
"bagaimana Dok? Sudah ada kemajuan??'' tanya Gery memasuki ruangan tempat Darren dirawat.
"Sudah lebih baik Tuan, tadi Tuan Darren sempat Sadar tapi kami memberikan obat tidur lagi agar recovery Tuan Darren lebih optimal" jelasnya
"Baiklah, aku akan melihat nya dulu" Gery masuk meninggalkan Dokter dan juga perawat begitu saja.
"Anda harus cepat bangun dan sehat Tuan, hari ini Zeffan masuk rumah sakit setelah demam tinggi tadi malam" ucap Gery sambil membuka tirai-tirai rumah sakit agar cahaya masuk
"Apa anda tahu Nona Vio juga menelpon anda menanyakan kabar anda seharusnya ini akan menjadi semangat anada untuk cepat pulih" timbal Gery lagi
Setelah itu Gery hanya duduk di sofa tak jauh dari ranjang Darren mengerjakan beberapa pekerjaan Darren yg dari Indonesia.
Tok tok tok ,,
"Masuk!"
"Tuan?" Sapa seorang pengawal yg terengah-engah
"Ada apa?'' Gery bangun dari posisinya
"Tuan Leo sudah sadar"
"Leo sudah bangun?" Gery terperanjat kaget dan juga senang
"Benar Tuan, saya baru mendapatkan telpon dari orang yg berjaga dirumah" jelas nya
''baiklah, kamu keluar dulu nanti aku akan kesana"
"Baik Tuan" pengawal itu pun langsung keluar dari ruangan Darren.
"Leo sudah bangun, sekarang anda juga harus bangun Tuan'' ucapnya yg kini sudah berdiri di samping Darren yg terbaring.
***
Bible memangku laptopnya dengan sambil berbicara santai dengan Wisnu dari telpon rumah sakit.
Bible baru menyadari ponsel nya mati saat ingin menanyakan kabar Vio dan juga Zeffan.
"Semua nya sudah saya urus Tuan, selanjutnya tinggal menunggu kepulangan anda" sahut Wisnu
"Baiklah, kamu seleksi semua nya dan jika ada yg tida kk nerjalan baik kabari aku secepatnya"
"Baik Tuan"
"Oke"
"Oh?? Tuan?"
"Ada apa Wis?''
"Apa anda sudah menghubungi Vio tadi malam dia menelepon ku untuk menanyakan kabar anda?"
"Aku baru ingin menghubungi nya tapi ponsel ku mati, aku lupa membawa kabel portabel ku"
''baiklah, jika ada kesempatan saya akan mewakili anda menelepon Vio"
"Terimakasih Wisnu" setelah itu sambungn pun terputus
Bible melanjutkan pekerjaannya
"Bii?'' panggil Luci yg baru saja mengupas buah untuk Zakir
"Ya Mah?" Bible menghentikan tangannya
"Kamu tidak ingin berbicara pada Zeffan?"
"Aku akan menghubungi nya saat dirumah nanti, kalau sekarang aku tidak berani melakukan panggilan seperti Mama tahu Zee selalu menghidupkan layar video jika sedang berbicara dan dia akan sedih jika tahu Papa ada dirumah sakit" jelas Bible
"Jadi mereka tidak ada yg tahu?" Zakir juga ikut bicara
"Tidak Pah, Bible hanya bilang jika kepulangan Bible kali ini hanya ingin menjenguk kalian"
"Yah, padahal Mama sangat rindu Zeffan" keluh Luci
"Setelah Papa lebih baik dan Zee libur sekolah Bible sudah janji akan membawa nya kesini" Bible memahami perasaan Mama nya.
"Emh, baiklah"
Luci pindah kembali ke samping Zakir
"Papa sama Mama harus selalu sehat agar bisa melihat Zee terus" nasihat Bible
"Apa kamu pikir kami ini ingin sakit!" Hardik Luci tak terima
Bible yg sengaja tidak melihatnya hanya tersenyum tipis
***
"Viiiooooo???!!!'' teriak Bella di dalam apartemen yg membuat Zeffan terkejut hingga menjatuhkan beberapa mainan nya.
"Aunty!!'' kesalnya dengan berdacak pinggang
"Hehe, maaf ya Sayang'' Bella menggigit bibir bawahnya dengan cekikikan kecil.
Sedangkan Vio yg berada di dapur hanya bisa menggeleng dengan tingkah Bella.
