Pesona Sang Pelintrik

Pesona Sang Pelintrik
Mimpi Terburuk


__ADS_3

Setelah mengantar kedua anaknya sekolah, Beni bersiap untuk mengantarkan Irma ke rumah paranormal–sesuai kesepakatan. Ia menunggu di depan rumah, di atas motor Irma yang bersurat lengkap.


Beni memperhatikan Irma yang berjalan sedikit tidak normal ketika keluar rumah. "Kamu kenapa? Kok jalannya miring-miring?"


"Perut bagian bawah sakit, Mas! Tembus sampai punggung, buat jalan sakit!" keluh Irma seraya menunjukkan bagian tubuh yang mendadak sangat sakit.


Ia sedikit paham sekarang, kalau penyakit non medisnya selalu kumat dan berulah ketika ia akan mengunjungi paranormal. Mungkinkah si belis yang bersarang di dalam tubuhnya merasa takut jika akan bertemu orang pintar yang menjadi pawang makhluk halus?


Bisa saja kan jin jahat yang dikirim padanya takut kena disiksa atau takut diusir dan dibunuh oleh manusia yang lebih sakti?


Untuk itulah Irma tidak akan menyerah, ia bertekad tetap pergi mengunjungi Mbah Kancil untuk mendapatkan pengobatan bagaimanapun kondisinya.


Melihat Irma kesulitan menuruni undakan teras rumah, Beni bergerak cepat menyambut Irma. Siap memapah. "Kuat nggak kamu ini satu jam naik motor?"


"Kuat, Mas!" jawab Irma yakin, meski sebenarnya meragu. Yang ditakutkannya hanya satu, kehilangan kesadaran di tengah jalan. Dikuasai jin ketika berboncengan … lalu kecelakaan!


Ekspresi Irma yang tersiksa karena menahan nyeri membuat Beni iba, "Ir, apa nggak sebaiknya kamu istirahat saja di rumah? Gini aja deh, soal warung sepi nanti coba aku yang carikan solusi. Kesehatanmu lebih penting!" tegas Beni seraya merangkul Irma.


"Kalau kamu sibuk jaga salon istrimu, aku ke Mbah Kancil sama Dewi saja, Mas!" Irma berusaha lepas dari Beni dengan cara menggeser tubuhnya.


"Loh kok begitu? Kamu itu sakit, tapi masih ngeyel mau bepergian jauh. Kayak nggak ada hari lain aja sih?! Tunda besok saja, aku yang antar kalau kamu udah baikan sakitnya. Sekarang bawa tiduran di kamar!" gerutu Beni, mulai jengkel karena Irma salah paham dengan ucapannya.


Irma menatap Beni skeptis, lalu mendengus dingin. "Mas, aku ke paranormal juga dalam rangka berobat! Asal kamu tau saja, sakitku ini bukan sakit biasa. Aku tersiksa begini karena dibuat orang!"


"Apanya yang dibuat orang? Maksudnya kamu disantet dukun atas permintaan orang?" Beni terkekeh-kekeh mendengar penuturan Irma. Meremehkan. Lagi pula siapa yang masih percaya hal seperti itu di dunia serba modern seperti sekarang?


Irma menukas sinis, "Iya aku kena santet!"


"Irma, Irma … orang sampai mau nyantet kamu itu dapatnya apa? Alasannya apa? Kamu itu nggak kaya, nggak muda, nggak cantik-cantik amat, udah ada anak dua. Kayaknya nggak ada sesuatu yang membuat orang lain iri sama kamu trus berpikiran jahat. Kalau soal warung ditutup orang okelah, mungkin agak masuk akal karena rebutan pembeli. Biasa terjadi di dunia bisnis," terang Beni serius. Ia mendekat untuk mengusap kepala Irma, menenangkan mantan istrinya yang terlihat sangat tertekan karena sakitnya.


Berusaha tak terpancing emosi, Irma menimpali lebih santai. "Terserah Mas Beni mau percaya apa nggak! Aku memang sakit aneh, dan penyebabnya kamu!"


"Kok jadi aku yang salah?"

__ADS_1


"Kalau kamu tak menikah dengan Madam Suzan, tak mungkin aku sakit begini!"


Seketika Beni naik darah, ia pun berujar sarkas, "Kamu nuduh Suzan? Kamu bisa sampai mikir istriku yang kirim santet ke kamu atas dasar apa?"


"Siapa lagi memangnya kalau bukan Suzan? Kan sudah jelas kalau dia merebut kamu dariku!" sahut Irma tak mau mengalah.


"Ir, aku pulang untuk memperbaiki hubungan kita, bukan untuk ribut begini. Perkara aku menikahi Suzan tidak ada hubungannya dengan sakitmu. Dia perempuan baik! Suzan tidak mungkin menyakitimu, titik!"


Beni menatap lurus wajah Irma, lalu melanjutkan kalimatnya. "Aku memang salah. Aku khilaf dan dengan egoisnya menikahi Suzan tanpa pertimbangan matang. Aku minta maaf, Ir. Aku butuh ketulusan hatimu untuk menerimaku lagi!"


Beni menggenggam tangan Irma erat-erat, menatap dalam-dalam dan akhirnya memeluk penuh harapan. "Maafkan aku, Ir! Aku janji akan segera menceraikan Suzan!"


