
Niat Vio adalah mengantar Bible ke apartemen nya, namun karena tahu Vio akan bekerja Bible memilih yg mengantarkan Vio terlebih dahulu ke butik. Sedangkan bocah laki-laki itu jangan di tanya Zee lagi senang dengan Dunia sendiri di kursi penumpang dengan kotak Lego yg merupakan hadiah dari Bible, tentu saja Lego kesukaan nya yg jika selesai itu akan berbentuk pesawat.
Sedangkan di tempat lain...
''Tuan dari mana saja??'' tanya Leo dan Gery yg terlihat panik
''apa aku anak kecil di mata kalian?'' Darren dengan nada malas nya melewati Gery dan Leo yg berdiri menghdang nya.
Setelah pertemuan nya dengan Zeffan, Darren memilih kembali ke rumah nyadengan mood yg lebih baik setelah pembicaraan kecil dengan Zeffan membuat suasana baru bagi Darren.
Sedangkan Gery dan Leo yg pagi-pagi membawa pakaian ganti milik Darren, terkejut setelah sampai tak melihat sosok Tuan nya. Keduanya pun kelimpungan hingga akhirnya gamery memutuskan untuk menunggu di kediaman pribadi milik Darren.
''oh, Gerr?'' Darren yg hampir masuk dalam kamar nya berhenti dan berbalik ke arah bawahan nya yg masih memasang wajah bingung.
''ya Tuan?''
''apa hari ini, Bible pulang ke Indonesia?''
''maksud anda Tuan muda Paolo??''
''benar''
''seharusnya benar Tuan, karena sesuai kontak kita dengan Force.co mereka harus melaporkan hasil nya hari ini''
Darren mengangguk mengerti.
''tapi dari pihak Force.co belum ada mengkonfirmasi Tuan''
Jelas lagi Gery masih memasang wajah bingung nya
''kalau begitu jika ada pertemuan hari ini siapkan semua kita akan menemui nya'' ucap Darren mantap
''tapi biasa nya jika hanya laporan anda biasa nya tidak pernah mau menemui langsung, Tuan?''
''kali ini aku ingin menemui nya langsung''
''lagian aku ingin lihat orang yg kata nya lebihb tampan dari aku itu'' hardik Darren pelan tapi masih terdengar jelas oleh Gery dan Leo.
Keduanya saling lempar pandang dengan gelagat aneh Darren.
''ahh, sudah-sudah pokok nya jika bisa hari ini ajak minta pihak mereka laporkan hasil''
''baik Tuan''
''kalian pergilah'' balas Darren malas dengan mengibas-kibas tangan nya, dan langsung masuk dalam kamar nya untuk membersihkan diri.
Namun belum sempat Gery dan Leo pergi pintu kamar Darren kembali terbuka, kedua nya kembali berbalik
''oh ya Gerr, mulai sekarang selalu sediakan permen dimana pun'' tampak wajah Darren yg bingung. ''ahh, maksud ku di mobil, di jas pokok nya dimana pun dan kalau bisa kalian juga membawa nya dengan kalian, mengerti'' keduanya hanya mengangguk ''yasudah kalian pergilah!!''
Bruuk....
Pintu kamar langsung tertutup
''itu Tuan Darren kan Ger???''
''entahlah'' keduanya menatap pintu yg tertutup itu
''permen?? Sejak kapan Tuan makan makanan manis?''
''Leo, apa menurut mu kita perlu bawa Tuan ke Dokter?'' Gery mengarah ke Leo yg berdiri disampingnya.
''sepertinya mulai sekarang pekerjaan kita bukan hanya menjaga Tuan, tapi juga berjualan'' ucap Leo
''maksud mu dengan permen?''
Leo memainkan alisnya, Gary hanya bisa menggeleng kan kepalanya.
''Zee, Papa mau bertemu dengan teman kerja Papa apa mau ikut?'' ajak Bible ragu
''mau??'' Zee yg tadi berbaring dengan peritilan Lego nya, langsung bangun dan melangkah mendekati Bible
''Zee tidak akan bosan kan?''
''tidak, disana kan ada Papa'' jawabnya antusias
''yasudah kita ganti baju ya?''
''boleh bawa susu?''
''emh, tentu'' Bible tersenyum mendengar nya
''yeeeeeyyyyyy, terima kasih Papa''
Ya Zee memang anak yg pintar, tapi sepintar apa pun dia Zee tetap lah anak pada umum nya. Kebiasaan yg belum bisa di ubah oleh Vio dan Bible adalah Zee masih tercandu oleh susu dengan botol bayi milik nya.
