
***
Vio yg terbangun berjalan keluar kamarnya, terlihat Bible yg tertidur di sofa dan ada Wisnu juga yg sudah tertidur terlihat jelas jika cara tidur mereka tidak nyaman.
''Tuan?'' panggilnya ketika melihat Darren berdiam di balkon sendirian
''Vii?, Kamu belum tidur?'' Darren berbalik
''aku terbangun, kamu tidak bisa istirahat?''
"Bukan, aku hanya menunggu pagi sambil bersantai disini'' balas Darren dengan suasana redup
Vio berjalan ke arah dapur mengambil sesuatu sebelum memberikan pada Darren.
''minumlah, mungkin bisa membantu mu sedikit tenang Tuan'' menyerahkan secangkir kopi hangat
''kamu bisa memanggil ku Darren'' ucapnya sambil mengambil cangkir dari lengan Vio
Keduanya berdiri bersampingan dengan pandangan ke atas langit-langit yg masih terlihat gelap
'''kamu akan masuk angin jika berdiri disini dengan pakaian setipis itu'' Darren membalutnya dengan jas nya
''aku juga tidak biasa disini pagi-pagi buta begini'' gerutunya
''maka masuklah''
''kau memerintahkan ku?''
''bukan'' Darren memilih diam
''ternyata cukup keras kepala'' gumam batin Darren sambil senyum sartakis
"Aku akan terbang ke Washington''
''apa ada masalah?'' Vio melihat guratan bingung di wajah Darren
"hanya ada pekerjaan yg harus aku lakukan disana"
"lalu? Kenapa mengatakan nya??" sahut Vio
''tidak, aku hanya mengkhawatirkan kalian tapi di satu sisi aku juga harus pergi kesana" ucapan Darren tanpa melihat ke arah Vio
''aku tidak selemah itu, aku bisa menjaga diriku juga Zeffan''
''aku tahu, tapi tetap saja aku masih khawatir''
''jika khawatir kamu hanya karena rasa bersalah, aku akan katakan kami akan baik-baik saja" keyakinan Vio
Darren memutar ke samping agar Vio dapat melihat wajahnya
''aku merasa bersalah dan akan terus seperti ini, tapi di sisi lain aku tidak ingin apapun terjadi dengan kalian"
"Aku sendiri juga tidak tahu perasaan apa ini, tapi yg aku tahu aku hanya ingin memastikan kalian baik-baik saja di depan mataku sendiri'' timbalnya lagi
Ucapan Darren menyentuh perasaan Vio, melihat sorot mata Darren yg tegas tidak ada kebohongan disana. Tapi wajah itu juga masih menunjukkan wajah sedihnya.
"Di sisi kami ada kamu, juga Bible apa yg harus kami takutkan aku yakin kalian berdua akan selalu melindungi kami" Vio mencoba menghibur Darren.
"Kamu sedang menghibur ku sekarang?'' Darren menggoda nya dengan senyum jenaka
''tidak, mungkin hanya perasaan mu saja!'' Vio membuang arah
Sesekali Darren melihat ke arah Vio yg sedikit bersemu merah entah karena cuaca dingin atau karena ada disampingnya.
"Tuan?'' panggil Gery tiba-tiba
Vio dan juga Darren kompak ikut berbalik ke arah Gery yg baru masuk dengan laptop ditangannya.
Gery melihat ke arah Vio lalu ke arah Darren.
"Lanjutkan saja, tidak ada yg perlu ditutupi dari Vio mulai sekarang" Vio terkejut dengan perkataan Darren
Darren mengajak Vio agar duduk di kursi yg ada di balkon.
''sesuai perintah anda dalam beberapa menit kedepan kehebohan akan terjadi, dan saat semua media akan sibuk mencari data-data tentang Chelsea anda seharusnya sudah ada di pesawat'' jelas Gery menunjukan video dari laptopnya
"Bagaimana dengan orangtua ku?"
"Tuan Balgas dan Nyonya Silvia sudah berangkat ke Paris satu jam yg lalu sesuai yg anda minta''
''bagus, minta mereka agar tidak menarik nama Andreason dalam berita ini, jika ada yg berani membuka suara putuskan keuangan mereka agar mereka sadar sedang menyentuh siapa " titah dingin Darren
''baik Tuan, saya akan kembali lagi setelah pesawat anda siap" Gery undur diri dari Darren dan Vio
"Apa harus sepagi ini?'' Vio menahan tangan Darren yg berjalan keluar
''emh, anak buah ku sudah menunggu disana'' Darren mengambil lengan Vio
''kamu jangan khawatir, untuk beberapa hari kedepan aku bisa pastikan kalau Chelsea tidak akan menggangu kalian tapi aku harap kamu juga harus berhati-hati"
Darren mengambil laptopnya yg masih ada di meja, berjalan perlahan agar tidak menggangu Bible dan Wisnu yg masih tertidur.
