
Hari sudah sore ketika rombongan Darren sampai di Bandung Darren bimukan langsung kembali ke rumah seperti apa yg di saran kan oleh Gery tapi lanjut ke perusahaan nya.
''anda ingin saya bawakn makanan dulu, Tuan??''
''tidak perlu, Ger bawa Leo kemari'' titah nya kini dengan memeriksa kembali pekerjaan bawahan nya melalui layar tablet.
''Tuan??'' sapa tunduk Leo setelah masuk yg di ikuti oleh Gery.
''bagaimana dengan hasil yg kau cari??''
Masih tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.
''dari tiga data, anda ingin mendengar yg mana dulu. Tuan?''
''langsung saja dari Tiger black!!''
''Deralt sudah ditemukan tuan, tapi saat orang kita ingin mendapatkan nya dia lebih memilih melompat dari atas kapal Tuan'' jelas Leo dengan serius
Darren yg mulai tertarik dengan laporan anak buah nya meletakkan asal tablet di meja nya. Melepaskan kancing jas nya dengan pandangan dingin ke arah Leo, yg memberikan sinyal kalau dia ingin dengar lebih.
''sesuai perintah anda di NY, saya dan beberapa orang kita melakukan pemeriksaan ke Wangshinton kami datang di saat yg tepat, malam itu mata-mata kita mengatakan kalau Airen sedang melakukan transaksi manusia di pelabuhan dan parah nya mereka menggunakan Nama anda di balik transaksi nya agar pihak lawan tidak akan ada yg berani mengusik. Tapi saat tiba disana Demart juga ikut serta dalam semua hasil transaksi kami berhasil menangkap Airen tapi saat saya ingin mengejar Demart di tengah laut dia lebih memilih lompat''
''bagaimana dengan tawanan mereka??''
''kami sudah melepaskan dan mengembalikan mereka ke tempatnya sesuai yg anda minta''
''emh, bagus tapi apa kalian sudah memastikan kalau Demart benar-benar mati??''
''saya sendiri yg mengantar mayat nya, Tuan!!''
''seharusnya aku sendiri yg mengantar kan mayat nya aku ingin tahu bagaimana wajah orang yg mencoba cari masalah denganku!!'' ucap Darren menaikan sudut bibirnya
''tubuhnya tidak layak untuk anda lihat, Tuan tapi saya sudah memberikan nya sebagai hadiah dari anda''
''maksudmu??''
''sesuai peraturan anda jika ada yg tidak patuh jangan kan bernafas bahkan tubuh nya jangan sampai terlihat anda, jadi saya mengirim kan mayat Demart ke markas klan tiger black tentu saja dengan bahan amunisi yg di rakit bom yg bisa kapan saja meledak hanya lewat pergerakan sedikit'' kali ini laporan Leo benar-benar membuat Darren senang
''Tuan, anggaran dari kasino kita yg ada di Wangshinton ternyata banyak pengiriman yg tak bertuan atas nama Airen untuk itu saya sudah membekukan semua nomor yg terkait, dan ini semua data juga beberapa orang yg selama ini membantu Demart dan Airen untuk berkhianat dengan anda''
Tukas Gery memberikan map di tangan nya pada Darren.
''kalian sudah mengurus akar-akar nya, jika ketua mereka tidak terima pertemu kan aku dengan dia. Aku ingin lihat setebal apa wajah nya atas semua perlakuan anak buah nya yg sudah ku pungut itu??'' hardik Darren dengan membolak balik beberapa kertas di hadapan nya.
''lalu Tuan, ini tentang Nona Alice Putri Perth Deralt''
Leo yg sedikit ragu merilik sebentar ke arah Gery, setelah dapat kode untuk melanjutkan Leo menarik nafas sebelum bercerita.
''Tuan, ternyata saya selidiki Perth sudah menikah dua kali''
Darren langsung mengernyit kening nya
''istri pertamanya adalah Anne dia gadis Asia Tuan, pernikahan nya tak banyak yg tahu tapi Nona Alice adalah anak mereka setelah Nona Alice tumbuh remaja dikabar kan Anne sakit parah tidak ada yg tahu apa penyakit nya bahkan kematian begitu tertutup hanya selang beberapa Minggu Perth melakukan pernikahan lagi dengan Tesa istrinya yg sekarang tapi aneh nya Tuan saat saya mencari tahu tentang Ayah biologis dari Nona Chelsea semua petunjuk mengarah kembali ke Perth'' Leo mendekat memberikan selembar kertas rumah sakit pada Darren.
