
***
''kita mau makan malam disini saja, Vii?''
''boleh deh''
''Zee mau makan apa?'' tanya Vio pada bocah yg sedang duduk diam di depan kaca etalase.
''Ma? Boleh kita beli baju itu?'' tunjuk nya ke arah salah satu toko yg mereka lewati
''Zee mau baju itu?'' tanya Vio lagi memastikan
''iya Ma, Zee mau kembaran dengan Papa''
''oke, kita lihat dulu ya''
''emang Zee mau kemana dengan Papa?'' tanya Bella di sela-sela Vio mengambil baju yg diinginkan Zee
''Aunty? Sini'' bisik nya pelan agar Bella berjongkok
''besok ada acara hari ayah, Zee ingin undang Papa untuk menemui Zee disekolah'' Bella hanya membulatkan mulutnya
''ini kan?'' Vio yg tiba-tiba muncul
''iya Ma''
''ini baguskan Aunty?'' Zee meminta pendapat
''perfect'' Bella memberikan ibu jarinya
''mau kita bayar sekarang??''
''Mama tidak akan bertanya?'' Zee menarik satu jari Vio
Vio tersenyum ke arah Zee dan berjongkok di depannya.
''Zee?'' dengan merapikan rambut ikal Zeffan
''jika Putra Mama meminta sesuatu dan Mama mampu, Mama tidak akan bertanya selama anak Mama bahagia''
Mata Zeffan berkaca-kaca menatap Vio dengan dalam
''sekarang kita bayar, lalu pergi makan ya?''
''siap, Mommy''
''lalu Aunty?'' Rajuk Bella
''let's go Aunty'' Zee menarik tangan keduanya
***
Di rumah utama Andreason,,,
Pagi ini Darren bangun lebih pagi karena sudah memiliki janji dengan Bible untuk menyusun kerja sama mereka menjatuhkan keluarga Deralt.
''Ren??'' Panggilan Silvia menggema dirumah besar itu setelah tahu dari pelayan kalau Darren kembali tadi malam.
''ada apa sih, Ma?'' jawabnya yg sudah ada ditangga
Darren berjalan ke arah meja makan yg sudah ada Gery disana dan juga Balgas.
''sini, sini cepatkan langkahmu'' Silvia menarik lengan Darren paksa agar duduk di meja makan.
''kenapa kamu tidak bilang kalau kamu pulang?'' Silvia berkata dengan manis sambil memijit lembut pundak Darren.
''ada apa ini? Ma?'' curiga Darren
''Ren? Begini kamu kan sudah katakan kalau kami sudah memiliki Cucu'' kata-kata Silvia terhenti melihat ke arah suaminya.
''langsung katakan saja, Ma''
''Papa kenapa tidak bantu Mama bicara'' sungutnya
''baiklah-baiklah, begini Ren setelah Mama mu tahu kalau kamu sudah memiliki anak Mama mu ingin memamerkan Putramu pada teman arisannya'' kata Balgas santai
''Papa!!''
Balgas hanya tertawa ke arah Silvia yg menatap musuh padanya.
''Darren sama sekali tidak mengerti, Ma?''
''Mama ingin lihat Cucu Mama '' ucap nya cepat
''tidak bisa!!'' Darren mengambil cangkir coffe yg memang selalu menjadi menu sarapannya.
''kalian benar-benar tidak ada yg perhatian denganku'' Silvie yg kecewa menarik paksa kursi dan duduk dengan wajah kesalnya.
''lihat saja kalau Leo ada disini aku yakin dia akan memihak ku, bukan seperti kalian'' omelnya pada ketiga laki-laki itu.
Darren hanya menggeleng dengan tingah tidak sabaran Mama nya.
''jika sudah saat nya Darren sudah katakan, Darren akan membawa nya kemari dan memperkenalkan nya pada Mama''
''apa menunggu aku mati? Baru bisa melihat Cucuku sendiri'' Silvia sangat tahu kelemahan Darren.
Dan benar saja, Darren yg sempat berbicara sambil menatap ponselnya kini menutup ponselnya dan mengarah ke Silvia.
''Ma? Jangan berkata seperti itu''
__ADS_1
Silvia memasang acting nya dengan membuang muka
''Mama juga harus mengerti, Darren sedang berusaha memperbaiki semuanya. Kalau tiba-tiba Mama muncul dan katakan kalau Mama adalah nenek anak itu, bagaimana perasaan ibunya Ma?''
Darren mengelus lembut pundak Silvia. ''hanya sebentar lagi, Darren janji Mama akan melihat Cucu Mama sebentar lagi. Oke'' Darren memasang wajah melas nya agar Silvia melihat nya.
''emh!!''
''Ma? Biarkan Darren menyelesaikan nya dulu jika dia masih mengundur waktu, biar Papa yg bergerak mencari tahu siapa gadis itu'' ancam Balgas
Gery yg jadi pendengar hanya bisa bernafas berat sekarang.
