Pesawat Kertas Zeffan Al'Bareck

Pesawat Kertas Zeffan Al'Bareck
ingin melihat cucuku


__ADS_3

***


Vio tak bisa tidur dengan semua pikirannya, membayangkan sosok laki-laki yg Bible tahu, tapi dia tidak tahu dan pikiran buruk selalu terlintas di kepalanya.


Keadaan Vio juga tida jauh beda dengan Bible, dia yg memilih tidur di sofa sedari tadi mengotak-atik ponselnya. Melihat kembali kenangan nya bersama Zeffan kecil


Air mata nya tak bisa bohong dari perasaan nya, takut kehilangan adalah alasan terbesar nya saat ini tapi Bible tahu dia tidak bisa menunjukkan perasaan ini ke Zeffan apa lagi Vio.


Hingga akhirnya kantuk menguasai nya, dengan memeluk ponsel yg masih ada foto Zee disana Bible masuk ke alam mimpinya.


Vio keluar dari kamar ingin pindah ke kamar Zeffan, namun langkah nya terhenti melihat Bible yg sudah tertidur.


''apapun yg terjadi nanti di masa depan, bisakah kamu jangan lepaskan kami Bii? Kami terbiasa denganmu'' Vio memegang erat tangan Bible


Setelah itu dia bangkit menutupi tubuh Bible dengan selimut dan masuk ke kamar Zee yg sudah tidur sedari tadi.


***


''kamu tidak ingin tidur? Hari sudah hampir subuh'' Leo masih mengusap rambut Bella yg dia biarkan bersandar di dada nya


''apa kamu akan pergi jika aku tertidur?'' suara serak Bella


''bahkan jika kamu sadar pun aku akan tetap harus pergi, ada pekerjaan yg harus aku selesaikan'' Leo menarik dagu wanita yg wajah nya sembab setelah menangis itu


Cup,,,


Leo mencium nya sekilas, namun tidak ada reaksi apapun dari Bella.


''istirahatlah, aku harus pergi sekarang'' Leo membenarkan posisi Bella di ranjang nya.


Leo masih menatap nanar wajah Bella banyak rasa kagumnya pada sosok Bella yg cantik dan juga termasuk sederhana.


''apa kamu akan datang lagi? Jika aku panggil''


''bukankah kamu yg bilang aku bukan manusia jadi aku bisa muncul kapanpun aku mau'' Leo mengusap kening Bella dengan ibu jari nya


Bella hanya tersenyum tipis


''tennag saja aku akan buat lelaki itu tidak berani mendekati mu, dan tidak akan pernah ada yg berani '' tatapan Leo tiba-tiba menjadi tajam


Jika biasa nya Bella akan takut, tapi kali ini justru Bella merasa tenang akan ada orang yg melindungi nya.


''aku pergi, good night sweet girl''


Cup,, setelah mencium pipi Bella Leo benar-benar pergi hanya beberapa detik saja bayangan Leo sudah tidak terlihat di kamar Bella.


''good night, my Titan'' ucap Bella ke arah Leo menghilang


***


Pagi ini Darren bangun dengan menhan sakit dikepalanya, Darren turun ke bawah dengan Gery dan Leo yg sudah menunggu nya.


''selamat pagi, Tuan?'' sapa keduanya yg kini sudah duduk di meja makan.


''dimana?? Mama, Pa?'' tanya pada Balgas yg duduk didepannnya


''entahlah, sejak tadi Mama mu hanya berdiam wajah nya juga murung aku sudah bertnya tapi dia tidak mau menjawab''


''kalau gitu aku temui Mama dulu'' Darren bangkit dari tempat nya, Darren sudah tahu dia harus kemana.


Berjalan ke taman yg ada di samping rumah benar saja Silvia duduk disana sendirian, entah apa yg wanita itu pikirkan hingga tidak menyadari Darren sudah ada disamping nya seraya meletakkan teh yg biasa di minum olehnya.


''Ma?'' Darren menyentuh pundak Mama nya


''eh, Ren? Kamu belum pergi ke kantor?''


Darren dapat melihat kerutan diwajahnya seperti ada yg mengganggu pikirannya.


''Mama kenapa disini? Apa ada yg Mama pikir kan?''


