Pesona Sang Pelintrik

Pesona Sang Pelintrik
Daya Pikat Lintrik


__ADS_3

Irma membeku menatap wanita yang turun tangga dengan gaya anggun. Suara mendayu yang baru saja mengingatkan kalau posisinya sekarang bukanlah istri Beni sungguh seperti badai petir di tengah laut. Menyambar kapal rumah tangganya dan siap menenggelamkan dirinya ke dalam samudera.


“Gimana, Mbak?” tanya Irma bodoh. Ingin memastikan pendengarannya sekali lagi. Siapa tau kalau suara yang barusan mampir ke telinganya cuma angin lalu?


“Jangan ganggu suami aku!” ucap Madam Suzan, semakin memojokkan situasi Irma yang memang tidak menguntungkan. “Jangan ganggu Beni!”


“Oh ….” Irma terhenyak sejenak. Ia lalu menguasai emosinya dan bicara dengan nada datar, “Maaf, aku kesini karena ada perlu sebentar dengan Mas Beni. Ini soal anak-anak!”


“Beni akan menjenguk anaknya nanti kalau sudah waktunya! Bukan hari ini atau besok!” sahut Madam Suzan ketus.


Mendengar debat Irma dan Madam Suzan, Beni menimpali tak kalah datar, “Aku akan menjenguk anak-anak beberapa hari lagi. Aku harus menghormati keputusan istriku.”


“Tapi kita belum bicara soal hak dan kewajiban setelah kamu menceraikan aku. Kita bahkan belum mengurus masalah perceraian ini secara resmi di pengadilan. Menurutku, kita belum benar-benar bercerai, Mas! Bagaimana bisa kamu sudah menikah lagi?” tanya Irma menaikkan nada suaranya. Kendali emosinya mulai lepas mendapati fakta kalau Beni telah berubah sepenuhnya.


“Aku tidak butuh persetujuan siapapun untuk menikahi Madam Suzan, Irma! Menurutku, kita sudah bercerai karena aku sudah tidak lagi menganggapmu sebagai istri. Untuk bercerai secara resmi … aku akan mengurus semua secepatnya! Aku yang akan menggugat biar semua segera selesai.”


Penjelasan Beni membuat Irma semakin jatuh ke jurang tanpa dasar. Ia panik dan takut. “Kamu tidak bisa berbuat seenaknya seperti ini, Mas! Aku tidak akan membiarkan urusan perceraian kita menjadi mudah!”


Irma tidak membual. Ia berencana menyewa pengacara ketika Beni melayangkan gugatannya nanti. Tidak akan semudah itu Beni pergi darinya tanpa bertanggung jawab terhadap kedua anaknya.


Di samping itu, sebenarnya Irma masih sangat ingin menyelamatkan rumah tangganya. Alasannya, Beni pergi darinya bukan karena tidak lagi cinta atau memiliki masalah rumah tangga yang fatal sifatnya. Beni meninggalkannya karena terkena guna-guna wanita lain.

__ADS_1


“Oke! Kita sudah selesai ya Irma?! Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan di sini, kita ketemu di pengadilan. Kamu bisa sewa beberapa pengacara kalau masih tidak paham dengan hukum perceraian!”


“Bagaimana dengan anak-anak? Dari tadi aku minta waktu kamu untuk bicara soal anak-anak!” tuntut Irma kesal. Ia bisa saja membiarkan kedua anaknya ikut ayahnya agar Madam Suzan kerepotan dan akhirnya tidak berminat melanjutkan hubungan dengan suaminya itu.


Namun, sebagai seorang ibu … ia tidak tega melepas dua buah hatinya yang masih kecil untuk ikut ayahnya yang sedang keblinger setan. Irma tidak bisa membayangkan kalau anaknya diasuh oleh ibu tiri yang jahat.


Beni menjawab dengan gaya enteng, “Anak-anak akan tetap bersamamu. Bukankah kamu tidak ingin pisah dengan kedua anakmu? Aku tidak serakah … aku bahkan tidak akan minta pembagian anak. Apa kamu lega sekarang? Tidak ada yang perlu dibicarakan panjang lebar lagi, kan?”


Bagi Beni, yang utama saat ini adalah hubungan cintanya bersama Madam Suzan. Dengan menyerahkan hak asuh anak sepenuhnya pada Irma, ia tidak akan direcoki oleh kehadiran Irma yang ingin menjenguk anaknya suatu hari nanti.


