Pesawat Kertas Zeffan Al'Bareck

Pesawat Kertas Zeffan Al'Bareck
Berjalan lebih dekat


__ADS_3

Vio terlihat lebih baik setelah menceritakan semua nya pada Bella, nafas nya tidak memburu lagi seperti biasa nya. Sesuai dengan yg Bella katakan jika Vio sudah berdamai dengan masa lalunya.


''aku senang jika kamu lebih baik?'' Bella memeluk Vio dengan kasih sayang


''aku juga, tapi aku akan lebih bahagia jika kamu sudah memiliki seseorang juga untuk menjaga mu'' ucap Vio


Bella mengerucutnya bibirnya.


''apa kamu juga akan seperti Mama ku?''


''Bell, coba kamu pikirkan lagi mungkin Mama mu hanya khawatir apa lagi ingat usia kita tidak lagi muda'' Vio membelai rambutnya


''mungkin sudah saatnya kamu memilih seseorang, kamu cantik kamu juga berbakat dan sudah seharusnya ada yg menjagamu'' Vio terus menasehati Bella


''bagaimana dengan mu?''


''aku?'' tunjuk Vio pada dirinya sendiri ''setidaknya aku memiliki Zee jadi aku tidak membutuhkan siapapun'' jawab Vio mantap


''oke, Nona Violine Al'bareck, kita akn lihat kedepannya'' ledek Bella


''kalau gitu aku akan istirahat sebentar ya, kepala ku sejak tadi pagi terasa berat'' Vio yg bangkit seraya memijit keningnya


''kamu sakit?'' Bella menghampiri nya


''tidak, mungkin hanya kurang tidur'' Vio menurunkan lengan Bella yg memegang pundaknya


''aku akan keruangan ku, jika butuh bantuan kami bisa memanggil ku'' Bella mengangguk dengan Vio yg berjalan keluar.


''apa sebaiknya aku bertanya langsung dengan Bible, tentang laki-laki itu?'' pikir Bella dengan suara pelan


Tak mau ambil pusing dulu, Bella melanjutkan pekerjaannya yg sempat tertunda.


***


''selamat pagi? Ada yg bisa dibantu?'' tanya Mina pada laki-laki yg baru masuk ke butik.


''oh, kamu yg kemarin datang dengan Nyonya Silvia kan?'' pria itu hanya menjawab anggukan, Mina pun jadi salah tingkah ketika mata elang Leo menatapnya tajam


Beberapa pegawai menghentikan pekerjaannya hanya sekedar melihat ke arah Leo, ya sejak keluar dari rumah utama keluarga Andreason Leo singgah membeli makanan dan ingin memberikan nya pada Bella.


Namun tiba sampai di butik langkah kakinya hanya tarik ulir ketumika ingin masuk, pikiran dan hatinya saling bertabrakan. Hampir satu jam Leo hanay berdiam diparkiran hingga Leo memantapkan langkahnya masuk.


''Nona Bella nya ada?''


''a-ada di atas'' Mina semakin salah tingkah


''ma-mau saya panggilkan?'' tanya Mina lagi


''tidak perlu, saya hanya membawa pesanan makanan milik Nona Bella'' bohong Leo dengan mengangkat bungkusan ditangan nya.


''a-ah, baiklah silahkan naik ruangan buk Bella ada disebelah kanan dari tangga'' Mina menunjukkan arah


Leo hanya anggukkan sekali kepala nya dan melesat naik..


''ka Mina? Itu pacarnya buk Bella?'' tanya salah satu pegawai yg kepo dan beberapa temannya yg juga mendekat ke Mina.


''saya juga tidak tahu, tapi jika iya bukankah dia terlihat tampan'' mata Mina berbinar mengagumi sosok Leo biarpun masih memakai masker dan topi nya tapi sorot mata nya seperti menarik orang-orang disekitarnya.


Tok tok tok,,,


''ada yg tertinggal lagi Vii?'' Bella tak melihat ke arah pintu, sampai dia bisa merasakan ada langkah yg mendekat dan seperti nya Bella tahu.