''jadi Perth sudah menjalani hubungan bahkan masih ada istrinya??'' tebak Darren
''sepertinya begitu Tuan, usia Nona Chelsea dan Nona Alice hanya terpaut dua tahun Tuan. Karena selain itu tidak ada laporan dari negara kalau Tesa sudah pernah menikah surat keterangan tentang nya ini baru pernikahan pertama nya ''
Darren mengangguk paham, dengan mencerna semua laporan dari Leo.
''sisa nya biar Gery yg jelas kan, Tuan'' ucap Leo
''Ger, bukankah pernikah abdi negara harus sesuai dengan peraturan yg ada?'' Darren mulai penasaran
''benar Tuan, untuk itu Perth menyembunyikan Tesa sampai dia meninggal dan baru melaksanakan pernikahan nya, selain itu mata-mata kita yg saya tugaskan memeriksa Nona Alice saat ini dia tinggal di daerah Surabaya dan Nona Alice sudah menikah diam-diam dengan kekasih nya Darwish untuk itu Perth mengganti yg akan di jodohkan dengan Putri bungsu nya Nona Chelsea.'' jelas Gery
''dan hasil yg saya dapat terakhir kali, Perth marah besar atas pernikahan Nona Alice Perth langsung memutuskan nama belakang nya dan kini di kartu keluarga hanya tercatat satu Putri yaitu Nona Chelsea Deralt''
''apa mereka satu darah??''
''benar Tuan, Perth merupakan ayah biologisnya Nona Chelsea jadi untuk itu Nona Chelsea dan Nona Alice saudara kandung dengan ibu berbeda.'' jelasnya
''aku mengerti sekarang??'' balas Darren
'' tapi Tuan, jika saya boleh tahu kenapa Tuan dan Nyonya besar ingin sekali menjodohkan anda dengan Putri Deralt??'' tanya Gery yg juga merupakan pertanyaan Leo
''Papa punya hutang Budi dengan mereka, kepala keluarga Deralt pernah memberikan donor ginjal untuk Papa. Jadi janji mereka adalah jika anak atau cucu dari keluarga yg bisa menikah maka mereka akan menikahkan nya.''
Kedua nya mengangguk paham, dengan menatap ke arah Darren yg tiba-tiba terdiam.
Lima tahun yg lalu Ayah Darren mengalami kecelakaan yg menyebabkan salah satu ginjal nya rusak dan harus mendapatkan donor secepatnya, banyak berita yg keluar saat itu jika ada yg bersedia membantu akan di berikan hadiah dengan pantas. Ayah Perth waktu itu juga merasa iba apalagi mereka tahu kalau keluarga Anderson banyak bergunu bagi kalangan bawah jadi dia memutuskan jika nyawa nya tidak panjang dia akan memberikan ginjal nya dengan dalih jika keluarga Andreason akan menikahkan kelak keturunan dua keluarga ini.
''tapi saya memiliki berita yg bisa buat anda senang ,Tuan''
Cercah Leo dengan mengedipkan sebelah matanya ke arah Gery, namun Darren malah terlihat malas mendengarnya membuat Gery mengernyit kening nya menunjukkan wajah meledeknya
''bagaimana kalau saya bilang ini soal Violine Al'bareck''
Darren langsung memutar pandangan nya ke arah Leo.
''kau mendapatkan nya??''
Dengan mengeluarkan flashdisk Leo langsung memasangkan nya di komputer yg tidak jauh dari tempat Darren.
''semua nya ada disini, anda bisa melihatnya langsung''
Darren memainkan keyboard nya dengan tangan satu yg menupang dagunya mata nya fokus melihat ke arah layar komputer nya.
''apa yg ada di dalam nya??'' Gery yg mulai penasaran
''kau akan tahu nanti'' jawabnya santai dengan mengedipkan mata nya yg membuat Gery memutar mata nya malas.
''kali ini pekerjaan mu, sangat memuaskan Leo''
Darren memasang wajah puas pada dua orang di depan nya.
''Ger,?? Aku punya tugas untuk mu''
''saya selalu siap Tuan''
''aku akan mengirimkan alamat sebuah panti asuhan padamu, penggalang dana tahunan kita tahun ini. Ahh bukan-bukan mulai tahun ini pastikan semua dana nya ke panti itu''
Leo sumringah melihat wajah puas Tuan nya.