Siang ini Darren yg memilih bekerja dari rumah, terlihat fokus walaupun ada Gery dan Leo di sekitarnya. Wajah nya yg terlihat datar jiian bekerja kini berubah lebih bahagia setelah Gery memberi kabar kalau pihak Paolo ingin mengajak nya bertemu untuk membahas perkembangan. Tadinya Bible menawarkan akan menemui nya langsung di tempat
Tapi setelah tahu jika Bible tidak hanya dengan assisten nya tapi ada anak kecil dengan nya, Darren dengan berbagai akal menolak nya halus dengan alasan Darren ingin sekalian melakukan makan malam. Bible terpaksa menyetujui nya karena biar bagaimanapun Darren saat ini berjasa besar untuk perusahaan keluarga nya yg hampir bangkrut.
Dengan memakai kemeja yg sama dengan milik Bible orang hanya akan berpikir jika Bible adalah pengusaha muda dengan anak satu, atu lebih tepat nya duda keren (Duren).
Keduanya masuk di salah satu hotel bintang lima salah satu milik keluarga Andreason.
''Tuan Bible'' sapa sopan Leo
''selamat malam'' sapa balik Bible yg sedikit menunduk, namun mata Gery berdacak kagum pada anak kecil yg digandeng oleh Bible bocah tampan dengan rambut ilak nya dan tangan kecil satu nya memeluk robot berbentuk pesawat itu.
Jika biasa nya Leo hanya menjaga nya dari jauh dan mengambil gambar nya dari jauh untuk bahan laporan nya pada Darren. Kini bocah itu berada didepan nya tentu saja ada kegugupan sendiri di duri Leo.
Bible pun berjongkok untuk mengimbangi Zeffan.
''Zee??'' ucap nya lembut dengan merapikan rambut Zee
''iya Papa?''
''Papa ada meeting sebentar di dalam, tapi nanti Zee duduk dengan Om Wisnu sebentar, boleh?'' nada Bible yg rendah dan lembut membuat Leo yg mendengar merasa teduh
''boleh, Pa'' ucapnya manja
''ini baru anak Papa'' Bible mencium pipi Zee
Wisnu yg mendapat kode dari Bible membawa Zee melangkah masuk lebih dulu. Dengan kemeja hitam yg pas di tubuhnya dan ransel kecil di pakai nya siapa yg tidak akan gemas dengan bocah empat tahun itu.
''silahkan, Tuan'' ajak Leo
__ADS_1
Bible pun mengikuti nya dengan sekilas melihat ke arah Wisnu membawa Zeffan.
''selamat malam, Tuan Darren'' sapa santai Bible
''selamat malam '' Darren menangkap tangan Bible yg sudah terulur lebih dulu.
Tapi mata nya melihat ke arah belakang Bible, Bible yg heran pun mengikuti arah mata Darren tambah bingung karena tidak ada siapapun selain dia.
''apa ada orang lain lagi Tuan?'' tanya Bible
''ah, aku pikir tadi kamu bilang akan bersama anak kecil?''
''ohh, maksud anda Putra saya??''
''Putra??, Kenapa rasanya sakit sekali mendengarnya''
Batin Darren lirih
''benar, dimana dia?''
''saya meminta assisten saya menemani nya di sana''
Unjuk Bible yg diikuti Darren, terlihat meja itu jauh lebih rame dibanding meja nya terlihat Gery dan juga Leo pun berada disana.
''bisa kita mulai Tuan?''
''silahkan'' jawab Darren datar
Sedangkan di meja lain, terlihat lebih ramai karena tingkah lucu Zeffan bahkan Gery dan Leo berdacak kagum melihat kebijakan Zeffan.
''Zee mau makan yg lain lagi?'' tanya Wisnu setelah melihat sushi makanan kesukaan Zee sudah habis.
''Om, apa boleh makan ice cream?''
''kita tunggu Papa ya''
''yahh'' Zee mengerucut kan bibirnya
''apa dia tidak boleh makan makanan manis??' tanya Gery
''boleh, tapi Zee baru mendapatkan perawatan Dokter karena gigi nya bermasalah'' jelas Wisnu
''kamu sering makan makanan manis ya??'' selidik Gery
''itukan enak, Paman''
''Paman?''
''ya tentu saja, lalu aku harus panggil apa?''
''dia bisa kamu panggil Om?'' unjuk Gery tidak terima ke Wisnu
''karena itu Om Wisnu, kalian kan berbeda''
''apa nya yg beda??''