''Leo?'' Bella pun berbalik


''kamu bisa tahu?'' suara khas Leo dengan senyumnya


''tentu, sudah ku bilang aku menyukai harum parfum mu'' Bella spontan menutup mulutnya yg keceplosan.


Leo tersenyum jenaka mendengar pengakuan Bella yg tiba-tiba, dengan melempar asal topi nya Leo mendekat ke arah Bella.


''kamu hanya suka parfumnya??'' suara lembut Leo berhasil membuat Bella sulit mengendalikan detak jantung nya


''ah, bu-bukan ma-maksud ku ha-hanya, a-yo duduk'' Bella mengalihkan perhatian Leo dan langsung bergeser ke sofa


Leo pun dengan senyum tipis nya mengikuti Bella ke arah sofa. Sempat diam beberapa saat karena Leo terus menatap ke arah Bella sambil menopang kepala nya dengan salah satu tangannya.


''aku akan pergi ke Washington'' suara Leo menarik perhatian Bella yg sedari tadi menatap ke arah lain.


''kamu mau pergi?''


''iya, ada pekerjaan yg harus aku selesaikan''


''la-lalu kenapa mengatakan nya padaku''


''baiklah, aku pergi''


''tunggu?'' Bella menarik ujung baju Leo yg sudah bangun lebih dulu.


'a-aku ha-'' Bella terlihat gugup dengan tangan yg masih menarik ujung baju Leo.


''aku datang kemari hanya ingin pamit denganmu'' Leo yg paham dengan sikap Bella yg malu-malu


Ntahlah Leo sebenarnya tidak benar-benar pernah mendekati wanita, tapi sejak kenal Bella sikapnya berubah menurutnya karena dia lelaki dia harus lebih jelas menunjukkan perasaan nya meskipun Leo belum terlalu yakin apa dia benar-benar menyukai Bella.


''aku bisa disana mungkin lebih dari seminggu, aku hanya tidak ingin kamu berpikir buruk tentang ku'' Leo mengambil tangan Bella yg memegang bajunya.


''waktuku tidak banyak, aku akan pergi sore ini'' mata Bella menatap ke arah Leo


''lalu? Apa kamu akan menemui ku lagi ketika kembali?'' suara Bella terdengar sendu


''pasti, aku akan menemui lagi'' Leo tersenyum tipis mata Bella berbinar ke arah Leo seperti ada magnet yg menariknya ketika Leo tersenyum.


Wajah kaku dan sikap dingin yg biasa melekat pada sosok Leo, kini tersenyum ke arah Bella tiba-tiba Bella merasa perasaan mulai tidak waras.


''kamu sudah lebih baik?'' Leo duduk di depan Bella


''entahlah, tapi dari semalam aku belum bicara dengan Mama ku'' Bella menutupi perasaan sedihnya akibat bertengkar dengan Mama nya.


''bicaralah setelah perasaan mu lebih baik, tidak baik jika kamu terus menghindari Mama mu'' Leo dengan note rendah


''apa sekarang kau sedang menasehati ku?'' hardik Bella


''kupikir kau hanya bisa mengancam saja'' Leo menggeleng kan kepala nya dengan tawa kecil

__ADS_1


''entahlah, aku juga tidak tahu tapi sejak mengenalmu aku seperti punya pribadi yg baru aku sadari ternyata aku bisa'' Bella yg menatap ke Leo merasa tidak ada kebohongan disana.


''sebenarnya aku masih ingin mengganggu mu, tapi aku harus pergi sekarang??'' Leo bangkit dan memegang kepala Bella


''kamu akan pergi sekarang?, Bukankah kamu bilang akan berangkat sore?'' Bella juga ikut bangkit


''benar, tapi masih ada yg harus aku persiapkan''


''oke'' angguk Bella yg tak bersemangat


''oh, aku tadi membeli ini tapi aku tidak tahu apakah kamu akn menyukainya'' Leo mengeluarkan jepit rambut perak berbentuk kupu-kupu itu dari saku nya.