Lagi pula Beni sudah mengatakan pada Madam Suzan kalau ia tidak akan membawa anak dalam kehidupan baru mereka. Selain karena tidak ada waktu untuk mengasuh anak Beni, Madam Suzan sudah memiliki anak sendiri dengan suaminya dulu.


Awalnya, Beni mengira kalau Madam Suzan adalah perawan tua karena tidak pernah menyinggung status dan masa lalunya dalam setiap obrolan. Tapi setelah mereka memutuskan untuk menikah di bawah tangan, Madam Suzan baru mengatakan rahasia yang sebenarnya, kalau ia seorang janda beranak satu.


Dengan pandangan dingin, Beni mengusir Irma. “Kamu pulang aja sekarang! Tunggu panggilan dari pengadilan dan jangan cari-cari aku lagi! Aku akan menjenguk anak-anak beberapa hari lagi, kalau sudah diizinkan Suzan.”


Hati Irma mencelos mendengar penuturan Beni, ia tak sanggup berbicara lagi karena dadanya terlalu sesak. “Mas ….”


“Jadi Mbak Irma nunggu apa lagi? Silakan keluar dari sini dan jangan pernah ganggu suami aku kalau tidak mau disebut pelakor!” ujar Madam Suzan sembari mengulum senyum. Ia memang sudah memenangkan hati Beni.


Pria dua anak yang masih muda itu akhirnya bertekuk lutut padanya tanpa perlu banyak usaha. Bermodalkan keahlian bermain kartu ceki dan penguasaan terhadap ilmu pengasihan lintrik, Ia bisa mendapatkan apa saja dari seorang lelaki. Tak terkecuali Beni.

__ADS_1


Madam Suzan juga tidak mengira akan memakai lintrik untuk mendapatkan Beni. Awalnya, perkenalan mereka di grup sosial media hanya biasa-biasa saja, obrolan grup pun hanya seputar usaha dan seluk beluk dunia salon dan kecantikan.


Ketertarikan Madam Suzan pada Beni berawal dari rasa penasaran saja. Ia mengintip profil Beni dan melihat beberapa foto pria itu bersama keluarganya. Tampan dan menggairahkan. Setidaknya itu yang dilihat dan dirasakan Madam Suzan kala itu. Ia berdebar ketika melihat foto Beni bersama Irma.


Dari situ, Madam Suzan sering memikirkan apa yang dilakukan Beni dengan istrinya ketika malam di atas ranjang? Sebagai wanita kesepian, ia mulai membayangkan Beni ketika menyenangkan diri sendiri dengan mainan khusus wanita dewasa di dalam kamar.


Perasaan tertarik untuk memiliki Beni tumbuh seiring mereka sering berkirim pesan secara pribadi. Dilanjutkan dengan mengobrol lewat telepon dan akhirnya bertemu muka di acara gathering pengusaha salon di sebuah kafe.


Madam Suzan langsung tidak mampu membendung keinginan untuk mendapatkan Beni sebagai suami, sehingga pelet lintrik yang selama ini hanya dipakai untuk penglaris salon dimantrakan untuk pria anak dua itu.


Tidak butuh pengulangan, karena hanya dalam satu kali ritual, Beni sudah menyerahkan diri padanya. Madam Suzan tinggal menguatkan peletnya dengan pertempuran ranjang yang panas setiap malam. Memagari Beni dengan bantuan dua paranormal agar tidak bisa dipanggil pulang oleh Irma. Ia sadar betul kalau kasusnya akan dibawa ke orang pintar oleh istri Beni.


“Mas Beni …” desis Irma, bermaksud meminta waktu dan sedikit empati.


“Pintu keluarnya ada di sebelah sini, Mbak!” ujar Madam Suzan yang sudah berdiri membukakan pintu salon untuk Irma, dengan senyum kemenangan yang sengaja dipamerkan.


Beni, pria yang sebelumnya berhati lembut itu hanya diam saja ketika Madam Suzan mengusir Irma secara terang-terangan.


Irma menatap Beni sejenak. Harapannya hanya satu, syarat dari Pak Dulah yang ditebar di depan salon bekerja sesuai keinginannya. Yaitu membuat Beni sadar dan menuntun pulang ke rumah. Irma melangkah dengan air mata yang nyaris jatuh. Namun, ia menahan diri agar tidak terlihat rapuh di depan Beni dan Madam Suzan.


Sakit di hati diredam Irma dengan banyak-banyak menyebut nama Tuhan dan berdoa sepanjang perjalanan pulang.

__ADS_1


***


__ADS_2