''Darren janji akan secepatnya'' setelah itu Darren bangun
''kita berangkat? Tuan''
''ayo? Tapi kita singgah di kediaman Bible dulu'' titah Darren dengan merapikan jas milik nya
Gery berjalan lebih dulu menuju ke mobil yg sudah ada supir menunggu nya.
''Ren?''
''iya, Ma?'' Darren berbalik
''bisakah kali ini Mama hanya lihat fotonya?'' Silvia ragu-ragu
Darren pun mengeluarkan sesuatu dari jas nya.
''untuk saat ini hanya ini yg bisa Darren berikan'' setelah itu tubuh tegap itu masuk ke dalam mobil mewah berwarna hitam Dope yg sudah ada Gery menunggu nya.
''lucu sekali'' puji Silvia pada sebuah foto yg Darren berikan, itu adalah foto Zeffan waktu berumur dua tahun. Waktu itu Vio dan Bible merayakan nya di sebuah panti asuhan yg berada di New York karena kondisi ramai memudahkan Darren mengambil foto Zeffan tanpa mengundang kecurigaan orang lain.
Biasa nya foto itu selalu menjadi semangat untuk pekerjaan nya,
''lihat apa? Ma'' Balgas yg sudah bisa berjalan mendekat ke arah Silvia yg hanya berdiri diam tak jauh dari pintu.
''Pah? Lihatlah bukankah wajahnya sangat mirip dengan Darren kecil kita'' dengan perasaan haru Silvia membagikan foto itu agar suaminya dapat melihatnya.
''kamu benar, wajah mereka sangat intens''
''Tuan? Maaf mengganggu ada Nyonya Tessa di depan pagar'' ucap penjaga tiba-tiba
''Tessa? Mau apa dia??'' batin Silvia yg tak senang
''apa dia sendirian?'' tanya Balgas
''sepertinya dengan Nona Chelsea Tuan''
'' baiklah suruh masuk''
''baik, Tuan''
''jangan bawa masuk ke rumah, minta pelayan bawa mereka ke pondok taman samping'' penjaga terlihat bingung
''katakan saja rumah sedang direnovasi''
''baiklah Nyonya'' setelah itu penjaga langsung pergi melakukan sesuai yg diminta Silvia.
''kenpa kamu membawa nya kesamping, Ma?''
''tidak apa-apa Pah, Papa lihat suasana rumah ini sudah mulai ceria menyambut Cucu kita aku tidak ingin angin luar membuat suasana nya jadi suram'' cerocosnya
''baiklah, terserah Mama tapi ingat perlakukan mereka dengan baik biar bagaimanapun kita punya hutang Budi pada mereka''
''Sayang? Kamu sudah mengatakan ini banyak sekali Mama sudah mengerti, sebaiknya kamu ke atas saja sebentar lagi Dokter Steve akan tiba biar aku yg menjamu mereka''
Balgas pun berjalan naik menuju ruang baca dan juga ruang kerjanya, meskipun sudah turun dari jabatannya tapi Balgas tetap membantu perusahaan dari tempatnya.
''sudah saat nya aku usir benalu suamiku'' gerutunya Silvia
Chelsea yg baru sampai di Indonesia setelah beberapa pekerjaan nya di Paris, meminta Tessa agar menemani nya ke rumah keluarga Andreason.
Tentu saja rumah utama lebih mudah untuk dia masuki dari pada rumah pribadi milik Darren yg semuanya membutuhkan akses belum lagi beberapa penjaga yg memang sengaja di pekerjakan Darren agar Chelsea tidak ernah masuk ke area pribadi nya.
''selamat pagi Nyonya Silvia?''
''Tante'' sapa keduanya dengan wajah tersenyum
Sedangkan Silvia hanya membalas dengan senyum tipis
''silahkan'' sahut Silvia
''Nyonya? Suami anda??'' Tessa melihat sekeliling
''Suamiku sedang berada di ruang baca, jadi aku yg datang ingin menyambut kalian''
''ohh'' Tessa tersenyum kaku dengan nada bicara Silvia yg sangat tidak bersahabat.
''wanita tua ini, selalu saja tidak bersahabat'' gerutu batin Tessa yg sedikit kesal
''Tante? Apa kabar?''
''aku baik, oh? Bagaimana dengan event yg kamu kerjakan di Paris?''
''baik Tante, seharusnya aku pulang lusa tapi pekerjaan masih ada yg tertunda jadi aku memilih menyapa Tante terlebih dahulu''
''aku sangat tersanjung jika kamu memang punya niat untuk menyapa wanita tua ini'' balas Silvia ketus
Tessa dan Chelsea hanya bisa tertawa kaku.
__ADS_1
''sebelumnya, aku minta maaf aku tidak bisa berlama-lama menyambut kalian. Aku harus pergi ke suatu tempat''
''apa ini ada hubungan nya dengan acaranya Paman Tante?''