"Vio? Vio?Vio?,," Bella berlari kecil mendekati nya
"Ada apa? Jika ini liburan dengan paket murah aku menolak" Vio yg tak melihat ke arah Bella sibuk memasukkan adonan ke dalam oven.
"iih? Kau lihat dulu!!" Bella memutar tubuh Vio paksa
"Apa???'' Vio mendengus kesal
"Coba kamu lihat?'' Bella memutar video yg sedang tranding di sosial media tentang Chelsea melalui tablet nya.
"Chelsea??'' seru Vio kaget
"Kamu lihat namanya saat ini sedang dibahas dimana-mana seperti nya karirnya akan bermasalah" jelas Bella
"Chelsea bisa melakukan hal seperti ini?'' Vio yg masih belum mengerti
"Menurut mu bagaimana jika dia bisa saja jahat denganmu, kenapa dia tidak bisa melakukan nya pada orang lain. Terlebih lagi selama ini dia sering keluar masuk hotel dengan beberapa pria asing,, dasar ******!!'' runtuk Bella
"Mungkin ini hanya gosip"
"Vii? Kamu kapan sih akan belajar dari pengalaman. ini itu namanya karma!!'' omel Bella
Thiiiing,, suara oven mengagetkan keduanya
"Aku akan siapkan cemilan untuk Zeffan dulu, nanti kita bahas lagi" Vio meninggalkan Bella begitu saja.
"Anak ini selalu saja berpikir positif dengan orang yg jahat pada nya" gumam kesal Bella
"Zee?" Vio masuk ke kamar yg di tutup separuh itu
"Ma? Masuklah"
__ADS_1
"Zee, masih main?" Vio melihat Lego yg berserakan disekitar Zee
"Iya, Mama lihat ini hampir selesai" ucapnya bangga pada susunan bangunan yg hampir selesai itu
"Anak Mama pintar sekali" Vio mengelus kepalanya
"Mah? Kenapa Aunty berteriak-teriak??''
''Aunty hanya senang karena pekerjaan'' balas Vio lembut
"Apa orang dewasa selalu seperti itu Mah?"
"Mungkin?"
"Yasudah, Zee jangan lupa makan kue nya ya, Mama mau bantu Aunty dengan pekerjaan nya dulu"
"Baik Mah"
Vio pun keluar dengan menutup pintu kamar Zee, takut-takut kalau Zee akan kaget lagi dengan tingkah Bella yg suka sembrono.
Keduanya kini duduk di depan tv dengan kertas yg sudah banyak coretan Desain, tapi tetap dengan Bella yg masih sibuk dengan layar tablet nya.
"Kamu akan lihat itu sampai kapan Bell?" Vio memunguti kertas-kertas yg berserakan
"Tunggu sebentar lagi" jawab bella santai tanpa melihat
"Baiklah, Nona Bella Laurent"
Bella hanya cekikikan menanggapi Vio yg mulai kesal dengannya.
***
Washington,,
kini sudah di balut awan gelap selain karena memang sudah malam tapi juga cuaca yg buruk membuat malam di Washington hari ini jauh lebih dengin dari biasanya.
"Selamat Tuan, anda sudah melewati masa kritis anda" salam Dokter setelah memeriksa Darren yg sudah sadar sepenuhnya.
"Terimakasih" suara serak Darren
"Saya permisi Tuan, jika ada yg tidak nyaman anda bisa memanggil saya" Darren hanya menggerakkan matanya.
"Tuan Gery" sapa mereka nunduk ketika melewati Gery
"Sudah merasa lebih baik Tuan?"
"Aku pikir aku akan mati malam itu?" Gery mengerti dengan perasaan Darren
"Anda tidak boleh berkata seperti itu" potong Gery
"Bagaimana dengan Leo?''
"Sebaiknya anda pikirkan dulu luka anda baru memikirkan orang lain" hardik Gery
"Tunggu sampai aku sehat aku akan meledakkan kepala mu Ger, seperti nya aku terlalu baik padamu selama ini" ancam Darren
Gery tersenyum tipis dengan ancaman Darren
"Setidaknya ada keinginan anda untuk sehat" Gery memberikan air untuk Darren yg sudah bersandar duduk
"Dan untuk Leo dia sudah sadar tadi pagi, anda bisa melihat nya jika Dokter sudah mengizinkan anda pulang"
"Katakan aku ingin keluar sekarang!!"