''jika Mama katakan, maukah kamu jujur pada Mama?'' mata Silvia menatap ke Darren dalam berharap anaknya tidak akan lagi menutupi sesuatu dari nya


''apa ada yg ingin Darren katakan pada Mama?'' Silvia terus bertanya pada lelaki yg hanya tetunduk memegang tangan nya.


''Ren, kamu tahu kalau Mama selalu mendukung apapun yg ingin kamu lakukan, kamu tahu kenapa?'' Darren berali menatap ke Silvia


''karena Mama bukan hanya ingin menjadi Mama mu, tapi juga ingin jadi teman yg bisa Ren percaya ketika ada masalah'' suara lembut Silvia masuk ke hati Darren.


''apa Ren ingat apa yg Ren katakan tadi malam pada Mama?'' Darren henya menggeleng kan kepalanya, mabuk nya tadi malam tidak bisa membuat Darren mengingat apapun.


Silvia menunjukkan wajah sedihnya...


Akhirnya Darren menceritakan malam kelam nya hingga menghancurkan hidup seorang gadis yg tak berdosa, Silvia menangis tak percaya dengan apa yg telah Putra kesayangan nya perbuat.


Silvia memegang erat dada nya yg terasa sesak, nafas nya terasa menyangkut ditenggorokan nya.


''Ma? Mama?? Ma lihat Darren Ma''


Darren mengelus pipi lembut wanita yg seperti kesulitan bernafas ini.


Darren bersimpuh di depannya meletakkan kepalanya di pangkuan Silvia.


''Darren minta maaf Ma? Darren sudah mengecewakan Mama'' Silvia yg mulai bisa mengatur nafas nya memegang kepala yg menangis di pangkuan nya.


''tanggung jawablah nak, Mama tidak diberi tuhan memiliki seorang Putri apa jadinya jika Putri Mama dirusak oleh orang lain Ren?'' pandangan Silvia kini goyang dengan suara sendu nya.


''Darren sedang memperbaiki nya sekarang Ma, hanya saja dia tidak tahu jika Darren adalah orang yg menyakiti nya''


''kalau begitu biarkan Mama bertemu dengannya?''


''tidak, Mama tidak bisa'' Darren berkata lembut


''kenapa?? Ada cucu Mama disana biarkan Mama yg menemui nya dan meminta pengampunan dari gadis itu dan orangtuanya''


''dia gadis yatim piatu, Ma''


''apa??!''


Darren hanya bisa mengangguk pasrah


''astaga!! Darren setan apa yg merasuki mu nak? Bagaimana bisa kamu menyakiti gadis yg hanya hidup sebatang kara seperti itu??'' Silvia memijit pelipisnya


''Darren waktu itu benar-benar dikendalikan oleh emosi Darren Ma, sekarang karma sedang berjalan ke arah Darren'' matanya berkaca-kaca menatap Silvia


''tidak ada ketenangan dalam hidup Darren Ma, apalagi setelah Darren tahu gadis itu begitu tulus dan punya sisi keibuan batin Darren semakin tersiksa, Ma'' Darren yg masih dalam posisi duduk memeluk pinggang Silvia


''minta maaf lah padanya nak, Mama yakin jika kamu memiliki hati yg tulus dia akan memaafkan mu'' Silvia mencium puncak kepala Darren


''tapi saat ini tidak bisa Ma?'' Darren mengangkat kepalanya


''kenapa?''


''masih ada urusan dengan Chelsea yg harus Darren selesai kan lebih dulu''


''Mama akan membantu mu soal keluarga Deralt, tapi Mama minta bawa gadis itu dan cucu ku pulang kesini''

__ADS_1


''Darren akan membawa nya, Darren janji'' Darren mencium kedua tangan Silvia


''dan untuk keluarga Deralt, Darren minta Mama jangan ikut campur ya biarkan Darren yg turun tangan karena Darren punya keyakinan kalau mereka memanfaatkan kebaikan Papa''


''apa maksud kamu, Ren?''


''ini hanya rasa curiga Darren, saat ini Darren sedang menyelidiki nya jadi Darren mohon jangan biarkan mereka curiga terlebih dahulu karena Darren baru menyadari jika keluarga Deralt bukan orang sembarangan'' penjelasan Darren pada Silvia


Meskipun Silvia selalu hadir dan membantu Balgas dalam bisnisnya tapi baginya dunia bawah tidak pernah dikenalnya, sebab itu dia hanya mengerti soal bisnia dan tidak pernah mau ambil pusing soal musuh yg mungkin saja bisa membahayakan nyawa nya.


