
Pagi ini Bible sudah menunggu Vio dari dua puluh menit yg lalu namun sosok Vio belum juga terlihat. Sampai mata nya tak sengaja melihat ke arah pintu Vio gadis kecil yg selalu menyukai warna cream ini berjalan dengan senyumnya ntah apa yg berbeda dari nya tapi hari ini Vio terlihat cantik dengan gaun Cream selutut nya dengan lengan rendah dan rambut yg di biarkan terurai tas kecil milik nya dan sepatu boots hitam nya, tak lupa kaca mata bening nya, yg membuat nya terlihat seperti baru keluar dari komik anak remaja.
''sudah selesai menatapnya??'' tanya Vio tiba-tiba
Bible yg gelagapan langsung membuang arah ke asal tempat.
''sudah siap??''
''iya''
''ayo berangkat''
Bible membuka kan pintu mobil dan berjalan memutar ke arah setir.
Bukan tidak ada supir apa lagi penjaga, tapi karena Bible dan orang tua nya belum aktif disini , semua anak buah Papa nya ikut dengan mereka di NY hanya menyisakan penjaga rumah dan tukang bersih-bersih.
Darren yg sudah bersiap dari tadi kini duduk di ruang tamu dengan beberapa berkas yg baru si kirim oleh anak buah nya. Biasa jika itu pekerjaan yg di dunia bawah dia akan memilih mengerjakan nya dirumah, tapi kalau itu tentang perusahaan nya baru semua di lakukan di kantor nya.
''Tuan, ada Tuan Leo di depan '' ucap assistant rumah
"Minta mereka langsung ke ruang kerja ku!''
''baik Tuan''
Tak lama Darren bangkit, membawa ponsel nya dan sisanya ditinggal di meja menuju ruan kerja nya yg berada di lantai atas.
Saat masuk sudah ada Leo dan dua pengawal bayangannya
''Tuan'' sapa mereka menunduk
''katakan?''
''ini, Tuan''
Leo Menyerahkan tablet dengan beberapa data seseorang
''Mereka dari Klan Godji Tuan, yg datang dari Thailand mereka ingin kita menyediakan beberapa senjata dan katana sesuai pesanan mereka, beserta para amunisi nya'' lapor Leo
''kapan mereka mau??''
Ucap Darren terus melihat ke arah tablet nya..
''besok malam, Tuan''
''ehm,,''
''apa kita pernah bekerja sama dengan mereka sebelum nya?'
''sama sekali belum Tuan, tapi anda pernah beberapa kali di tempat yg sama dengan Boss mereka. Termasuk perebutan lelang bawah tanah yg anda ikuti tiga bulan lalu''
''maksud mu, di France?''
''benar, Tuan Ketua mereka adalah saingan ada waktu pelelangan barang akhir yg anda menangkan.''
''barang akhir??''
''miniatur, naga perak anda Tuan''
Darren mengangguk kan kepalanya, sebelum mengembalikan tablet di tangan nya.
''pastikan saat transaksi mereka di bawah kendali kita, dan jangan biarkan ada celah mereka keluar jika macam-macam!!''
''sepertinya mereka bukan hanya ingin melakukan transaksi kali ini saja, Tuan'' kening Darren berdenyit heran
Mendekat kan ponsel nya lalu memberikan handsfree. Darren mendengarkan ternyata itu pesan terbuka dari ketua Klan yg ingin bekerja sama dengan Darren saat ini.
Senyum lebar terlihat di wajah Darren, Leo merasa puas atas pekerjaan nya saat ini. Namun tetap harus tampak tegas di hadapan Tuannya.
''periksa semua barang yg ingin mereka lakukan transaksi, dan pastikan semua nya sesuai. Pengaturan penyebrangan kali ini aku serah kan pada mu Leo. Dan pastikan kalau aku bisa mengandalkan mu''
''baik Tuan''
''kalu begitu saya permisi untuk memeriksa nya Tuan?''
''baiklah, atur sesuai rencana ,lusa kita ke NY''
''baik, Tuan''
Memberi hormat dan menunduk lalu mereka bertiga berlanjut pergi.
Mobil Bible sudah terparkir di halaman sebuah kantor, yg tentu saja Vio tahu karena dulu sempat kemari.
''kamu sudah mulai aktif disini?''
''belum, tunggu sebentar '' jawab Bible yg langsung keluar dan membukakan pintu untuk Vio
Vio yg bingung hanya mengikuti langkah Bible
''aku punya kejutan untuk kamu'' dengan menaik turunkan alisnya, dengan wajah meledek nya melihat Violine yg bingung.
Taraaaa,,,
''kejutan'' teriak Bible
''Paman, Bibi!!''
