Pesawat Kertas Zeffan Al'Bareck

Pesawat Kertas Zeffan Al'Bareck
Pendekatan


__ADS_3

***


Penyambutan hangat selam di panti membuat Bella dan juga Vio betah lama-lama disana.


Terlebih lagi dengan Zeffan yg senang dengan banyak anak-anak yg panti yg sudah dikenal nya bermain dan makan bersama.


''Vio, Bella ayo duduk disini" ajak Suster Lalisa yg sedang mengerjakan sesuatu, Bella dan Vio pun ikut duduk disekitarnya.


"Bagaimana kabar ibu sekarang?" Tanya Vio yg memperhatikan tubuh wanita yg sudah seperti ibunya itu terlihat semakin kurus.


"Ibu baik-baik saja nak, jangan khawatir" ucapnya lembut


"Kami sudah lama tidak kesini" balas cemberut Bella


"Itu karena kalian sekarang sudah terlalu sibuk, ibu mengerti" Lalisa memegang tangan keduanya.


"Ibu harus jaga kesehatan, jika terjadi sesuatu atau butuh sesuatu ibu bisa menghubungi Vio"


"Iya, Vio tapi untuk sekarang ibu tidak membutuhkan apapun. Sejak ada pria baik itu kehidupan di panti jadi lebih makmur" jelas Lalisa


"Siapa maksud ibu?" Vio dan Bella serempak


"Ayah kandung Zeffan, bukankah seharusnya kalian sudah bertemu?"


"Ibu mengetahui nya??''


Lalisa mengangguk dahi nya kini mengernyit heran


Bella dan Vio malah saling pandang karena masih bingung


"Sejak kapan ibu mengenal nya?'' tanya Vio lagi


"Sejak kamu di bawa keluarga Paolo ke New York"


"Hah??"


"Berarti sejak lama ibu sudah mengenal Tuan Darren?" Tanya Bella memastikan


"Ibu tidak tahu namanya, dia tidak pernah menyebutkan nya tapi sejak awal kedatangan nya dan ingin menjadi Donatur resmi disini dia tidak pernah menanyakan apapun selain tentang Vio"


Vio hanya berdiam mendengarkan cerita Lalisa.


"Waktu itu satu Minggu setelah kepergian mu dia datang kemari, awalnya dia hanya menawarkan diri untuk menjadi salah satu Donatur, sampai beberapa bulan kemudian panti ini harus menyekolahkan beberapa anak yg berbakat seperti Vio ibu pikir ibu akan mendiskusikan nya dengan keluarga Paolo''


"Tapi bertepatan hari itu dengan kedatangannya, dia melampirkan berkas kalau pria itu akan menjadi Donatur tetap di panti dan akan membiayai beberapa anak yg berbakat dari panti ini untuk bisa sekolah di sekolah terbaik"


"Sampai dimana ibu bertanya pada nya kenapa dia ingin melakukan hal yg sebesar ini, padahal usianya masih muda tapi pria itu hanya berkata dia ingin menebus kesalahannya dengan membuat kehidupan yg ada disekitar wanita itu lebih baik"


"Dan disaat yg sama dia juga mengakui kesalahan yg dibuat nya pada Vio, ibu sempat kaget dan marah dengannya tapi dia juga sudah berjanji akan menjaga Vio dan calon anaknya tanpa melukai mereka. Ibu percaya dia orang yg tulus ibu dapat melihatnya dari tatapan matanya" jelas Lalisa


Lalisa memegang tangan Vio yg sudah dingin kaku.


"Vio ibu tahu ini kehidupan mu nak, ibu tidak akan berkata banyak-banyak tapi jika memungkinkan maaf kan lah dia lepaskan dia dari rasa bersalah nya."


"Ibu yakin Vio adalah gadis yg baik dan juga penyayang dan ibu yakin Vio dapat membuat keputusan dengan bijak" Lalisa mengelus rambut panjang Vio dengan kasih sayang.


Bella juga sudah berkaca-kaca, selama ini Bella sudah curiga dengan Darren yg tiba-tiba saja dekat. Juga jika diperhatikan secara rinci wajah Zeffan sangat mirip dengan Darren.


Hanya saja tidak ada keberanian Bella bertanya langsung pada Vio, beruntung waktu itu Bible mau memberi nya sedikit penjelasan. Bagi Bella dia hanya seorang sahabat yg akan mendukung apapun yg ingin Vio lakukan tanpa pernah bertanya jika bukan Vio sendiri yg ingin menceritakan nya.


