
Darren pagi ini dengan tubuh berat nya melangkah keluar, dengan niat ingin menghirup udara segar. Pandangan murung nya jelas terlihat bahkan kapan dirinya pernah tidur nyenyak saja Darren tidak mengingat nya.
Duduk di taman yg tak jauh dari gedung apartemen milik Leo itu, banyak yg lewat selintas melihat ke arah Darren meskipun terlihat lusuh tapi garis halus di wajahnya tak mengurangi wajah tampan nya.
Tarikan di kemeja yg masih dikenakan nya dari semalam membuat Darren melihat ke arah samping nya.
Degg,,,
''Zeffan??'' batinnya
''Paman? Apa kamu sedang bersedih?''
Mata Darren berkaca-kaca melihat bocah laki-laki itu menyapa nya.
''tidak, dari mana kamu tahu aku bersedih''
''wajah Paman seperti wajah Mama ku ketika aku sakit''
Celetuknya dengan dahi mengernyit.
''apa orang dewasa selalu bersedih ya?'' ucap nya lagi karena melihat Darren hanya diam.
''lalu? Apa kamu bisa menghibur ku?'' Darren penuh harap
Tapi siapa sangka Zeffan malah menempel kan tangan kecilnya tepat di dada Darren, jantung Darren makin berdetak kencang.
''janting Paman tidak sehat'' celetuk nya dengan kepala yg kini mendekat ke dada Darren.
''bagaimana kamu tahu??'' tanya Darren yg mulai gugup
''CK, Paman Papa ku itu dokter tentu saja aku tahu!!''
Zeffan memasang wajah masam nya.
''aku tidak pernah segugup ini??'' Darren dengan pikiran nya
''Paman?,, Paman apa kamu baik-baik saja??''
Panggil nya lagi dengan menggoyang lengan Darren
''aku baik-baik saja ''
Zeffan memutar duduk nya agar searah dengan Darren, karena agak sedikit goyang tangan kecilnya menempel diatas paha Darren ada senyum tipis di wajah Darren melihat Zeffan yg lebih dulu mendekati nya.
''apa kamu tidak takut dengan orang asing?''
''tidak Paman karena aku anak laki-laki ''
''tapi tetap saja kamu masih kecil, bagaimana kalau ada yg menculik mu??'' Darren yg mulai penasaran
Hahahah,,,,
''Paman, Papa ku sudah menanam chip disini'' unjuk nya pada dada nya setelah tertawa karena ucapan Darren
???
Darren makin terlihat bingung, jika biasa nya dia hanya berhadapan dengan rival bisnisnya kini harus berhadapan dengan anak kecil yg membuat Darren sulit memahami.
''Paman coba pegang?''
Zeffan menarik tangan Darren ke dada nya.
''kata Papa ini adalah chip selama dia masih hidup (berdetak) Papa akan selalu menemukan ku'' ucap nya yakin dengan wajah polosnya
''ah, aku mengerti sekarang'' Darren menggelengkan kepalanya, merasa gemas dengan pola pikir Zeffan.
''lalu, dimana orangtuamu kenapa kamu sendirian disini?''
''Aku dengan Mama ku''
''lalu dimana dia?''
''disana'' unjuknya dengan menggunakan bibirnya
Terlihat wanita yg jarak nya cukup jauh dari mereka yg sedang sibuk dengan ponselnya.
''bukankah ibu mu akan mencari mu nanti?''
''aku ini sudah besar Paman, lagi pula Mama akan tahu jika aku disini'' jelas nya
''lalu apa yg membuat Paman sedih?'' tanya nya lagi
Darren membuang nafas nya dengan tersenyum
''ternyata dia cukup dewasa dalam membaca suasana sekitar '' batin Darren
''aku hanya merindukan seseorang'' ucap Darren lembut
''kalau begitu Paman harus menemui nya'' balasnya mantap
''apa menurut mu dia mau bertemu denganku??''
Darren memutar kepalanya agar melihat jelas wajah Zeffan
''apa kamu tidak menyadari wajah kita mirip?'' lirih batinnya
''tentu saja, Paman kan tampan eh?? Salah maksud ku Paman cukup tampan walaupun tidak setampan Papa ku''
''sebenernya kamu ingin menghiburku atau menghinaku?''
Darren kembali memakai wajah datar nya
''Paman?'' Zeffan berdiri diatas dan menepuk pundak Darren seolah mereka adalah teman dekat.
__ADS_1
''Paman tampan aku sungguh-sungguh, tapi Papa ku lebih tampan Paman mengerti kan?'' nada santai Zeffan dengan mengedip ngedipkan kedua mata nya
''emh!!,'' suara malas Darren
''lutut mu terluka?''
''oh ini, tadi tidak sengaja jatuh ditangga'' ucap Zeffan santai
''apa tidak sakit??'' Darren mulai panik ada noda darah disana yg sudah terkena celana Zeffan
''ini tidak sakit Paman?''
