
Leo menarik Bella ke samping butik dengan ringan nya.
''apa yg kau lakukan, hah!!'' Bella memukuli tangan Leo yg memegang pinggang nya.
''diamlah!!'' Leo menempel satu jarinya ke mulut Bella sambil melihat sekeliling nya.
''apa Nyonya Silvia sudah pergi?'' masih dengan celingukan
''sudah dari tadi'' Bella menatap nya tajam
''kenapa??'' Leo yg bingung dengan tatapan Bella
''sebenarnya kamu ini siapa sih?''
''astaga, masih tanya soal ini juga'' Leo menepuk kening nya,
Leo berdacak pinggang di depan Bella yg hanya menyisakan beberapa Senti saja darinya.
''kamu tinggal katakan saja, karena setiap kehadiran mu selalu misterius'' Bella memicing kan mata nya ke arah lelaki yg masih memakai masker dan topi nya.
Huft,, terdengar Leo membuang nafas nya
Tangan Bella bergerak melepaskan topi dan masker Leo
''kamu tidak takut lagi denganku?'' suara Leo dengan lembut
''ntahlah, yg jelas aku hanya penasaran denganmu'' Leo menyungging kan senyumnya
''ingin makan malam denganku?'' ajak Leo
''aku?'' Bella menunjuk dirinya sendiri
''memang nya siapa lagi''
''tapi pekerjaan ku belum selesai ''
''kalau gitu aku akan menemanimu nanti'' Leo langsung membawa Bella pergi ke tempat dimana anak buah nya sudah menyediakan mobil untuknya.
''kalian pulanglah lebih dulu, dan ingat jangan ada yg mengikuti ku!!'' titah Leo cepat-cepat memasukan Bella dalam mobilnya.
***
''tapi di dalam ada Bible?'' ucap Vio sebelum membuka pintu ruangan nya.
''sebenarnya aku ingin bahas sesuatu dengannya, tapi jika ada kamu kurasa akan lebih mudah'' Darren masih terlihat santai
Karena Vio yg terlalu lama berdiri di depan pintu, Darren membuka pintu lebih dulu.
''Vii? Sudah selesa-i'' Bible meletakkan laptop nya menatap ke arah pintu
''apa yg kau lakukan disini?''
''hanya bersantai'' Darren duduk santai di depan Bible dengan melipat kan kakinya.
Vio menatap ke arah Wisnu yg tak kalah bingung seperti nya.
''ada apa ini? Kenapa kalian terlihat aneh'' namun kedua lelaki itu hanya saling lempar pandangan tajam.
''jika aku mengganggu, aku akan keluar dulu''
''stop!!!!'' keduanya bersuara bersamaan
''hah?'' Vio memandang Darren dan juga Bible bergantian
''sebenarnya apa yg kamu mau?'' tanya Bible dingin
''kau tahu jelas kenapa aku ada disini !''
''Tuan Darren, apa menurutmu ini tempat yg tepat untuk membahas?!'' Bible kehabisan kesabaran nya
''lalu dimana, Tuan Bible?''
''tapi aku pikir disini juga boleh'' Darren berdiri ke arah Vio yg masih berdiri tidak jauh dari pintu
Darren menuntun Vio agar ikut duduk dengan mereka
''Wisnu bisa beri kami waktu sebentar?''
Wisnu setelah mendapat anggukan dari Bible melangkah keluar membawa laptop milik Bible.
''sebenarnya ini ada apa Bii?''
''aku juga tidak tahu, mungkin dia memiliki masalah dengan kejiwaan nya'' sinis Bible ke arah Darren
''ada apa dengan mereka sebenarnya??'' batin Vio risau
''aku akan ke kantor mu besok, sebaiknya pulang lah sekarang biarkan aku yg lebih dulu menjelaskan nya pada dia'' ucap Bible serius ke arah Darren
''oke,'' Darren berdiri dengan merapikan jas nya
''aku harap kau tidak akan menghindari ku lagi, dan ingat Tuan Bible aku tidak pernah bermain dengan kata-kata ku''
Darren mengarah ke pintu dan ingin melangkah keluar
''ohh? Nona Vio aku sudah punya nomormu jika aku tidak sibuk beberapa hari kedepan aku akan menghubungi mu'' Darren menunjukkan wajah ramah nya
''baiklah Tuan'' balas Vio dengan senyum
Darren langsung keluar meninggalkan Bible yg kesal dengan tingkah nya.
Sebenarnya Darren tidak akan benar-benar mengatakan tentang kesalahannya pada Vio, Darren juga butuh waktu untuk itu tapi dia belum selesai berbicara dengan Bible dari itu dia terpaksa memaksa nya lewat Vio, karena Darren tahu persis jika Vio dan Zee adalah kelemahan Bible.
