Pesawat Kertas Zeffan Al'Bareck

Pesawat Kertas Zeffan Al'Bareck
Cantiik


__ADS_3

''kita sudah sampai, Tuan'' ucap Gery yg sudah membuka kan pintu untuk Darren. Wajah lesu Darren sudah terlihat dari keluar dari kantor selain Leo Gery juga khawatir terhadap Tuannya tapi Darren selalu mengatakan dia baik-baik saja.


Pengaruh gadis yg terakhir kali tidur dengan Tuan mereka berpengaruh besar terhadap Darren itu bisa dirasakan oleh Gery dan Leo.


''semuanya sudah saya urus Tuan,''


Ucap Leo yg berjalan di belakang Darren bersama pengawal yg lain. Darren yg kini mengenakan kemeja hitam dengan kaca mata yg bertengger di hidung masing nya, dan tangan selain selempang kan jas nya tangan nya juga sibuk memeriksa pekerjaan lewat ponsel nya.


Kedatangan Darren di bandara banyak menyita mata orang-orang di sekitar, banyak yg berdacak kagum dengan ketampanan nya meskipun tertutup setengah dengan kaca mata nya. Tak jarang banyak yg menyebutkan namanya meskipun tak jarang ada orang yg tahu wajah nya tapi sebagian orang juga kenal kalau yg ada di depan mereka adalah Darren Andreason. Pewaris tunggal dari keluarga Andreason.


Di ruangan private milik nya Darren melepaskan dasi yg terasa mencekik nya, menggulung lengan kemeja nya hingga ke siku, karena merasa masih memiliki waktu Darren ingin membasuh wajah nya.


''aku akan ke toilet, kalian tunggu disini!!'' titahnya


Namun baru bergerak semua pengawal bahkan Gery dan Leo juga ikut bangun.


''aku bilang aku ingin ke kamar mandi''


''biarkan kami berjaga, Tuan'' pinta Leo dengan menunduk


''lima belas menit jika aku tidak kembali, kalian bisa bergerak''


Tanpa menunggu jawaban dari bawahan nya Darren berlalu pergi dengan wajah kesal nya. Sebenarnya Darren juga tidak tahu apa yg membuat nya murung hari ini. Apa karena pekerjaan atau karna mimpi nya tadi malam.


Bagai berjalan di sebuah desa, Darren melihat sosok anak kecil seperti miniatur dirinya. Darren ingin menyentuh nya tapi tangan Darren bahkan terasa transparan Darren terus mengejar anak yg berlari itu, hingga sampai di sebuah pohon besar di ujung jurang terlihat anak itu menghampiri seorang wanita, namun saat berbalik Darren ingat jelas jika wanita itu yg dicari nya selama satu bulan lebih ini. Darren makin bersemangat ingin mendekat tapi tiba-tiba ada tanga yg menyentuh pundak nya dan terasa seperti memukul nya spontan tubuh nya dan Darren pun terbangun. Hingga saat itu Darren tidak bisa lagi memejam kan mata nya.


''shiit!!'' umpatnya yg berjalan cepat dengan wajah tegang.


''aku harus menemukan nya apa pun caranya'' celetuk nya dengan kesal tapi saat dia berbelok.


Bruuk,,


''auw!!'' pekik wanita yg tertabrak nya namun tidak sampai ke lantai karena Darren sempat memutarnya hingga tubuh Darren tepat di bawah nya. Wanita dengan rambut panjang itu ingin menyibakkan rambut nya tapi saat Darren liat ada pamflet yg hampir menimpa mereka Darren membalik lagi tubuh wanita itu dengan cepat.


''aahhh!!''


''aaiissh'' rintih Darren yg merasa sesuatu pasti melukai lengan nya.


''kamu, tidak apa-apa??''


Suara lembut itu menyadarkan Darren tentang sesuatu. Begitu mata nya menatap, jantung Darren seperti ingin meledak. Sedangkan gadis di bawah nya juga merasa kaget dengan jantung yg seirama tubuh Darren yg lebih besar tentu saja mampu menutupi Gadis di bawah nya.


Hingga beberapa petugas membantu mereka bangun. Tapi mata Darren tidak lepas dari wanita yg kini berdiri tepat di depan nya.


''kamu terluka?'' suaranya lagi-lagi menghipnotis Darren


''Tuan!!, Tuan kamu tidak apa-apa??''


Dengan melambaikan tangan nya di depan wajah Darren.


''ohh, maaf'' Darren kelimpungan dengan perasaan nya sendiri hingga tidak sadar gadis itu memeriksa tangannya.