''aku melihatnya ketika sedang dijalan, saat itu aku memikirkan mu jadi aku pikir kamu akan menyukainya''


Bella tersenyum manis, untuk pertama kali nya adavorang lain yg memberikan barang pada nya karena sedang memikirkan nya perasaan bahagia tak bisa di gambarkan oleh Bella.


Biasanya hanya Vio dan Bible yg selalu memberikan nya sesuatu ketika hari ulang tahun nya, tapi hari ini bukanlah ulangtahunnya lalu ada yg memberikan dia hadiah tentu saja senyum itu tak lepas dari wajah nya.


''aku pakaikan?'' Bella pun mengangguk, dengan perhatian Leo menyelipkan rambut panjang Bella ke belakang telinganya dan menjepit kan jepitan yg dia beli disana.


''terimakasih'' tangan Bella meraba jepitan dirambutnya


''kamu suka?'' Bella hanya mengangguk


''baguslah, aku pi-'' ucapan Leo terhenti karena Bella tiba-tiba memeluk nya.


''ini pertama kalinya ada yg memberikan aku hadiah selain Vio, terima kasih ya'' ucap Bella yg memeluk Leo


''ini hanya hadiah kecil, dan kamu sudah seperti anak kelinci'' Leo membalas pelukan Bella.


Bella merasakan aroma tubuh Leo yg mampu membuatnya nyaman, menyandarkan sebentar kepalanya di dada bidang milik Leo.


Sampai dering ponsel Leo berbunyi, Bella merenggangkan pelukannya.


''aku mengerti, siapkan semua aku akan berangkat sekarang'' ucap Leo balas suara orang yg disebrang sana.


''apa harus pergi sekarang?'' Bella menatap ke atas


''emh, mereka sudah menungguku'' tangan Leo masih merapikan halus rambut-rambut Bella yg mengenai wajahnya


''baiklah, kamu boleh pergi'' Bella melepaskan tangan nya dari tubuh Leo


''oke, aku pergi'' Leo menatap lekat wajah Bella sebentar, untuk menyimpan nya di matanya.


''hati-hati, dan cepat kembali'' ucap Bella


''pasti, jangan lupa makan makanan yg ku bawa'' Bella pun mengiyakan.


Kini pintu kembali tertutup karena sosok Leo yg sudah pergi, Bella masih tersenyum dengan melihat jepitan dari Leo yg terpasang dirambutnya lewat pantulan kaca.


***


''Zee?''


''Papa? Yey Papa jemput Zee'' bocah itu melompat ke arah Bible.


''Papa mau ajak Zee makan siang, Zee mau?''


''mau??'' teriak nya senang


''halo Zee?'' sambil mengambil tas yg Bible berikan


''Mama tidak ikut, Pa?''


''tidak Sayang, Mama hari ini ada kerjaan jadi Zee sama Papa dulu ya'' Bible mengajaknya masuk ke dalam mobil


''baik Pa?''


''Om Wisnu akan ikut kita kan?'' tanyanya lagi dengan melihat Wisnu di kursi kemudi.


''Lalu? Apa Zee mau ajak Om makan?'' Wisnu memiringkan tubuhnya ke arah Zeffan.


''tentu'' ucap riangnya dengan bertos ria dengan Wisnu


''Wis, kita langsung ke hotel Grand saja''


''hotel Grand, Tuan?''


''benar, aku akan bertemu dengan Darren disana''


''baik Tuan''


Zeffan memandang Bible ketika menyebut nama Darren.


''kenapa? Zee'' tanya Bible lembut


''apa kita akan bertemu Paman, Pah?


''emh, Paman sudah menunggu kita disana'' tapi wajah Zee terlihat tidak bersemangat.


''kenapa? Apa Zee tidak ingin bertemu Paman?'' Bible yg merasakan Zee jadi diam.


Wisnu juga ikut melihat selintas reaksi Zee dari pantulan kaca depan.