''Tuan'' sapa Wisnu melihat Darren berjalan keluar
''kamu boleh masuk'' Darren terus meninggalkan Wisnu
Mobil dan beberapa anak buah nya sudah menunggu Darren sejak Gery memerintahkan mereka untuk menjemput Darren di butik.
''Bii?'' Vio langsung menatap curiga padanya
''aku akan bicara padamu nanti'' Bible membelai lembut rambut Vio karena tahu kalau gadis itu pasti di Landa bingung sekarang.
***
Di sudut jalanan Leo memarkir mobilnya.
''kita mau kemana??''
''ikut saja aku tidak akan menjual mu'' Leo berlari kecil membuka kan pintu untuk Bella
Bella dapat melihat seperti tempat pasar tapi bukan dagangan sayuran atau daging, tapi semua seperti makanan siap saji. Tentu saja Bella berdacak kagum ini adalah pertama kalinya dia melihat suasana seperti ini.
''kenapa melamun'' Leo mengelus pipi nya
__ADS_1
''ah, tidak'' jawab Bella cepat
Leo melihat gaun yg Bella gunakan dengan model lengan yg cukup rendah.
''aku cukup heran, kenapa kalian para wanita suka sekali memakai pakaian kurang bahan'' omel Leo dengan mengenakan jaket nya ke tubuh Bella yg lebih kecil dari nya.
''ini hanya pakaian yg normal'' balas Bella tak terima
Sekali lagi Bella mengendus jaket milik Leo, menurutnya Leo memiliki parfum yg unik.
Leo yg melihat tingkah Bella hanya tertawa kecil, entah berapa kali Leo selalu mudah tersenyum sejak kenal dengan Bella.
Leo menggandeng tangan Bella, ada senyum di wajah Bella ketika ada orang lain yg memperlakukan nya baik seperti ini.
''ternyata dia bisa manis juga'' batin Bella yg senang, seperti ada banyak kupu-kupu berterbangan di atas kepalanya hingga senyum manisnya tidak terlepas
Di Butik Vio yg khawatir Bella tidak mengangkat telponnya sama sekali dari tadi, sedangkan hari sudah hampir gelap
''Vii, mungkin Bella pulang lebih dulu'' ucap Bible menenangkan Vio yg dari tadi mondar mandir
''tidak mungkin, mobilnya masih ada didepan dan lagian pun tas nya juga masih ada disini'' mata Vio menunjuk ke atas meja yg memang masih bertengger tas kecil milik Bella.
''tapi kamu juga tidak boleh terlalu panik, Zee dapat melihat nya dari tadi'' keduanya melihat Zee yg makan dengan tenang di sofa dengan Wisnu
''apa dia baik-baik saja?'' Vio masih dengan risau nya
''aku yakin Bella akan baik-baik saja, mungkin dia hanya pergi keluar sebentar'' Vio pun mengangguk
''ayo kemasi barangmu, kita harus pulang''vio langsung melakukan apa yg Bible katakan.
''Wis, kamu bisa pulang dulu aku akan pulang bersama Vio dan Zee ke apartemen'' ucap Bible
''baik Tuan, apa anda akan menginap disana?''
''benar, karena aku tahu anakku ini merindukan ku'' Bible memindahkan Zee ke pangkuannya
''sudah boleh bicara, Pa?'' Bible langsung mengangguk
''Papa tidur dengan Zee malam ini?''
''tentu saja'' Bible menciumi wajah Zeffan dengan gemas
''yeeey!!!'' anak itu bergoyang-goyang riang.
''ayo cuci tangan, lalu kita tunggu Mama di mobil''
''siap, Bos'' Zee membungkuk seperti yg sering Wisnu lakukan
Bible tertawa melihat tingkah lucu makhluk kecil itu
''sudah selesai?'' tanya nya pada Vio yg mendekat
''sudah, tapi aku kehilangan sesuatu'' Vio menunduk dan mencari sesuatu di setiap sudut ruangan
''apa yg hilang?'' Bible ikut mencari meskipun belum tahu apa yg hilang
''kamu ingat pesawat kecil yg kamu berikan terakhir kali'' Vio masih mencari-cari
''mungkin hanya terselip''
''tapi tempat ini tidak terlalu lebar Bii?'' Vio mulai kesal karena tidak menemukan nya
''besok juga pasti ketemu'' Bible mengelus rambut Vio
''Papa? Zee sudah selesai '' bocah itu menunjukkan kedua tangan nya
''pintar'' Bible membantu nya dengan mengusap tangan Zee dengan tissue.
