
Percakapan mereka terhenti kala Zee sudah kembali dengan Gery.
Ponsel milik Bible pun berdering di tengah waktu makan mereka, Bible permisi sebentar meninggalkan Zee dengan Darren.
''Zee? Butuh bantuan?'' tanya Darren pada Zee yg kesusahan dengan udangnya
Anak itu hanya mengangguk cepat, senyum Darren mengembang melihat wajah Zee yg kesal karena makanan itu terlalu sulit untuk nya.
''apa Zee juga menyukai udang?''
''iya, Mama sering memasak berbagai seafood untukku dan Papa'' jelasnya riang
''benarkah?'' Darren memberikan daging udang nya pada Zee
''benar Paman, masakan Mama adalah yg terbaik'' Zee mengangkat kedua ibu jarinya.
Darren tertawa gemas mengusap kepala Zee dengan pipinya, ingin rasanya menarik pipi gemas Zee tapi tangannya sudah kotor karena memegang udang.
''emh? Zee sepertinya sangat menyukai pesawat ya?'' mata Darren menunjuk ke arah pin bentuk pesawat yg menempel di seragam sekolah nya.
''iya, Zee ingin bisa terbang dengan pesawat'' Darren mendengarkan nya dengan seksama cara bicara Zee
''apa Paman bisa menerbangkan pesawat?'' mata hitam pekat itu menatap dalam ke arah Darren.
''aku memiliki Jet pribadi, tentu aku tahu cara menerbangkan nya tapi aku akan lebih mempercayai pilot''
''wahh? Bolehkah nanti aku melihat nya, Paman?''
''Paman akn mengajak Zee jika Papa dan Mama zee setuju''
''baiklah, '' anak itu kembali memakan makanannya
Setelah selesai menerima telpon Bible yg ingin kembali terpaku melihat keduanya saling bicara, dari cara Zee bicara Bible dapat merasa jika Darren dapat membuatnya nyaman
Bible harus segera kembali ke perusahaan nya karena Wisnu menelpon nya jika ada masalah darurat yg terjadi.
Gery yg melihat Bible hanya berdiri menghampiri nya.
''Tuan, ada sesuatu yg terjadi?''
''aku hanya harus segera kembali ke kantor'' sahutnya
''baiklah, saya akan sampaikan ke Tuan Darren''
''tunggu'' Bible menghentikan langkah Gery
''biarkan saja, seperti nya Zee juga nyaman disampingnya Zee akan menangis jika aku pamit dengan nya''
''jadi? Maksud anda??''
''aku titipkan Zee pada kalian setelah selesai antarkan Zee ke butik'' Bible dengan berat hati
''tapi Nona Vio?''
''tenang saja, aku sudah mengatakan pada nya aku membawa Zee untuk makan siang denganku''
''Tuan, saya tidak tahu anda akan percaya dengan saya atau tidak tapi saya bisa memastikan kalau Tuan Darren tidak pernah berniat mengambil Zeffan dari siapa pun'' Gery menatap ke arah Bible
''aku akan coba melihat usaha dia kedepannya''
''selebihnya, aku hanya akan membiarkan Zee yg memilih menerima nya atau tidak'' Bible bicara dengan berat
Bible menepuk pundak Gery dan berlalu pergi meninggalkan nya begitu saja.
''saya dapat merasakan kalian memiliki rasa berat masing-masing Tuan'' Gery melihat ke arah Darren dan Bible yg sudah masuk lift bergantian
''Tuan?'' panggilnya pelan lalu berbisik
Darren yg tadi nya tertawa dengan Zee karena tingkah gemasnya, tiba-tiba terdiam
Zee yg sudah bisa mengerti tidak boleh memotong pembicaraan orang dewasa hanya menatap bingung ke Darren.
''apa dia gila?''
''tapi beliau sudah pergi, Tuan''
''baiklah aku mengerti'' Darren bingung harus bagaimana mengatakannya pada Zee.
''ada apa? Paman'' Zee berani bertanya karena Darren melihat ke arahnya.
''Zee? Papa Zee sudah pergi lebih dulu ke kantor apa Zee baik-baik saja dengan Paman?''