''apa Papa akan memarahi Paman?'' kening Bible mengernyit


''ha? Kenapa Papa harus marah pada paman?'' Zee mengeluarkan kalung batu dari tasnya.


''Paman memberikan ini pada Zee, apa Papa akan memarahi nya karena Paman tidak minta izin pada Papa?''


Zee menyadari jika tiba-tiba dia memiliki kalung Zee yg sudah bisa membaca tentu saja tahu jika huruf yg ada di pantulan batu itu adalah inisial namanya. Setelah berpikir jika itu pemberian Bible Zee cukup senang tapi tadi malam sebelum menidurkan nya Bible memberi tahukan kalau kalung itu dari Darren, hati kevncil Zee langsung sedih dan membuka kalung itu.


''Zee? Papa tidak akan marah dengan siapapun hanya karena orang itu memberikan sesuatu untuk Zee. Kan Papa selalu bilang kalau Zee menyukainya Zee boleh simpan itu, Papa hanya ingin Zee tetap bahagia. Oke'' Bible mencium pipi anak yg bersandar di tubuhnya sekali


''tapi Zee ingin memulangkan nya, Zee tidak mau Papa sedih'' Bible terharu dengan sikap Zee yg langsung memihaknya tapi ada perasaan sedih juga jika Zee tahu dia bukanlah Papa kandung nya.


''Zee, apapun yg terjadi bisakah aku tetap jadi Papa mu Zee?'' batin Bible mencium puncak kepala Zee


''Zee boleh menyimpan nya, Paman akan sedih jika Zee tidak menerima hadiahnya'' ucapa Bible lembut


''baik, Pah'' anak itu selalu menurut perkataan Bible


***

__ADS_1


''Tuan, tuan Bible sudah datang'' ucap salah satu pengawal yg mendatangi Darren juga Gery.


''bawa saja kemari'' sahut Darren dengan mata masih ke arah laptopnya.


Darren sebenarnya sedang sibuk dengan beberapa pekerjaan yg harus diselesaikan, tapi begitu mendapatkan telpon dari Bible yg ingin bertemu.


Darren mengajak nya bertemu disalah satu hotel miliknya.


''Tuan Bible'' sapa Gery Bible hanya tersenyum


''halo Paman'' suara riang Zee yg menunduk


Sontak Darren mengangkat pandngan matanya.


''Zee?''


''aku membawa nya, agar tidak ada lagi tikus yg sengaja diam-diam menemuinya'' sindir Bible ke arah Darren


''disini ada tikus, Pah?'' tanya Zee yg memegang jari Bible


''Paman sudah mengusirnya untuk Zee'' sahut Gery menengahi, dan mengajak Bible agar duduk di tempat yg cukup private


Darren sengaja memilih tempat ini karena tahu jika yg mereka bahas adalah hal yg tidak bisa dibicarakan di tempat sembarangan.


''Zee?'' panggil Darren pada bocah yg masih menempel pada Papa nya.


''iya, Paman?'' jawabnya


''Zee ingin makan sesuatu?'' tanya Darren ragu-ragu karena sejak tadi Darren memperhatikan Zeffan selalu menghindari tatapan nya.


Dan benar saja, anak empat tahun itu melihat ke arah Bible seperti memintanya untuk menjawab.


''Zee boleh minta dengan baik ke Paman, kalau Zee mau'' Bible mengelus puncak kepalanya.


Bible sengaja mendorong buku menu agar lebih dekat ke Darren,


''Tuan terima lah niat baik Tuan Bible'' batin Gery yg geram melihat Darren malah bingung dengan sikap Bible


Bible hanya bisa mengide nya dengan tatapan matanya.


''Paman, aku ingin naik?'' Zee merentangkan tangan nya ke arah Darren agar membantunya


Darren bahkan tidak menyadari sejak kapan Zee sudah ada disampingnya.


