Pesona Sang Pelintrik

Pesona Sang Pelintrik
Kartu Ceki


__ADS_3

Irma mengambil kartu yang disembunyikan suami yang telah menceraikannya dengan perasaan campur aduk. Ia mengamati kartu tersebut dengan membolak-balikkan beberapa kali. Tidak ada yang istimewa dari sebuah kartu yang mungkin didapat Beni dari tempat perjudian.


Oh, benarkah Beni sekarang mulai bermain judi? Kenapa rasanya Irma tidak percaya akan hal itu. Pendapatan salon setiap harinya ia terima utuh dari Dila sebagai pegawai dan juga kasir.


Irma menduga kartu itu berasal dari tempat hiburan. Entah itu hanya sebagai alat permainan atau seru-seruan seperti meramal masa depan.


Bicara soal ramalan, Irma langsung teringat Elz si peramal sableng. Ada penyesalan kenapa ia tidak menyimpan kontak pemuda itu? Tiga tahun telah berlalu, apakah ia bisa menemui Elz jika mendapatkan alamatnya.


Tak ingin larut dalam masalah dan kesedihan, Irma memakai jaket dan menyimpan kartu yang ditemukannya dalam tas tangan. Sepuluh menit kemudian, Irma keluar rumah, melangkah menuju salon sambil mengusap sisa sembab air mata. Ia ingin memastikan apakah Beni ada di sana.


Sampai pintu salon, Irma celingukan mencari sosok suaminya, “Mas Beni kemana, Din?”


Dina mengedikkan bahu, “Keluar, Mbak! Nggak bilang apa-apa sama aku, ngeloyor aja!”


“Naik motor?” tanya Irma terkejut.


“Jalan kaki, motor masih di dalam warung belum aku keluarkan lagi abis nganter Novan tadi! Emangnya Mas Beni mau kemana, Mbak?”


Irma menjawab lirih, “Madam Suzan.”


Jantung Irma seperti ditikam belati ketika mengucapkan nama wanita itu. Beni benar-benar pergi, begitu saja tanpa beban? Dan benarkah tujuannya adalah Madam Suzan seperti yang terpikirkan olehnya?


Dila, si pegawai salon baru datang, “Kita buka salon berdua aja ini, Din? Aku barusan papasan sama Mas Beni di jalan depan! Mau kemana dia?”


“Salon tutup aja hari ini, Dila pulang aja ya nanti aku kabarin kapan kamu bisa masuk kerja lagi,” ujar Irma. Salon tidak mungkin buka tanpa Beni.


“Ini bukan pemecatan kan, Mbak?” tanya Dila curiga. Mata Irma terlalu sembab untuk disembunyikan.

__ADS_1


Sebelum berbalik ke rumah, Irma menjawab sambil tersenyum kecut, “Semoga bukan, Dila!”


“Warung sembako dibuka nggak, Mbak?” tanya Dina tak enak hati. Melihat mata kakak iparnya berair lagi, Dina menduga kalau Irma sedang bermasalah dengan kakaknya. Terlebih kakaknya tadi pergi tanpa mengatakan apa-apa padanya.


“Buka, kamu yang jaga ya, Din! Aku mau ke pasar sebentar lagi. Jangan lupa jemput Novan sama Novia nanti siang!” pesan Irma singkat. Ia kembali ke rumah untuk mengambil helm. Tujuannya bukan pasar, tapi rumah teman lamanya, salah satu SPG toko tempatnya bekerja tiga tahun lalu. Dewi.


Rumah Dewi dan suaminya bertetangga desa dengan Irma. Tidak begitu jauh sehingga perjalanan dengan motor hanya memakan waktu sekitar sepuluh menit.


Teman yang dulu diramal Elz menikah dengan suami sahabatnya sendiri itu sangat ceria ketika menyambut kedatangan Irma.


“Mbak Irma … lama banget nggak main kesini!” Dewi mencium kedua pipi Irma, lalu mengajak duduk di ruang keluarga.


“Suamimu ada, Wi?”


“Mas Aan kerja, baru aja berangkat! Kebetulan aku baru mau coba-coba bikin kue, nanti kasih nilai ya, Mbak!” Dewi seketika membuang senyumnya ketika melihat wajah Irma yang berubah menyedihkan. “Mbak … kamu sakit? Udah sarapan belum?”


Dewi tertegun kaget, “Pergi gimana maksudnya, Mbak?”


“Kemarin malam kami bertengkar, dan pagi tadi dia pergi,” ujar Irma. Ia menjelaskan semua masalah yang melanda rumah tangganya beberapa hari terakhir dengan tersendat. Nama Madam Suzan disebut sebagai orang yang paling membawa pengaruh pada perubahan suaminya.


"Apa ada sesuatu yang aneh atau mencurigakan di rumah, Mbak?"


Irma mengeluarkan kartu dari dalam tas tangannya, “Aku menemukan ini di bawah bantal Mas Beni!”


Dewi memperhatikan kartu domino Belanda yang disodorkan Irma padanya! “Ini kartu ceki namanya, Mbak! Aku kok jadi curiga sama Madam Suzan! Kartu ceki identik dengan pelet lintrik! Madam Suzan ini jangan-jangan punya hubungan dengan dukun lintrik. Suz Salon itu punya dia bukan? Orangnya gimana sih ciri-cirinya?”


“Aku belum pernah ketemu Madam Suzan, Wi! Mana aku tau orangnya cantiknya kayak apa!”

__ADS_1


Dewi menyambar ponselnya, membuka sosial media. Ia mencari nama Suz Salon. “Ini dia ketemu, Mbak! Temen aku ada yang langganan perawatan di Suz Salon. Kalau benar Mas Beni kepincut sama pemilik salon ini, ayo aku antar ke lokasi! Aku tau tempatnya. Sekalian kita mampir ke tempat orang pintar, kayaknya Mas Beni kena pelet lintrik itu!”


“Pelet lintrik?” tanya Irma dengan tatapan nanar.


“Sudah umum orang salon pakai pelet atau susuk, Mbak! Jangan naif deh! Kalau Madam Suzan bukan seorang pelintrik, pasti ada orang lain di belakangnya!”


“Darimana kamu tau soal beginian, Wi?”


Dewi menghembuskan nafas panjang, "Mas Aan … kamu kan tau kalau suamiku itu pernah menikah dengan temanku. Dua juga pernah kena lintrik. Nanti aja deh aku ceritakan di jalan!”


“Kita berangkat sekarang?” tanya Irma dengan raut setengah tak percaya.


“Hem, mumpung masih pagi. Mbak ada bawa foto Mas Beni?”


“Nggak lah, Wi! Mana aku tau kalau kamu mau ngajak aku ke dukun?!”


“Ya udah kita ambil foto Mas Beni dari efbenya saja nanti! Koreksi mbak, orang yang mau kita datangi ini bukan dukun!”


“Trus apa kalau bukan dukun?”


“Orang pintar!” jawab Dewi tanpa keraguan.


Irma mengernyitkan dahi, lalu bertanya serius, “Bedanya apa dukun sama orang pintar?”


“Dukun terkesan konotatif! Itu yang dikatakan orangnya! Makanya dia cuma mau disebut orang pintar!”


***

__ADS_1


__ADS_2