"Kalau begitu hati-hati maaf tidak sempat membuat kan sarapan untuk mu'' Vio kini berdiri diambang pintu mengantar Darren.
''tidak apa, lagian kopi tadi sudah lebih cukup'' Darren melempar kan senyum ke Vio
Baru akan berjalan pergi Darren kembali berbalik
"Aku sudah mengakui kesalahan ku pada orangtua ku"
"Apa?!"
"Jangan khawatir aku belum mengatakan sepenuhnya tapi soal aku sudah memiliki anak mereka sudah tahu''
"Bagaimana tanggapan mereka?''
"Mereka memarahi ku, tapi disatu sisi mereka senang karena tahu mereka sudah memiliki Cucu''
"Jadi ka-?''
"Tenang saja aku belum memberikan apapun tentang Zeffan pada mereka, lagian aku juga sudah berjanji aku tidak akan mengatakan apapun tentang Zeffan tanpa izin darimu"
Vio tersenyum puas, hatinya mulai percaya pada Darren tapi tetap saja masih ada rasa takut di diri Vio kalau-kalau Darren akan mengambil Zeffan darinya.
"Baiklah, aku harus pergi" Vio pun iku melambaikan tangan ke arah Darren yg terus tersenyum padanya.
***
Cahaya Pagi sudah masuk lewat pantulan kaca apartemen, Wisnu yg sudah bangun lebih dulu beranjak pergi langsung untuk menyiapkan keberangkatan Bible ke New York.
Sedangkan Vio dan Bella masih sibuk di dapur dengan beberapa alat masak untuk membuat sarapan.
''Vii? Aku sudah menyiapkan sisa pembuatan gaun milik Nyonya Silvia, tapi masih ada pekerjaan lain yg aku tidak tahu bagaimana memulai nya''
__ADS_1
Vio yg menghadap kompor berbalik ke arah Bella.
''maksudmu?''
''maksudku ini tentang pembuatan pakaian untuk Putra nya"
''oh? Tuan Darren''
''emh''
Bella tidak melanjutkan pembicaraan saat melihat Vio kembali diam, sebenarnya Bella hanya basa-basi ketika membahas pekerjaan
"Kamu ingin bertanya sesuatu, Bell?" Kata Vio yg tahu jika Bella terus melihat ke arahnya
"Bukankah lebih baik jika kamu yg menjelaskan nya"
Vio menarik nafas nya sebentar
''aku tidak tahu harus memulai nya darimana"
"Jika kamu belum bisa, maka jangan aku tidak sedang memaksa mu" Bella menepuk pelan pundak sahabat nya
"Terimakasih ya, jika aku sudah mengerti semuanya aku akan menceritakan nya padamu. Oke?'' Vio mengedipkan kedua matanya.
"Emh, aku tahu" Bella memutar malas wajah nya
"Sudah selesai kan?'' tanya Bella
"Sudah, ayo bawa biar aku memanggil Zee dan Bible" Vio melepaskan apron nya.
"Zee? Ayo sarapan" mata Vio mencari sosok anak kecil itu tapi kamar itu justru terlihat sudah rapi dan juga kosong
"Kemana mereka??'' gerutu nya
Vio pun melangkah keluar kamar, sarapan juga sudah terletak di meja dan tersusun rapi tapi kembali lagi Bella juga tidak ada.
''Zee? Bella? Biben?? Kalian pada kemana sih?" Vio yg mulai kebingungan. Mengelilingi apartemen.
"Kalian mengerjai ku ya" kesal Vio yg tak melihat satu pun orang di dalam apartemen nya
Vio memilih membuka pintu untuk mencari mereka keluar dan baru akan membuka pintu.
Tadaaaaaa,,,, suprise 🎉🎉🎉🎉🎉
Vio menutup mulutnya tak percaya
''kalian??!"
Happy birthday Violine,,,,, serempak mereka bertiga
"Selamat ulang tahun, Ma" Zeffan dengan masih memakai piyama nya dan topi kerucut memegang kue kecil terlihat menggemaskan
Vio Tak tahan dengan perasaan harunya, air mata nya terjatuh dengan berjongkok Vio mengambil kue yg ada di tangan zeffan.