''ya tentu saja, Om Wisnu bekerja dengan Papa jadi harus panggil Om dan Tuan kalian kan bukan Papa ku jadi aku harus sopan dan panggil Paman'' jelasnya dengan mendapatkan acungan jempol dari Wisnu.
''Tapi dia itu memang Papa mu, nak'' batin Gery yg menatap ke arah Leo.
''Om, apa Papa masih lama?''
''tidak Om, aku ingin makan ice cream '' lirih nya dengan menunduk.
''sepertinya ini waktu ku membalas Tuan, kapan lagi ha ha''
Batin Leo dengan senyum licik nya
''ada apa dengan wajahmu?'' Gery yg mulai curiga
''sssssttttts'' Leo menempel kan jari telunjuk dimulutnya, Leo pun berulah dengan menusuk lembut pundak Zee.
''kamu mau ice cream kan?'' ucap Leo setelah Zee melihat ke arah nya. Dan di jawab anggukan oleh Zeffan.
Leo membuka tangan nya, tapi siapa sangka Zee langsung bangun dan berdiri di kursi agar mudah naik dalam digendong Leo.
''ehh, mau dibawa kemana??'' Wisnu yg mencegat
''aku hanya minta izin''
Leo membawa Zee ke arah tempat Darren dan juga Bible lagi menjalankan meeting mereka berdua.
''sejak kapan Leo yg ambisius itu mampu meluluhkan anak kecil??'' Gery bingung
''ini pemandangan biasa, karena Zee memang mudah akrab dengan orang baru'' balasan Wisnu yg melihat ke arah mana Leo membawa Zee.
Tok tok tok...
Darren dan Bible melihat ke arah suara bersamaan. Leo melihat ke arah Tuan nya yg menatap tak percaya apa yg di bawa nya.
''Zee??''
''Papa'' Zee langsung merosot dari tubuh Leo
''apa Papa sudah selesai?'' tanya nya manja yg kini menempel pada paha Bible
''sudah'' Bible menaikan nya di pangkuannya
''maaf, apa dia rewel??'' tanya Bible pada Leo
''tidak Tuan, Zee seperti nya ingin sesuatu '' setelah itu Leo pergi dan selintas memainkan alis nya ke arah Darren.
''ada apa dengan dia??'' batin Darren bingung
''Zee mau apa??''
''Pa, Zee mau ice cream''
''ice cream?''
Yg hanya di jawab anggukan oleh Zeffan.
''coba Papa lihat gigi nya?'' Zeffan langsung membuka mulutnya di depan Bible, Darren yg duduk di depan mereka hanya melihat dengan fasih keakraban kedua nya.
''oke, tapi setelah itu gosok gigi, Zee ngkk mau kita ke Dokter Zain lagi kan?'' Zeffan hanya menggeleng cepat
__ADS_1
''apa dia sering sakit gigi??'' tanya Darren tiba-tiba
Zeffan langsung melihat ke arah suara matanya seketika terbelalak menatap Darren.
''tidak, hanya kemarin gigi susunya ada yg pembekakan jadi saya terpaksa membawanya ke Dokter'' jelas Bible
''benarkah'' Darren henya tersenyum licik ketika Zee malah menatap nya tajam.
''Zee? Kenapa menatap Paman seperti itu, ayo beri salam Paman'' Zee pun menurut dengan turun dan Salim kepada Darren masih dengan tatapan tajam nya.
''halo, Paman aku Zeffan '' ucap nya yg lalu membungkuk
''ternyata pura-pura tidak mengenal ya'' gerutu batin Darren melihat tingkah Zee.
''Zee mau Ice cream apa??''
''coklat'' antusias nya
Sebentar ya biar Papa minta Om Wisnu bawakan. Namun belum lagi menggunakan ponsel nya, benda pipih itu lebih dulu berdering
''maaf Tuan, saya terima telepon dulu''ucap sopan Bible yg mendapat anggukan oleh Darren.
''sebentar ya, Sayang'' Bible mencium puncak kepla Zee yg gantian duduk di tempat nya dan lanjut berjalan keluar dengan ponsel yg menpel pada telinga nya.
Darren memasang senyum licik dengan mengarah ke Zee. Siapa sangka Zee langsung turun dari kursinya dan mendekat ke arah Darren.
''Paman?'' panggil nya agar Darren mendekat, kini wajah mereka hanya beberapa Senti saja membuat Darren memandang takjub pada bola mata hitam milik Zeffan.