''Papa pasti punya pekerjaan mendesak''ucap Zee santai dan kembali memakan makanannya.
Darren dan Gery saling lempar pandangan bingung.
''Zee tidak marah?'' Darren memastikan
''Papa pasti percaya dengan Paman kalau tidak, Papa tidak akan meninggalkan ku disini dengan Paman.''
''yasudah Zee makan dulu, nanti setelah selesai Paman akan mengantarkan Zee ke butik''
''apa Paman tidak ingin mengajak ku jalan-jalan lebih dulu?''
''hah?'' Darren terkejut dengan sikap Zeffan ''Paman mau, ah maksud Paman jika Zee mau Paman akan membawa Zee jalan-jalan ''
Perasaan Darren cukup senang hari ini, tiba-tiba saja Zee mau dekat dengannya perasaan nya seperti mendapatkan bintang jatuh.
***
''Tuan? Wisnu yg sudah ada di ruangan nya'' tapi mata nya melihat ke arah belakang Bible mencari seseorang
__ADS_1
''ada apa? Wis?''
''Zeffan mana? Tuan''
''ohh, aku meninggalkan nya dengan Darren'' jawab santai Bible dengan duduk di kursinya
''apa!!''
''ada apa? Aku hanya ingin memberikan nya kesempatan''
''Tuan? Bagaimana jika Nona Vio tahu apa anda bisa menjelaskan nya sekarang?''
''biar bagaimana pun suara hari ini juga akan terungkap Wis'' Wisnu hanya mengernyitkan keningnya
''untuk pertama kali saya tidak setuju dengan tindakan anda, Tuan?'' Wisnu memasang wajah serius nya
'' sudahlah kita akan bicara nanti, selesai kan dulu saja masalah yg sekarang'' Bible mengalihkan pembicaraan
''baik, Tuan'' Wisnu pun memberikan tablet nya menunjukkan masalah hingga dia harus meminta Bible kembali ke perusahaan secepatnya.
***
Di Butik Tiffany,,,
''Vii? Kamu tidak menjemput Zee?'' Bella yg berlari kecil ke ruangan Vio
''tidak, Biben yg menjemputnya hari ini'' jawab Vio
''lalu? Mereka kemana kok belum kesini?''
''tadi pagi katanya Biben ingin mengajaknya makan'' sahut Vio yg masih mengerjakan pekerjaannya
''oke, aku ingin mencari beberapa bahan untuk tambahan gaun milik Nyonya Silvia, apa kamu bisa menemaniku?''
''bagaimana dengan Jas milik anak nya bahkan kita belum mendapatkan ukurannya'' Vio berbalik ke arah Bella
''emh, kau benar kalau gitu aku akan telpon Nyonya Silvia''
''sebaiknya kita harus cepat mendapatkan ukurannya''
''aku tahu'' Bella langsung keluar dari ruangan Vio
''Biben kenapa belum menelepon ku?'' matanya melihat ke arah ponsel yg tergeletak tak jauh darinya
Vio tak lagi mengambil pusing, karena jika ada yg tidak baik pasti Biben akan menelepon nya, fokusnya kembali pada pekerjaan nya lagi tanpa menyadari hari sudah hampir sore
Darren yg membawa Zee bermain permainan anak-anak yg ada di Mall pun terheran dengan reaksi Zee yg sepertinya tidak menikmatinya.
Merasa ada yg tidak beres Darren memilih mengajaknya ke sebuah taman buatan yg ada disekitar Mall.
''Zee? Boleh Paman bertanya?'' Darren dapat melihat jika anak itu hanya menunduk dan selalu menurut kemana pun Darren membawa nya.
''apa Zee tidak senang pergi dengan Paman?''
''apa aku boleh mengatakan sesuatu pada Paman?''
''tentu, Zee boleh mengatakan semuanya jika Paman bisa maka Paman akan menjawabnya'' Darren mengelus rambut ikal itu.
''Paman? Sebenarnya kandung itu apa artinya?''
Deg,,,,
''kenapa Zee bertanya?''