''Viio,,''
Violine langsung berlari memeluk dua orang yg tak lagi muda itu, ketiga nya saling memeluk karena sudah lama tidak bertemu.
'' kamu sudah tumbuh dengan baik, Vio '' Luci merenggang kan pelukan nya.
''Bibi dan paman apa kabar??''
''kami baik, Nakk'' balas Zakir
''kapan kalian sampai, kenapa tidak memberi tahu ''
Vio yg protes dengan mengembangkan pipi nya yg membuat orang tua itu merasa gemas.
''kami sampai tadi malam, tapi kami mengatakan pada Bible akan memberi kejutan pada mu hari ini'' timbal Luci
''Vio, rindu dengan Paman dan Bibi''
''kami juga rindu dengan kamu Vii, Bibi ikut prihatin ya Bible sudah cerita semua nya'' Luci menatap nanar gadis yg sudah dianggap seperti Putri nya ini.
__ADS_1
''kamu tidak boleh merasa sendiri ok, Paman dan Bibi akan selalu ada buat kamu'' Luci mengusap kedua pipi Vio dengan kasih sayang. Menarik nya hingga gadis itu dapat bersandar di pundak nya dengan nyaman, Zakir pun tak kalah peduli di usap nya rambut panjang Vio.
''terima kasih ya, Bibi, Paman''kali ini tanpa tangisan
''sama-sama, Sayang'' ucap Zakir dan Luci
''permisi, apa kalian melupakan seseorang??''
Bible yg sedikit kesal tidak ada yg menyapanya dari tadi.
''kamu sudah besar, urus dirimu sendiri '' ketus Zakir
''auw,, Pah'' rengek Bible yg seperti anak kecil
''apa begini tingkah seorang dokter?''
''Ma, aku ini anak mu loh?''
''justru karena kamu anak ku, makany kami begini''
''sudah ku katakan, kalau ada Vio kalian terlihat berbeda''
Bible dengan wajah cemberut nya memilih duduk dan sengaja lewat di tengah-tengah Vio dan Luci.
''sudah-sudah, jangan pedulikan dokter cengeng itu''
Ledek Zakir, sebenarnya Zakir adalah orang yg ketat soal pendidikan dan pekerjaan tapi jika dalam suasana keluarga seperti ini, candaan ketus sering keluar dari bicaranya.
Temu kangen mereka banyak membicarakan banyak hal, termasuk ajakan Zakir untuk memindahkan sekolah Vio ke NY. Selesai bicara keluarga kecil itu mengantar Vio ke kampus nya karena ada pelajaran siang ini, Vio nyaman berada di keluarga Paolo karena dari dulu, lewat kasih sayang orang tua Bible seperti ini Violine merasa kan apa arti keluarga.
Malam ini Vio merenung dalam kamar nya, Bible tidak datang karena harus beres-beres menyusun barang karena besok sudah harus kembali ke NY dengan kedua orang tua nya. Banyak yg dipikirkan oleh Vio termasuk soal pindah kesana.
''kamu harus sehat ya, setelah semua nya baik kita akan ikut mereka kesana''batin nya dengan mengelus lembut perut nya yg masih datar itu.
*📨
(Bible: Vii besok pesawat kami akan berangkat siang hari, mau kah kamu mengantarkan ku?'')
Setelah mendapatkan pesan Bible Vio lanjut tidur tanpa membalas, banyak perasaan bimbang yg dia simpan dalam hati nya sendiri.
''selamat pagi, Tuan'' sapa para pengawal
''Leo, bagaimana??'' balas Darren tanpa basa-basi yg langsung duduk di singgasana nya.
''silahkan, Tuan'' mendorong map coklat
''semua data barang yg akan kita kirim, dan para penjaga yg akan mengantarkan kapal kita, sudah saya periksa, Tuan''
''atur keberangkatan ku, kali ini kita akan ke bandara!!''
''bandara??!'' Gery dan Leo saling pandang
''benar, atur saja siang ini kita berangkat!!'' titah Darren tegas
''tapi, Tuan saya sudah menyuruh mereka menyiapkan Jet pribadi anda dari tadi pagi'' Gery yg masih kelimpungan. Biasa nya Darren paling tidak suka jika perjalanan pekerjaan nya harus menjadi perjalanan umum.
''aku ingin sedikit santai'' Gery dan Leo masih saling lempar pandang, dengan Darren yg malah duduk membelakangi mereka.
''bawakan aku kopi,!''
''baik, Tuan''
Darren tak menjawab dengan masih duduk membelakangi Darren hanya menampakkan tangan nya yg bergerak menyuruh pergi.
''ada apa dengan Tuan pagi ini, Ger?'' tanya Leo
Namun Gery hanya menatap pintu yg sudah tertutup itu dengan wajah gusar nya.
