Pesona Sang Pelintrik

Pesona Sang Pelintrik
Klinik Paranormal


__ADS_3

Beni, Irma dan Dewi tak sempat bernafas lega lebih lama. Teror terus berlanjut meski tempat tujuan sudah di depan mata. Hahahihi yang baru saja keluar dari mulut mereka menguap seketika. Berganti dengan jeritan histeris karena ada mobil yang melaju kencang ketika mobil sedang putar balik.


Tabrakan tak bisa dihindari. Mobil yang dikemudikan Beni terdorong deras ke depan, bunyi decit ban di atas aspal dan gesekan body mobil menjadi melodi utama di jalan lengang tersebut. Untungnya, tidak ada satupun yang menjadi korban. Selain bemper belakang mobil yang hancur tentu saja.


Beni berdecih setelah berdamai dengan penabraknya, yang bemper depannya tak kalah remuk dari mobil istrinya. Ia mengemudi pelan seraya menggerutu, "Apa belum cukup masalah mobil hari ini? Apa nanti kata Suzan lihat mobilnya seperti ini?!"


Hari naas sedunia yang dikeluhkan Beni ditimpali Irma lirih, "Kesialan ini pasti karena aku! Iya kan, Mas?"


"Aku tidak menyalahkanmu! Anggap saja ini bagian dari takdir!" jawab Beni agak bijak, mungkin syaraf kepalanya jadi lurus setelah terkena benturan.


Irma terkekeh miris, "Takdir? Bagiku ini seperti sebuah lelucon! Nyawa kita terombang-ambing hanya dalam waktu dua jam saja!"


Mobil masuk pelataran parkir klinik. "Ya sudah ayo turun, sepertinya tidak banyak antrian!" tunjuk Beni pada dua orang yang sedang bercakap-cakap di teras ruang tunggu pasien.


"Hem … kayaknya aku kok pernah lihat cowok yang sedang ngobrol sama cewek itu ya?!" ujar Irma, lebih pada dirinya sendiri.


Dewi menyahut penasaran, "Ketemu dimana, Mbak? Ganteng, ih!"


"Lupa, Wi!"


Beni melirik Irma kesal, sejak kapan mantan istrinya jadi pemerhati brondong? Berlagak pernah ketemu pulak! Jangan-jangan sebentar lagi ngaku kenal. SKSD.


Irma tak menggubris tatapan membunuh dari Beni, kalaupun ia menatap laki-laki lain dan mengaguminya itu sama sekali bukanlah kesalahan. Beni tidak berhak melarang karena sudah bukan suaminya.


Dengan langkah sedikit tergesa, Irma mendahului Beni dan Dewi untuk memastikan penglihatannya. Ia mendekati pemuda yang sedang bercanda dengan seorang gadis muda. "Selamat siang!"


Si pemuda langsung menoleh, memperhatikan Irma sejenak, lalu tersenyum lebar. "Eh … Mbak Irma bukan ya?"


Dewi mengerjap takjub, "Mbak Irma ternyata kenal sama dukunnya?"


"Dasar gatel!" gumam Beni. Tangannya mengepal di saku celana demi menahan geram. "Pasti dukun cabul nih bocah!"


Irma ikut tersenyum ramah, "Aku lupa sama mas-nya. Kita ketemu dimana ya?"


"Mbak Irma masih ingat pernah nabrak mobil temanku beberapa waktu lalu?"

__ADS_1


Irma sontak terpekik gembira, "Ya Tuhan! Iya ingat, kamu Tian ya, temannya Elz!"


"Elz?" tanya Dewi bingung.


"Iya si peramal sableng! Siapa yang bakal nyangka kalau kalau kita bakal ketemu dia di tempat ini!"


"Astaga! Jadi dukunnya itu Elz?"


Irma tak langsung menjawab, tapi menatap Tian agar memberikan penjelasan atas pertanyaan Dewi–yang juga menjadi pertanyaan tak langsungnya.


Tian berdehem, "Mbak Irma mau ketemu Elz ya? Dia ada di dalam!"


Irma mengangguk, "Apa Elz sedang sibuk terima pasien!"


"Kayaknya tadi lagi main game di kamar atas! Ayo masuk," ajak Tian ramah. “Oh ya kenalkan ini Yayuk, asisten Elz! Dia nanti yang akan menemani Mbak Irma selama diperiksa.”


“Hem … baguslah kalau begitu!” celetuk Beni dengan nada keki. Ia memang tak mau melihat Irma diperdaya oleh dukun yang katanya muda dan tampan. Tapi, ia sangat percaya diri kalau ketampanannya tak kalah dengan si dukun.


Dewi melongo, lalu berbisik pada Irma, "Masih aja sableng tuh anak kayaknya, Mbak! Masa nunggu pasien sambil main game …."


Ruang praktek Elz cukup besar, dilengkapi dengan satu set meja kerja kantoran seperti milik direktur, sofa besar dan tentu saja ranjang bagus untuk pasien.


"Bagus ya, Wi! Kayak bukan ruang dukun hehehe!" Irma menatap Dewi dengan ekspresi takjub ketika Tian menutup pintu ganda yang baru saja mereka lewati.


Dewi membenarkan, "Ho-oh!"