''kemarin malam Zee dengar Papa dan Mama bicara soal ayah kandung di balkon tapi Zee tidak tahu artinya Zee juga bertanya pada ibu guru tapi ibu guru tidak juga memberi tahu '' Zee kembali menunduk
''Zee mendengar semua apa yg Papa dan Mama katakan?''
''tidak semua nya, tapi yg Zee tahu selain nama Paman Papa juga menyebut nama Paman''
''apa Zee sudah bertanya pada Papa?'' Darren mengangkat tubuh kecil itu ke pangkuan nya.
Zee hanya menggeleng kan kepalanya.
''Zee tidak mau Papa menangis lagi'' wajah Zee terlihat hampir menangis
''Paman tahu Zee lihat Mama dan Papa menangis, Zee tidak suka melihat nya Paman'' air matanya yg ditahan nya kini lolos begitu saja
Darren memeluknya hatinya terasa sakit melihat Zee menangis.
''Zee? Terkadang kita orang dewasa memang harus menangis untuk menyelesaikan masalah'' ucap lembut Darren
''Tapi Papa tidak pernah menangis, apa ada yg mengganggu Papa?'' mata penuh air mata itu menatap Darren.
''Paman juga tidak tahu? Tapi Paman akan menanyakan ini dengan Papa Zee nanti'' Darren menghapus air mata Zee dengan ibu jari nya
''boleh Paman tanya sesuatu?'' Zee mengangguk
''kenapa Zee diam saja setelah tahu kalau Papa meninggalkan Zee dengan Paman?''
''Papa tidak pernah mengizinkan aku dekat dengan orang lain, lalu jika Papa meninggikan ku dengan Paman aku yakin Papa pasti percaya dengan Paman'' sahutnya
Darren berdecak kagum ternyata Zee lebih dewasa dari usianya, matanya menatap bangga ke arah Zee.
''Zee? Jika ada yg Zee rasa tidak nyaman Zee harus mengatakan nya terkadang kami sebagai orang dewasa juga tidak begitu memahami perasaan anak-anak'' nasihat lembut Darren dengan merapikan rambut milik Zeffan
''aku menyukai Paman, tapi jika aku menolak Papa pasti bersedih kan?''
''justru Paman yakin Papa akan lebih sedih jika Zee tidak memberitahu nya tentang perasaan Zee?''
Zeffan pun merosot dari pangkuan Darren. Mengambil sesuatu dari tas nya yg ditangan Gery.
__ADS_1
''kenapa Paman memberikan ini untukku?'' Darren melihat kalung yg dia berikan malam itu di tangan Zeffan
''dulu batu itu kakek paman yg memberikan nya, tapi Paman mengubahnya sedikit agar pas untuk Zee''
''apa Zee tidak menyukai nya?'' Darren yg melihat Zee hanya diam
''aku menyukainya Paman, tapi Joshua bilang ini pasti mahal''
''siapa Joshua??''
''teman sekolah ku, dia melihatnya dan bertanya''
''begitukah?'' Darren mengambilnya dari tangan Zee
''Zee ingatkan jika Zee pernah bilang ke Paman kalau ada chip disini yg Papa Zee pasangkan'' Darren menunjuk ke dada nya
Darren berjongkok di depan nya,,
''bisakah Paman minta Zee jangan meninggalkan kalung nya?'' Darren memakai kan kalung itu kembali ke Zeffan
''apa ini spesial Paman?''
''tentu saja, Zee special dan kalung ini juga sama apa Zee tahu kemana pun Zee pergi Paman akan tahu lewat kalung ini'' Zee memegang batu hijau yg akan bersinar ketika ada cahaya
''apa Paman juga menyayangiku?'' mata Darren berkaca-kaca
''tentu saja, Paman sangat sayang pada Zee''
''apa Paman akan mengambilku dari Papa??''
''kenapa Paman harus mengambil kamu?''
''selain mengatakan kandung, kemarin Papa juga menyebut nama Paman kalian juga sama-sama mengatakan aku spesial apa artinya Paman akan mengambilku dari Papa?"
''Zee?'' Darren mengambil satu tangan Zee dengan kedua tangannya.