''tapi, Ma apa Darren bisa minta sesuatu?''


''ada apa??'' balas Silvia lembut


''bisakah untuk soal ini kita rahasiakan dulu dari Papa?,''


''tapi Papa mu berhak mengetahui nya, Ren?''


''Darren tahu Ma, tapi kesehatan Papa sedang tidak baik akhir-akhir ini'' Silvia mengangguk


Darren kembali memeluk Silvia, dada nya yg kemarin terasa sesak mulai seperti lega walaupun sedikit.


''lalu, sampai kapan kau akan memberi tahuku?'' suara tegas Balgas membuat keduanya memutar kepala


''Papa??'' terlihat Balgas yg duduk di kursi roda di dorong oleh Gery dan juga ada Leo dibelakangnya.


''apa begini sikap seorang laki-laki turunan Andreason??'' Darren dapat melihat tatapan tajam dari Papa nya.


''apa aku dan mendiang kakek mu pernah mengajarkan kamu lari dari masalah, Darren Anderson!!''


Plak,,,


''Pah??'' Silvia menutup mulutnya yg terkejut


''Tuan, anda harus tenang'' ucap Gery dibelakangnya


''tenang? Menurut mu apa tindakan dia sudah benar?!!''


Balgas masih dikuasai oleh amarah nya


Balgas yg tak selera sarapan karena Putra dan istrinya tidak ada di meja makan, Balgas ingin menyusul mereka yg berada di taman samping. Tapi betapa terkejut nya Balgas ketika mendengar kan semua percakapan ibu dan anak itu.


Balgas menggenggam erat tangan nya, menahan emosi nya karena menurut nya Darren terlalu pengecut untuk mengakui kesalahannya.


Seketika Balgas meminta Gery kesana, tapi Gery dan Leo malah meminta nya untuk mendengar lebih dulu.


''Pa, kamu harus mendengar kan dulu apa yg ingin Darren jelaskan'' pinta Silvia menenangkan suaminya


''aku sudah cukup mendengar apa yg ingin dia katakan, sekarang aku meminta mu bawa gadis itu dan juga anak nya kemari!!'' Balgas masih dengan suara tegas nya


''Tuan, kita ti-'' perkataan Leo terhenti ketika Darren mengangkat tangan nya.


''biar aku yg jelaskan'' ucap Darren dingin


Balgas masih saja menatap nya tajam dengan emosinya.


''Darren tidak bisa, Pah?'' Balgas masih diam dan Darren sudah tahu jika Papa nya ingin jawaban lebih.


''Paman Perth sudah bentak mengeluarkan statement ke media jika Darren sudah hampir menikah dengan Chelsea. Jika Darren tiba-tiba membawa nya kemari Papa bisa bayangkan apa yg akan orang lain katakan tentang nya, banyak cemoohan yg akan dia terima dan Darren tidak menginginkan itu Pah''


''keluarga Deralt, biarkan Papa yg akan meminta maaf langsung pada mereka''


''untuk kali ini, bisakah Papa dan Mama membiarkan Darren yg urus semuanya'' mata Darren menatap Papa nya


''baiklah'' Silvia tersenyum lega


Silvia sadar jika kesehatan suaminya adalah yg penting baginya, untuk itu melihat Balgas marah Silvia sangat mengkhawatirkan kondisi tubuhnya.


''kalu begitu, ayo kita masuk dulu sayang kamu pasti belum sarapan kan'' Silvia mengambil alih pegangan kursi roda milik suaminya dari tangan Gery.


''aku masih ingin memarahi nya!'' Balgas yg tak terima


''oke-oke, nanti setelah kita bertemu Dokter kamu boleh memarahi nya atau memukul nya aku akan membantu mu untuk saat ini kita pikirkan saja dulu kesehatan mu'' omel Silvia dengan memutar kursi roda masuk kedalam.


''Darren akan ke kantor, Ma''


''baiklah, pergi sana dan jangan kembali sebelum kamu bawa cucu ku kemari'' ucap Silvia tanpa melihat


Setelah kepergian keduanya Leo dan Gery melangkah mendekati ke arah Darren.


''apa rencana anda selanjutnya,Tuan?''


