Pesawat Kertas Zeffan Al'Bareck

Pesawat Kertas Zeffan Al'Bareck
Koma,,


__ADS_3

***


"Kau sudah melukai Putriku'' Darren berbalik heran ke arah Perth


Ha ha ha,,


Sraaas!!!!! Besutan ujung samurai itu mengenai lengan Perth hingga senjata yg disembunyikan nya terjatuh.


"Masih ingin melukai ku, hah!!!".


Bruuk,,,


Tendangan Darren tepat pada perut Perth


"Bahkan Putri ****** mu itu tidak pantas untuk makanan hewan peliharaan ku!!''


"Darren!!!" Bentak Perth tak terima


"Airen!!, Selama ini aku menolongku untuk menebus kesedihan mu akibat kematian Jessica, tapi aku tidak menyangka kau malah mengkhianati ku dengan bergabung dengan makhluk yg tak pantas disebut manusia ini!!''


"Menebus?? Ha ha ha konyol kau pikir aku anak kecil yg akan lupa dengan rasa sakit ku hanya karena sebuah permen?''


Darren dan Airen saling melempar sorot mata tajam


"Seperti apa yg sering kau katakan darah di bayar darah nyawa di bayar nyawa!'' balas sengit Airen


"Tapi wanita itu dan anaknya tidak bersalah, kau bisa memburu ku tapi mereka bukan bagian dari permainan mu!''


''lalu? Bagaimana dengan adikku yg harus mati konyol karena ulahmu?"


"Sudah aku katakan, aku tidak pernah membunuh Jessica!!''


"Lalu? Gery? Atau Leo?" Tubuh Airen semakin melemah karena darah yg terus mengalir dari tebasan Darren


"Aku membawa nya karena aku ingin melindungi nya, tapi Putri dari bajing*n ini menculiknya membayar orang lain untuk memperkosa nya hingga akhirnya Jessica trauma dan tepat malam kedatangan mu Jessica lepas dari penjagaan anak buah ku sampai kami menemukan nya dijalan dan sudah tidak bernyawa"


Darren mengepalkan tangannya menahan emosi yg sudah naik.


"Jangan percaya! Pada nya Airen!!" Suara teriak Perth


"Kau boleh percaya padaku atau pada laki-laki yg hanya mengendalikan hidupmu"


''pembohong!!!! Klian semua pembohong!!!!" Airen yg sudah merasa sakit kini bertambah sakit mengingat bagaimana mayat adik nya tergeletak begitu saja di jalanan tepat pertama kali kedatangannya ke Indonesia.


"Jessica, Jessica!!!!" Teriaknya frustasi


"Apa kau bodoh percaya begitu saja padanya!!" Umpat Perth


"Dan ini semua adalah ulah mu kan?'' Darren mendekati nya dengan menggeret samurai itu hingga suara ujungnya yg mengenai tanah berbunyi berderit.


"Jika kau la-lakukan ini aku yakin Tuan Balgas tidak akan suka" ucap Perth ketakutan


'' aku yakin Papa ku akan baik-baik saja, apa lagi setelah tahu jika selama ini kau membohongi nya!'' suara dingin Darren membuat Perth makin gemetaran


Perth yg memang tidak memiliki kemampuan apa pun dalam menyerang tentu saja gemetar saat semua anak buah nya sudah dilumpuhkan oleh Darren.


"Kau mengakali Papa ku dengan dalih balas Budi, sekarang kau mengganggu kehidupan wanita dan juga anakku apa kau pikir aku akan diam saja!!"


"Kau harus sadar wanita yg tanpa keluarga itu apa mungkin bisa menjadi menantu Andreason?''


"Siapa pun itu, kau hanya orang luar dan tidak berhak mengganggu kehidupan ku"


"Aku hanya tidak suka wanita itu? Dia hanya hama bagi Putri ku!!'' teriaknya


"Lalu? Bagaimana dengan anakku? Apa dia juga mengganggu Putri ****** mu itu?''

__ADS_1


"Darren!!''


"Kenapa? Sebutan itu memang pantas untuk Putri mu yg tidak tahu diri itu!''


"Hahah,,, jadi kau sudah tahu semuanya selama ini?''


"Aku selama ini hanya diam, karena aku ingin lihat sampai dimana permainan mu. Hingga akhirnya kau ingin membunuh anakku apa kau pikir aku akan diam saja?"


"Apa kau yakin itu anakmu? Wanita yg bisa menyelesaikan belajar nya tanpa pekerjaan dan hidup dengan mewah melalui keluarga orang lain kau pikir dia hanya melahirkan anakmu?''


Bruuk,,, tendangan susulan Darren


"Jangan pernah berani menghina wanita ku!!'' ancamnya yg kini menginjak dada Perth


Tapi mata Perth melirik ke arah senjata nya yg sempat terjatuh tadi, Perth menunggu kesempatan Darren untuk mengambil senjata itu


"Darren!!''suara Airen membuat nya melihat ke belakang


"Jika malam ini adalah kematian ku, maka itu juga akan jadi kematian mu!!" Airen dengan satu tangan mengangkat senjata nya ke arah Darren.


Namun Darren hanya berdiam, matanya tertutup pasrah hingga terdengar.


Dor,,,


Dor,,,


Dua peluru langsung bersarang di punggung dan dada Darren. Selain Airen tanpa Darren sadari Perth juga menarik pelatuk dari senjata yg sudah kembali ke tangan nya.