Irma mengangguk menahan air mata yang nyaris tumpah. Hatinya bergolak, antara ingin menyangkal atau diam saja. Beni jelas masih terpengaruh oleh pelet Madam Suzan, makanya terus saja membela wanita sialan yang sudah merusak rumah tangganya itu di depan Irma.


"Aku tetap mau ke rumah Mbah Kancil sekarang!" Keputusan Irma sudah bulat untuk tidak menunda-nunda pengobatan sakit non medisnya.


Beni merenggangkan pelukan, "Ya sudah, kita naik mobil saja! Pulangnya nanti sekalian periksa perutmu ke rumah sakit. Tunggulah sambil duduk, aku cari taksi online sebentar!"


Tiga puluh menit kemudian mereka sudah dalam perjalanan–menggunakan taksi online. Irma menyandarkan tubuhnya untuk mendapatkan posisi nyaman bagi perut dan punggungnya yang semakin lama semakin terasa tertusuk dan terajam.


"Iya, Mas!" Irma memejamkan mata, ia memang mengantuk. Rasanya seperti terkena sirep karena dalam beberapa menit saja sudah terlelap dan terbawa mimpi.


Di alam bawah sadarnya, Irma seperti didatangi sosok hitam besar yang mencekik lehernya tanpa perhitungan. Nafas Irma seolah putus nyambung ketika tubuhnya terangkat dari atas tanah, dibawa terbang, terombang-ambing di tempat kotor dan gelap.


Irma menjerit sekuatnya, tapi yang keluar dari mulutnya hanya sebatas gumaman. Sungguh, ia sudah berpikir kalau sukmanya telah dibawa oleh makhluk gaib keluar tubuh. Irma menyadarinya dengan cara yang aneh. Tapi, di waktu yang sama, Irma tidak bisa meraih kesadaran fisiknya. Ia tidak mampu menggerakkan tubuh sedikitpun. Dalam bahasa orang awam yang sering didengarnya, ia sedang mengalami ketindihan atau istilah kerennya disebut dengan nama sleep paralysis.


Huh, tapi sebelumnya Irma tak pernah menderita gangguan tidur, insomnia atau jenis lainnya. Jadi bagaimana bisa ia terserang sleep paralysis, dengan mimpi yang sangat buruk dan menakutkan?


Leher Irma semakin tercekik, nafasnya di ambang batas ketika makhluk besar hitam itu membawanya terbang semakin tinggi–menembus kegelapan.


“Hmpp, errhhhmm!” Irma berusaha keras untuk bisa menggerakkan ujung jarinya. Matanya yang terpejam sudah bergerak sedikit, hanya saja masih belum bisa terbuka.


“Ir, Irma … Irma! Hei, bangun!”

__ADS_1


Irma merasakan seseorang menepuk pipinya, telinganya juga mendengar suara Beni yang memanggilnya dengan nada sedikit panik. Irma kembali menggeram sebagai isyarat kalau tubuhnya merespon tepukan Beni. Irma tak habis pikir, kenapa otaknya yang sudah sadar tidak diikuti oleh kesadaran tubuhnya?


“Irma, Irma bangun!” panggil Beni lebih dalam, kali ini dekat sekali dengan telinga Irma. "Irma …."


Irma bisa merasakan nafas hangat mantan suaminya masuk ke dalam telinga, lalu tiba-tiba saja matanya bisa terbuka dan nafasnya kembali lancar, hanya saja sedikit memburu. “I-iya, Mas?”


“Sudah mau sampai lokasi!” ujar Beni memberi informasi.


“Oh ya?” Irma bertanya bingung, tapi ia segera saja merapikan pakaian dan tas tangannya agar tak ketinggalan sewaktu turun nanti.


“Kamu mimpi buruk ya barusan?”


“Iya, sangat buruk!” Irma merenungkan mimpinya sejenak, menimbang apa nanti ia perlu bercerita hal aneh itu pada Mbah Kancil? Jujur ia takut dengan mimpi yang baru saja dialaminya.


Beni menggenggam tangan Irma untuk meyakinkan, “Cuma bunga tidur itu, jangan terlalu dipikirkan!”


“Iya, Mas!”


“Ya udah ayo turun!”


Irma menghembuskan nafas panjang, perasaannya semakin tak karuan ketika Beni membayar taksi online yang mereka tumpangi.


Beni membantu Irma turun karena tubuh mantan istrinya itu mendadak kaku dan sulit bergerak. Ia bahkan harus memapah Irma sampai ke ruang tunggu. Membantu Irma duduk.


“Kepalaku pusing, Mas!” Irma memijat pelipisnya. Tengkuknya memberat dengan cepat.


“Tahan sebentar, Ir! Atau mau aku belikan obat dulu untuk ngurangin sakitnya?”


Bukannya mendapat jawaban, Beni justru mendengar Irma mendesis dan ngorok seperti orang tidur. Tapi dengan mata berputar dan terbalik menatap ke atas–seperti orang berpenyakit step. Detik berikutnya, Irma jatuh menggelosor dari tempat duduknya.


“Irma!” seru Beni panik.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


***


__ADS_2