Pesawat Kertas Zeffan Al'Bareck

Pesawat Kertas Zeffan Al'Bareck
Ada apa dengannya


__ADS_3

Sudah berapa hari berlalu sejak pertengkaran Bible dan Darren, Bible yg masih enggan menemui Darren terus mencari alasan agar setiap meeting hanya Wisnu yg akan mewakili nya.


''Tuan,?'' panggil Wisnu pada Bible yg masih setia dengan laptop nya


''jika ini tentang meeting dengan pihak Andreason, aku sudah bilang aku tidak akan hadir!''


''tapi Tuan, kali ini jika anda tidak hadir maka tuan Darren yg akan menemui anda secara pribadi'' Wisnu mulai jenuh dengan Bible yg uring-uringan beberapa hari ini.


Bible tampak berpikir sejenak.


''lalu itu urusan dia!!'' ketus Bible kembali bekerja


''astaga!! Kenapa sikap Tuan seperti seorang gadis saja'' gerutu Wisnu membatin.


***


''mau apa kita disini Vii?'' tanya Bella yg sejak tadi sudah diseret oleh Vio keluar dari butik.


''aku ingin membeli sesuatu'' di sebuah tempat perbelanjaan Vio memilih-milih bahan makanan dengan Bella yg mengekorinya.


''sejak kemarin Bible terus saja memasang wajah murung, jadi aku ingin datang kekantor nya dengan membawa makanan'' Vio yg tahu kalau Bella terlihat bingung


''kamu begitu perhatian pada nya'' Bella membantu Vio memilih beberapa bahan.


''emh'' balas Vio acuh tak acuh


''Vii? Boleh aku tanya sesuatu?''


''tentu'' Vio tanpa melihat dan masih fokus dengan jejeran sayur di depannya.


''apa kamu tidak pernah punya perasaan kepada Bible?'' seketika tangan Vio yg ingin mengambil sesuatu terhenti.


''Vii?'' panggil Bella pelan merasa tak enak


''aku punya'' jawab Vio mantap


Bella membulat kan kedua mata nya tak percaya


''tapi bukan perasaan yg seperti kamu pikirkan''


Tuk,,, Vio memukul jidat Bella gemas


''Vii? Tunggu dulu Vio? Kamu belum menjawab dengan benar'' Bella mengejar Vio yg berjalan meninggalkan nya


''lalu jawaban apa yg kamu mau dengar?'' Vio berbalik


''ya aku mau tahu perasaan kamu secara persis '' Vio mengambil tangan Bella dengan kedua tangan nya.


''Bell, aku sayang pada Bible dan kalau boleh jujur aku juga kadang membutuhkan kehadiran dia, tapi kita berdua tahu jelas kalau hubungan kita bukan sebuah cinta pasangan tapi lebih ke kakak laki-laki dan adik, tidak lebih.'' Vio mencoba memberikan pengertian ke Bella.


''aku hanya ingin melihat kalian bahagia, dan aku bisa lihat itu kalau kalian bersama'' balas Bella


''Bible itu sudah seperti rumah untuk aku dan juga Zee, itu yg membuat aku selalu nyaman dengan dia'' jelas Vio


''baiklah, aku mengerti, maaf jika pertanyaan ku sedikit sensitif '' Bella mengerucutkan bibirnya


''aku tahu''


''aku ingin tanya balik adalah?, apa akhir-akhir ini ada yg mengganggu mu?'' hardik Vio ke Bella dengan tatapan curiga


''a-apa?'' Bella mengalihkan pandangan nya


''aku tidak tahu, tapi mungkin kamu yg akan lebih dulu mengatakan nya pada ku?'' Vio memicingkan mata nya


Ha ha ha,,,


''Vio,,Vio aku tidak lagi dekat dengan siapa pun''


''benar, tidak ada siapapun?'' Bella salah tingkah memutar arah meninggalkan Vio.


''kamu mau kemana?''


Bella hanya menunjuk arah lain dengan jari nya

__ADS_1


''kita sudah selesai, ayo ke kasir sebentar lagi Zee pulang aku harus menjemput nya''


''ohh, oke'' Bella kembali mengikuti langkah Vio


''kamu yakin tidak ingin cerita padaku?'' lagi-lagi pertanyaan Vio membuat Bella tersipu malu


''Vii??'' Bella menyenggol bahu Vio yg cekikikan melihat tingkah nya.


''yasudah kalau belum ingin cerita'' Vio meninggalkan Bella berjalan lebih dulu ke arah kasir.


