Pesona Sang Pelintrik

Pesona Sang Pelintrik
Situasi Rumit


__ADS_3

“Iya aku tau. Paling nanti cuma peluk-peluk kayak waktu kita masih pacaran dulu, Ir!” ujar Beni dengan senyum meyakinkan.


“Mas ….” Irma menggeleng. Jelas hal seperti itu tidak mungkin. Beni yang menunjukkan pandangan penuh gairah padanya sudah menjadi pertanda bahwa mereka tidak akan hanya sekedar berpelukan jika tidur dalam satu kamar.


Secara kebetulan saja kalau kemarin malam mereka tidak melakukan kesalahan karena Beni mendadak loyo.


Teringat hal itu, Irma langsung mengaitkan cairan berbau busuk yang keluar dari pusat sensasinya dengan Beni yang tak bisa menyentuhnya.


Rasa ingin membuktikan hadir tiba-tiba, apakah mantan suaminya itu akan kembali loyo setelah ia berobat? Atau akan tetap loyo karena alasan lain?


Bisa saja kan kalau keperkasaan Beni dibuat tidur oleh Madam Suzan agar tidak bisa menyentuh wanita lain–terutama dirinya? Yang berarti masalah sebenarnya bukan ada padanya, tapi ada pada Beni sendiri. Karena sepulang dari rumah Mbah Kancil, ia tak merasakan sakit perut bagian bawah. Cairan busuk itu pun sudah menghilang.


“Boleh ya, Ir?”


Irma tak menjawab, ia meninggalkan Beni di depan kamar anaknya. Masalah yang dihadapinya terlalu rumit untuk dipecahkan, dan jujur saja ia ingin membuktikan sesuatu.


Beni menyeringai kecil. Ia mematikan televisi dan pergi ke kamar mandi untuk bersiap-siap. Setelah itu ia membuntuti Irma dengan langkah tergesa.


Delapan tahun berumah tangga dengan Irma membuat Beni mudah menyimpulkan semua sikap mantan istrinya, termasuk yang baru saja ditunjukkan di depan matanya–diam berarti iya. Artinya ia boleh tidur sekamar dengan Irma.


Sebelum masuk kamar mereka dulu, Beni memastikan kalau ‘barangnya’ sudah mulai menggeliat bangun. Ia memang sedang butuh melepaskan ketegangannya, apalagi siang tadi istrinya mengirimkan foto seksi ketika akan tidur siang.


Di samping itu, sudah lama ia tak menyentuh Irma, ada kerinduan yang sama besarnya saat melihat bagian atas tubuh Irma yang menyembul memanggilnya.


Di kamar, Irma sudah ada di atas ranjang, memakai selimut sebatas dada dan membelakangi tempat yang akan dipakai Beni tidur. Hatinya deg-degan penuh rasa penasaran.

__ADS_1


Beni melepas kaos, juga menurunkan celana yang menjadi penutup terakhir tubuhnya. Senyumnya mengembang mendapati ‘Beni Junior’ sudah siap berperang dengan garang. Ia langsung naik ke atas ranjang dan memeluk Irma dari belakang tanpa basa basi lagi.


Tapi keberuntungan memang sedang jauh dari Beni, lagi-lagi juniornya lemah tak bertenaga. Lunglai seperti terong bakar yang baru turun dari atas bara api.


Beni mengumpat frustasi, marah pada keadaan yang tak menguntungkan. Senjatanya bahkan baru menyentuh bokong Irma yang masih berlapis kain, belum ada pemanasan ataupun cumbuan yang dilakukannya.


“Sepertinya aku perlu ke dokter, Ir! Aku loyo lagi, kenapa ya? Padahal barusan dia bangun dan keras!” ujar Beni sembari turun dari ranjang, memakai pakaiannya lagi. “Aneh banget!”


Irma menatap Beni kasihan, “Lebih baik kamu konsultasi ke orang pintar, Mas!”


“Kamu kenapa jadi percaya banget sama dukun sih?”


“Loh bukannya yang kamu alami itu suatu keanehan? Hal yang tidak masuk logika? Bisa aja kan penyebabnya dari hal yang tak kasat mata?”


“Kamu mau nuduh Suzan yang melakukan ini padaku? Makin nggak masuk akal saja cara pikirmu, Irma! Dia itu istriku, apa mungkin wanita yang mencintai suaminya bisa melakukan hal keji seperti ini?”


Beni menggeleng keras, “Tidak mungkin!”


“Apanya yang tidak mungkin?”


“Aku mengenal Suzan!”


“Jadi kamu sudah tidak mengenalku? Kita menikah selama delapan tahun, Mas!”


“Bukan begitu maksudku, Ir!”

__ADS_1


Irma menukas sarkas, “Ya bela saja terus istri jahatmu itu!”


“Irma!” bentak Beni kesal, nyaris saja ia melayangkan tangannya untuk memberi pelajaran pada mulut pedas Irma. “Lancang sekali kamu!”


Irma tau ia bersikap fatal, sudah menyulut emosi Beni. Tapi apa yang dikatakannya hanya bertujuan menyadarkan Beni dari pengaruh pelet Madam Suzan.


Dengan malas Irma bangun menuju lemarinya, mengambil kartu yang pernah ditemukannya di bawah bantal Beni dulu. “Mas Beni tahu apa ini? Aku menemukan ini di bawah bantalmu!”


“Kartu ceki! Aku memainkannya sewaktu acara gathering dulu, aku membawanya pulang karena tak sengaja menyimpannya di saku baju!”


“Istrimu pandai bermain ini, kan?”


“Ya, hanya untuk hiburan! Semua diajak ikut main waktu itu, bukan hanya aku!”


Irma melempar kartu di tangannya ke muka Beni, “Bukan hanya untuk hiburan, tapi istrimu itu mahir menggunakan kartu jenis ini untuk memikat laki-laki. Istrimu itu perempuan tukang lintrik, kamu tergila-gila padanya karena efek mantra guna-guna pengasihan lintrik!”


“Mustahil!” ujar Beni sembari menangkap kartu yang dilempar Irma padanya.


“Kenapa tidak kamu buktikan sendiri kebenarannya? Selain melintrik, mungkin dia juga bisa mengirim santet! Aku yang jadi korbannya!”


Kepala beni menggeleng semakin keras, mengingkari kenyataan. Kartu ceki di tangannya diremat hingga kusut, “Tidak mungkin Suzan tega melakukan hal itu!”


“Tidak mungkin kamu tega menceraikan aku kalau tidak kena guna-guna Madam Suzan!”


Beni membanting kartu di tangannya, lalu keluar kamar Irma dengan wajah merah padam menahan marah. Marah pada diri sendiri, pada Irma, pada Madam Suzan.

__ADS_1


BERSAMBUNG ….


***


__ADS_2