"Vii?" Bella memegang pundaknya Violine


Air mata Vio terjatuh, ntahlah apa yg dia rasakan saat ini yg jelas perasaan nya campur aduk.


Tebakan nya jika selama ini selalu ada yg menjaga nya ternyata benar, bahkan lebih banyak yg Darren lakukan dari pada yg selama ini Vio tebak sendiri.


"Ibu akan masuk dulu untuk menyiapkan makan malam buat anak-anak, kamu bisa menenangkan diri kamu sendiri dulu" Lalisa mencium kepala Vio sebelum meninggalkan Vio dan Bella yg kini duduk dihalaman belakang panti.


"Bell??" Panggilnya parau


"Sini" Bella merentangkan tangannya agar Vio memeluknya


"Aku tidak tahu harus bahagia atau ikut senang jika kita sudah tahu siapa Ayah kandung Zeffan, tapi apapun itu keputusan mu aku akan tetap mendukung mu, mengerti''


Vio makin mengeratkan pelukannya pada Bella, isakan tangisnya dapat terdengar di telinga Bella.


Bella memeluk nya dengan hangat sambil mengelus rambut panjang Vio.


***


Jet pribadi milik Darren sudah mendarat di salah satu landasan di hotel bintang lima miliknya.


"Silahkan Tuan" ucap pengawal yg menjemput nya


Kondisi sudah gelap ketika rombongan Darren sampai kembali di Indonesia


"Leo? Kau baik-baik saja?" Tanya Gery yg melihat raut wajah Leo seperti menahan sakit


"Aku baik" jawabnya cepat


Darren juga melihat ke arah Leo dan Gery yg berada di belakang nya


"Minta saja mereka mengantar mu pulang, atau kau ingin kerumah sakit?"


"Tidak perlu, Tuan" tolak nya sopan


Leo berjalan perlahan ke arah mobilnya, Gery mengernyit heran


"Kau mau kemana??''


"Bukan urusan mu!"


Gery yg tak kalah sengit menutup kembali pintu mobil yg sudah hampir terbuka itu.


"Jangan halangi jalanku!"


"Anak ini!!!" Bentak Gery


Sedangkan Darren hanya melipat tangan melihat drama Gery dan Leo yg sudah lama tidak seperti ini lagi.


"Aku mau kemana itu bukan urusan mu!"

__ADS_1


"Pikirkan lukamu, apa yg bisa kau lakukan dengan tubuh yg belum pulih ini"


"Hanya luka kecil, dan aku tidak akan mati"


"Luka kecil?? Oke luka kecil"


Bruuk,,,


Gery sengaja memukul perut Leo menghindari luka di dadanya


Uhhuuk,,,


"Bagaimana luka kecil kan?" Ejek Gery


"Gery!!!!! Siallll" bentak nya dengan terbungkuk


"Sadar dirilah jika terluka" ejek Gery yg menarik paksa agar Leo duduk di kursi sebelah kemudi.


"Kau?? Lihat saja nanti!" Runtuk nya kesal ke arah Gery


"Pikirkan saja luka mu dulu, baru mengancam ku"


Bruuk!!! Gery sengaja membanting pintu mobil milik Leo sehingga orang yg didalam terlihat mengumpat nya.


"Anda ingin saya antar, Tuan?" Tanya Gery di hadapan Darren


"Tidak perlu, kau istirahat lah dulu malam ini bawa juga anak keras kepal itu" unjuk Darren dengan tatapan nya ke arh mobil


"Baik, Tuan"


Gery pun masuk ke dalam mobil milik Leo dan membawa nya ntah kemana yg Darren sendiri pun tidak tahu.


"Tuan?" Panggil pengawal yg melihat Darren hanya berdiam


"Bawa aku ke apartemen" titahnya


"Tapi Nona Violine sedang tidak di tempat, Tuan"


Darren yg hendak berjalan kembali berhenti dan melihat ke arah pengawalnya


"Kemana dia?"


"Nona Vio dan juga Nona Bella membawa Zeffan ke panti Muara untuk berkunjung" jelas nya


"Apa terjadi sesuatu disana?''


"Seperti nya tidak Tuan, itu hanya kunjungan biasa"


"Bawa aku kesana"


"Anda juga ingin bertamu? Tuan"


"Tidak, kita cukup melihat nya dari jauh" Darren mengatakannya dengan wajah sendu.