''akhirnya bisa bernafas lega'' Leo mengusap dada nya perlahan
''Panti??!'' Gery yg bingung menatap tajam ke Leo
__ADS_1
''emh, Nyonya kita tumbuh besar disana, ups ralat'' Leo yg merangkul pundak Gery menggoyangkan jari telunjuk nya di depan wajah nya.
''ahh,, maksud ku calon Nyonya kita tumbuh besar di panti. Jadi mungkin Tuan ingin membuat tempat yg berjasa itu hidupnya makmur'' Leo menunjukkan susunan gigi rapinya tepat di depan wajah Gery dengan sesekali melirik ke arah Tuan nya.
Darren yg tak menghiraukan kedua anak buah nya hanya menatap layar yg menampilkan gambar gadis kecil lima tahun yg sangat menggemaskan untuk nya. Senyum bahagia terpancar dari mata Darren.
''jika kamu tidak miliki rumah, mulai sekarang aku akan menjadi rumah bagi mu'' batinnya senang
Vio yg sudah sampai di rumah kediaman keluarga Paolo berdacak kagum, selain terlihat mewah tidak jauh dari rumah ini terdapat sekolah yg didirikan untuk anak-anak yg kurang beruntung dari teras lantai dua bisa langsung melihat jalan sekolah yg tentu saja membuat perasaan Vio menjadi lebih nyaman terlebih lagi Vio juga tumbuh besar di panti yg membiasakan nya dengan anak-anak.
Setelah sampai Bibi Luci menunjukkan kamar nya yg berada tepat di lantai dua bersebelahan dengan kamar Bible, kamar Zakir dan istrinya sendri ada dibawah.
''Nona, sudah bangun?'' sapa ramah pelayan rumah yg dipanggil Nani ini sempat dikenalkan oleh Luci tadi.
''sudah, Nani emh yg lain ada dimana ya??''
Tanya Vio yg melihat sekitar tapi seperti tidak ada orang lain.
''Tuan besar dan Tuan muda belum kembali Nona''
''lalu, Bibi??''
''Nyonya baru saja keluar, tadi beliau mengatakan jika Nona bangun langsung hidangkan makanan '' jelas Nani
''baiklah, terima kasih ya'' Vio langsung duduk dengan hidangan di depan nya. Masih dengan sendok nya Vio melihat sekeliling dengan pikiran sepi nya.
''Nona baik-baik saja??'' Nani yg masih berada dibelakang nya
''Nani? Pukul berapa biasanya mereka kembali?''
''kalau Tuan besar, seharusnya sebentar lagi tapi kalau Tuan muda bisa sampai tengah malam apa lagi kalau rumah sakit sibuk, bisa-bisa tidak pulang malah'' antusias Nani menjelaskan.
''rumah besar, tapi kenapa sepi sekali rasanya'' batin Vio dengan wajah lesu nya bahkan tanpa sadar membuang nafas kasar nya beberapa kali tanpa sadar.
''Nona?''
''Nona?? Apa makanan nya tidak enak??''
''ahh, tidak tapi saya hanya kurang berselera saja''
Nani merasa kasihan pada Vio, sebelum pergi Luci sudah memberi tahu kalau Vio sedang hamil sebagai wanita biarpun tidak muda lagi Nani tahu kalau murung tidak baik bagi janinnya.
''atau Nona ingin ke rumah sakit??'' tawarnya
''menemui Bible??'' Vio mulai bersemangat
''iya, jika Nona mau?''
''saya mau, saya mau sekali Nani'' Vio langsung bangun dengan wajah bahagia nya.
''baiklah, Nona bersiap saya akan menyiapkan makanan anada dan Tuan muda''
''emh, terima kasih ya Nani''
Vio mempercepat langkah nya menaiki tangga menuju kamar nya. Nani yg melihat hanya tersenyum heran dan juga bercampur gemas
''saya harap saya tidak salah membawa nya ke rumah sakit''
Ucap nya pelan dengan memasukan beberapa makanan ke dalam kotak agar mudah untuk di bawa.
''kita berangkat, Nona'' ucap supir
''Pak, panggil saya Violine, Vio juga boleh kok'' tawar nya
''apa boleh begitu??''
''tentu saja, saya bukan Tuan kalian'' supir melihat wajah Vio yg tersenyum ramah pada nya lewat kaca.