''ini terluka, apa perlu ke dokter?''


''tidak usah, ini akan baik-baik saja''


''tapi ini mengeluarkan darah, bisa infeksi ''


''hanya luka kecil,'' ucap Darren dengan melihat lengan nya yg tergores. Sebenarnya memang tidak terlalu sakit, justru orang yg di depannya yg membuat Darren harus pura-pura ini akan terlihat sakit.


''kalau gitu, ayo duduk disana aku obati'' tawar nya yg menarik lembut tangan Darren yg satu nya. Kini mereka duduk bersebelahan dengan tubuh yg saling menghadap


''akhirnya aku menemukan mu'' batih Darren senang


Ya gadis itu adalah Violine, setelah selesai dari toilet Vio bergegas ingin pulang tapi tanpa sengaja malah menabrak seseorang ketika di siku jalan menuju toilet.


''tahan ya, mungkin agak sedikit perih'' ucap Vio


Darren hanya mengangguk diam, tapi matanya masih terus menatap gadis yg mengobati nya itu.


''sebaiknya nanti jangan terkena air dulu''


''sepertinya hanya luka kecil''


''tapi ini berdarah tentu saja harus di obati''


Vio membongkar ransel kecil nya dan terlihat bingung yg menarik perhatian Darren.


''kamu mencari apa??'' tanya Darren penasaran


''plaster, aku selalu membawa nya'' jawab Vio tanpa melihat


''kalau begitu tidak ditutup juga tidak apa-apa ''


''tidak bisa, nanti bisa masuk kuman dan akhirnya menjadi infeksi itu luka berdarah kamu tidak bisa membiarkan nya begitu saja '' celoteh Vio yg masih sibuk mencarinya


''bagaimana kalau sapu tangan saja?'' tawar Darren


''ahh, benar juga''


Vio pun mengeluarkan sapu tangan nya. Darren tidak bermaksud ingin memakai sapu tangan Vio saat dia ingin mengeluarkan sapu tangan di saku belakang nya via sudah lebih dulu mengikat milik nya. Ada senyum puas di wajah Darren tapi saat melihat rombongan Gery dan anak buah nya Darren mengangkat tangan nya dan melemparkan kode dengan kedua mata nya.


Gery yg paham langsung berhenti dan menjaga jarak. Walau masih bingung dengan Tuan nya tapi melihat kondisi sekitar seperti nya tidak berbahaya selain punggung gadis yg terlihat dari pandangan Gery.


''ada apa??'' tanya Vio bingung melihat wajah Darren


''auw,, tiba-tiba terasa sakit'' alasan Darren


Namun dengan polos nya Vio malah meniup luka yg sudah di balet rapi dengan sapu tangan putih milik nya itu. Darren merasa menang sekarang hanya berjarak beberapa Senti saja dari gadis itu Darren bisa mencium aroma shampo nya dan juga aroma tubuh nya. Siapa sangka gadis yg di cari-carinya justru muncul saat dia lengah begini.


''sudah lebih baik??'' tanya Vio yg kembali duduk dengan benar. ''sudah, terima kasih'' balas Darren yg mencari sesuatu di saku nya, namun akhirnya dia meninggalkan nya dia ruangan nya tadi.


''sial!!, Kenapa aku malah meninggalkan nya'' batih Darren


''aku yg berterima kasih karena kamu menolong ku''


''baiklah, kita impas'' ucap Darren dengan mengangkat lengan nya yg di balut oleh Vio.


''aku Darren'' dengan menyodorkan tangan nya


'' Violine, Violine Al'bareck ''


''nama yg cantik'' puji Darren


''terima kasih, kalau begitu aku permisi dulu''


Vio bangkit dari duduk nya yg juga di ikuti oleh Darren.


''apa aku bisa meminta kontak mu??''


''emh, lihat'' Vio menunjukkan layar ponsel nya yg retak


''apa karena jatuh tadi??''


''tidak tapi aku menjatuhkan nya tadi di toilet ''


''apa tidak ada yg lain, mungkin suatu saat aku ingin mengembalikan sapu tangan mu??''

__ADS_1


''mungkin saat kamu ingin mengembalikan nya, aku sudah tidak disini'' Darren yg bingung dengan jawaban Vio


''sebaik nya, aku kembali ya aku harus kuliah lagi''


Vio berbalik dan meninggalkan Darren tapi baru beberapa langkah Vio berbalik dan tersenyum.