''ayo bersihkan?, Atau kita kerumah sakit saja''
Darren yg mulai terlihat panik bangkit dari duduk nya
''Paman? Aku baik-baik saja''
''lagi pula Papa ku adalah Dokter aku tidak perlu kerumah sakit'' ucapnya sambil membungkuk melihat ke arah ke Utut nya.
''tapi tetap saja itu luka akan terkena kuman kalau dibiarkan''
Darren yg mulai jengah menatap ke arah Zeffan.
''kalau begitu biarkan aku bantu balut,'' Darren pun mengeluarkan sapu tangan nya membalut lutut Zeffan dengan berjongkok di depannya.
''terima kasih, Paman'' dengan wajah ramah nya
''sama-sama'' Darren mengelus rambut ikal milik Zeffan
''siapa nama Paman?''
''namaku? Darren''
''baiklah Paman Darren aku Zeffan'' bocah laki-laki itu memberikan tangan nya yg disambut oleh Darren.
''apa Paman masih bersedih??''
''sifat nya terlalu dewasa untuk anak seusianya'' batin Darren
''tidak, karena kamu menghibur ku Zee''
''bukankah Paman harus memberi ku permen?''
''hah??, Permen?''
''iya, karena aku sudah menghibur Paman'' celetuk nya santai
''aku minta maaf ya, hari ini aku tidak punya permen bagaimana kalau kita berjumpa lagi aku akan membayar nya?'' Darren kaget karna Zeffan langsung memberikan jari kelingking nya.
''Paman janji ya??''
''emh, aku janji''
''Zee???'' teriak suara wanita
''Paman, Mama ku sudah memnggil aku harus pergi''
Zeffan merosot dengan cepat dari tempatnya. Dan langsung berlari kecil namun beri beberapa langkah bocah itu kembali dan tiba-tiba memeluk Darren yg masih jongkok ditempat nya.
''Paman tidak boleh sedih, ingat kita ini laki-laki''
Ucap Zeffan seolah memberikan nasihat nya pada Darren. Dalam sekejap tubuh memungil itu sudah berlari mengejar sosok wanita yg pasti adalah ibunya.
''terima kasih Zee, setelah semuanya lebih baik aku yg akan datang dan memohon maaf pada kalian'' imbuh nya dengan perasaan lirih.
Vio menggandeng tangan Zeffan masuk ke dalam mobil nya.
''kita tidak ke sekolah ya Ma?''
Tanya Zee yg melihat jalan berbeda dari biasa nya
''emh, hari ini Mama sudah izin dengan gurumu''
Vio tetap fokus ke jalan,
''lagian kita akan kemput Papa'' ucap nya yg melirik ke arah Zeffan yg langsung menatapnya
''bener Ma?'' Zee dengan mata berbinar nya
''iya, tadi Om Wisnu telpon Mama minta jemput Papa di bandara tapi Papa tidak tahu kita yg menjemputnya'' sesekali Vio mengelus rambut Zee yg duduk disebelah nya.
''yey,,,,,'' teriak riang Zeffan
''Zee seneng ya Papa pulang?''
''tentu saja Ma, aku sangat merindukannya'' masih dengan antusias nya.
''iya-iya, duduk yg benar ya nanti jatuh''
''baik, Ma'' Zee yg patuh hanya duduk dengan menggoyang kan tubuh nya ke kanan dan kiri, Vio yg gemas pun mencuri cubit pipi anak laki-laki yg biasa nya tak mau di sentuh wajahnya itu.
''terus bahagia seperti ini ya, Zee'' batinnya
Mobil pun kini sampai di bandara, setelah memarkirkan mobil Zeffan yg tidak sabar merosot turun bahkan sebelum Vio membuka kan pintu untuknya.
''Zee, hati-hati !!'' Vio yg berteriak ketika melihat Zeffan masuk ke dalam sambil berlari tak lupa dengan pesawat kecil myg selalu diwlbawa nya.
''cepat sekali lari nya'' keluh Vio yg mengatur nafas nya dengan berlari kecil mengejar Zee.
''Paman,??'' panggil Zee pada penjaga
''iya, adik ada yg bisa di bantu??'' penjaga itu yg gemas pada Zee berjongkok mengimbangi tinggi Zee.
__ADS_1
''apa Papa ku sudah sampai, Paman?''
''Papa kamu??'' tanya penjaga bingung
''iya Paman Papa ku sudah turun dari pesawat atau belum'' Zee yg mulai kesal berdacak pinggang, sedangkan penjaga itu celingukan berharap ada yg membanya menjawab.
''maaf, Pak ini anak saya'' Vio yg terdengar ngos-ngosan
''ohh ini anak mbaknya?''
''iya Pak, maaf ya'' Vio yg tidak enak membawa langsung Zee sedikit menjauh, lalu sedikit menurun kn badan nya.
''Zee, lainkali jika bertanya harus sedikit lebih sopan, boleh?''