“Silahkan duduk! Aku panggilkan Elz dulu!” kata Tian. Ia menyajikan tiga botol air mineral dingin di atas meja untuk menemani tamunya, baru pergi keluar ruangan.


Tak lama, Tian masuk lagi ke ruang praktek bersama pemuda jangkung yang menebar senyum ramah ketika menyapa. “Mbak ….”


“Elz!” pekik Irma dan Dewi, berdiri bersamaan, pun menyebut nama pemuda itu seperti suara satu dan dua. “Kamu sekarang jadi dukun?”


Elz menyalami dua wanita yang pernah dikenalnya tiga tahun lalu, “Iseng-iseng aja ini, Mbak!”


“Hebat banget kamu, Elz! Tempat praktekmu … keren! Seingatku kamu dulu nggak ganteng-ganteng amat, kenapa sekarang jadi sesuatu banget, eh!” puji Dewi blak-blakan–penuh kekaguman.

__ADS_1


“Mas ….” Elz mengalihkan perhatian dari Dewi dan Irma. Ia mengulurkan tangan pada Beni yang duduk diam membisu seperti patung sadboy.


Namun, Beni mendadak limbung saat hendak berdiri menyambut tangan Elz. Kepalanya berdenyut sakit luar biasa dan mual tiba-tiba melanda. Tanpa bisa dicegah Beni malah muntah-muntah setelah Tian memberikan baskom padanya.


“Dimana kamar mandinya, Mas?” tanya Beni dengan ekspresi tersiksa.


“Muntah di sini saja, Mas! Kamar mandinya sedang direnovasi,” bujuk Tian berbohong. Hal itu dilakukan agar pria itu tidak melarikan diri dari klinik.


Sudah umum kalau pasien kadang bereaksi tak menyenangkan ketika bertemu Elz. Aura kuat si pemuda memang membawa pengaruh bagi orang yang memiliki sesuatu yang gaib dalam tubuhnya. Menghindari Elz adalah salah satu efeknya.


“Elz … kamu bisa tolong suamiku kan?” Irma berbicara penuh permohonan. “Apa yang kamu katakan tiga tahun lalu itu sedang terjadi, Elz. Aku harap aku tidak terlambat meski sebenarnya sudah terlambat!”


“Suami Mbak Irma kecantol sama perempuan yang bisa melintrik ya? Hampir tiap hari dia dimantrai, sehingga peletnya melekat kuat sekali!”


Beni berusaha keras untuk menyangkal apa yang dituduhkan si dukun muda, tapi ia tak sanggup bicara karena mualnya semakin menjadi-jadi. Apalagi ketika Elz menepuk-nepuk ringan punggungnya. Perutnya ikut berguncang hebat seolah ingin mengeluarkan semua isinya.


“Bisa dilepaskan?” tanya Irma khawatir. Wajah Beni mulai memucat hingga tampak kebiruan karena kekurangan oksigen. Sebenarnya bukan hanya Beni, Irma sendiri merasa tengkuknya sangat berat. Punggungnya nyeri menusuk hingga ulu hati ketika bersalaman dengan Elz tadi.


Dengan senyum tipis, Elz mengangguk, “Aku usahakan, tapi tidak instan! Daya pikatnya akan berefek sampai empat puluh hari ke depan. Dan perempuan itu pasti tidak akan tinggal diam jika Mas Beni aku netralkan. Pelintrik itu akan mengisi ulang peletnya setiap ada kesempatan!”


Beni memejamkan mata, tubuhnya bergetar hebat. Padahal pemuda yang katanya dukun itu hanya melakukan hal kecil pada punggungnya. Hanya memijatnya.


Sialnya, tubuhnya tak mampu bergerak untuk melawan laju energi yang masuk melalui punggung dan menyebar ke seluruh tubuh. Akibatnya, kepalanya pening dan seluruh tubuhnya gemetar. Ia baru bisa bernafas lega setelah Elz membantunya agar duduk di sofa.


“Enak, Mas?” tanya Elz.


“Enak mbahmu!” rutuk Beni sarkas. Ia lemas tak bertenaga karena muntah selama sepuluh menit. Enaknya dimana? Beni menyemprot Elz lebih lanjut, “Kamu bikin badanku ngilu semua, remuk luar dalam!”


“Minum dulu aja, Mas!” kata Tian. Ia mengulurkan air mineral yang telah diisi energi supranatural oleh Elz.


"Sini, haus aku!" Beni langsung menenggak minuman itu hingga nyaris tandas. Air itu terasa dingin ketika mengalir dalam tubuhnya, tapi membawa kehangatan yang menyegarkan. Mau tak mau Beni harus mengakui kalau tubuhnya terasa ringan dan lebih bugar.


Ia menyandarkan punggung dan memejamkan mata untuk mengatur tenaga. Malas untuk ikut mengobrol, apalagi mengakui kehebatan pemuda yang sudah membuatnya muntah-muntah di depan Irma dan Dewi seperti pria tak bermartabat.


Selain itu ia masih menunggu kesempatan untuk mematahkan argumen Elz mengenai istrinya yang katanya seorang tukang lintrik. Tapi … kenapa tiba-tiba ingatan Beni tentang istrinya tak sekuat tadi? Biasanya perempuan bahenol itu selalu memenuhi kepalanya, kapanpun, dimanapun!

__ADS_1


BERSAMBUNG ….


__ADS_2