''senang bertemu dengan mu, Darren''


Vio pun melambaikan tanga nya lalu berjalan keluar bandara tanpa disadari tangan Darren juga ikut melambai.


''Tuan?''


''Gery, aku menemukan dia''


Dengan pandangan nya yg kurus kedepan melihat punggung gadis yg sudah menghilang.


''maksud anda wanita tadi, gadis yg selama ini kita cari?''


''benar!!''


Gery yg merasa ini sebuah kebetulan yg besar.


''kalian ikuti dia!!''


''tunggu!!'' potong Darren para pengawal termasuk Gery pun terdiam memandang Tuan nya.


''Leo!!''


'' Ya, Tuan?''


''kau menyusul untuk ku nanti malam, sekarang aku punya tugas untuk mu''


'' saya akan melaksanakan nya, Tuan''


Leo yg masih menunduk menunggu perintah dari Darren


''kumpulkan semua data tentang Violine Al'bareck''


"Aku ingin kali ini tanpa kesalahan, dan waktu nya hanya enam jam dari sekarang!!'' ancam Darren


''baik, Tuan saya mengerti''


'' pergilah''


Leo pun langsung pergi, ini akan menjadi pekerjaan terberat nya tapi mengingat jasa Darren dalam hidup keluarga nya membuat Darren puas adalah prioritas Leo.


''kita harus segera berangkat, Tuan'' ajak Gery


''ayo'' Darren pun berjalan masuk menuju kabin pesawat nya. Hati nya lagi di atas awan sekarang seperti nya jalur yg di ambil nya untuk melakukan penerbangan lewat jalur terbuka adalah hal yg benar, karena dia bisa menemukan gadis yg di cari nya tanpa susah payah.


''saat kita bertemu lagi, berarti takdir sudah memberikan kamu padaku. Violine Al'bareck '' sunggingan senyum terlihat di wajah Darren yg kini sudah dudu di kabin pesawat dengan kabin bisnis.


''sepertinya tanpa kopi Tuan sudah terbangun, sekarang ''


Batin Gery yg memandang Tuannya senyum sendiri dengan pandangan mata yg ntah kemana.


Kini sudah tiba hari ujian terakhir Vio, akhir-akhir ini selera makan Vio lagi sangat baik entah karna vitamin yg Bible berikan atau memang bawaan calo bayi nya.


''Vii??'' panggil Bella


''ya'' menjawab sambil terus memakan makanannya


''aku rasa berat badan mu bertambah??''


''benar, ternyata bukan aku aja yg perasa'' Tasya yg ikutan


''benarkah??''


''aku rasa mungkin salah Bell''


Mereka pun melanjutkan makan, dan keluar dari tempat makan yg biasa mereka makan selesai belajar.


''Bell, Tas kalian temani aku ya''


Bella dan Tasya yg berjalan di depan langsung terhenti dan berbalik memandang heran ke Vio.


''kemana??'' Tasya Bella bersamaan


''ke rumah sakit'' Vio yg masih nada santai nya


''kamu sakit ya??, Atau ada yg tidak nyaman''


Bella yg panik memutar-mutar tubuh Vio memastikan apa ada yg aneh. Tasya menghentikan nya dengan menarik Bella agar berdiri kembali disebelah nya.


''apa ada yg kamu sembunyikan dari kita, Vio??''


Tasya dengan ajah judes nya melipat tangan didada nya


''kalian akan tahu nanti, ok''


Goda Vio yg mengedipkan mata nya. Sedangkan kedua teman nya mengernyit kening nya.


Masih dengan wajah bingung nya dua sekawan ini hanya berdiam di tempat sampai suara klakson mobil membuat kalian terperanjat kaget.


''Viiiiiooooo!!!!!?'' teriak kedua nya bersamaan


''haha, ayo kenapa kalian diam saja''


Terdengar suara renyah tawa Violine di dalam mobil. Vio yg setiap malam Bible selalu mengingatkan tentang kandungan nya. Kini menjaga nya perlahan seperti saat ini Vio memilih duduk di sebelah setir karena lebih aman untuk anaknya.


Dalam perjalanan Vio hanya diam dan menikmati jalanan, dari jendela mobil dengan hawa dingin dari kedua temannya.


''Vii, tunggu-tunggu ''


Bella menarik tangan Vio sebelum berjalan masuk dalam rumah sakit.


''sudah, ayo ikut saja'' dengan susah payah Vio menarik tangan kedua teman nya hingga berhenti di pendaftaran.


''kalian tunggu sini sebentar, ya'' ucapnya


Vio dengan telaten mengisi formulir pendaftaran, setelah selesai Vio menarik lagi kedua temannya ke ruangan.