''aku ingin memancing Chelsea?''


''maksud anda??'' Leo yg penasaran


''saat ini kita tidak tahu dimana Perth dan aku yakin jika kita bisa memancing emosi Chelsea secara otomatis Perth dan Tessa akan muncul''


''saya baru mendapatkan kabar dari mata-mata kita tentang Tessa, tapi kalau Perth saya tidak yakin apakah dia ada disana '' Leo mengeluarkan ponselnya menunjukkan sebuah video amatir yg dikirim dari anak buah nya.


''Tessa dua minggu yg lalu baru membeli sebuah pulau pribadi Tuan, saat ini saya yakin dia akan tetap stay disana''


''Pulau pribadi?'' Gery mengernyit heran


''benar, dan yg lebih parah adalah baru-baru ini Tuan besar melakukan transaksi uang yg cukup besar ke akun milik Perth sudah dipastikan jika ini adalah akal-akalan keluarga Deralt itu lagi untuk memanfaatkan Tuan besar''


''semua laporan nya sudah saya letakkan di tempat kerja anda, jadi di perusahaan nanti anda akan lihat semua nya secara detail.'' jelas Leo mengambil kembali ponselnya


''jadi maksud mu kamu tidak akan ikut dengan kami?''


''untuk saat ini tidak, aku melihat kembali pergerakan dari anak buah Airen mulai turun dan membentuk orang yg membelot dari Tuan Darren'' ucap Leo tegas ke arah Gery


''jadi kau malam ini akan berangkat ke Wangshinton?''


''benar, Tuan pembelot seperti mereka jika tidak di basmi dan di beri pelajaran hanya akan manjadi hama di sekitar anda''


''baiklah, kamu terbang lah sore ini, Ger minta mereka menyiapkan Jet pribadi ku untuk Leo''


''baik Tuan''


''Tuan?''


''Leo, sudah ku katakan apa yg aku punya kalian juga berhak menggunakan nya selain wanita ku'' Darren menepuk pundak Leo dan berjalan keluar rumah menuju mobilnya


Leo dan Gery pun mengekorinya, hingga di depan mobil Leo hanya membantu membuka kan pintu untuk Darren.


''bertahan lah dulu beberapa hari disana, aku dan Gery akan menyelesaikan disini dulu setelah itu kami akan menyusul mu'' ucap Darren sebelum masuk


Leo hanya menunduk ke arah Darren sampai memasuki mobil


''berhati-hatilah'' Gery juga menepuk pundak Leo


''jaga Tuan Darren, aku yakin musuh mulai bergerak''


''aku tahu'' Gery pun masuk

__ADS_1


Setelah mobil milik Darren keluar dari perkarangan rumah, Leo juga ikut masuk ke dalam mobilnya menuju ke suatu tempat.


***


''kamu yakin tidak ingin istirahat, dulu?'' tanya Bible pada Vio yg terlihat pucat.


Sejak bangun pagi Bible dan Vio tidak ingin melanjutkan pembicaraan mereka semalam, mereka hanya takut terbaa perasaan hingga membuat Zee bingung dengan keadaan nya.


Setelah mengantar Zee ke sekolah, Bible mengantarkan Vio ke butik namun sejak pagi wajah Vio tidak terlihat sehat. Bible menyuruh nya untuk beristirahat tapi mengingat pekerjaan sedang menunggu nya Vio memilih tetap bekerja.


''aku akan baik-baik saja '' Vio berusaha tersenyum


''baiklah, kabari aku jika tambah parah'' Bible mengelus sayang rambut Vio yg tergerai


''emh'' Vio mengngguk dan keluar dari mobil, Bible mebuka kaca mobilnya karena Vio masih menunggu nya pergi.


''nanti siang aku ingin membawa Zee makan siang, jadi kamu tidak perlu menjemput nya''


''baiklah, aku mengerti terimakasih ya''


''gunakan waktumu sedikit untuk istirahat''


''baik Pak Dokter''


''oke, bay Vii''


''bay, hati-hati ya'' Vio melambaikan tangan ke mobil yg sudah hampir tak terlihat itu.


''Bella belum datang?'' Vio ketika melihat parkiran tidak ada mobil Bella, dan hanya beberapa motor milik karyawan yg bekerja di butik.