''kalian, antar kan kopi ke ruangan Tuan Darren!!''
''baik, Tuan Gery''
''Leo, periksa jadwal penerbangan siang ini''
''lalu, aku akan memeriksa kembali beberapa berkas'' timbalnya, Leo yg mengangguk dan langsung pergi seperti biasa dia tidak sendiri selalu ada dua pengawal yg akan selalu mengikuti langkah nya di belakang.
Gery masuk membawa beberapa berkas, yg di ikuti oleh pengawal yg membawa kopi seperti perintah Darren.
''Tuan,'' dengan memberikan berkas
''anda harus memeriksa nya, ada berapa pemasukan yg tidak sesuai dengan jumlah pengeluaran di beberapa kasino kita yg di Washington saya sudah mengumpulkannya'' jelas Gery
Darren yg sempat hanya fokus pada keyboard nya, kini berhenti dan menatap berkas yg Gery berikan.
''kamu sudah selidiki apa kendala nya??''
''sepertinya ada yg bermain dengan kita,Tuan''
''he, siapa yg berani mengusik ketenangan ku!!''
''seperti anda tahu, kasino milik Klan Tiger Black yg ada di Washington di bawah kendali kita, tapi beberapa Minggu ini mereka membuat ulah, Tuan banyak pengeluaran yg tak berbekas dan laporan pada pihak kita. Saya sudah coba hubungi Airen tapi dia selalu mengelak untuk menjelaskan.''
Darren yg mendengar kan hanya mengetuk-ngetuk jari di meja. Terlihat tenang tapi Gery tahu jika suasana hati nya Darren sedang tidak baik.
''mata-mata kita yg ada disana mengatakan, Airen bekerja sama dengan orang Budak kapal. Ada waktu beberapa hari dalam seminggu mereka akan melakukan pelelangan gadis desa yg mereka bawa dari penjuru kota yg terlepas dari pengawasan pemerintah.'' jelas Gery
''bagaimana dengan Demart?''
'' Demart, yg anda tugaskan untuk mengawasi disana. Sudah tiga hari ini tanpa kabar Tuan, bahkan Leo sendiri tidak dapat melacak nya''
Bruk!!!! Lemparan berkas langsung berhamburan dilantai.
''cari dia, apa pun keadaan nya bawa dia dihadapan ku!! Patahkan tulang nya jika dia melawan sisakan suara nya untuk menjelaskan kekacauan ini padaku!!!''
Gery hanya mengangguk pelan tanpa suara.
Dengan hanya melirik ke pengawal yg masih berdiri di pintu. Sinyal Gery langsung sampai ke mereka kedua nya langsung pergi dan hanya meninggalkan Gery dan Darren yg kini memijit pelipisnya.
''minum dulu kopi anda, Tuan'' ucap Gery pelan
Darren mengambil meminumnya sedikit, dan lalu duduk terpejam dengan bersandar.
''apa anda kurang istirahat,Tuan??'' Gery memberanikan diri
''emh, akhir-akhir ini aku susah tidur'' jawab Darren tenang
__ADS_1
''apa perlu saya panggil kan dokter Robert?''
''tidak perlu, jika kau ingin membantu temukan gadis itu''
Mata Darren masih terpejam, tapi perkataan nya membuat Gery melotot kan mata nya.
''kau berani melotot pada ku Ger??''
''ti,, tidak Tuan''
''aku bingung melihat kalian, tikus jalanan saja bisa kalian temukan. Tapi hanya gadis kecil saja kemampuan kalian seperti nya tidak berguna'' celoteh Darren yg masih tetap terpejam.
''gadis itu lagi'' batin Gery
''kami akan lebih berusaha lagi, Tuan''
''emh, keluar lah aku ingin istirahat sebentar''
''baiklah, kalau begitu saya permisi Tuan''
Gery pun berlalu dan menuju meja kerjanya yg tak jau dari ruangan Darren.
Siang ini Vio yg sedikit terlambat karna harus mengantar ibu-ibu yg terjatuh, lari pontang-panting dijalanan agar tak terlambat ke bandara. Niat nya adalah memberi Bible kejutan dengan tiba-tiba hadir, tapi sepertinya dia yg akan terkejut kalau Bible dan orang tua nya justru sudah berangkat duluan.
''Bibeeeen!!!!!!!'' teriak Vio yg melihat Bible dari jauh
Dengan kaki kecilnya Vio terus berlari hingga menarik perhatian pengunjung lain di bandara.
Hosh,,,hosh,,,hosh
Vio yg sudah sesak di dada nya hampir saja terjatuh beruntung Bible lebih dulu menangkapnya.
''Vio!!''