"Make wish Mom" ucapnya riang
Vio memejamkan matanya berdoa dalam hatinya untuk kebahagiaan semua orang.
Huuu,,,,
"Yeay????" Teriak Zeffan
"Terimakasih Sayang'' Vio mencium pipi kanan dan kiri Zee
"Terimakasih" Vio bangkit dan mengarah ke Bella dengan wajah cemberut nya.
"Happy birthday my dear" Bella merentangkan tangannya
"Kalian jahat" Vio memeluk Bella
"Ayo kita makan kue'' teriak Zee yg menarik tawa dari orang sekitarnya.
Keceriaan selalu terasa ketika Zeffan ingin memakan semua kue milik Vio, Bible tidak bermaksud ingin melarangnya tapi gigi Zeffan sering sakit jika terlalu banyak makan makanan yang manis.
''oh iya? Hari ini aku juga harus berangkat ke NY''
''kok tiba-tiba Bii?, Apa ada masalah??'' sahut Bella
''bukan gitu, aku hanya ingin pulang melihat orang tuaku"
''Zee boleh ikut Pa?" Bible yg gemas menggosok kepalanya
"Zee kan harus sekolah"
''tapi? Zee juga ingin ketemu PopA dan Moma" cemberut nya
"Emh, gimana nanti kalau sudah libur panjang kita akan kesana lagi dengan Mama"
"Beneran Pah?" Antusias Zee yg berdiri di kursinya
"Zee? Awas jatuh" Vio spontan menarik baju belakang Zeffan
"Iya Papa janji, sekarang Zee duduk"
Anak itu dengan senyuman gemas nya duduk dengan patuh ke kursi nya kembali.
"Apa ada hal penting Bii?'' Vio yg masih penasaran
"Tidak Vii, semuanya baik aku hanya ingin menjenguk mereka" "baiklah, titip salam aku pada Paman dan Bibi"
"Emh" Bible mengangguk
Bella dan Vio sibuk melanjutkan obrolan tentang pekerjaan sedangkan Zee yg sedang menonton cartoon kesukaan nya duduk di pangkuan Bible. Sebelum harus mengantar Bible pergi ke bandara.
"Apa Papa akan lama disana?'' kepala Zee kini bersandar di dada Bible
"Tidak, hanya beberapa hari saja"
"Oh?''
"Zee kenapa?'' Bible melihat ke arah Zeffan
"Apa tidak bisa Zee masuk saja di dalam koper Papa, agar Zee bisa ikut" kedua tangan kecil memegang pipi Bible
Ha ha ha ha,,,
"Kamu ini anak siapa sih,, hah? Kenapa sangat menggemaskan" Bible menghujani ciuman ke wajah Zee yg tertawa-tawa sambil menyembunyikan wajahnya.
"Ampun Pah'' teriak nya berulang-ulang
"Kenapa hah?? Anak nakal'' Bible tidak berhenti menggoda Zeffan yg memang mudah geli.
"Sudah-sudah, kalian ini'' Vio memisahkan dua lelaki yg beda umur itu dengan paksa.
__ADS_1
Tapi Zeffan masih saja mengejek nya dengan menjulurkan lidah nya ke arah Bible,
Bible pun terus berusaha menggelitik nya yg berada di gendongan Vio, Zeffan bersusah payah menyembunyikan wajah nya dari Bible yg terus menyerang nya.
Vio dibuat kewalahan dengan kedua nya yg membuat tubuh nya berputar kesana kesini.
"Awas Mah, ada monster!!'' Zee masih saja berteriak
"Hah? Hah? Aku adalah monster yg ingin memakan anak nakal yg menggemaskan" Bible menggemakan suaranya.
"Ha ha ha,,, ampun Pah??''
"Bii?!?'' Vio yg mulai capek
"Ha ha,,, oke-oke'' Bible menjatuhkan tubuh nya ke sofa mengatur nafas nya yg Ngos-ngosan.
Zee juga ikut merosot turun dari gendongan Vio, dan menindih tubuh Bible dengan tengkurap di atas nya.
"Masih ingin bermain?'' sindir Vio
Keduanya menggelengkan kepala mereka bersama
"Aku tidak yakin apa kalian akan benar-benar bisa berpisah beberapa hari'' Vio berdacak pinggang dengan membereskan beberapa barang yg terlihat berantakan di meja.
"Kalau gitu, Zee boleh ikut Papa kan?''
"Tidak!!!!'' ketiga orang dewasa itu bersuara bersama
Zeffan yg bingung turun dari tubuh Bible dan duduk disebelah nya dengan melipat kedua tangannya di dada.