"Baik, Tuan"


Mobil yg di naiki oleh Darren pun menyusuri jalanan menuju panti tempat dimana Vio tumbuh besar,


"Apa mereka sudah kembali?" Tanya Darren pada dua pria di depannya


"Sepertinya belum, Tuan"


"Anda ingin saya memeriksa nya Tuan?" Tanya pria yg lain


"Tidak perlu" ucapnya dengan mengangkat satu tangannya


Mata Darren melihat ke arah pagar panti yg masih terbuka, dengan menyandarkan punggung nya yg masih terasa perih sedikit.


***


Dering ponsel milik Bella terus berbunyi panggilan dengan nama yg sama sejak tadi, tapi sang pemilik enggan untuk mengangkat nya.


"Bell? Ada apa kenapa tidak diangkat?" Vio yg penasaran


"Itu Mama ku, aku sudah tahu apa yg akan dibahas nya."


"Sebaiknya kamu angkat dulu siapa tahu penting" nasihat Vio yg mengambil piring dari lengan Bella.


Selesai memberikan makan untuk anak-anak, Vio dan Bella mengambil alih dapur untuk di bersihkan dan Suster Lalisa mereka minta agar istirahat.


"Baiklah, aku kedepan dulu ya Vii" Vio hanya mengangguk


Sedangkan di depan panti banyak anak-anak yg tidak ada lelah nya bermain, terutama Zeffan anak itu seperti tidak ada habisnya dengan tenaganya.


"Zee? Kamu tidak lelah?" Tanya anak laki-laki yg lebih besar dari Zeffan


"Tidak, Kak" jawabnya santai dengan mengambil bola yg menggelinding


"Kamu main dulu ya, kami akan istirahat dulu" dengan nafas yg Ngos-ngosan karena banyak bermain sejak tadi.


"Iya" jawab Zee singkat


"Tuan?" Panggil bawahan Darren


"Ada apa??" Darren meletakkan ponselnya yg sejak tadi melihat foto Zeffan berulangkali


"Seperti nya Tuan Zeffan sedang bermain sendirian tanpa ada pengawasan" jelas pengawal dengan menunjuk


Darren juga melihat jika Zeffan bermain sendirian dengan melempar lempar bola yg ada ditangan nya.


"Kenapa bisa sendiri??" Bingung Darren


"Seperti nya anak lain sudah kelelahan dengan Tuan muda yg aktif"


Darren tersenyum membenarkan jika Zeffan memang bukanlah anak yg bisa diam.


Darren keluar dari mobil dengan terburu-buru saat melihat Zeffan ingin menaiki sesuatu.


"Zee?" Tangkap nya cepat saat tubuh mungil itu hampir terjatuh


"Paman??''

__ADS_1


ACH!!,,,,,


Darren merasa sakit dengan perih di bagian lukanya, pengawal yg ingin mendekat terhenti langkah nya saat Darren memberikan isyarat agar tidak maju. Dengan langkah berat mereka kembali lagi ke mobil


"Paman? Kamu tidak apa-apa??" Zeffan yg berjongkok di depan Darren setelah Darren menurunkan nya


"Tidak, Zee aku baik-baik saja" wajah Darren sudah basah dengan keringat nya menahan sakit di dada nya kembali


"Wajah kamu basah Paman" Darren berusaha tersenyum dengan mengatur nafas nya, beruntung saat ini dia mengenakan kemeja hitam jika tidak Zee mungkin sudah melihat darah nya.


"Ayo duduk dulu Paman," Zee menarik satu jari Darren menuntun nya agar duduk di ayunan yg sempat jadi tempat bermain nya tadi.


Zee dengan perlahan menyeka keringat di wajah Darren dengan tangan mungilnya, hati Darren terenyuh dengan perlakuan Zeffan mata nya berkaca-kaca.


"Paman lain kali jangan berlari atau wajah Paman akan basah lagi nanti" nasihat nya sambil menatap Darren dengan mata beningnya.


"Matamu sangat cantik" suara lembut Darren


Zeffan tertawa dengan tingkah Darren yg malah memuji matanya.


Dengan tingkah nakal nya Zeffan menarik wajahnya dengan kedua tangan agar Darren dapat melihat jelas matanya.


