuh mereka tidak jauh beda"


Bella melihat buku agenda dari tangan Vio


"Seperti nya bisa juga" Bella duduk di depan Vio yg sibuk dengan gunting nya


"Aku akan mensleksi penjahit agar pakaian mereka siap bersamaan"


''emh, baiklah" Bella bangun dari tempatnya


"Oh? Bell??''


"Ya?''


"Zee mana daritadi tidak terlihat?"


"Oh? Dia sedang dibawah bermain dengan Mina dan yg lainnya" jelas Bella

__ADS_1


Vio dan Bella yg sejak tadi pagi sibuk dengan pekerjaan, membuat Bella meminta beberapa pegawai nya melihat Zee bermain agar dia tidak bosan jika di ruangn Vio terus.


"Mau aku panggilkan?" Tawar Bella


"Tidak usah, pekerjaan ku hampir selesai biarkan Zee bermain sebentar"


"Yasudah, kalau gitu aku akan ke ruangan ku"


Vio hanya mengangguk ke Bella untuk


Setelah menyelesaikan pekerjaan nya Vio melihat jam di pergelangan tangannya.


"Sudah hampir sore" ucap nya sambil bangkit dari duduk nya


"Zee??" Vio menuruni tangga menuju lantai bawah yg menjadi toko pakaian hasil Desain nya dan juga Bella.


"Buk??'' sapa beberapa pegawai


"Kalian melihat Zee?" Vio melihat sekeliling yg tak terlihat sosok bocah mungil menggemaskan itu


"Tadi Zeffan keluar Buk, dengan Mina"


"Oh? Begitu terimakasih ya" Vio pun berjalan ke arah tempat pegawai nya menunjuk.


Disana ditempat yg tidak jauh dari Butik, terlihat Zee dan Mina sedang memberikan makan pada seorang bapak tua.


Mata Zeffan menangkap sosok wanita yg melihat nya dari jauh.


"Mama ????'' Zee langsung berlari ke arah Vio dan memeluk sebelah kakinya.


"Kamu sedang apa?" Vio membenarkan rambut Zee yg sedikit berantakan


"Hanya menemani ibu kecil memberi makan oranglain"


"Ibu kecil??"


''iya? Itu ibu kecil" menunjuk ke arah Mina


"Ah? Maaf buk saya tidak mengajarkan Zeffan untuk memanggil saya seperti itu" wajah panik Mina ketika Vio menatap nya.


"Zee? Bisa beri Mama alasan kenapa Zee panggil Tante Mina dengan ibu kecil?"


Vio berjongkok dan memegang kedua pundak Zeffan


"Tante Mina selalu baik dan ramah, Tante Mina seperti Mama kalau sedang bekerja dan Zee menyukainya jadi Zee panggil nya ibu kecil" jelas Zee dengan suara khasnya


"Oke, Mama mengerti" Vio pun bangkit


"Buk? Maaf buk jangan pecat saya" Mina tertunduk


"Mina? Apa yg kamu katakan saya juga bekerja disana bagaimana mungkin saya memecat kamu"


"Ta-tapi buk?"


"Saya baik-baik saja ketika Zee memanggil kamu ibu kecil" Vio tersenyum ke arah Mina


"Buk??''


"Mina? Jika anakku menyukaimu bagaimana aku bisa melarangnya"


"Iya buk" Mina masih merasa tidak enak


"Jadi Zee boleh panggil Tante Mina dengan panggilan ibu kecil, Mah?" Zee menggoyang goyang kan lengan Vio


"Iya, Sayang"


"Yeyyy'' terima kasih Mom'' Zee berlari lari kecil memutari Vio


"Semoga kamu tidak bosan ya, Zee akan sedikit cerewet dengan orang yg disukai nya" Vio memasang wajah nljenaka ke arah Mina


Sedangkan Mina hanya tersenyum melihat Zee yg tak ada lelah nya terus saja berlari kesana-kemari sejak tadi.


"Ibuk tenang saja, saya sangat menyukai Zeffan buk"


"Saya juga senang jika kamu menyukai Putra ku" sahut Vio


Selesai dengan pekerjaan nya, Vio bersama Bella dan juga Zeffan kini sedang dalam perjalanan menuju panti.


Sudah lama sekali sejak terakhir kali Vio singgah di panti dan mengobrol dengan Suster Lalisa.


"Apa makanan ini semua akan kita berikan untuk nenek, Mah?'' tanya Zee yg duduk tenang di kursi belakang


"Iya, nanti jika sudah sampai tolong Zee bagikan ke kakak-kakak yg ada disana ya" pinta Vio lembut


"Siap, Mom"


"Kenapa Zeffan sekarang sangat manis ya" goda Bella yg hanya bisa melihatnya dari pantulan kaca depan


"Karena Zee anak Mama Violine" ha ha ha,, Zeffan tertawa dengan ulah nya sendiri.


Menyusuri jalanan kini mobil mereka sudah sampai di depan sebuah gereja yg merupakan pintu masuk ke arah panti.


"Ayo? Kita sudah sampai" ucap Bella mematikan mobil


"Let's go Aunty'' Zee langsung Merosot ketika Bella dengan lantang berkata sudah sampai.


"Mau Mama bantu?"


"Tidak!" Tolak Zee dengan membawa beberapa kantong makanan yg sempat mereka beli sebelum sampai tadi.

__ADS_1


__ADS_2