''Obgyn?!!'' kedua nya saling pandang


''Yes'' jawab santai Vio yg cekikikan


Sebenarnya sudah lama Vio ingin memberi tahu kedua temen nya ini, tapi dia tidak ingin menambah beban kedua nya temannya. Tapi ujian telah usai sudah saat nya dia akan pergi menyusul Bible menurut Vio ini waktu yg tepat untuk mengejutkan kedua temennya.


''VIOLINE AL'BARECK??''


''ya'' Vio langsung bangun


''ayo??, Kalian tidak mau melihat calon anakku?''


Vio melenggang pergi meninggalkan temennya


''anak??''

__ADS_1


''Vio, punya anak? Bell aku tidak lagi halusinasi kan?''


''sudah, ayo masuk setelah ini kita akan hajar dia!!'' Kesal Bella


''Nyonya Violine??, Silahkan naik'' tawar dokter wanita itu


Vio pun naik di brankar dan tiduran disana.


''Nyonya, kenalkan saya Dokter Tiffa'' sapa Dokter ramah


''salam kenal Dok'' Vio membalas senyum


''maaf ya, saya naikkan baju nya?''


Setelah memberikan gel di atas perut Vio Dokter meriksa nya terlihat di monitor gumpalan kecil, Bella dan Tasya yg sempat Kecal tadi kini berubah berdecak kagum baru kali ini mereka melihat calon bayi dengan mata kepala mereka sendiri. Kedua nya malah bengong di depan layar yg membuat para Suster yg melihat mereka menahan tawa. Siapa yg tidak akan tertawa dengan melihat kedua dengan mata yg melotot dan mulut yg sedikit terbuka hanya berdiam di depan layar monitor.


''selesai,, Sus tolong bantu bersihkan ya'' pinta Dokter


Vio yg selesai langsung duduk di depan Dokter menunggu hasil gambar calon bayi nya dengan sumringah.


''Nyonya, kesehatan bayi dari detak jantung sangat bagus terus jaga pola makan dan jangan terlalu stres ya. Kalau bisa banyak-banyak mengajak calon bicara calon bayi Nyonya anda bisa bicarakan ini dengan calon Ayah nya.''


Mendengar kata 'Ayah' ada denyut dihati Vio tapi setelah itu dia langsung menepis kan agar tidak terlarut.


''baiklah, terima kasih Dokter'' pamit Vio


''sama-sama, Nyonya terus minum vitamin nya ya''


Mereka pun keluar dari ruangan Dokter berjalan bersama, tak jauh dari rumah sakit ada sebuah caffe ketiga nya langsung menuju kesana.


''Ini untuk kalian'' ucap Vio memberikan hasil USG anaknya


''sejak kapan, Vii??''


''dua Minggu yg lalu''


''dan kamu baru beritahu kami sekarang??''


''maaf, aku tidak bermaksud''


''apa ada lagi yg ingin kamu beritahu kan kepada kami?''


Tasya yg sedari tenang kini membuka suara.


''ada,''


Kedua nya tampak diam, dan saling lempar pandang setelah pelayan mengantarkan pesanan mereka barulah Vio memegang tangan kedua temannya itu, suasana caffe sedikit tenang membuat ketiga nya lebih mudah untuk berbicara.


''mungkin ini akan jadi hari terakhir kita bertemu''


''hah!!!??, Apa maksudmu Vii??''


''disini terlalu menyakit kan, sudah tidak ada alasan ku berada disini '' jelas Vio yg menahan air mata nya


''kamu punya kami, ada aku Tasya dan Suster Lalisa'' kamu punya kami bagaimana bisa kamu bilang tidak memiliki siapapun'' ocehan Bella yg sambil menangis sekarang


''Bell, aku tahu kalian ada untukku tapi disini banyak luka untuk ku tentang Kak Anan samapai kejadian malam itu. Semua nya begitu menghantui ku'' kini Vio terdengar sendu


''Vii, luka itu akan ada dimana pun kamu pergi. Kuncinya adalah kamu yg harus bergerak maju dan melupakan semua yg menyakit kan secara perlahan dengan berbarengan soal waktu.'' Tasya menghapus air mata Vio


''aku tau? Untuk itu aku ingin memulai nya dari tempat lain''


Bella yg sedih membuang wajah nya ke arah lain dengan mengibas-kibas kan tangan di depan wajah nya.