''Paman tidak pernah ada keinginan untuk mengambil Zee dari Papa ataupun Mama Zee, Paman menyayangi Zee tulus karena ini'' Zee merasakan detak jantung Darren setelah Darren menempatkan tangan kecil nya didada Darren .
''aku juga sayang Paman, tapi Paman harus janji jangan ambil aku dari Papa''
''aku berjanji'' Darren tersenyum getir
''Popa dan Moma tinggal di tempat yg jauh, Papa hanya punya aku jika Paman mengambilku Papa akan sedih dan aku tidak menyukainya'' jelas Zeffan
Sekali lagi Darren merasa kalah dengan Bible, meskipun Bible tidak ada disamping Zeffan tapi dalam hati dan pikiran nya Bible sudah menempati tempat yg special.
''bagaimana dengan Mama? Bukankah Papa Zee juga punya Mama Zee bersamanya?''
''Mama dan Papa tidak bersama seperti itu Paman, tapi Mama mengatakan kalau Mama dan Papa saling menyayangi''
''kamu tahu? Kamu itu sangat pintar untuk anak seusiamu'' Darren mengacak rambut Zee
''kalau begitu sekarang kita pulang?''
''bolehkah Paman antar aku ke kantor Papa?''
''kenapa?'' Zee mengambil sesuatu lagi dari tasnya
''apa ini?'' tnya Darren yg diberikan sebuah undangan kecil oleh Zee
''hari ayah?'' Darren berkata ke arah Zee
''besok ada acara disekolah ku, aku ingin Papa menemani ku bisakah Paman mengantarku?
''baik, kita pergi sekarang?'' Darren memberikan kembali lembar kertas itu pada Gery agar memasukkan ke dalam tas milik Zeffan
''terima kasih, Paman'' anak itu memeluk leher Darren
''sama-sama Zee'' Darren membalas nya air mata nya menetes, perasaan seperti ini cukup untuknya asal bisa dekat dengan Zee Darren sudah merasa bahagia
Walaupun harinya selalu ada rasa egois untuk membawa Zee dan juga Vio bersama nya, tapi hatinya tertutup oleh pikiran jika Bible sudah memenangkan hati keduanya dan tidak mungkin ada kesempatan lagi untuknya.
***
Bible dan Wisnu masih berkutat dengan pekerjaan nya, sampai ntah ke berapa kali Vio menelepon nya untuk menanyakan keberadaan dan Zee.
Bible melewatkan jam makan nya dan juga beberapa panggilan hanya dengan fokus dengan pekerjaannya, sebenarnya pekerjaannya tidak terlalu mendesak tapi Bible sengaja mengalihkan pikirannya dengan pekerjaan agar tidak mengungkit rasa sedih nya setelah meninggalkan Zee dengan Darren
Sedangkan Darren yg sudah sampai di perusahaan milik Bible, kini menggendong Zee yg tertidur ke arah lift untuk naik ke ruangan Bible.
Sosok nya yg terkenal di dunia bisnis membuat nya mudah melangkah masuk dengan penjaga yg mengantarkan nya langsung, karena ini adalah kali pertama Darren ke perusahaan Bible.
''silahkan, Tuan ruangan Tuan Bible ada di depan'' ucap sopan penjaga.
''Ger, bisakah kita menghentikan waktu sebentar'' ucap Darren yg masih berdiri memeluk erat Zee di gendongan nya
''anda harus berpikir jernih Tuan, bukankah sekarang jauh lebih baik karena Tuan Bible mengizinkan anda menghabiskan waktu bersama Zeffan'' sahut Gery
''kamu benar'' Darren pun melanjutkan langkahnya masuk ke ruangan Bible.
Tok tok tok,,,
''Tuan, ada yg ingin bertemu dengan anda'' sekretaris Bible yg masuk lebih dulu.
''biarkan masuk'' balas Wisnu lebih dulu
Namun Bible sama sekali tidak menghiraukan nya selain menatap ke komputer nya.
''Tuan Darren??'' Wisnu bangun dari duduknya
''kau??'' Bible juga ikut melihat karena suara Wisnu
__ADS_1