''Nani juga, jangan panggil aku Nona, cukup Vio saja''
Vio menyipitkan matanya ke arah Nani
''baiklah,,baiklah Vio kan??'' Nani menahan tawa nya
Vio yg tidak terlalu tinggi ini dengan kebiasaan menggembung kan kedua pipi nya siapa yg akan tidak gemas. Jika nanti perutnya tidak akan besar siapa yg akan menyangka kalau dia akan menjadi calon ibu.
''Vio, kalau Tuan muda sibuk kita kembali saja ya??''
''iya,, Nani'' tanpa menatap Nani Vio melihat sekeliling jalan lewat jendela kaca mobil mulutnya terus membulat mengagumi setiap gedung-gedung yg mereka lewati. Hingga akhirnya mobil berhenti di lobi rumah sakit.
''ayo,'' tawar Nani dengan memberikan satu tangan nya dan tangan lain yg memegang paper bag berisi makanan.
''rumah sakit nya besar ya, Nani??''
''iya Vio, ini merupakan rumah sakit terbaik juga''
Vio hanya mengangguk paham, kini mereka masuk dalam kotak kaca yg akan mengantar mereka ke lantai tempat praktek Bible.
''kita sampai'' ucap Nani didepan sebuah ruangan
''apa boleh kita langsung masuk, Nani?''
''tunggu disini ya, saya akan bertanya dengan Suster sebentar '' Nani pun pergi ke tempat dimana terlihat beberapa Suster yg sedang mengobrol. Tak lama Nani berbalik dan kembali memegang tangan Vio membawa nya ke suatu tempat.
''Nani?? Kita mau kemana?''
''Tuan muda ada di saja'' unjuk nya yg mengarah tempat yg sedikit terbuka mungkin tempat untuk menunggu pasien yg dirawat cuma tidak beratap saja.
Vio melihat ke arah seseorang yg duduk dengan menyesali kopi di tangan nya, dengan pandangan mata ke arah langit seperti ada sesuatu disana, bahkan Vio dengan polosnya ikut melihat ke atas.
''Vio? Kamu pergi ke Tuan muda saya akan tunggu kamu di mobil ya'' Nani memberikan paper bag ditangan nya
''Nani tidak ikut??'' tanya Vio bingung
''tidak, kamu temui Tuan saya akan turun'' Nani pun mengusap kepala Vio sebentar lalu berjalan pergi. Vio mengikuti arah pandang ke Nani sampai tak terlihat
’'apa dia kelelahan??''
Ucap Vio pelan yg kini ada di samping Bible yg duduk memejam kan mata nya. Vio menusuk pipi Bible dengan jari nya dengan senyum membuat yg punya langsung melihat kearah nya.
''Vii??!!'' Bible membelalakkan mata nya
''hay'' Vio melambaikan tangan nya
''kamu??, Kamu sudah sampai? Kapan kamu sampai? Bukannya Mama bilang besok baru dia pulang? Lalu kenapa tidak bilang padaku, apa kamu baik-baik saja??'' Bible menghujani nya dengan pertanyaan dengan wajah panik nya. Sedangkan Vio memasang wajah malasnya, akhirnya Vio menutup mulut Bible agar diam.
''stoop!!,''
__ADS_1
''adjdhshakakahsgyh'' tak jelas apa yg Bible katakan dengan tangan Vio yg masih melekat di mulutnya
''bisa tenang?? Dan tanya satu persatu ok?''
Bible langsung mengangguk
''aku sampai tadi siang, tapi istirahat sebentar''
''baguslah, aku daritadi memikirkan kamu'' Bible memeluk nya
''sudah-sudah kamu bau obat'' Vio mendorong paksa tubuh Bible dengan menutup hidung nya
''apa segitu bau nya??'' Bible penasaran sambil mencium tubuhnya sendiri, dan Vio yg mengangguk kan kepalanya
''baiklah aku lepas dulu''
''jangan!!'' Vio menghentikan tangan Bible yg ingin melepaskan Snelli nya
''kenapa?''
''tidak, aku hanya suka ketika kamu memakai nya''
''benarkah, apa aku terlihat tampan??'' goda Bible yg mencondongkan tubuh nya ke arah Vio
''uweek'' reaksi Vio seolah ingin muntah
Bible hanya tertawa melihat nya, Bible yg gemas hanya mengacak rambut Vio yg mendapatkan pukulan.
''kamu kesini dengan siapa?''
''aku tadi diantar Nani, tapi setelah itu dia turun lagi '' ucap Vio dengan menunjuk kemana arah Nani pergi dengan mulutnya dan pipi yg menggembung lagi. Bible menangkap pipi Vio dengan kedua tangan nya karena tidak tahan dengan rasa gemas nya.