"Maaf, Tuan sekarang sudah sangat larut rumah sakit apa yg mengeluarkan pasien di jam begini"
"Sebaiknya anda istirahat saja Tuan, simpan tenaga anda untuk besok" Gery membantu Darren agar berbaring kembali
Baru akan beranjak langkah Gery kembali terhenti
"Ger?" Gery pun berbalik
"Bagaimana kabar Vio dan Zeffan?"
"Anda belum genap dua hari meninggalkan Indonesia apa yg bisa terjadi" goda datar Gery
"Geryy!!!!!"
CK,,, Gery tersenyum melihat Darren yg seperti ini
"Mereka baik Tuan, tapi kemarin Nona Violine menelepon anda dan menanyakan kabar anda"
Gery dapat melihat guratan senang di wajah Darren
"Tapi saya tidak mengatakan kepada Nona Vio bagaimana keadaan anda"
"Emh, baguslah" Darren tersenyum puas
"Tapi ada yg lain Tuan''
Sorot mata tajam Darren melirik ke arah Gery
"Zeffan sempat dilarikan ke rumah sakit tepat diwaktu yg sama saat anda dirawat"
"Apa yg terjadi padanya??"
"Anak buah kita mengatakan itu hanya demam biasa, tapi saat di bawa Zeffan terus menangis"
"Bagaimana dengan sekarang?''
"Seharusnya sudah lebih baik, Nona Violine dan Nona Bella juga saat ini ada disekitar nya jika tidak ada kegiatan kemungkinan satu harian ini mereka menghabiskan waktu di apartemen" jelas Gery
Darren hanya berdiam, pikiran nya membayangkan keadaan Zeffan saat ini.
"Sebaiknya anda istirahat, nanti pagi saya akan membawa anda keluar dari rumah sakit ini."
Keadaan kembali sunyi di ruangan yg hanya berisi dua orang itu, hanya terdengar suara keyboard dari laptop Gery yg masih bersikukuh dengan pekerjaan nya.
***
"Tuan? Ada Tuan joke di depan"
Ucap seorang pengawal pada Tuan rumah yg sedang menikmati waktu santainya di Penthouse yg berada di Paris.
***
"Bii?, Bagaimana kabarmu??" Antusias Vio ketika Bible menelepon nya.
Zee yg tak kalah senang juga berpindah ke sebelah Mama nya.
"Aku baik" jawab lembut Bible
"Papa?''
''hay? Zee kenapa tidak pakai baju?" Bible melihat jelas dari layar ponselnya.
Vio baru selesai memandikan Zeffan untuk mengajak nya makan diluar, tapi belum sempat selesai ponsel nya sudah berdering begitu melihat nama orang yg memanggil nya Vio dengan sigap langsung mengangkat nya.
__ADS_1
Sedangkan Bible yg tak tenang setelah mendapat kabar dari Annette yg merupakan teman nya, memilih keluar rumah sakit untuk menelpon Vio dan juga Zeffan Bible takut jika menelpon saat di ruangan Papa nya Zee akan curiga.
"Zee baru siap mandi"
"Oh? Zee mau pergi ya?"
"Iya, jika Papa disini kita akan pergi bersama kan?" Layar ponsel itu kini penuh dengan wajah Zeffan.
"Iya, tunggu Papa kembali ya setelah itu kita akan jalan-jalan. Oke?"
"Baik Pah"
"Kapan kamu pulang Bii?'' Vio yg tak melihat layar dengan tangan yg sibuk memakai kan pakaian Zeffan
"Mungkin akan tertunda" balasnya lemah
"Hah?'' pergerakan tangan Vio terhenti dan melihat mimik wajah Bible yg berubah.
"Selesai" ucapnya ke arah Zeffan
"Terimakasih, Mah"
"Sama-sama Sayang oh ya? Mama boleh minta tolong?" Anak itu langsung mengangguk
"Zee boleh ambilkan Mama minum sebentar, nanti bicara lagi dengan Papa"
"Oke, Mah" tanpa menjawab lebih Zee langsung turun dan berjalan ke arah dapur dengan langkah mungilnya.
"Apa terjadi sesuatu??" Vio tahu Bible tidak bisa mengatakan nya selama masih ada Zeffan.