''anggap saja aku memberikan satu kebaikan untukmu'' ucap dingin Bible


''Paman, boleh aku lihat?'' Zee menunjuk buku menu


''tentu, Zee ''


''wahhh,,, makanan nya mewah sekali'' ucap polos Zee dengan mata berbinar


''apa kau yakin ingin membahas nya, disini?'' Darren melihat ke Bible


''aku sudah memikirkan nya, lagian dengan lain waktu aku tidak tahu apakah aku ada kesempatan membiarkan kalian bertemu lagi'' Bible masih dengan aura dinginnya


''ini adalah kesempatan terakhir mu, jika kau bisa meyakinkan ku dengan penjelasan mu, aku akan izinkan kau mendekati mereka tapi kalau tidak jangan salahkan aku jika mereka aku bawa pergi jauh''


Deg,,,


Ada perasaan berdenyit di hati kecil Darren, biasa nya dia selalu percaya diri dengan semua yg dia lakukan tapi kali ini Darren sendiri tidak yakin kemana kepercayaan dirinya yg biasa.


Setelah Gery mencatat semua apa yg Zee mau, Gery membawa anak itu untuk melihat suasana kota dari gedung tinggi ini, dan tentu saja setelah Bible yg memintanya.


''baiklah, kau ingin dengar darimana?'' tanya Darren langsung


''bagaimana dengan awal kau bertemu dengan Chelsea'' sahutnya.


''aku belum pernah bertemu dia sebelum nya. Saat itu juga setelah aku tahu kali hari kelahiran Zeffan sudah dekat aku memilih stay di New York.'' Darren memasang wajah serius


''sampai aku tahu jika ada perjanjian antara Papa ku dengan keluarga Deralt. Tapi waktu itu aku ingat jelas aku jika mereka hanya ingin beberapa anak cabang bukan perjodohan''


''jadi? Maksud mu Paman Balgas yg mengatur perjodohan ini?''


''aku tidak tahu pasti siapa yg memulai perjodohan ini, tapi yg jelas Papa sudah menyetujui nya''


''lalu Chelsea menerima mu begitu saja?''


''he? Menurutmu gadis yg haus akan popularitas seperti dia apa mungkin akan menolak seorang pewaris tunggal'' Darren menyunggingkan senyumnya


''aku bertemu dengan nya, dihari Zeffan lahir setelah itu aku tidak pernah bertemu lagi dengannya'' jelas Darren


''berita pernikahan itu?'' Bible yg masih penasaran


''itu hanya otak dari Perth karena pabrik mereka jatuh, aku tidak ingin membantu mereka jadi untuk menarik kerja sama dia menggunakan berita murahan itu untuk menaikkan kembali sahamnya''


''sudah ku duga'' Bible mengangguk kan kepalanya


''orangtua ku sudah tahu tentang kesalahanku''


''apa??''


''sudah ku katakan, aku tidak ingin menutupi lagi kesalahan ku''


''jadi kau sudah memberi tahu tentang Vi?''


''tidak, aku hanya mengakui kesalahan ku tapi aku belum memberikan info tentang Vio dan Zeffan''


''apa menurut mu Paman Balgas tidak akan mengetahui nya!!''


''aku sudah mengatakan pada mereka aku yg akan mengenalkan mereka langsung,'' Darren masih terlihat tenang


''jika ada masalah dengan mereka, aku sendiri yg akan menyelesaikan denganmu sendiri'' ancam pelan Bible


''setelah kejadian tentang Zee kemarin aku juga menyadari mereka tidak akan aman dengan aku disekitarnya'' suara sendu Darren menarik pandangan Bible


''sebaiknya selesai kan urusan mu dengan Chelsea, karena aku tahu Chelsea tidak akan membiarkan Vio hidup tenang apa lagi kalau dia sadar Zee adalah anakmu''


''kau sudah tahu tentang akar kecelakaan yg hampir menimpa Zee kan?'' tanya Darren memastikan


''semua jika itu tentang Zee dan Vio aku tidak pernah melewatkan nya satu pun''


''tapi hanya ada satu jalan untuk menyingkirkan Chelsea dari hidupku''

__ADS_1


''bagaimana??'' tatapan tajam kedua nya kini saling beradu.


__ADS_2