''kamu itu kok gemesin banget sih, hah??''
''sakit''
''auw,,auw rintih Bible yg terus mendapat pukulan dari Vio
''Ayo makan!'' Vio dengan ketusnya
''haha,, jangan marah-marah aku tuh cuma gemes tahu''
''apa kamu pernah merasakan pipi mu di cubit?''
''tidak, karena pipi ku tidak seperti punya Violine'' Bible yg masih mengganggu nya dengan menusuk nusuk pipi Vio
''baiklah, aku pergi!!''
Vio yg langsung bangun kembali duduk karena tarikan Bible
''iya-iya aku minta maaf, ok''
''ayo kita makan, aku tidak akan melakukan nya lagi''
Bible memberikan jari kelingking nya.
''janji?'' Vio yg masih saja cemberut
''iya, janji'' Bible menunjukkan susunan gigi rapinya pada Vio
Vio memicingkan kan mata nya menatap Bible yg menahan tawanya,
Dengan hati-hati Vio mengeluarkan satu persatu kotak yg sudah disediakan oleh Nani di tengah-tengah mereka.
''Nani menyiapkan ini semua''
''jadi kamu belum makan apapun?''
''belum, terlalu sepi dirumah'' jelas Vio
''maaf ya, kamu sampai disini malah semuanya pada sibuk''
Bible mengusap puncak kepala Vio dengan lembut
''tidak apa-apa, semuanya juga punya pekerjaan kan''
''tapi lusa aku akan libur beberapa hari''
''kenapa??''
''aku menukar jadwal libur ku dengan Dokter yg lain''
''karena itu kamu pulang malam, dan kadang tidak pulang??''
''kamu tahu??''
''Nani yg mengatakan nya'' dan Vio mengingat sesuatu
''berarti selama ini kamu bohong soal akan istirahat?!!''
''maaf, aku hanya tidak ingin kamu khawatir''
''Biben, kenapa kamu harus memaksa kan diri?''
''aku tidak memaksakan apa pun, aku hanya mencoba lakukan yg terbaik apa lagi kamu akan kesini aku selalu berpikir menyiapkan waktu untuk mu jika kamu disini nanti lagian aku juga sudah berjanji akan menjaga mu disini''
''Vii, dulu aku selalu berpikir akan bekerja keras dan selalu berusaha menyiapkan apapun untuk menjaga mu sampai nanti aku harus memberikan kamu untuk orang yg kamu cintai, tapi setelah kejadian yg kemarin aku merubah mindset ku'' jelas Bible menatap lekat mata Vio
''bagaimana dengan sekarang??''
''aku akan tetap kerja keras menyiapkan semua masa depan ku untuk merawat mu juga yg ada disini'' Bible memegang perut Vio ''aku akan memenuhi semua nya sampai kalian akan berpikir tidak butuh orang lain lagi.''
''Bii??'' Vio terharu dengan ucapan Bible
''jangan menangis, bukannya kamu janji tidak akan menangis lagi. Hah??'' ibu jari Bible dengan cekatan menghapus air mata Vio yg masih menatap ke arah nya.
''tapi kita tidak bisa saling bersama seperti itu''
''aku tahu, aku menyayangimu juga mencintaimu tapi bukan cinta sebagai pasangan aku mencintaimu kamu seperti Kaka laki-laki yg mencintai adik perempuan nya'' jelas Bible
'' jadi apa pun masalah nya mulai sekarang kamu harus menceritakan dan memberi tahu kan padaku mengerti''
''emh,'' Vio mengangguk dengan cepat
''yasudah ayo makan, setelah itu aku akan mengenalkan mu pada seseorang'' ajak Bible yg menyuapkan makanan ke mulut Vio.
Kedua nya pun makan dengan beberapa candaan, banyak orang yg lalu lalang melihat ke arah mereka bahkan tak jarang ada yg diam-diam mengambil gambar mereka apa lagi dirumah sakit ini Bible termasuk incaran para Suster dan juga perawat wanita. Lelaki yg sudah mendapatkan gelar Dokter di usia yg termasuk muda ditambah lagi visual nya yg tampan dan juga memiliki tubuh atletis ini siapa yg tidak akan terpesona. Tapi Bible yg memilih duduk sendiri daripada bergabung dengan para Dokter lain ketika senggang menjadi nya mendapatkan gelar Dokter Cool.
__ADS_1