
Hari masih terlalu pagi untuk berwajah murung. Mimpi buruk semalam ditepis Irma jauh-jauh dari memori. Ia meyakinkan diri kalau mimpi hanyalah bunga tidur, bukan sebuah pertanda atau peringatan mengenai akhir dunia. Bisa jadi … pertengkaran dengan Beni lah yang menyebabkan Irma mendapatkan mimpi tersebut.
Irma memejamkan mata sesaat, meraba cincin pernikahan yang semalam dimimpikan hilang, lalu menghembuskan nafas berat. Berharap semua akan baik-baik saja. Bayangan Beni pergi dengan wanita lain yang beberapa hari ini menari-nari di pelupuk mata, dibuang dari benaknya.
Irma berdoa dalam hati, memohon petunjuk dari Tuhan sekaligus meminta untuk diberikan ketenangan. Ia pun menyibukkan diri dengan memasak di dapur untuk sarapan dan bekal dua buah hatinya yang akan pergi ke sekolah.
Novan sudah kelas dua Sekolah Dasar, sementara Novia kelas satu. Kedua anaknya sedang tumbuh dan butuh figur seorang ayah, oleh karena itu Irma menekan egonya untuk tidak berpikir negatif soal suaminya. Ia ingin tetap waras menghadapi masalah yang sedang mendera rumah tangganya.
“Mama, nanti aku sama adik dijemput siapa?” tanya Novan ketika berpamitan.
“Dijemput Tante Dina, mama nanti mau belanja isi warung!” jawab Irma sembari mencium kedua anaknya yang akan pergi ke sekolah.
Setelah anak-anak pergi ke sekolah, Irma membuatkan menu sarapan kesukaan suaminya. Ayam goreng krispi dan sayur sop. Sambal tomat sengaja dibuat tidak terlalu pedas untuk memanjakan lidah Beni.
Selesai di dapur, Irma mandi, berdandan dan menyemprot parfum walaupun hanya untuk menemani Beni sarapan. Mata sembabnya ditutupi dengan riasan. Meski tak begitu telaten ketika membantu Beni di salon, tapi Irma lumayan bisa berdandan untuk diri sendiri. Ia dulu seorang SPG, merias wajah adalah kewajiban standar.
Irma menatap cermin, jujur hatinya sedang sakit. Ia masih ingat betul ucapan kasar Beni semalam. Tapi tidak ada yang bisa dilakukan Irma selain menurunkan ego, semua dilakukan demi kebahagiaan anak-anaknya. Intinya, rumah tangganya harus tetap utuh bagaimanapun caranya. Irma tidak sanggup membayangkan jika Novan dan Novia menjadi korban perceraian orang tua.
Jika Irma yang harus berbenah diri untuk memperbaiki keadaan yang sedang tidak menguntungkan ini, why not? Toh ia masih sangat mencintai Beni. Dan apapun akan Irma lakukan agar Beni menarik kata-katanya, batal menceraikannya.
Selesai menata piring di meja makan, Irma menyuruh adik suaminya yang baru pulang mengantar kedua anaknya untuk segera sarapan dan membuka salon.
“Salon nanti langsung dibersihkan ya, Din! Nggak usah nunggu Dila biar kakakmu nggak ngomel,” kata Irma mengingatkan.
Dina menyahut, “Dasar Mas Beni aja yang sensian, dikit-dikit uring-uringan. Kemarin itu udah aku bersihin semua, Mbak! Eh … katanya masih kurang kinclong!”
__ADS_1
Irma tersenyum, “Kakakmu mungkin sedang pusing mikir usaha salonnya yang nggak berkembang! Mbak lagi mau cari pinjaman uang ke bank buat bantu.”
“Memangnya Mas Beni mau besarin salonnya?”
“Mau terjun di bisnis klinik kecantikan katanya,” jawab Irma.
Dina hanya ber-oh tanpa menanggapi lebih jauh. Ia memilih menyelesaikan sarapan dan pamit untuk membersihkan salon.
Irma menatap jam dinding yang menunjuk angka delapan. Ia berniat membangunkan suaminya, tapi ternyata Beni sudah ada di depan pintu kamar, bersiap untuk mandi.
Irma berbalik arah untuk membuat teh hangat, setelah itu menyiapkan baju bersih untuk dipakai Beni. Ia lalu duduk menunggu suaminya dengan sabar di meja makan.