Vio menatap mata anak nya agar dia mengerti
''aku bertanya Ma, tapi Paman malah tidak mengerti''
''mungkin Paman nya bukan tidak mengerti, tapi Paman nya hanya tidak mengerti'' Vio menjelaskan nya dengan lembut
''apa Paman nya tidak tahu pesawat?''
''Paman pasti tahu, tapi yg Zee tanya mungkin Paman nya tidak mengerti karena Paman itu hanya penjaga di bandara ''
Zee pun mulai mengerti mengangguk kan kepalanya pelan
''maaf, Ma'' lirih nya yg menunduk
''iya, tapi lain kali tidak boleh diulang lagi ya, mengerti ''
Zee hanya mengangguk kan kepalanya lagi.
''yasudah, ayo kita jemput Papa''
Senyum Zee kembali lagi, sambil berloncatan kecil Zee mengikuti langkah Vio dengan menggandeng tangan nya.
Sudah hampir sepuluh menit Vio dan Zee menunggu.
''itu Papa??'' unjuk Vio pada Zee yg mulai terlihat murung
''mana, Ma?'' belum siap Vio menunjuk, zee yg melihat sosok yg ditunggu nya dari jauh. Langsung berlari menerobos orang yg lalu lalang,
''Papa!!!?????''' teriak Zee yg menarik perhatian orang
Bible yg kaget melepaskan kacamata yg dipakai nya, senyum sumringah terpapar di wajah tampan Bible dengan berjongkok Bible membuka kedua tangan nya, dan siap menangkap tubuh kecil yg berlari ke arah nya.
''Zee??'' Bruuuuk.....
Bible hampir hilang keseimbangan nya akibat tabrakan Zee.
''kamu jempu Papa, hah??''
Bible menghujaninya denngan ciuman, namun Zee bukan menghindar justru tertaa riang dengan berusaha menyembunyikan wajah nya dileher Bible.
Tawa renyah Zee menarik perhatian orang dibandara, bahkan tak jarang ada yg memuji keakraban mereka. Ada juga yg sengaja mengelus lembut kepala Zee sambil berjalan karena menahan gemas melihat nya.
''Bible?'' sapa Vio yg mendekat
''Vii'' Bible bangun sambil menggendong Zee yg masih setia memeluk lehernya. ''iya, tadi Wisnu telpon katanya dikantor lagi sibuk'' Vio melemparkan senyumnya dan memegang lengan Bible yg terlihat bentuk otot nya dari kemeja Navi ketat yg dipakainya.
''kamu apa kabar??''
''aku baik, aku gak nyangka kalau kalian yg menjemput ku''
''ini namanya surprise, Pa'' ucap Zee dengan nada lucu tanpa melihat kan wajah nya, Bible yg gemas memeluk nya erat sambil mengelus punggung kecilnya. Sesekali mencium pundak bocah yg sangat di sayang nya ini.
''kamu langsung pulang??'' tanya Vio
''kayak nya aku ke hotel dulu, soalnya nanti malam ada pertemuan lagi, lagian pekerja rumah baru masuk sore ini meungkin rumah belum beres''
Setelah kejadian kebakaran disalah satu anak cabang force.co di NY, keuangan keluarga Paolo mulai terganggu untuk berhemat beberapa pekerja harus diliburkan karena takut tidak mampu menggaji, tapi setelah kini mulai membaik satu persatu pekerja mulai di panggil lagi.
''kalau begitu kamu ke tempat ku saja, besok baru pulang ke rumah utama'' ajak Vio yg memegang koper milik Bible
''apa bisa'' ucap Bible yg enggan
''kamu ini kayak siapa saja, lagian itu juga rumah kamu kan'' Zeffan langsung mengangkat kepalanya.
''iya, Papa tidur dirumah Mama ya Zee mau tidur dengan Papa'' pinta nya dengan memainkan kedua mata nya.
''baiklah,'' Bible yg gemas menggigit pipi anak yg di gendongan itu.
''sakit, Pa?'' keluh nya tapi masih dengan tawa keduanya
''sepertinya ada yg di lupa dengan Mama nih?''
Sindir Vio dengan melipat tangan didada nya.
''liat tuh Mama cemburu ''goda Bible namun bukan menenangkan kan Zeffan malah menutup mulut nya dengan cekikikan.
Vio hanya bisa menggeleng melihat tingkah keduanya.
''kita pergi sekarang??''
''ayo,'' Bible mau mengambil kopernya namun dihalangi oleh Vio
''biar aku saja'' ucap Vio yakin
''Tapi berat Vii''
''aku bisa, lagian ada yg lebih butuh kamu'' unjuk Vio pada Zeffan yg makin santai di gendongan Bible dengan meletakkan kepala nya di pundak Bible sambil kaki nya bergoyang di udara.
Mereka pun berjalan keluar bandara, tanpa mereka sadari dari tadi ada pasang mata yg memperhatikan mereka dari jauh, bahkan mata nya saja hampir melompat dari tempat nya.
__ADS_1