''jangan katakan pada Papa jika kita bertemu sebelumnya''
Suara Zee yg berbisik langsung masuk ke gendang telinga Darren.
''apa kamu takut?''
''bukan'' kedua nya kini malah saling berbisik
''lalu? Apa Papa itu akan memarahiku?
''tentu saja tidak, Papa tidak pernah memarahi sembarang orang'' bela nya dengan nada kesal.
''baiklah, lalu aku akan memberitahunya'' ucap nya asal yg ingin kembali dengan posisi duduk nya, namun tiba-tiba tangan kecil itu justru menarik paksa dari yg dikenakannya yg membuat Darren menunduk kembali.
''Papa hanya akan khawatir jika aku berbicara dengan orang asing, sekarang Paman paham kan?'' Zee memberikan jari kelingking nya pada Darren.
''untuk apa??''
''Paman belum berhmjanji denganku'' Darren pun menaut kan jari nya.
''lalu? Apa imbalan ku jika aku tidak mengatakannya??''
''Paman ingin apa?, Jika Paman ingin uang Paman harus menunggu ku lima belas tahun lagi''
''uang ku sudah banyak untuk apa aku menunggu uang mu!!''
''kalu begitu Paman ingin apa??'' Zee yg mulai kesal
''bagaimana kalau kamu mencium ku?'' ucap asal Darren
Cuuup....
Darren terperanjat kaget ketika Zeffan tiba-tiba mencium nya. Secara tiba-tiba jantung nya seperti akan berhenti saat itu juga.
''ingatlah agar Paman tidak melanggarnya'' ancam Zee dengan menunjuk ke arah Darren.
''Zee??''
Suara Bible yg sudah datang mengagetkan kedua nya
''Pa?''
''kamu sedang apa di bawah??''
''oh, ini sepatu Paman talinya terlepas'' jawabnya asal yg lalu duduk kembali di pangkuan Bible.
Darren mengernyit kan dahi nya terheran.
''bahkan sepatu ku tidak ada talinya'' batin Darren yg melihat ke arah sepatu nya memastikan sesuatu.
''kita makan ice cream nya di rumah saja ya?''
''kenapa, Pa?'' wajah Zee tampak kecewa
''Paman ada disini, bagaimana kalau Paman ada pekerjaan lain'' ucap Bible memberi pemahaman
''tidak apa-apa kita bisa makan malam disini, kebetulan saya juga belum makan apapun'' Darren menengahi
''tuhkan, Paman tidak sibuk''
''baiklah'' Bible akhirnya mengalah
Setelah selesai makan tidak lam Wisnu, Gery dan Leo pun masuk membawa beberapa berkas.
''Tuan, ini semua hasil cetakan suntikan dana kita ke force.co''
Jelas Gery memberikan map
''jika selesai kita bisa menandatangani nya'' tambah Bible
''Wis? Ransel Zee'' pinta nya tiba-tiba
''anda mencari susu nya Tuan??'' yg di jawab anggukan oleh Bible sedangkan Zeffan mulai kehabisan tenaga setelah banyak makan dia hanya berdiam bersandar di dada Bible tanpa suara.
''sebentar Tuan akan saya ambilkan tadi saya minta tolong pada pelayan untuk menghangatkan nya'' Wisnu pun berlari kecil keluar
''Zee masih nyusu??'' tanya Darren penasaran
''benar Tuan, hanya kebiasaan kecil nya'' balas ramah Bible
''tapi dia terlihat sudah kenyang, apa baik jika ditambah lagi dengan susu??''
''tenang saja Tuan, Zee akan selalu seperti ini jika tenaga nya mulai terkuras'' goda Bible dengan menarik pipi nya Zee namun Zee masih diam dengan sambil melamun.
Malam ini banyak pelajaran yg di ambil Darren dari pertemuan nya dengan Bible dan Zeffan, dari makanan apa yg dia suka mainan apa yg membuat nya senang dan kebiasaan apa yg membuat nya tenang.
Selama perjalanan pulang Darren yg menatap luar melalui jendela mobil, banyak tersenyum membuat Gery dan Leo yg melihat nya dari kaca merasa senang
__ADS_1
Sudah hampir tengah malam ketika Bible membawa kembali Zeffan yg tertidur digendongan nya, namun saat masuk dia dapat melihat Vio yg tertidur di sofa dengan duduk dan layar laptop menyala.
''anak ini kapan akan memahami kesehatan nya'' keluh Bible pelan agar Vio tidak terbangun.