''kamu tahu?''
''haha, Nyonya Chelsea ini adalah calon menantu keluarga Andreason akan terasa aneh kalau sampai Chelsea tidak tahu acara besar untuk calon Ayah mertuanya'' potong Tessa
''oke, kalau begitu aku tidak perlu repot-repot mengundang kalian, toh? Sebelum aku memberikan kabar kalian lebih dulu mengetahui nya bukan kah langkah mata-mata kalian lebih cepat'' hardik Silvia
''ah- itu tidak yg seperti anda pikirkan Nonya'' Tessa kelabakan dengan ucapan nya sendiri
''tidak apa-apa, justru itu lebih bagus kalau Chelsea bisa membawa diri bagaimana jika ingin menjadi salah satu dari keluarga Andreason, karena selain latar belakang keluarga Andreason juga sangat menjaga attitude. Benarkan Chelsea!''
Sorot mata Silvia mengarah ke Chelsea yg mulai salah tingkah
''be-benar Tante''
''kalau gitu? Ada yg lain karena aku harus pergi sekarang''
Tessa menyenggol bahu Chelsea yg duduk disampingnya
''Oh, ini Tante Chelsea ingin berikan ini'' menyerahkan paper bag dengan logo merk ternama di Paris. '' ini adalah gaun terbaru musim ini saya pikir Tante akan menyukai nya''
''terimakasih'' kata Silvia tanpa membuka
''sepertinya kak Darren tidak ada disini Tante?''
''Darren sudah berangkat ke kantor nya, tidak lama sebelum kalian sampai''
''sayang sekali, ha ha padahal Chelsea ingin melihat Darren''
''Ma? Jangan katakan seperti itu Chelsea akan malu'' keduanya tertawa kecil yg tak diikuti oleh Silvia
''kenapa sepertinya aku baru sadar? Mereka ini terlihat seperti siluman'' gerutu batin Silvia
''kalau begitu, Chelsea akan temui kak Darren di perusahaan nya saja Tante. Ada yg ingin Chelsea berikan''
Silvia hanya mengangguk, dan tak lama benar saja pelayan datang tanpa membawa minum meminta Silvia agar masuk karena sudah ditunggu.
''maaf, jika kurang ramah tapi aku harus pergi sekarang''
''iya tidak apa-apa Nyonya''
''iya, Tante maaf sudah mengganggu waktu Tante'' tanpa menjawab Silvia sudah berlalu dengan pelayan dibelakangnya
***
Vio yg niatnya ingin sedikit santai hari ini, namun lupa jika Zee jadwal sekolah dimajukan membuatnya kelabakan pagi-pagi buta dengan menyiapkan beberapa bekal untuk Zee yg kebetulan akan ada piknik dengan guru dan teman-teman sekolah nya.
Namun setelah selesai Zee malah memintanya untuk mengantarkan ke rumah Bible, bukan arah ke sekolah nya. Beruntung ketika Vio sampai masih ada Wisnu di halaman yg menandakan Bible belum berangkat ke kantornya.
''Nona Vio?''
''Kak Wisnu, kalian belum berangkat?''
''belum, Tuan Bible masih bicara dengan seseorang di dalam''
''oh'' Vio hanya mengangguk
''halo? Om'' Zeffan melambaikan tangannya
''halo, Zee kamu tidak kesekolah?
''dia ingin diantar oleh Bible, apa hari ini jadwal Bible penuh?''
''tidak, malah hari ini Tuan sengaja mengosongkan jadwal''
Yeeyyy,,, teriak Zee riang
''kan sudah Zee katakan Ma, Papa hari ini tidak sibuk''
Wajah bingung Vio jelas terlihat, merasa heran bagaimana Zee tahu kalau Bible akan kosong hari ini.
Sebenarnya Zee yg tidak sempat memberikan undangan sekolah nya pada Bible, malam-malam sekali setelah tahu Mama nya sudah tertidur Zee menggunakan ponsel milik Vio untuk menelpon Bible.
Dengan sanagt hati-hati takut Mama nya bangun Zee meminta Bible menemani nya besok ke acara sekolahnya.
''Mama sangat curiga denganmu Zee''
''apa yg mau Mama curigakam dari anank yg belum genap lima tahun. ''
''ini semua yg aku punya, kau bisa memeriksa satu persatu setelah itu kamu sambungkan dengan yg kalian tahu maka kamu akan sadar kalau yg aku katakan emang benar. ''jelas Bible ke Darren dengan memberikan sebuah plasdisk.
''baiklah, aku tahu''
''tapi? apa yg membuatmu ingin menyelidiki ini sekarang?''
''aku hanya ingin mengembalikan tempat yg semestinya''
''oke, baiklah ''
''aku trima pujian mu Tuan Darren''.
***
''Papa!!?'' teriak anak kecil yg berlari
''Zee??:
__ADS_1