***


Darren sedang berkutat dengan pekerjaan melalui laptopnya, yg tak jauh dari tempat nya sudah ada Leo juga yg sibuk dengan ponsel nya.


Tok tok tok,,


''masuk'' suara tegas itu membuat orang yg berada di balik pintu langsung melangkah masuk


''Tuan??'' sapa Gery


''apa dia masih menghindar??'' tanya Darren tanpa melihat


''benar Tuan'' Leo yg tadi nya duduk di sofa melangkah mendekat ke kursi yg ada tepat di depan Darren.


''bukankah akan terlihat aneh jika Tuan muda itu terus menghindar, Tuan?'' tanya Leo


''mungkin Tuan Bible hanya belum bisa berhadapan dengan Tuan'' Gery yg menengahi dengan memberikan berkas agar di tanda tangani oleh Darren.


''tapi masalah pekerjaan jika di gabung dengan masalah pribadi bukankah itu justru membuat dia terlihat tidak profesional?''


''saat ini kita hanya harus memberi nya waktu, Leo ''


'' lagian bagaimana pekerjaan mu tentang keluarga Deralt?'' Gery ikut duduk disebelah Leo


''aku sudah menemukan beberapa, tapi Tuan muda itu mengetahui lebih banyak'' ucap santai Leo


''apa maksud mu?'' Darren yg mulai tertarik


''sejak pertemuan anda kemarin dengan Tuan Bible orang suruhan nya jauh sudah melangkah lebih maju semua kebenaran yg ingin anda ketahui ada ditangan nya'' jelas Leo


''apa ini akan ada kaitan nya dengan kerja sama kita di Washington, Tuan?'' tebak Gery


''bisa jadi, dari cara dia menghindar dan mengirim data pembagian saham aku tahu jelas apa mau dia kedepannya '' Darren memasukkan tangan ke saku nya pikiran nya melayang ntah kemana, dengan berdiri tegak di dinding kaca yg ada disudut ruangan nya.


Leo dan Gary hanya memandang ke arah punggung tegap yg membelakangi mereka.


''maksud anda, Tuan Bible sengaja mengajukan mundur dari kerja sama itu dengan menukar rahasia yg ingin anda tahu''


''sudah aku bilang dari awal, kalian tidak boleh menyepelekan insting Bible '' Darren berbicara secara santai


''lalu apa yg akan anda lakukan selanjutnya, Tuan?''


''jika dia mau menyimpan nya, sudah bisa ditebak dia ingin aku datang sendiri '' Darren berbalik


''bukankah ini seperti kesepakatan yg akan di bangun oleh Tuan muda itu, Tuan? dia akan memberikan semua bukti yg anda mau dan anda harus melepaskan kerugian dari kerja sama ini jika pihak Force.co memutuskan kerja sama''


''kamu benar Leo, aku suka caramu berpikir '' Darren terlihat tenang sedangkan kedua orang di depannya justru masih memasang wajah bingung.


''Gery, atur waktu ku sore ini aku ingin menemui nya di perusahaan nya!'' titah Darren yg kembali duduk di kursinya


''tidak bisa Tuan,'' bantah Gery


''apa maksud mu?'' wajah Darren terlihat tidak senang


''kare-'' belum sempat Gery mengatakan pintu lebih dulu terbuka oleh wanita paruh baya yg masih terlihat elegan itu.


''Ren??'' panggilnya


''Mama?'' Darren bangkit dan menyambut pelukan Mama nya


''apa Mama mengganggu pekerjaan mu?'' Darren menatap Gery yg hanya mengangguk pelan kepada nya.


''tidak, Mama ada apa kemari?'' Darren mengajak nya duduk di sofa.

__ADS_1


Leo dan Gery juga tak lupa memberikan hormat pada wanita yg banyak berjasa di hidup mereka.


''Gery, Leo kenapa kalian berdua berdiri saja, ayo duduk aku ingin mengatakan sesuatu kepada kalian juga'' pinta nya


Leo dan Gery pun ikut duduk di depannya.


''ada apa, Ma?'' Darren mulai penasaran


''dua Minggu lagi adalah ulang tahun Papa mu, Mama ingin memberikan pesta terbaik untuk nya''


''lalu apa yg bisa Darren lakukan?'' tanya nya lembut


''Mama mau hari ini kalian temani Mama fitting baju untuk acara Papa mu'' mata nya berbinar menatap Darren yg duduk di ujung sofa dengan memeluk pundak nya.


