
Tengah malam telah berlalu, Irma tidak memejamkan mata sama sekali. Penyebabnya, suara benda jatuh di atas langit-langit rumah mengantarkan rasa takut dan ngeri padanya. Irma akhirnya menghubungi Dewi dan bertanya apa yang harus dilakukan di tengah kondisi seram seperti itu, Dewi hanya bisa memberi saran agar Irma tidak boleh sampai tertidur. Kebetulan yang menyiksa.
Bukan tanpa alasan Dewi memberikan saran tersebut, Dewi menjelaskan kalau suara benda berat jatuh di atas plafon yang diikuti suasana ngeri mencekam adalah ciri-ciri datangnya paket ilmu hitam. Santet, teluh dan tenung diyakini lebih mudah masuk ke dalam tubuh ketika korban yang ditargetkan sedang terlelap.
Irma sependapat meskipun penjelasan Dewi dirasa kurang pas. Kalau paket ilmu hitam masuk ke dalam tubuh menunggu target terlelap, kenapa siang tadi ia bisa kemasukan makhluk gaib?
Namun, kejadian kerasukan jin pada siang bolong, membuat Irma mau tak mau percaya dengan apa yang dikatakan sahabatnya. Ia berpikir realistis saja, kalau dalam keadaan sadar saja bisa diserang, apalagi saat tidur? Pasti jauh lebih mudah bagi paket ilmu hitam itu masuk ke dalam tubuhnya.
Irma harus menahan kantuk, dengan cara beribadah sepanjang malam dan membaca kitab suci hingga matahari terbit. Melawan semua rasa takut dan kalut yang menghantui pikiran. Irma berpikir, dengan tetap terjaga artinya ia tidak hanya menjaga dirinya sendiri malam itu. Tapi ia juga menjaga dua buah hatinya yang sedang tidur lelap dari mata gelap.
Irma membenarkan kalimat Dewi yang berpesan agar ia berhati-hati, dan tidak lupa untuk mendoakan semua anggota keluarganya setiap menjelang malam, terutama ketika akan pergi tidur.
Akhirnya malam menyeramkan itu pun berakhir, suara di atas plafon menghilang bersama matahari terbit. Tak disangka Irma mampu menjaga matanya tetap terbuka hingga pagi. Ia lalu pergi ke dapur untuk membuat sarapan.
Meja makan penuh celoteh kedua anaknya ketika Irma bergabung. "Ayo makannya agak cepet!"
"Mama, aku ke sekolah diantar siapa?" tanya si kecil Novia.
"Sama Tante Dina!" jawab Dina yang baru saja keluar kamar. Ia menyadari kalau kakaknya tidak pulang lagi dari sejak keluar kemarin pagi.
"Kenapa papa nggak pulang, Ma? Memangnya papa pergi kemana?" Kali ini Novan yang bertanya dengan wajah masih mengantuk.
Irma tersenyum lembut, "Papa lagi ada kerjaan di luar kota! Nanti juga pulang kalau sudah selesai."
__ADS_1
"Kalau papa pulang kita pergi ke water park ya, Ma!" usul Novan.
"Novia mau ke water park juga?" tanya Irma pada anak perempuannya.
"Mau, Ma! Tante Dina diajak ya, Ma!"
"Oke! Sekarang habiskan sarapan kalian dan segera pergi sekolah, nanti terlambat!" pesan Irma seperti pagi biasanya. Bagi Irma, anak-anak tidak perlu melihat kesedihannya.
"Oke, Mama!" jawab kedua anak Irma serentak.
Dan Irma akhirnya tumbang karena kelelahan. Ia pergi tidur setelah kedua anaknya pergi ke sekolah.
Kantuk sudah tidak bisa ditahan lagi oleh Irma, kepalanya pusing dan mata seperti dibebani oleh sesuatu yang sangat berat. Tenaganya telah habis untuk melawan aura mistis yang melingkupi rumahnya semalaman penuh.
Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi, kamar Irma diketuk dari luar oleh Dina. Adik Beni itu merasa bingung karena Irma tidak menyuruhnya buka warung sembako setelah mengantar kedua ponakannya ke sekolah pukul tujuh tadi. Kakak iparnya itu malah berdiam di kamar dan tidak keluar lagi.