Ha ha ha,,,


"Ternyata kamu nakal juga ya?" Darren melupakan sakitnya


"Lihatlah Paman" Zee menggoyang goyang kan kepala nya di depan Darren


Vio yg selesai dengan urusan dapurnya pergi mencari Zeffan setelah Bella menelpon nya kalau dia harus buru-buru pulang, tanpa pamit langsung dengannya.


"Kemana anak ini?" Panik Vio yg tak menemukan anaknya disekitaran panti


Hingga menuju pintu depan, Vio mendengarkan suara tawa Zeffan seperti sedang berbicara dengan seseorang.


Sampai di depan pintu mata Vio menangkap pemandangan Zeffan yg sedang menggoda Darren dengan wajah nya, tapi yg digoda hanya tersenyum beda dengan Zeffan yg geli dengan tingkah nya sendiri.


Tiba-tiba Vio teringat ucapan Dokter tentang kedekatan yg tanpa sengaja terbangun antara Darren dan juga Zeffan.


"Aku tidak egois kan jika ingin memastikan dulu sebelum mengatakan nya langsung pada Zeffan?" Gumam nya sebelum mantap melangkah mendekat ke dua orang yg memiliki wajah hampir sama, dengan beda usia


"Sedang apa kalian??" Tanya Vio ketika tiba


"Vii?"


ACH!!,,, Darren tersentak ketika tubuh nya bangun dengan tiba-tiba


"Tuan Darren? Anda sudah kembali??"


"Iya? Kebetulan aku lewat sini dan tidak menyangka melihat Zee" elak Darren


"Mau sampai kapan anda terus merasa ini kebetulan??'' batin Vio


"Mah? Sudah selesai??" Zee menarik ujung baju Vio


"Iya, sudah selesai tapi Aunty harus kembali lebih dulu" ucapnya sambil berjongkok


"Kalian sudah ingin pulang?"


"Iya Tuan, besok Zee sudah harus masuk sekolah"


Darren selalu memalingkan wajahnya ketika Vio menatapnya curiga


"Zee? Pamit dengan Suster Lalisa ya Mama menunggu disini?"


"Baik, Mah?"


Cup,,, Zeffan mencium pipi Vio sebelum berlari ke dalam mencari Suster Lalisa


"Anda terluka?" Ucap Vio yg hampir menyentuh kemeja Darren yg terlihat sudah basah, namun Darren dengan cepat menghindar


"Aku baik" jawabnya singkat


"Tapi aku rasa wajah mu tidak berkata seperti itu?" Vio memicingkan matanya


"Aku baik-baik saja," Darren mengatur nafasnya


Tak selang lama Zeffan sudah datang lagi dengan ransel kecil di belakang nya.


Vio sudah lebih dulu pamit dengan Suster Lalisa, tapi karena beliau sedang tidak sehat Vio meminta nya untuk tetap istirahat dan tidak perlu mengantar nya kedepan.


"Kalian pulang dengan apa?" Tanya Darren


"Kami bisa naik taksi"


"Jika diizinkan kalian bisa aku antar dengan mobilku?" Tawar Darren dengan hati-hati


"Mah? Bolehkan kita naik mobil Paman?"


"Zee, mau?"


Anak itu mengangguk cepat, senyum lebar terlihat jelas di wajah Darren


"Kalau begitu ayo?" Ajak Darren membiarkan Vio dan Zeffan berjalan lebih dulu dengan dia yg mengikuti di belakang.


Tangan Darren menekan dada nya, ketika tangan nya mendapatkan noda darah Darren menyembunyikan nya agar Vio dan Zeffan tidak melihat nya.


"Sepertinya luka nya sobek lagi" runtuknya kesal dengan suasana seperti ini tubuh nya malah tidak bisa di ajak bekerja sama.


"Tuan??" Sapa dua pengawal


"Silahkan Nona?" Mereka membuka kan pintu agar Vio naik lebih dulu.


Namun Zeffan malah melepaskan tangan Vio, dan menunggu Darren agar masuk juga lebih dulu darinya, Vio yg berpikir Zee hanya berusaha sopan namun terkaget saat Darren sudah duduk Zee malah naik di pangkuan nya.


"Zee??"


"Tidak, pa-pa biarkan saja" ucap Darren lebih dulu memotong


"Aku tidak berat kan? Paman"


Darren hanya menggeleng, sebenarnya Darren cukup bahagia ketika Zee naik kepangkuan nya sendiri tapi tubuh yg sedang terluka saat ini membuatnya sulit menyembunyikan rasa sakitnya.

__ADS_1


__ADS_2