Sraaas,,, samurai yg masih ditangan Darren pun menancap tepat di dada Perth.


Uhhuuk,,, semburan darah keluar begitu saja dari mulut Perth


Darren mulai kehilangan keseimbangannya, pandangan nya juga sudah mulai redup tangannya memegang dada yg terasa kebas dan sesak yg amat dalam hingga.


"maafkan aku ya Zee jika aku tidak bisa lagi menjaga mu, mungkin ini sebagian dari penebusan kesalahan ku pada kalian" suara Darren melemah matanya yg nanar masih membayang kan senyum Zeffan.


Uhhuuk uhhuuk,,


Denyut jantung nya mulai melemah, hingga matanya tidak sanggup lagi terbuka.


Tubuh Darren tergeletak begitu saja di tanah, sudah tidak ada lagi tenaga nya.


"Maafkan aku, dulu Jessica sangat mencintai mu hingga dia selalu lebih mendengar mu dari pada aku. Sekarang kita berdua bisa menemui nya di sana" Airen yg juga sudah melemah


Dengan tangan gemetaran menempel kan ujung pistolnya di keningnya, dengan senyum getir Airen menarik pelatuknya dan.


Dor,,,


Seketika Airen langsung ambruk yg tak jauh dari tubuh Darren.


***


Gery dan anak buahnya susah sampai di pelabuhan, mencari jejak Darren


Tapi perjalanan mereka tidak terlalu mulus karena masih da sisa-sisa anak buah Airen dan Demart yg masih menjaga di pintu depan.


Waktu Gery dan anak buahnya banyak terbuang di depan, hingga beberapa saat Gery yg sudah masuk mencari keberadaan Darren.


"Tuan? Kami sudah mencari ke setiap sudut, tapi hanya ada mesin kapal yg hidup tapi nahkoda nya sudah tewas ditempat" jelas salah satu pengawal


"Cari lagi, percepat semua nya disini terlalu tenang aku takut terjadi sesuatu pada Tuan Darren!!''


"Baik Tuan?" Mereka pun kembali berpencar ke berbagai arah.


Hingga saat ingin masuk ke salah satu terowongan, gendang telinga Gery mendengar.

__ADS_1


Dor,,,,


"Tuan??'' mereka pun terdiam dan saling pandang beberapa saat.


"Tidak!!" Gery merasa panas tiba-tiba di dadanya


Dengan berlari secepat nya ke arah suara tembakan, wajah Gery yg tanpa ekspresi itu membuat anak buah nya hanya mengikuti nya tanpa ada yg bersuara.


"Astaga!!!" Gery terhenti melihat beberapa mayat yg sudah dipastikan ini adalah anak buah Airen.


"Tuan, semua nya sudah tewas" lapor pengawal yg memeriksa satu persatu orang yg sudah tergeletak berserakan itu.


"Cepat cari Tuan Darren!!"


Semuanya pun mengangguk dan berpencar, sampai ada satu pengawal yg tak jauh dari posisi Gery.


"Tuan??''


Gery pun langsung menghampiri nya dan matanya terbelalak kaget.


"Tuan? Darren??'' Gery mendekat secepatnya, mengangkat kepala Darren karena kondisi yg redup sulit bagi Gery melihat pasti tubuh Darren.


Hingga tangan nya menyentuh dada Darren yg sudah teraa basah.


"Darah!!!''


''Tuan? Bangun Tuan?" Gery berusaha untuk mengangkat tubuh Darren.


"Siapkan mobil! Kita harus selamat kan Tuan Darren!!"


Titahnya


Perjalanan cukup mencekam ketika Gery mengambil alih kemudi, dan membawa Darren yg sudah tergeletak di kursi penumpang..


"Anda harus baik-baik saja Tuan, pikirkan lah ada orang yg menunggu anda," gumam nya panik


Sampai dirumah sakit.


"Cepat bantu aku!!"


"Baik Tuan?" Beberapa perawat mendorong brankar ke arah ruang operasi.


"Ada apa ini Tuan Gery?'' tanya Dokter yg juga mengobati Leo


"Lakukan yg terbaik untuk Tuan Darren!!" Hanya itu yg mampu Gery katakan


Dokter muda itu tidak menjawab hanya dengan sigap membantu perawat membawa Darren masuk ke ruang operasi.


Kondisi Darren cukup lemah ketika masuk, butuh penanganan cepat oleh beberapa Dokter agar nadi dan pernafasan Darren mendekati normal.


Sedangkan Gery yg frustasi memukul-mukul dinding karena frustasi nya.


Merasa bersalah karena terlambat datang hingga nyawa Darren terancam.


Tangan Gery masih meninggalkan jejak darah Darren, pengawal sudah meminta nya untuk mencuci nya dan istirahat sebentar namun tubuh Gery enggan untuk meninggalkan pintu operasi itu.


"Kalian berjaga lah di depan, dan jangan biarkan Tuan Balgas tahu dulu tentang ini!"


"Baik Tuan?" Satu persatu pun pengawal meninggal tempat hingga hanya ada Gery yg tersisa disana.


Sudah hampir tiga jam Gery menunggu Darren yg masih belum ada kabar bagaimana keadaan nya didalam.


Hingga lampu yg berada di atas pintu operasi berubah warna, Gery yg sempat duduk kembali berdiri


Selang tak lama brankar yg sudah ada Darren disana didorong untuk di bawa ke ruangan khusus untuknya.

__ADS_1


__ADS_2