“Mbak, Mbak Irma … maaf mengganggu! Warungnya dibuka apa nggak hari ini?” tanya Dina khawatir. Ingin langsung masuk tapi takut terkesan tidak sopan. Menunggu di depan kamar membuatnya tidak tenang. Dina mengulang hingga tiga kali lagi sambil memanggil nama iparnya.
Merasa terganggu, Irma akhirnya bangun untuk menjawab Dina. Ia membuka pintu kamar, “Buka, Din! Kamu jaga sendiri dulu ya, aku mau beres-beres rumah sama mandi, nanti aku temani.”
“Oke! Mbak Irma agak kurang sehat apa gimana kok tumben jam segini tidur?” tanya Dina peduli. Tidak biasanya kakak iparnya tidur di waktu pagi. "Salon gimana, Mbak?"
“Salon tutup sementara! Aku nggak apa-apa, Din. Cuma kurang enak badan. Kamu ke depan aja dulu bersih-bersih warung, sekalian depan warung sama salon disapu!” Dalam hati Irma bersyukur bisa terlelap hampir tiga jam. Ia bangun dengan kondisi lebih baik. Irma lalu minum air yang diberikan Pak Dulah beberapa teguk sebelum ke dapur untuk membuat teh hangat.
__ADS_1
“Siap, Mbak! Kalau kurang sehat aku bisa jaga warung sendiri, nanti aku telepon kalau nggak tau harga!” Dina meninggalkan Irma, mengambil kunci warung yang tergantung di dekat meja makan, lalu keluar rumah menuju depan.
Sebenarnya Dina ingin bertanya mengenai kakaknya yang tak terlihat di rumah dari sejak kemarin pagi. Namun, situasi sama sekali tidak tepat. Iparnya seperti orang tak sehat sejak pulang diantar temannya kemarin siang.
Dina menyimpan kesal, kakak laki-lakinya sama sekali tidak membalas pesan yang dikirimnya dari kemarin, juga tidak mengangkat telepon. Beni sudah sangat keterlaluan padanya.
Sebagai adik yang tinggal bersama kakak dan ipar, Dina merasa tidak enak hati kalau tuan rumah sedang dalam masalah. Ia berniat pulang ke rumah orang tuanya jika Beni tidak mau mengurusnya lagi.
Soal pekerjaan yang belum didapat, mungkin Dina akan mencari di dekat rumah saja. Firasatnya mengatakan kalau Beni pergi dari rumah karena sedang ribut dengan Irma. Tapi kenapa kakaknya sampai tidak pulang … jangan-jangan mereka sudah bercerai?
Membayangkan hal itu terjadi pada kakaknya, Dina mengusap wajah sedihnya. Ia memutuskan akan menghubungi ibunya siang ini dan bercerita apa yang sedang terjadi dengan kakaknya.
"Heh, jaga warung kok melamun! Kesambet kamu nanti."
Irma bergabung di warung sembako setelah mandi. Lingkar hitam matanya mulai membayang nyata, tapi Irma tak begitu menggubris keadaan itu. Ia berpikir bahwa mencari uang adalah hal utama dan paling penting saat ini. Warungnya harus tetap buka agar ada pemasukan harian. Kedua anaknya butuh makan, pendidikan dan masa depan, sedangkan salon sudah tidak ada yang menjalankan.
Sama seperti Dina, Irma berfirasat kalau suaminya tidak akan pulang ke rumah mereka lagi. Ia sudah kehilangan Beni. Tapi kesabaran membuatnya menunggu. Barangkali Pak Dulah butuh waktu untuk memanggil suaminya itu.
Pada akhirnya, air doa dan rajah yang diberikan Pak Dulah belum ada gunanya sama sekali. Irma pun kembali menghubungi Dewi untuk meminta saran.
Pak Dulah yang dihubungi Dewi berpesan agar Irma menunggu selama seminggu untuk melihat hasil dari ritual dan pemanggilan gaib yang sudah dilakukan oleh orang pintar itu.
***
__ADS_1