''a ku u ta ku t terlam bat'' Vio masih berusaha mengatur nafas nya yg memburu karna kebanyakan berlari. Luci yg panik langsung menarik nya duduk di sebelah nya. Dan Bible yg berlutut di depan Vio untuk mengimbangi tinggi nya.
''Vii, kenapa kamu berlari apa tidak takut dengan anakmu??''
''maaf, Bi Vio hanya takut terlambat '' kini suaranya mulai lancar setelah Zakir memberikan air pada nya. Bible langsung memegang perut Vio untuk memastikan semuanya baik.
''aku baik-baik saja'' jelasnya
''kamu ceroboh sekali, aku bisa menjemput mu tadi!!''
''aku ingin memberi kejutan''ocehan santai Vio
''hahha, kejutan ini memang sungguh kejutan Vii''
Bible menggeleng kan kepalanya pasrah
''jangan marah, aku hanya takut terlambat melihat kalian''
Vio yg mencari perlindungan dengan memeluk Luci di sebelah nya, sambil dengan wajah mengejek pada Bible.
'' kenapa kamu malah memarahi nya?'' Luci memukul lengan Bible yg masih duduk berlutut itu, sedang kan Zakir hanya tertawa melihat tingkah ketiganya.
''apa pesawat nya belum berangkat Bii?''
''belum sayang, masih tiga puluh menit lagi''
''bagaimana Vii, sudah ada jawaban??'' tanya Zakir kali ini
''bolehkah, Vio berangkat setelah ujian Paman''
Jawaban pelan Vio yg sambil menunduk itu tentu saja masih terdengar jelas di telinga keluarga kecil itu Luci yg tak percaya dengan jawaban Vio menatap riang ke suami nya yg berdiri tak jauh dari nya,
''Vii, kamu beneran akan ikut Bibi dan Paman??''
Tanya Luci memastikan dan di jawab anggukan oleh Violine.
''terima kasih sayang,'' Luci menimpali nya dengan ciuman kasih sayang, gitu juga dengan Zakir yg mengusap kepalanya.
Bible jangan di tanya lelaki ini hanya diam senang, dengan senyum bahagia nya akhirnya keinginan nya menjaga Vio akan lebih mudah karena mereka akan bersama.
''jaga diri ya, dua Minggu lagi Bibi yg akan menjemput kamu''
''baik, Bii'' ucap riang Vio
''ingat, jangan lari-larian lagi seperti tadi'' hardik Zakir
''Vio mengerti, Bibi, Paman'' ucap nya patuh
''jaga kesehatan kamu ya, jangan terlalu lelah ingat tubuh kamu sekarang ada Cucu Bibi, iya kan Paha?'' Luci menggoda
''iya, harus beri makanan yg sehat agar kalian berdua juga tumbuh sehat'' nasihat Zakir kali ini seperti nasihat seorang ayah yg Vio rindukan. Sejak mengenal keluarga Paolo Vio mengerti arti keluarga seperti mereka.
''Biben!!,'' panggil Vio yg melihat Bible hanya terdiam
''kamu tidak apa-apa??'' tanya nya kembali
''aku baik, bahkan lebih baik'' Bible tersenyum dan menatap dalam mata Vio. Dan benar Vio dapat merasa Bible senang dengan kehadiran nya tapi tidak pandai mengungkapkan nya.
''baik-baik disini saat aku tidak ada, dan ingat janji kamu jangan menangis lagi'' oceh Bible
Akhirnya panggilan untuk keberangkatan mereka sudah terdengar Paman Zakir dan Bibi Luci masuk duluan setelah memeluk Vio sebentar. Kini hanya tertinggal Bible.
''sini peluk'' ucap Bible yg membentang lengan nya
Vio pun masuk didalam nya, memeluk nya erat merasakan parfum Bible yg selalu membuat nya nyaman dari dulu.
''jaga diri ya anak kecil'' ejek Bible
''aku bukan anak kecil, apa kamu lupa aku sebentar lagi akaan jadi ibu jangan panggil aku anak kecil lagi'' Omelan Vio yg mengundang tawa Bible yg masih memeluk nya.
''baiklah, aku berangkat ya'' Bible mengusap kepalanya
''baik, pak dokter take flight ya kabarin setelah sampai ''
''ok''
Vio melambaikan tangan nya sampai sosok Bible benar-benar tak terlihat lagi, tapi air mata nya justru jatuh sekarang air mata yg di tahan nya sedari tadi.
''tidak boleh nangis, ya aku tidak boleh menangis lagi''
Menarik nafas nya dan berbalik ingin pergi tapi rasa kebelet nya tak tertahankan hingga harus berjalan cepat mencari toilet.
__ADS_1