''selamat pagi, buk'' sapa beberapa orang karyawan


''selamat pagi '' Vio tersenyum ramah


''Bella belum datang ya?'' tanya Vio ke salah satu pegawai


''sudah buk, buk Bella sekarang berada diruangan nya''


''ohh, oke terimakasih '' Vio pun langsung naik ke ruangan nya


Meletakkan tas nya ke ruangan nya, dan keluar lagi keruangan Bella yg terbuka sedikit.


Tok tok tok,,


''eh, Vii?''


''boleh masuk?''


''tentu saja, masuklah'' Bella terlihat sedang menyiapkan beberapa kain di meja yg ada diruangan nya.


''kamu gak bawa mobil, Bell?''


''ohh, iya tadi pagi lagi gak mood aja buat nyetir'' balas Bella dengan nada yg tak biasa


''ada apa? Kamu lagi ada yg dipikirkan??'' Vio menarik pundak Bella agar melihat ke arahnya


Bella hanya mengangguk dan duduk di sofa yg diikuti oleh Vio,


''kamu tahu Mama ku sudah pulang tadi malam'' suara nya terdengar sedih Bella memeluk pinggang Vio yg duduk disebelah nya dan meletakkan kepalnya di pundak Vio.


''pantas saja tadi malam kamu langsung menghilang''


''apa Tante membawa calon lagi?''


Bella mengangguk pelan.


''aku tidak tahu harus berkata apa, tapi mungkin Tante hanya khawatir kalau kamu tidak memiliki pasangan'' Vio menepuk-nepuk lembut pipi Bella.


''tapi Vii, aku ingin memilih pasangan ku sendiri '' suara Bella mulai bergetar


''kalau begitu temukan dia, dan kenalkan pada Tante dan aku yakin semua nya akan beres'' Vio berbalik agar mereka berhadapan


Bella tertunduk.


''kenapa? Perasaan ku mengatakan kamu sedang dekat dengan seseorang??'' tatap curiga Vio


''kamu tahu dari mana?'' elak Bella


''Bella-Bella, aku kenal kamu itu sudah berapa tahun, hah? Jadi mana mungkin aku tidak bisa merasa kalau kamu lagi punya pikiran untuk orang lain'' Vio menarik hidung mancung milik Bella.


''apa lagi melihat itu'' tunjuk Vio pada jaket milik Leo yg bertengger di kursi Bella. ''siapa yg tidak akan curiga''


Bella hanya tersipu malu dengan ucapan Vio.


''lalu? Siapa dia?? Katakan ayo katakan'' Vio menggoyang-goyang tubuh Bella.


''Vii??''


''Vii? Oke-oke, stop?!''


''aku akan mengatakannya, oke'' Bella menarik tangan Vio dari pundaknya


''tapi tidak sekarang'' Bella bangkit


''dasar pelit'' Vio mengerucut kan bibirnya


''sudahlah, lupakan masalah ku bagaimana denganmu?''


Bella memberikan teh hangat ke Vio, karena ini juga kebiasaan mereka jika di butik selalu meminum teh dan bukan coffe.


''ada apa denganku?'' Vio mengalihkan pandangannya


''jangan bohong, aku tahu kamu pasti ada yg ingin kamu katakan padaku?'' Vio membenarkan duduknya ke arah Bella


''ini tentang Zeffan!''


''ada apa dengan Zee?''


''kemarin malam Bible mengatakan sesuatu padaku tenntang kejadian lima tahun yg lalu'' Vio menundukkan kepalanya.


''kejadian lima tahun yg lalu, berarti malam i-itu?'' pikir batin Bella yg tercekat.


''Vii? Jika kamu tidak nyaman, kamu tidak harus mengatakannya '' Bella matik dagunya Vio


''tidak, seperti nya sekarang sedikit lebih baik'' Vio tersenyum kepada Bella yg memandangnya sendu.


''kamu yakin?''


''iya Bell''


''baiklah, kamu bisa cerita tapi jika tidak nyaman kamu boleh berhenti dan aku janji tidak akan bertanya'' Bella mengangkat kedua jarinya


Vio mengatur nafas nya, berharap jika dia bisa menceritakan semua lukanya agar perasaan nya jauh lebih baik, karena Vio juga menyadari tidak ada lagi ketakutan nya tentang malam itu seperti beberapa tahun yg lalu.


***

__ADS_1


__ADS_2