"Zee? Papa akan segera kembali lagian kalau Zee ikut Mama dengan siapa?" Bujuk Vio
"Benar Zee, Aunty akan kesepian nanti" Bella mengerucutkan kedua bibirnya.
''baiklah Zee akan disini, tapi jika libur kita harus liburan dengan Popa dan Moma"
"Oke?'' Vio membulat kan kedua jarinya
"Mama janji?''
"Iya Sayang'' mereka menautkan kedua kelingking nya
"Tidak ada yg mengajak Aunty?''
"Tentu saja Aunty ikut, kita kan keluarga benarkan Pah?'' Zee melihat ke arah Bible meminta pendapat
"Benar, Good Boy" Bible mengacak-ngacak rambut Zee
''Bii? Nanti rambutnya berantakan lagi?!!'' Vio memukul lengan Bible.
Ha ha ha,,
Zeffan selalu senang jika melihat Bible yg selalu kalah dengan Vio.
"Kalian berdua terlihat lucu sekali" Zee masih saja tertawa
Bella ikut duduk dengan mereka dan mengangkat tubuh Zee agar duduk di pangkuannya
"Apa menyenangkan, hah? Mengganggu orang dewasa" Bella yg gemas menarik hidung mancung Zeffan
"Mereka berdua terlihat lucu kan Aunty?''
''emh, jika tidak pangeran kecilku tidak akan tertawa" Bella memeluknya erat Dangan bergoyang ke kanan dan kiri
"Aunty?"
"Ya??''
''Zee sudah mau lima tahun kan?" Zee menunjuk kan jari nya
Bella mengangguk dengan pertanyaan Zee
"Kenapa Zee?'' Bible dan Vio yg ikut penasaran
"Apa Zee sudah bisa punya adik?"
Uhhuuk uhhuuk,,, Bible tiba-tiba tersedak
Berbeda dengan Vio yg malah bersemu kemerahan diwajahnya. Zee yg tak dapat jawaban dari Bible dan Vio mengangkat kepalanya ke arah Bella yg mulai ikut bingung.
"Aunty??''
"Eh? Zee Aunty tidak tahu kenapa Zee tiba-tiba bertanya seperti itu?''
"Apa Aunty ingat teman Zee? Joshua''
"Mommy nya bilang jika Joshua sudah lima tahun Mommy nya akan memberikan adik, jadi Zee juga bisa memiliki nya kan?''
Pertanyaan polos Zee membuat ketiga orang dewasa itu terdiam, dan hanya bisa saling pandang
"Emh, Zee?'' Bible menarik Zee agar duduk disebelah nya
"Zee benar-benar ingin adik?'' Vio melotot dengan pertanyaan Bible
Kepala kecil itu mengngguk dengan cepat.
"Zee kan tahu jika adik itu kita dapat jika Tuhan yg memberikan nya, jadi Zee tahu kan kalau Zee ingin sesuatu Zee harus apa?"
"Tahu Pah?''
"Zee harus rajin berdo'a kan?''
"Pintar" Bible mengelus rambutnya dengan lembut
"Selain itu, saat ini usia Zee belum genap lima tahun kalau sekarang Zee punya adik Zee juga belum bisa menjaga nya"
"Jadi Zee boleh dapat adik jika Zee sudah lebih besar"
"Yap, tapi untuk itu Zee harus meminta izin dulu ke Mama apa boleh Zee punya adik"
"Bolehkan Mah?" Vio mulai kelabakan
"Zee? Bolehkah kita pikirkan ini setelah Zee lima tahun" Vio tersenyum ceria dengan menunjukkan kelima jarinya.
''iya, setelah ini Zee akan bilang ke Joshua kalau Zee juga akan memiliki adik" anak itu terlihat bersemangat
"Kalau begitu, sebelum memiliki adik seorang Kaka harus membersihkan kamarnya sendiri" Zee tersenyum malu dengan ucapan Vio
"Baik, Mommy" Zee bergerak hormat dengan menunduk seperti bawahan yg bertemu atasan
Setelah itu berlari kecil masuk ke dalam kamarnya. Merapikan mainan yg sempat dikeluarkan nya tadi.
"Seperti nya kita harus jauhkan yg namanya Joshua itu dari Zee " gerutu Bella yg kemudian duduk semakin dekat dengan Vio.
__ADS_1
"Tapi aku pikir Zee tidak salah dengan pertanyaan nya" perkataan Bible mengatup mulut Bella dan Vio tak percaya.