''kami juga harus ikut, Nyonya?'' tanya Leo panik


''Nyonya apa nya! Sudah berapa kali aku katakan panggil aku Mama seperti Ren, kenapa kalian ini keras kepala sekali!!'' omel nya pada Leo dan Gery yg masih saja canggung pada nya


Silviana sudah bertemu dengan Gery dan Leo sejak usia mereka anak-anak, apa lagi orang tua mereka juga sudah mengabdi pada keluarga Andreason. Sejak saat itu Silvia selalu menganggap mereka seperti anaknya walaupun Gery maupun Leo selalu menjaga jarak.


''tapi-i Nyonya '' Gery yg tak enak


''tidak ada tapi-tapi kalian juga harus ikut, lagian aku sudah menyuruh sopir untuk pulang jadi tidak ada alasan kalian untuk menolak mengantarkan ku'' ejek Silvia pada tiga pria muda yg selalu bersikap dingin ini.


''Tuan?'' keduanya mengarah ke Darren


''lakukan sesuai yg Mama mau'' Darren hanya pasrah karena dari dulu walaupun terlihat dingin Darren tidak pernah sekalipun menolak kemauan Mama nya.


''Leo??'' Silvia berpindah duduk diantara Gary dan juga Leo


''ada apa Nyonya?'' balas Leo canggung Silvia menggaet kan tangan nya pada lelaki yg sudah seperti Putra nya yg lain ini


''bisakah kita buat acara tanpa kehadiran keluarga Deralt?'' tanya nya bisik-bisik namun masih terdengar


Darren menggeleng heran dengan sikap jenaka Mama nya


''Ma, bukankah itu calon besan Mama? Bagaimana mama bisa melakukan acara tanpa mengundang mereka''


''benar Nyonya'' timbal Gery


Wajah Silvia terlihat tidak senang dengan ketiganya


''jika bukan karena balas budi ini, Mama juga tidak mau memiliki menantu dengan sikap arogan seperti itu'' wajah nya terlihat mulai serius


''kalian anak-anakku, aku ingin kalian hidup dengan apa yg kalian mau'' jelas nya menatap gantian ketiga nya


Darren cukup senang dengan jawaban Mama nya.


''bagaimana jika orang yg kami pilih tidak memiliki latar belakang '' Darren memancing


''Ren, bagi Mama asal usul keluarga adalah yg penting apa lagi dia memiliki derajat yg sama dengan kita, tapi jika yg harus menjadi menantu ku seperti Chelsea aku juga akan menolak jika bukan karena Papa mu'' Silvia memasang wajah kesalnya


Beberapa Minggu yg lalu Silvia hadir di acara seminar ternama sebuah Brand dan salah satu bintang tamu nya adalah Chelsea, tentu saja kehadirannya tidak diketahui oleh Chelsea. Silvia senang melihat calon menantunya mengikuti acara yg bisa juga menolong orang lain. Karena lewat seminar ini ada pergelaran amal untuk anak-anak yg kurang beruntung yg berada di pulau-pulau terpencil.


Tapi saat Silvia ingin menyapa Chelsea di Rest Room nya. Betapa terkejut Silvia melihat Chelsea yg memaki pada staffnya hanya karena kesalahan kecil. Dari situ Silvia menilai jika Chelsea adalah gadis yg cukup arogan apa lagi orang suruhan nya yg dia suruh untuk menyelidiki sifat Chelsea di kampus nya Hampir semua hasilnya membuat nya terkejut.


''Ma?'' Darren menggoyang tubuh Mama nya yg terlihat termenung


''eh?''


''Mama baik-baik saja?''


''iya, Mama baik-baik saja'' Silvia menepuk-nepuk tangan Darren yg berada di pundaknya


''Mama mau pergi sekarang?''


''jika kalian masih ada pekerjaan Mama bisa menunggu''


''pekerjaan tidak akan ada habisnya'' Darren membantu Mama nya bangun dan mengajak nya berjalan keluar.


''kalian tetap disini, aku akan bersama Gery dan Leo'' titah Darren pada pengawal yg setia berdiri di depan ruangan nya.


''baik Tuan'' beberapa pengawal itu menunduk hormat

__ADS_1


Darren terus menggaetkan tangan nya pada Silvia, banyak staff nya yg berdacak kagum dengan Silvia walaupun tidak lagi usia muda tapi wajah nya tetap cantik. Terlebih lagi Silvia selalu melempar kan senyum nya pada semua orang.


Berbeda dengan tiga lelaki yg disekitar nya yg selalu memasang wajah serius dan terlihat dingin itu.


__ADS_2