Sepuluh menit kemudian, Beni keluar kamar memakai baju lain, bukan baju yang sudah disiapkan Irma. Beni mengenakan setelan rapi seperti hendak keluar rumah. Bau parfum tercium dari jarak dua meter.
Irma memperhatikan perubahan suaminya dengan hati miris. Beni tak pernah sewangi itu selama menikah dengannya. Bau parfum itu baru dan asing di penciuman Irma. Irma menghembuskan nafas panjang, mungkin Beni memang sedang puber kedua seperti yang sering dibicarakan mama-mama muda tetangganya.
Beni menatap Irma sekilas, “Sarapan?”
“Iya! Ayo sini keburu dingin semua nanti!” Irma menyendok nasi ke piring, mengambilkan lauk dan menghidangkan di meja sambil menunggu Beni duduk.
Beni memperhatikan isi meja makan tanpa minat. Selera sarapannya hilang, ia duduk diam tanpa ekspresi. Seperti orang bodoh.
Beni juga tidak menyentuh makanan yang dihidangkan Irma. Aroma sop dan ayam kesukaannya entah kenapa membuat perutnya mual. Sapaan istrinya yang lembut pun tidak bisa menyentuh hatinya yang mulai diliputi kebencian.
Beni mengusap wajahnya kasar. Benarkah ia membenci wanita yang sudah melahirkan dua anaknya? Wanita yang delapan tahun menemani suka dan dukanya? Ah ya … Beni juga bingung, ia tak tahu kemana perginya semua rasa yang ia miliki untuk Irma selama ini?
__ADS_1
Bukankah dulu Beni menyukai Irma yang kuat dan mandiri secara finansial? Yang tidak bergantung padanya dari soal materi hingga hal-hal lainnya? Wanita yang ikhlas menerima dirinya yang hanya bermodal ‘burung' ketika dinikahkan oleh penghulu?
Beni masih ingat kalau ia memuja Irma yang tidak cantik tapi memiliki hati yang baik! Beni juga tidak lupa, ketika usaha salonnya belum menemukan pelanggan, dan saat itu ia harus mengirimkan uang untuk ibunya yang masuk rumah sakit, Irma lah yang berhutang pada bosnya hingga harus potong gaji selama enam bulan.
“Mas … kok malah melamun? Ayo dimakan!” kata Irma sambil menyendok makanan ke mulutnya. Ia ingin sarapan bersama seperti biasanya.
“Aku nggak selera makan,” jawab Beni datar.
“Mau sarapan yang lain? Soto? Lontong sayur?” Irma hampir mengangkat bokongnya, siap pergi membeli apa yang diinginkan suaminya.
Beni mendorong piringnya ke tengah meja perlahan, lalu membuka ponsel tanpa merasa bersalah. “Aku serius nggak lapar, kamu nggak usah repot-repot masak buat aku mulai sekarang! Kamu bukan istriku lagi, jadi nggak perlu melayaniku. Aku kan sudah ceraikan kamu semalam!”
Wajah Irma serasa disiram air mendidih, panas dan merah karena menahan air mata. Emosinya tak terkendali menghadapi Beni yang bicara tanpa menggunakan perasaan.
Irma spontan mengambil piring Beni, membuangnya dengan setengah melempar ke tempat sampah. Ia juga membuang semua makanan yang terhidang di atas meja makan dengan rasa marah yang hampir meledakkan dadanya.
“Karena kita sudah bukan suami istri, kita tidak bisa tinggal satu atap lagi. Silahkan keluar dari rumah ini!” usir Irma. Teriakannya tegas meskipun terdengar serak dan menyedihkan. Ia mati-matian menahan tangis kekalahan.
“Aku memang berniat pergi hari ini!” ucap Beni tanpa beban. Ia keluar rumah dengan langkah ringan. Tidak membawa apapun selain yang melekat pada tubuhnya. Tentu saja Beni tak mau meninggalkan ponsel kesayangannya.
Saking tergesanya, Beni sampai tak berpamitan pada adiknya yang sedang sibuk beres-beres salon.
Irma menatap kepergian Beni dengan air mata bercucuran. Ia berlari ke kamar, menumpahkan kesedihannya di atas bantal yang biasa dipakai Beni tidur. Tangan Irma mengangkat bantal suaminya, memeluk dan menghirup bau Beni yang tertinggal di sana.
Hingga akhirnya mata Irma yang penuh air duka menangkap sesuatu yang sebelumnya tersimpan di bawah bantal Beni. Sebuah benda tipis bergambar yang terbuat dari kertas. Sebuah kartu.
__ADS_1
***