***
"Apa kamu sering kesini?'' tanya Bella yg kini duduk di salah satu kedai makanan
''tidak juga, hanya saja sering melewati nya ketika mengantar Tuan Darren pulang'' jelasnya santai
''ini makanan nya Mas, Non''
''terima kasih, Pak'' jawab Bella sopan
''kamu pernah makan ini sebelumnya?'' tanya Leo
''pernah waktu masih kuliah dulu, dan ini baru pertama kali sejak aku mulai bekerja'' Bella dengan senyum yg menarik perhatian Leo
Makan ditempat angkringan tentu saja tidak selalu ada meja, Leo yg melihat Bella kesusahan dengan rambut nya. Meletakkan makanan nya dan mengikat kan rambut Bella.
''emh?'' Bella melihat apa yg Leo lakukan
''kamu bisa melakukan nya?'' Bella yg tak percaya Leo mampu melakukan nya meskipun tidak terlalu rapi
''tentu saja, aku melihat nya di internet'' ucap nya pelan
''apa-a'' Bella yg memang tidak mendengarkan dengan jelas karena Leo mengatakan nya dengan pelan
''tidak, aku hanya mengatakan aku pernah melakukan nya'' Leo mengalihkan pandangan nya
''ohh?'' Bella senyum-senyum sambil meraba-raba hasil ikatan Leo
''makanlah'' Bella langsung mengangguk
Dengan Bella yg sibuk makan, mata Leo tak lepas darinya ntahlah sejak kapan sosok Bella bisa bersarang di kepala nya. Biasanya hanya pekerjaan yg selalu menjadi keseharian nya, tapi beberapa Minggu ini pikiran nya selalu terbagi dengan bayangan sosok polos Bella.
Setelah selesai makan Leo mengajak nya berkeliling, Leo juga pertama kali ke tempat seperti ini jika biasanya dia hanya akan menemani Darren ke PUB atau KTV untuk sekedar santai, tapi kali ini berbeda Leo tidak ingin Bella datang ketempat yg mungkin akan mencelakai nya.
''hey?'' Bella berhenti membuat tangan Leo yg memegang nya tertarik
''ada apa?'' Leo yg terheran
''kau punya senjata, pasti pandai menembak kan?'' Bella mencondongkan tubuh nya agar tidak ada yg mendengarnya
Leo hanya mengiyakan dengan mengangguk
''bagus, kalau begitu ayo kita main itu'' tunjuk nya pada satu gerai yg membuka jasa tembak balon dengan hadiah boneka
''hah??''
''ayo, aku ingin melihat mu'' kini gantian Bella yg menarik tangan Leo secara paksa, biarpun tubuh Leo lebih besar dari Bella tapi Leo terpaksa mengikuti langkah Bella
''Pak, saya mau main'' suara ceria Bella
''ini, Non'' penjaga itu memberikan senapan mainan kepada Bella.
''ayo?'' Bella menyerahkan nya kembali pada Leo
''kau yakin?''
__ADS_1
''sudah ku bilang aku hanya ingin lihat kemampuan mu '' bisik Bella kembali
Banyak pasangan yg juga memainkan permainan yg sama seperti Bella, tapi pendengaran nya terganggu ketika beberapa gadis memuji ketampanan Leo, dengan pakaian yg serba hitam dan pembawaan yg misterius sosok tampan Leo begitu menarik kaum hawa yg ada di sekitarnya.
''mana topi mu?'' Bella yg merasa kesal
''ada apa lagi denganmu??'' Leo baru akan membidik dibuat mundur karena pertanyaan bernada kesal milik Bella.
''di mana topi mu?'' bibinya kini sudah mengerucut
''ini'' Leo memberikan nya pada Bella
Bella ingin memasang kan nya tapi karena tubuh mereka berbeda tinggi tentu saja membuat Bella kelimpungan
''kenapa begitu gengsi jika tidak sampai'' Leo menggeleng kan kepala nya
Dengan sedikit merendahkan tubuh nya, kini Bella lebih mudah memakai kan topi ke Leo.
''sudah?'' tanya Leo, dan Bella yg mengangguk
''bisa aku mulai menembak?''
''silahkan, siapa yg akan menghentikan mu'' Bella melipat tangannya di depan dadanya
''baiklah'' Leo memasang wajah serius nya.
Dor dor dor,,,
Permainan dengan mudah selesai, bahkan tidak ada peluru yg lari dari target bahkan penjaga berdacak kagum dengan kecekatan Leo.
''See?'' Leo memasang wajah angkuh nya ke Bella yg menutup mulut nya tak percaya
''hebat'' Bella tersenyum ceria dengan memamerkan kedua ibu jari nya pada Leo.
''piyu,, Piyu,, Piyu '' Bella seperti memainkan tembak dengan jarinya seolah akan keluar peluru dari sana.
''ini Mas hadiahnya'' penjaga itu memberikan boneka beruang yg memiliki besar setengah tubuh Bella.