"Sebenarnya Papa ku masuk rumah sakit"
"Paman sakit?'' Vio yg kaget
Bella yg baru keluar dari kamar Vio pun ikut mendekat karena mendengarkan pembicaraan mereka.
"Iya, maaf tidak mengatakan nya aku hanya tidak ingin kalian terlalu khawatir"
"Lalu? Bagaimana keadaan Paman sekarang??"
"Sudah lebih baik, hanya saja tangan kanan nya mengalami stroke ringan"
"Paman seperti itu kau baru memberi tahu ku sekarang?" Kesal Vio
"Maaf, aku hanya tidak ingin membuat kalian bertambah khawatir itu saja" jelas Bible dengan mimik sendu
"Apa kami perlu terbang kesana, Bii?'' potong Bella tiba-tiba
"Tidak perlu, jika hasilnya hari ini bagus besok Papa sudah bisa pulang"
"Vii?'' panggil Bible yg melihat Vio hanya berdiam "sorry ya" suara Bible lembut
"Aku akan menyelesaikan pekerjaan ku, setelah itu aku akan bawa Zeffan terbang kesana"
"Tidak perlu, jika hasilnya baik aku akan ajak Papa dan Mama kesana aku sudah janji dengan mereka"
"Baiklah, jika ada yg tidak baik segera kabarkan kami ya" ucap Vio
"Iya" sahut Bible cepat
"Mama, ini" tangan mungil itu gemetaran memegang gelas yg berisi air untuk Mama nya.
"Terimakasih, Sayang" Vio mengambil gelas dari tangan Zeffan dan memberikan ponselnya kembali
"Zee? Apa anak Papa baik-baik saja?''
"Papa lihat?" Zee menunjuk punggung lengannya
"Auw??" Mata Bible berkaca-kaca, "apa sakit?" Zeffan langsung menggeleng
"Zee kemarin demam dan terus saja menangis jadi aku membawanya ke Dokter " ucap Vio menjelaskan
"Aku baru tahu tadi, setelah Annette mengirimkan pesan padaku"
"Bii? Kemarin kami kesulitan menghubungi mu?" Tanya Bella
"Iya, ponsel ku mati dan aku melupakan kabel portabel ku"
"Apa Papa sudah makan?"
"Sudah, Sayang tadi dengan Popa dan Moma"
"Popa? Lalu dimana mereka Lah?"
"Emh?" Bible tampak berpikir ''Zee? Popa dan Moma sedang ada di tempat lain nanti jika mereka tidak sibuk Papa akan minta mereka buat telpon Zee ya?"
Zeffan mengangguk dengan rasa bahagia nya.
"Dan? Jika semuanya lancar Papa akan bawa Popa dan Moma Zee untuk datang kesana''
"Wah??'' mata Zee berbinar
"Beneran, Pah?"
"Iya Sayang''
Yeay,,,,, Zee melompat lompat riang
Hingga meninggalkan begitu saja ponsel itu di sofa, Vio dan Bella hanya bisa menggeleng melihat tingkah Zeffan yg kegirangan.
"Baiklah, Vii aku harus masuk lagi kedalam"
"Iya, sampaikan salam ku pada Paman dan Bibi ya"
"Baik" setelah itu pun panggilan terputus
"Kamu senang?" Tanya Vio yg gemas menghentikan Zee agar duduk kembali "iya, Mah?" Senyum itu tidak lepas dari wajah Zeffan
"Mah? Boleh ya nanti kalau Popa dan Moma disini Zee pergi sekolah dan pulang sekolah dengan Popa dan Moma?" Zeffan dengan wajah memohon nya
"Tentu, jika Zee janji tidak akan nakal" balas Vio yg selesai memasang sepatu Zeffan
"Terimakasih, Mah"
Cup,,,
"Aunty??'' Bella menunjuk dirinya sendiri
Cup,,, ciuman mungil Zeffan singgah di pipi Bella
"Sudah, sudah ayo kita berangkat" Vio menggandeng tangan Zeffan
Setelah keluar pintu tangan lain Zee juga menggapai tangan Bella.
"Ayo kita pergi bersama, Aunty'' ucap nya riang
Celotehan Zeffan selama di lift hingga sampai di parkiran membuat nyaman dan hangat di hati Vio dan Bella, wajah kedua nya tak lepas dari senyum selama menanggapi Zeffan yg mulai banyak bertanya tentang sesuatu.
__ADS_1