''lalu kamu akan kemana??''tanya Tasya lembut


''paman Zakir sudah pengurus beasiswa ku, mungkin aku akan ikut mereka ke NY''


''maksud mu Papa Bible??''


''iya, sebenarnya Bibi Luci ingin aku ikut pergi dengan mereka kemarin tapi aku minta waktu sampai selesai ujian dan aku ingin bicarakan ini juga dengan kalian.'' jelas Vio


''kalau itu pilihan mu, kami akan selalu mendukung mu''


''benarkah, Bell??'' Vio yg antusias


''emh, setidaknya ada Bible disana tadinya aku pikir kamu akan pergi di tempat yg jauh dari kami melarikan diri membawa anak mu seperti di novel-novel '' celotehan Bella merubah suasana yg serius jadi caik kembali masih dengan tangis ketiga nya malah tertawa.


''tapi apa yg dikatakan Bella benar, itu hanya NY kami bisa kesana kapan pun kami mau'' Tasya menarik tangan Vio meletakkan di pipi nya.


''emh, datanglah aku juga ingin selalu mengenal kan kalian dengan calon anak ku. Dengan bangga aku akan bilang kalau dia punya dua aunty cantik dan strong'' canda Vio dengan mengangkat tangan kecil nya seolah ada otot disana


''kalau begitu, sebagai calon ibu kamu harus banyak makan biar bayi nya sehat'' timbal Tasya yg menyuapi makanan ke mulut Vio.


''boleh aku memegang nya?? Vii''


''tentu, kemarilah''


Vio memundurkan kursi nya membuat kedua kepala temannya ada di depan perut nya mengelus nya lembut.


''apa dia bisa mendengar??''


''mungkin, tapi belum interaksi usia nya masih tiga Minggu''


Jelas Vio yg tersenyum puas kini dia merasa benar-benar tidak sendiri lagi.


Hari sudah mulai gelap saat Bella dan Tasya ingin mengantar Vio, tapi mereka justru tidak membawa Vio ke panti mereka memilih membuka kamar hotel untuk mereka ini menikmati momen sebelum besok harus mengantar Vio ke bandara.


Ketiga menceritakan semua hal, sampai membuat perjanjian bertiga dengan dalih mereka akan membawa anak Vio kalau dia mengingkari nya, walaupun terlihat serius tapi Vio bahagia kali ini dia benar-benar merasa kalau dia tidak sendiri bahkan sebelum anak nya lahir sudah banyak yg menyayangi nya.


''aku pergi ya'' pamit nya dengan memeluk kedua temannya


''take flight ya Vii, sering-seringlah beri kabar ketika disana, ok" Bella terus menimpali nya dengan rasa khawatir


''iya-iya, aku akan sering menelepon nanti kalian juga jika tidak sibuk datanglah kesana'' balas Vio


"Sudah, ayo kita berangkat sayang?'' ajak Luci


Pagi ini sesuai janji Luci dia sendiri yg menjemput Vio, dengan di antar oleh dua temannya Vio sudah senang Suster Lalisa tidak bisa mengantar karena harus ada sesuatu yg harus dia kerjakan. Bahkan sampai saat ini pun Suster Lalisa'' masih belum tahu soal kehamilan nya.


Luci dan Vio kini sudah berada di dalam pesawat, wajah gusar Vio jelas terlihat Luci selalu coba menghibur nya dengan beberapa cerita ketika mereka dulu pertama kali sampai di NY


Vio yg awalnya terlihat murung, kini mulai ceria lagi.


''kamu makan ya?,'' tawar Luci


''iya Bii, terima kasih''


''sama-sama, Sayang''


Beruntung nya bagaimana pun mood Vio tapi tidak pernah berpengaruh ke nafsu makan nya. Sebenarnya Luci tau ini dari Bible karna anak nya hampir setiap hari selalu berbicara dengan Vio jadi sudah pasti tahu perkembangan kehamilan Vio.


Setelah makan Vio yg bersandar dengan pandangan ke jendela merasa berat dengan kedua mata nya, lama kelamaan rasa kantuk memburu nya hingga tertidur. Luci yg melihat nya menjadi gemas wajah cantik itu dengan mata terpejam tapi masih menggembungkan kedua pipi nya.


''bolehkah, aku berharap kamu akan terus menjadi Putriku''


Ucap nya lembut dengan mencium kening gadis yg tertidur itu. Menyelimuti nya dan menggenggam jari Vio, entah kenapa Luci bisa begitu sayang dengan Vio sejak awal melihat nya di panti. Dan tidak berubah hingga sekarang.

__ADS_1


__ADS_2