''ini'' tangan Bella baru ingin menggapai nya
''eits! Tunggu dulu'' Leo menariknya kembali
''kenapa?'' Bella menghentakkan kakinya
''lalu aku dapat apa?'' wajah jenaka Leo mendekat ke wajah Bella yg hampir tersipu itu
''ka-u mau apa-a'' Bella memalingkan wajahnya
''disini'' Leo menggembungkan sebelah pipinya ke arah Bella
''kau yakin?''
''emh'' Leo mengangguk cepat
Cup,,,
Leo menunjukan senyum kemenangan nya, Bella dengan cepat menyambar boneka yg dihimpit oleh Leo dan berjalan meninggalkan nya, sedangkan Leo salah tingkah dengan melepas topinya dan mengacak-ngacak rambut nya. Sebelum berjalan mengejar ke arah Bella yg berjalan lebih dulu.
***
''Zee sudah tidur?'' ucap pelan Vio yg sudah selesai dengan acara mandinya setelah makan malam bersama Bible dan Zeffan
''sudah'' Bible secara perlahan melepaskan tangan kecil yg memeluk pinggang nya dan kaki nya juga yg ditimpa oleh Zee
''dia benar-benar takut kamu akan pergi, Bii?'' ucap lembut Vio dengan merapikan rambut Zee
''aku juga takut, bahkan sangat takut'' suara sendu Bible menusuk tepat di hati Vio seperti ada yg menahan nya.
Keduanya melangkah keluar dari kamar Zee, kini Bible duduk di teras apartemen, membiarkan angin malam yg sedikit kencang malam ini menabrak tubuh nya.
''Bii?'' Vio menyentuh pundak kekar milik Bible
''Vii, jika suatu hari aku mengungkit luka mu apa kamu ingin membahas nya?'' tanya Bible tanpa melihat
'' maksud mu tentang malam itu?'' suara Vio terdengar lemah
''benar'' Bible memutar tubuh nya agar berhadapan dengan Vio.
''aku sudah berdamai dengan yg berhubungan tentang malam itu, tapi tetap saja ada sesak disini'' tunjuk Vio ke dada nya.
''bisakah kita berbagi malam ini?'' tanya Bible
''apa ada yg ingin kamu bahas?'' Bible mengatur nafas nya yg seperti terasa tercekat
''sebenarnya aku sudah tahu siapa ayah kandung Zeffan ''
Bible dapat melihat tanga Vio yg bergetar sambil memegang pagar besi penghalang apartemen.
''Vii, aku sudah tahu bahkan sejak Zee masih ada dikandungan. Aku mengatakan ini karena tidak ingin ada yg aku tutupi darimu'' Bible memegang tangan Vio meminta agar gadis itu menatap matanya.
''apa dia akan mengambil Zeffan??'' pertanyaan Vio yg juga mengantarkan air mata nya terlepas
''Vii, tidak akan ada yg mau mengambil Zeffan,aku, ataupun dia'' Bible menghapus air mata nya
''bagaimana jika dia datang dan mengambil nya'' tangisan Vio pecah membayangkan jika suatu saat Zeffan akan jauh dari jangkauan nya.
''kamu bisa percaya padaku, tidak ada satupun yg akan mengambil Zeffan dari kamu Vii'' kini mata Vio menatap ke Bible
''aku sudah berjanji kan, aku akan menjaga kalian bukan memisahkan kalian kamu masih percaya denganku kan?''
Vio hanya mengangguk dengan air mata yg tak bisa berhenti
''Vii, aku tahu dia sudah melakukan hal yg buruk padamu tapi setelah dia tahu tentang mu dia juga yg banyak menjaga mu dari jauh'' Bible mengusap pipi yg sudah memerah itu.
''apa dia ada disekitar kami?'' tanya Vio sendu
Bible mengangguk air matanya juga ikut keluar melihat Vio menangis, karena selama ini Vio dan Zeffan adalah kelemahan nya.
''dia banyak membantu kalian dalam menjalani kehidupan kalian selama ini, tapi karena kesalahannya dia tidak bisa muncul karena takut kehadiran nya hanya akan menyakiti kalian'' Bible menjelaskan nya secara lembut
''Vii, bisa aku bertanya sesuatu?''Vio lagi-lagi hanya mengangguk.
''apa kamu akan baik-baik saja ketika dia muncul dan meminta maaf langsung padamu?'' Vio terlihat menunduk suaranya tiba-tiba terdiam
''jika kamu tidak bisa, aku akan memastikan orang itu tidak akan pernah muncul dihadapan mu'' Bible memberikan kekuatan pada Vio dengan memeluk nya.
Vio semakin bergetar dengan tangis nya di pelukan Bible
''kamu hanya perlu tahu, apapun yg terjadi aku akan selalu menjaga kalian '' Bible mengusap lembut punggung Vio
''siapa dia, Bii?''
Pertanyaan Vio yg mendapat jawaban diam oleh Bible
__ADS_1